
..."Iya kan? Para kanibal?"...
POV: Seas
Anak-anak itu tersentak mendengar kalimat terakhirku. Mereka melompat tinggi lalu mengambil jarak dari kami.
Valeria sudah mengelap pistolnya sedangkan X sudah mengeluarkan belatinya. Kulihat Sky juga sudah siap dengan jarumnya ... apakah aku harus ikut membantu?
"Sejak kapan kalian sadar?" tanya bocah laki-laki berambut coklat. Aku maju beberapa langkah lalu menatapnya.
"Kuakui cerita karangan kalian sangat menarik! Tapi ada begitu banyak celah di sana," ucapku sambil tersenyum.
"Ada satu rumah yang bahan makanannya tertimbun, seolah itu tak pernah dimakan. Biar kutebak, itu persembunyian kalian, kan?" tanya Sky sambil menatap bocah itu dengan dingin.
"Selain itu, di peternakan. Bekas gigitan pada bangkai sapi itu bukan gigitan tikus, tapi gigitan manusia dengan ukuran kecil," lanjut Sky. Bocah-bocah itu menatap Sky dengan tatapan terkejut.
"Aku memang bilang bahwa bau desa ini sangat busuk ... sebenarnya bau busuk yang paling parah itu berasal dari baju kalian," ucapku sambil menunjuk baju yang mereka pakai.
"Kalian sengaja mengamati kami, karena di desa ini sudah tidak ada orang dan kalian kelaparan, kan? Jangan berpikir bahwa kami adalah mangsa yang mudah~," ucap Valeria lalu mengisi pistolnya dengan puluru baru.
Cklek!
"Lalu kenapa? Meskipun kalian sudah sadar, apa kalian pikir bisa mengalahkan kami?!" Salah satu bocah perempuan dengan rambut bergelombang warna coklat berbicara, tatapannya sangat bengis, ditambah dengan kukunya yang panjang. Dia benar-benar mirip seperti siluman.
Kecuali wajah mereka yang imut.
"Sejak kami lahir, kami sudah diberkati dengan fisik yang lebih bagus dari manusia pada umumnya! Apakah kalian pikir anak kecil bisa melompat setinggi 5 meter seperti kami?!" Bocah laki-laki itu tersenyum mirip seperti iblis, wajahnya menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi.
"Wah, bagaimana ya ... meskipun kalian memang lebih hebat, kenapa kami tidak takut sama sekali?" tanya Valeria sambil tersenyum. X ikut tertawa kecil lalu memasukkan kembali belatinya.
"Kami sudah melewati pelajaran yang seperti neraka itu. Setiap hari berdansa dengan malaikat kematian," ucapku diiringi tawa di akhir kalimat.
"Dan kami tidak diajarkan untuk jadi buruan ... kami diajarkan untuk jadi pemangsa," tambah Sky, dia melemparkan sebuah bom kimia tepat ke arah anak-anak itu.
Duar!
__ADS_1
"Jangan khawatir, itu hanyalah obat untuk melemahkan Indra kalian. Aku butuh sampel kalian untuk kuteliti nanti," ucap Sky lalu memakai maskernya. Dia kemudian menerobos masuk ke dalam area gas kimia.
Aku masih berdiri di tempat dan menatap kagum pada Sky. Begitu juga dengan Valeria, dia langsung melompat dalam gas kimia tanpa pikir panjang, bahkan tanpa masker!
"Ini pertama kalinya aku melihat mereka bertarung!" ucapku dengan nada kagum.
X tersenyum kecil saat melihatku dan berkata, "Benar juga, kau tidak pernah melihat mereka bertarung secara langsung, kan. Kalau begitu sekarang perhatikan. Mereka adalah rekan-rekanmu yang luar biasa!".
Aku mengangguk dan melihat Sky bersama Valeria bertarung dengan anak-anak itu. Tampaknya bom kimia buatan Sky cukup ampuh. Anak-anak itu jadi terlihat kacau setelah menghirup gas itu.
Dor! Dor! Dor!
"Hahaha! Lihat kemana kalian?~," ucap Valeria sambil menembak ke arah anak-anak itu. Mereka melompat cukup tinggi dan menghindari setiap peluru Valeria.
"GRAAHH!" Salah satu anak perempuan itu menerjang dan menggigit lengan Valeria.
"Hmph! Mwehwehwe! Bwagaimwana rwasanya?" ucap anak kecil itu sambil menggigit lengan Valeria. Aku bisa melihat bahwa lengannya sudah meneteskan darah, tapi Valeria masih tetap tenang?
