Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pergantian misi!


__ADS_3

..."APA?!"...


POV: Seas


Aku menatap X dengan tatapan tidak percaya.


Bagaimana bisa dia menyuruh kita mundur setelah semua ini?


"Aku tidak setuju X, kenapa kita harus mundur?" tanyaku sambil berdiri. X menatapku dengan datar, tatapannya seolah membaca isi pikiranku.


"Kau pikir, kau mampu menang jika lawanmu adalah kaisar? Kau ingin mereka berperang dengan Underworld School?" ucap X.


Aku terdiam, apa yang X katakan itu benar. Tapi ... aku tidak ingin diam saja melihat manusia yang menjadi korban. Bahkan mereka tidak pandang bulu dalam menculik orang. Tua atau muda, perempuan atau laki-laki, dewasa atau anak-anak.


"Aku tidak mau, X!" Valeria berucap dengan tegas. Dadanya naik turun karena menahan emosinya. Sky mendekat ke arah Valeria lalu menggenggam tangannya.


"Tenanglah," ucap Sky yang lebih seperti berbisik. Valeria menatap Sky dengan marah, dengan cepat dia menghentakkan tangannya, menyingkirkan tangan Sky dari dirinya.


"Aku akan mencari udara segar."


Cklek. Brak!


Valeria keluar sambil membanting pintu. Aku memilih untuk duduk di sofa, sambil berpikir apa yang harus kulakukan.


Tep.


"Ada apa Sky?" tanyaku saat merasakan seseorang menyentuh bahuku. Mataku melihat ke arahnya, ternyata memang benar bahwa itu adalah Sky.


"Kenapa kau jadi bodoh?" tanya Sky. Pertanyaannya memberi pukulan keras kepadaku.


"Apa maksudmu?!" ucapku tidak terima. Aku berdiri dengan cepat dan menatapnya, mata Sky mengisyaratkan sesuatu.


X? Ada apa dengannya ... .


"X memang menyuruh kita mundur dari misi, tapi X tidak menyuruh kita kembali," ucap Sky sambil tersenyum miring. Aku terdiam beberapa detik.


Benar.


Apa jangan-jangan ...


Aku menoleh ke arah X dengan cepat, dia tersenyum cerah padaku.


"Kita tidak bisa melaksanakan tugas yang tidak sesuai, tentu saja kita harus menunggu misi baru!" ucap X. Dia tersenyum hingga menampilkan gigi taringnya. Matanya menatap dengan tajam ke arahku.


"Panggil Valeria masuk."


Aku menuruti perkataan X, tangan kiriku menarik lengan Sky dan menyeretnya keluar bersamaku.


Cklek.

__ADS_1


"Hmm, dimana dia?" ucapku setelah keluar rumah. Mataku melihat ke kiri dan kanan, tapi Valeria tidak tampak di manapun.


"Sepertinya ... dia di atas sana ... deh?" ucap Sky sambil menunjuk atap rumah. Mataku melihat rambut coklat kemerahan milik Valeria.


Dia benar-benar di atas atap.


"VALERIA! TURUNLAH!"


"TIDAK MAU!"


"X PUNYA HADIAH UNTUKMU!"


"TIDAK PEDULI!"


"KATANYA KITA AKAN DAPAT MISI BARU!"


"AKU MAUNYA MISI INI!"


"KAU BODOH ATAU BAGAIMANA?! POKOKNYA TURUNLAH SEKARANG SEBELUM AKU MENYERETMU TURUN!"


Valeria kemudian berdiri lalu melompat turun. Wajahnya terlihat kesal, dia bahkan tidak mau menatapku. Karena aku tidak mau diperlakukan seperti ini, jadi aku mencubit pinggangnya.


Nyut!


"AWWWW! SEAS! SEAS! SEAS! HENTIKANN!" Valeria meronta kesakitan. Aku tidak peduli dan tetap mencubitnya.


"Siapa suruh kau bersikap kekanak-kanakan di saat misi? Hm?" Aku menguatkan cubitanku, dia sudah tidak bersuara. Tapi langsung tak sadarkan diri.


...


"Kau jahat ... ini sangat sakit dasar Seas sialan!"


"Oh? Kukira kau pingsan."


Valeria langsung berdiri lagi dan berjalan masuk ke dalam rumah. Aku dan Sky mengikuti dari belakang.


Cklek.


Dari dalam rumah, X sudah duduk di pinggir sofa sambil tersenyum lebar hingga menampilkan gigi taringnya, matanya menatap kami bertiga secara bergantian.


"Kita sudah mendapat misi baru! Misinya adalah ...


[Memulangkan Ron Evagiria dengan keadaan selamat, bahkan jika kaisar adalah musuhnya, kalian bebas bertindak!]


