Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pertarungan Informasi!


__ADS_3

..."Pertarungan informasi, dimulai sekarang."...


POV: Seas


Pada akhirnya aku tetap menerima kertas misi ini. Aish sialan! Aku baru saja kembali dari misi yang berbahaya, dan sekarang aku harus pergi lagi?


"Apakah kita akan pergi sendiri kali ini? Bukankah di misi sebelumnya ada agen tingkat atas sebagai pemimpin kita?" tanya Sky sambil memperhatikan map kertas yang kubawa. Setelah mendengar perkataan Sky, aku jadi menyadari sesuatu.


Rex sama sekali tidak menyebutkan misi apa ini. Bahkan dia tidak menugaskan agen kelas atas yang mengawasi kami. Bukankah dulu dia berkata bahwa kita tidak boleh bertindak sendiri?


"Ini sangat aneh, coba kita buku dulu," ucap Valeria sambil menyambar map kertas yang kubawa. Valeria mulai membuka map itu, dan menemukan selembar kertas lain di sana.


"Apa isinya?" tanyaku sambil mengintip dari belakang bahu Valeria.


~'SELAMAT'~


INI ADALAH TIKET KELULUSAN UJIAN PERTAMA!


JAGALAH KERTAS INI HINGGA SATU MINGGU KE DEPAN YA!


BERHATI-HATILAH JANGAN SAMPAI KERTAS INI DIAMBIL ORANG!


DAN JANGAN MATI JUGA!


UJIAN PERTAMA: PEREBUTAN UNDANGAN!


~'SEMOGA BERUNTUNG'~


"Apa?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mencoba memahami isi surat ini dengan membacanya sekali lagi.


~'SELAMAT'~


INI ADALAH TIKET KELULUSAN UJIAN PERTAMA!


JAGALAH KERTAS INI HINGGA SATU MINGGU KE DEPAN YA!


BERHATI-HATILAH JANGAN SAMPAI KERTAS INI DIAMBIL ORANG!


DAN JANGAN MATI JUGA!


UJIAN PERTAMA: PEREBUTAN UNDANGAN!


~'SEMOGA BERUNTUNG'~


"Tunggu, jadi maksudnya ... ujian pertama sudah dimulai?!" teriak Valeria hingga menggema. Kami semua terdiam saat itu. Aku dan Valeria saling bertatapan. Kami langsung memasukkan surat itu dengan terburu-buru.


"Siapa ... yang akan menjaganya?" ucapku sangat pelan, hampir seperti berbisik. Valeria langsung menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Sky.


"Kau tau aku adalah orang yang ceroboh, jangan menyuruhku menjaganya," ucap Valeria sambil menyilangkan tangannya di depan wajah. Aku ganti melirik ke arah Sky.


"Jangan! Aku takut kertasnya akan kena zat kimia!" Sky menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat. Jadi pilihan terakhir adalah aku sendiri yang menyimpannya.


"Baiklah aku yang akan menyimpannya," ucapku pada akhirnya. Belum selesai sampai di sini, tiba-tiba sebuah peluru datang dan menargetkan Sky.


DOR!


Beruntung Sky punya reflek yang bagus, dia melemparkan botol kimia bersamaan dengan peluru yang datang.

__ADS_1


PRANG!


Botol kimia itu langsung pecah dan memunculkan dinding es yang melindungi kami.


"Ini adalah zat dengan resep yang sama seperti waktu itu?" tanyaku pada Sky saat mengingat-ingat misi pertama kemarin.


"Kau punya ingatan yang baik, kita harus lari!" Sky langsung menyeret tanganku dan Valeria. Kami masuk ke dalam gang sempit secara diam-diam.


Dari balik bayangan gedung, kami memperhatikan segerombol anak lain yang muncul. Mereka mengecek di balik dinding es itu, ekspresi mereka langsung kecewa saat tau bahwa kami sudah tidak di sana.


"Baru saja kita memutuskan siapa yang membawanya, malah kita langsung ditargetkan," gumamku pelan sambil menghela nafas. Tanpa sengaja mataku melihat ke arah Valeria, dia sudah membidik ke arah anak-anak itu dengan pistolnya.


"Heh! Apa yang kau lakukan?!" bisikku dengan nada panik.


"Mereka harus diberi pelajaran!" tegas Valeria.


DOR!


PRANG!


Tembakan Valeria meleset karena aku yang menganggu Valeria saat dia menembak. Anak-anak itu langsung menyadari keberadaan kami, secara serentak mereka langsung menerjang ke arah kami.


Sky dengan sigap maju ke depan kami, dia mengeluarkan botol lain yang berisi zat kimia.


PRANG!


Itu bukanlah ulah Sky, ada orang dengan kemampuan yang mirip dengan Sky. Dia melemparkan botol lain ke arah kami, akhirnya cairan itu membasahi seluruh tubuh kami.


"Itu adalah zat dengan bau yang sangat tidak enak! Kalian rasakan saja sendiri!" ucap anak itu lalu mengeluarkan dua buah jarum suntik. Sky hanya diam lalu mencium bau jasnya.