"Lumayan sakit, tapi bukankah kau yang harusnya hati-hati?" tanya Valeria sambil mengusap pucuk kepala anak itu. Anak itu menatap Valeria dengan bingung.
"Kalau dari jarak ini, pistolku tidak mungkin meleset." Valeria mengarahkan pistol ke kening anak itu.
"Satu selesai, siapa lagi yang mau merasakan dagingku?" tanya Valeria sambil menawarkan lengannya. Aku tertawa kecil saat melihat tingkahnya itu.
"Dia benar-benar di luar dugaan!" ucapku sambil tertawa.
Anak-anak itu terlihat ragu untuk maju. Valeria masih diam sambil mengawasi anak-anak itu.
Jreb! Jreb!
Anak-anak itu langsung tumbang dengan jarum yang menancap di leher mereka. Valeria menatap Sky dengan kesal.
"Hei! Mereka itu bagianku! Kau terlalu serakah!" ucap Valeria sambil menunjuk-nunjuk hidung Sky. Tampaknya Sky tidak menggubris ucapan Valeria.
Sky mengeluarkan pisau bedah dan mulai menyayat kulit dari mayat anak itu. Saat darahnya keluar, dia memasukkannya ke dalam botol kecil dan menyimpannya di dalam saku.
__ADS_1
"Apakah sudah semua?" tanyaku sambil mendekat ke arah mereka. Gas kimia di sini sudah mulai memudar, jadi kupikir tidak apa-apa jika aku langsung masuk.
"Kalian sangat ceroboh! Minum ini! Itu adalah penawar gas kimia yang kubuat!" ucap Sky sambil melemparkan dua buah botol kaca berukuran kecil dengan cairan berwarna kuning di dalamnya.
Aku dan Valeria segera meminumnya. X masih menunggu kami sambil bersandar di dinding rumah.
"Sudah?" tanya X dengan lembut. Kami mengangguk lalu mengikuti X yang berjalan mendahului kami.
"Mungkin desa ini harus dimusnahkan," ucap X pelan. Aku masih bisa mendengarnya karena aku berada tepat di belakangnya.
X mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan dalam waktu singkat. Entahlah, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang akan dia lakukan. Lima menit kita berjalan, akhirnya kita sampai di tempat kita parkir tadi.
"Ayo masuk, kita lanjutkan perjalanan." X masuk lebih dulu ke dalam mobil. Valeria dan Sky juga langsung masuk ke kursi penumpang. Sedangkan aku masih berdiri sambil menatap desa yang suram ini.
"Entah kenapa, rasanya ini sedikit familiar dengan masa laluku? Mungkin karena ini sama-sama suram hahaha!" ucapku pada diriku sendiri. Aku berbalik lalu masuk ke mobil. Seperti sebelumnya, aku duduk di kursi sebelah X.
"Kita berangkat!" ucap X dengan semangat, dia langsung menancap gas dan melaju dengan kencang.
***
"YAHO! KITA SUDAH SAMPAI DI PERBATASAN VALORD!" teriak X di pagi hari ini. Mobil ini jadi terasa sangat berisik. Sebenarnya aku sudah bangun sejak beberapa jam yang lalu, tapi karena malas meladeni omongan X jika bangun nanti, jadi aku memilih pura-pura tidur saja.
"Ayo bangunlah kalian para pemalas! Kita tidak bisa memakai mobil dari sini!" ucap X lalu menyalakan lampu dalam mobil. Valeria dan Sky juga kemudian terbangun, tapi mereka masih dalam kondisi setengah sadar.
"Wow Sky! Kalau mukamu kufoto, sepertinya itu akan jadi kenang-kenangan yang bagus!" ucapku sambil memperhatikan wajah Sky. Ini benar-benar pemandangan yang langka! Ada air liur di tepi mulut Sky, rambutnya yang mengembang karena tertidur dengan posisi bersandar!
Kalau Valeria ... kurasa dia selalu kacau, jadi tak menarik lagi dihadapanku.
"Ayo segera turun dari mobil, mobil ini akan meledak dalam 5 detik!" ucap X sambil menepuk pundakku, aku melongo lalu segera membuka pintu dan keluar. Begitu juga dengan Sky yang langsung sadar dan menarik kerah Valeria agar keluar bersamanya.
Piiip. Duar!
"Benar-benar hancur tanpa bekas," ucapku datar. Aku mulai memperhatikan sekeliling, ini masih di hutan? Bahkan matahari belum terbit.
"Kita akan berlari sampai ibu kota terdekat!" ucap X dan mulai meregangkan kakinya.
__ADS_1
..."Apakah kalian dari Underworld School?"...
TBC.