Begitu katanya!" ucap X. Valeria langsung tersenyum lebar. Begitu juga dengan aku dan Sky.


"YEAH!" Valeria melompat kesenangan. Dia berbalik ke arahku dan Sky lalu memeluk kami dengan erat. Hingga kami terjatuh.


Bruk!

__ADS_1


"Akhirnya kita bisa tetap melanjutkan misi!" ucap Valeria. Aku dan Sky hanya tersenyum simpul sambil mengusap punggungnya.


"Cepatlah bangun! Kau berat!" ketus Sky. Valeria segera bangun dan ganti memeluk X.


"Nah jadi, kita akan berangkat kapan?!" tanya Valeria dengan semangat. X terdiam sejenak, dia terlihat memikirkan sesuatu.


"Tunggu- bukankah jadi berbahaya jika Ron ada di istana seorang diri?!" X sedikit tersentak lalu segera mengambil coat berwarna hitam. Dia tampak panik hingga tidak mendengarkan pertanyaan Valeria.


Dia segera berjalan cepat ke arah pintu, tapi aku berhasil mencekal tangannya sehingga dia berhenti dan menatapku.


Dia menatapku dengan bingung lalu bertanya, "Ada apa, Seas?".


"Dia sudah keluar dari istana, sekarang aku juga tidak tau dia dimana," ucapku sambil menggelengkan kepala. X terlihat lega lalu menghembuskan nafasnya.


"Tidak apa-apa, aku sudah tau dia kemana, berisiap-siaplah! Kita akan berangkat malam ini!" ucap X, aku dan teman-temanku menganggukkan kepala.


"Hei! Ikut aku dulu!" Sky tiba-tiba menarik lenganku, aku sedikit terhuyung saat dia menarikku cukup kuat.


"Kemana?" tanyaku. Sky hanya diam, wajahnya terlihat gusar akan sesuatu.


"Kita ke kamar dulu, ada yang harus kita bahas," ucap Sky serius. Aku jadi diam saja dan membiarkannya menarik lenganku. Dari samping, tiba-tiba Valeria muncul dan ikut mendorong punggungku.


"Ada banyak yang akan kami tanyakan, dan kau harus menjawabnya dengan jujur!" ucap Valeria. Aku menatap mereka dengan bingung.


Sebenarnya ada apa ini?


Cklek! Brak!


"Nah! Duduk di sini!" Valeria menekan pundakku agar duduk di pinggir kasur. Sky mengambil kursi kayu di meja kamarnya dan duduk di depanku. Begitu juga dengan Valeria yang memilih untuk bersandar di dinding.


"Dari cerita yang kau ceritakan tadi, ada beberapa kejanggalan," ucap Valeria terus terang. Aku mengangguk, memang sengaja bahwa aku tidak menceritakan semuanya.


"Memang ada bagian yang tidak aku ceritakan, yaitu ... mungkin sebenarnya negeri ini sendiri adalah penjahatnya, bukan hanya kaisar," ucapku dengan pelan. Valeria menarik nafas dalam, tapi sorot matanya seperti binatang yang menunggu buruan. Dia sangat bersemangat dalam diam.


"Oh ... um ... dan juga, itu ... Seas, bisakah aku meminta tolong ... sesuatu?" tanya Sky dengan gugup. Aku mengernyitkan keningku, sangat jarang sekali Sky meminta bantuanku.


"Apa itu, Sky? Jika aku bisa membantumu, pasti akan kulakukan!" ucapku dengan senang. Sky terlihat lega, senyuman kecil itu terukir di wajahnya.


"Kau tau 'kan aku sedang belajar menggunakan schyte, dan aku juga menemui beberapa masalah dalam mempelajarinya," ucap Sky dengan wajah murung. Aku masih diam mendengarkan.


"Jadi permintaanku adalah ... bisakah kau mengajariku ... cara bertarung menggunakan schyte?" tanya Sky pada akhirnya. Aku sedikit tercengang, masalahnya adalah, aku tidak pernah menggunakan senjata berat. Apalagi kalau tidak salah, schyte yang Sky pakai punya panjang lebih dari 2 meter dan berat sekitar 10 kilogram lebih.


"Sepertinya ... aku tidak membantu, aku tidak terbiasa dengan senjata berat, karena itu aku menggunakan dagger. Dan seni milikku juga tidak cocok dengan senjata berat," jelasku pada Sky, aku merasa sedikit tidak enak hati padanya.


"Haaah." Valeria menghela nafasnya, dia segera berdiri lalu menarik paksa kepala Sky agar menatap matanya.


..."Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu."...


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


Maaf baru up! Soalnya habis ngebut yang novel Ares trs kena writterblock:(


__ADS_2