Tapi kenapa dia marah ya?


"KAU TAU MENCUCI JAS INI SANGAT SULIT TAU! KEMARI KAU! AKAN KUPECAHKAN BOLA MATAMU!" Sky langsung maju menerjang, dia mengganti botol abu-abu di tangannya dengan botol berwarna merah. Gawat, sepertinya Sky benar-benar marah sekarang.


Prang!


BLAR!


"Haaah, ternyata dia benar-benar marah," ucap Valeria saat melihat Sky mulai membakar daerah ini. Kalau kuingat-ingat, ini adalah teknik yang dia gunakan untuk membantai orang yang mengintai kami saat itu.


"Ack! Kita tidak boleh membunuh lebih dulu!" ucapku dengan agak panik, aku langsung berlari ke arah Sky lalu menahannya dengan kedua lenganku. Begitu juga dengan Valeria yang sibuk menembaki kaki anak-anak itu.


Dor! Dor! Dor! Dor!


"Ayo! Kita harus pergi!" ucap Valeria sambil menunjukkan jalan lain. Aku mengangguk lalu segera berlari sambil menyeret Sky pergi.


"Ukh, baunya benar-benar tidak enak!" ucapku sambil berusaha menahan agar aku tidak muntah. Kami akhirnya pergi lewat celah bangunan.


***


"DASAR SIALAN! AWAS SAJA KALAU AKU KETEMU MEREKA LAGI! AKAN KUKERIK SUMSUM TULANG MEREKA!" ucap Sky lagi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sekarang kami berada di asramaku dan Sky. Valeria ikut dengan kami, karena sepertinya lebih aman jika kami terus bertiga saat ini.


"Sabar Sky, kenapa kau semarah itu?" tanyaku sambil melepas bajuku. Sky dan Valeria langsung diam sambil menatapku.


"... Seas, kau ingat aku perempuan kan?" ucap Valeria dengan senyuman nakalnya. Tiba-tiba aku merasa merinding di sekujur tubuhku.


Pluk!

__ADS_1


Sebuah selimut tiba-tiba menutupi tubuhku.


"Dasar bodoh! Kita tidak berdua saja di sini! Kemari kau!" Ternyata itu Sky yang menaruh selimutnya. Aku hanya tertawa kecil saat Sky menyeretku masuk ke dalam kamar.


Brak!


"Dasar! Apa kau tidak sadar tubuhmu itu sangat menggoda?!" geram Sky sambil mencarikanku baju. Sekarang kami ada di kamarku, setelah Sky menemukan bajuku, dia mendorongku untuk masuk ke kamar mandi.


"Gunakan larutan ini untuk menghilangkan baunya, aku akan membawa bajumu yang basah ini," ucap Sky sambil meninggalkan sebotol larutan untukku. 


Dia kemudian keluar dari kamarku, setelah itu aku mulai mandi.


Loh, tadi map kertasnya aku taruh mana ya?


...


BRAK!


Aku langsung berlari dengan cepat ke kamar Sky. Tanpa basa-basi, aku mendobrak pintu kamarnya.


BRAK!


"SKY! TADI MAP KERTASNYA KEMANA?!" teriakku begitu masuk kamar Sky. Dari balik pintu kamar mandi, Sky mengintip dan menatapku dengan heran.


"Bukannya tadi kau yang bawa?" tanya Sky.


"Kalau aku tau ya aku tidak akan tanya!" ucapku geram. Aku dan Sky akhirnya saling bertatapan.


BRAK!


"VALERIAAAA!" Aku dan Sky langsung berlari keluar kamar, kami menuju ke arah Valeria yang sedang duduk bersantai di ruang tamu.


"Ada apa?" tanyanya dengan eskpresi yang tenang.


"DIMANA MAP KERTASNYA?!" tanyaku dan Sky bersamaan. Valeria menatapku dan Sky secara bergantian.


"TIDAKK!" teriak Valeria.


"Tapi bohong, aku menaruhnya di bawah meja, lihat saja sendiri," ucap Valeria sambil melirik ke bawah meja kaca. Aku langsung memeriksa di sana. Begitu melihat map kertas itu, aku baru bisa menghela nafas lega.


"Dasar ceroboh," ucap Valeria sambil tertawa kecil. Aku mendengus pelan lalu mengambil map kertas itu.


"Aku akan menaruhnya di kamarku," ucapku lalu berjalan pergi.


"Tunggu!" Valeria menahan kami berdua.


"Ada apa?" tanya Sky.


..."Aku tidur dimana?"...


TBC.


Jangan lupa like ya ya guys!


WKWKWK HALO LAGI GUYS! PLIS GA NYANGKA BANGET BAKAL MASUK REKOMENDASI! PLAN AWALNYA JADI BATAL DEH:)


TAPI GAPAPA! BACK TO NORMAL, AKU BAKAL UP KARYA INI DUA HARI SEKALI YA!

__ADS_1


__ADS_2