
..."Kita akan menemui yang mulia Ron Evagiria."...
POV: Seas
Setelah aku duduk, mobil ini mulai dinyalakan dan berputar. Kita pergi ke arah kota dengan gedung-gedung tinggi.
"Wahh, bahkan di sini saljunya sedikit tinggi," ucap Sky yang duduk di pinggir jendela. Aku juga mau ... kenapa aku dapat bagian tengah? Valeria saja dapat kursi pinggir!
"Hah? Tunggu? Kau bilang saljunya tinggi?!" ucapku sedikit terkejut. Aku baru sadar, jika saljunya memang agak tinggi, bagaimana mobil ini masih bisa berjalan?!
"Mobil ini dipasangi dengan teknologi penggaruk salju," ucap si supir. Aku duduk diam dan mendengarkan.
"Jika kalian memperhatikan setiap sisi mobil ini, pasti kalian akan menemukan karet dengan bentuk gerigi dan bergerak ke arah luar. Itu digunakan untuk menyingkirkan salju yang menghalangi. Kecepatan gerigi ini disesuaikan dengan kecepatan mobil," jelas si supir. Aku melongo, bukankah ini teknologi yang luar biasa?!
M-maksudku, bahkan selama aku hidup, baru kali ini aku melihat teknologi seperti ini!
"Bukankah berarti mobil ini tidak bisa mundur?...," tanya Valeria. Keheningan tercipta, si supir masih diam lalu melihat ke arah spion.
"Iya, karena itu tadi aku memilih berputar. Mobil ini masih dalam tahap pengembangan, dan akan disempurnakan setelahnya," ucap si supir sambil tersenyum. Kulihat Dev tersenyum simpul dari kaca spion tengah.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Dev turun lebih dulu, diikuti oleh kami. Setelah kami turun, mobil itu melaju meninggalkan kami.
Aku melihat bangunan megah di depanku. Kastil yang begitu megah, pondasinya terbuat dari batu bata berwarna putih. Bahkan setitik salju di sini terlihat lebih mewah dari emas.
"I-itu ... jangan-jangan emas putih?" tanya Sky sambil menunjuk langit-langit dalam kastil. Aku mendongak, mataku terpaku sejenak ... ini sangat ... berlebihan?
"Ini tidak berlebihan, sangat umum jika ada banyak emas dan permata di dalam kastil," ucap X santai lalu melenggang pergi. Aku menarik kerah Sky yang mematung, lalu berlari kecil menyusul Valeria dan X.
Entah kenapa ... X tidak terlihat kagum dengan pemandangan ini.
Dan aku malah yang tidak berhenti kagum. Maksudku, meskipun keluargaku termasuk keluarga kaya, punya banyak mansion dan vila, punya ratusan resort dan perusahaan di berbagai bidang.
Tapi kastil ini ... tidak bisa dibandingkan. Bahkan jika aku menjual seluruh harta keluargaku, aku tidak yakin bisa membeli kastil ini.
"Ini ruangannya, aku akan masuk lebih dulu, kalian ikuti aku dari belakang." Dev melirik ke arah kami. X mengangguk. Dia mengetuk pintu raksasa itu tiga kali.
"Masuklah."
Setelah mendengar jawaban, Dev membuka pintu lalu berjalan masuk. Selanjutnya X dan teman-temanku, aku berada di baris paling belakang.
"Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Dev sambil menundukkan kepalanya. Aku melihat ke arah X, dia tidak melakukan salam itu, jadi aku hanya mengikutinya.
__ADS_1
Aku juga tidak akan memberi salam.
"..."
"..."
"..."
"..."
Suasana ruangan ini begitu hening. Putra Mahkota itu berdiri dan memegang pundak Dev.
"Sudah-sudah! Aku senang kau sampai dengan selamat!" ucapnya sambil tersenyum. Aku sedikit kagum dengan parasnya yang tampan.
Kulit putih tapi tidak pucat, rambut pirang yang terlihat bersinar jika terkena cahaya, mata hijau emerald yang terlihat berbinar, badannya cukup tinggi dan ototnya terlihat bagus.
Benar-benar definisi sempurna untuk seorang Putra Mahkota.
"Oh!" Matanya melihat ke arah kami.
"Jadi kalian ... dari Underworld School?" tanyanya dengan nada ramah. Kami menganggukkan kepala.
"Namaku Ron Evagiria, karena kita adalah rekan kerja sama. Panggil saja aku Ron," ucapnya sambil tersenyum ramah. X tersenyum simpul dan mengangguk, aku ikut menganggukkan kepala.
"Psst! Sky! Sadarlah!" bisikku pada Sky sambil mencubit lengannya.
"Ack!" Dia berbicara cukup keras sehingga menjadi pusat perhatian di ruangan ini.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ron sambil menatap Sky.
Sky menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya terlihat sangat gugup. Aku menghela nafasku pelan lalu menepuk pundak Sky.
"Tidak ada, dia hanya kesulitan beradaptasi," ucapku sambil tersenyum ke arah Ron.
"..."
Lagi-lagi ruangan ini menjadi hening. Aku jadi gugup, apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?
"A-apakah aku berbuat salah?" tanyaku dengan nada pelan. Mereka tidak ada yang menjawab dan hanya menatapku.
"Tidak! Tidak! Kau tidak salah!" ucap Ron sambil tersenyum lebar. Ron mendekat ke arahku lalu merangkul pundakku.
__ADS_1
"Aku senang karena kau terlihat nyaman denganku! Yah kupikir kelompok yang dikirim kali ini tidak akan membosankan!" Ron tersenyum dengan lebar, aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Masih bingung dengan situasi ini.
"Siapa namamu?" tanya Ron tepat di samping telingaku. Aku merinding saat merasakan hembusan nafasnya.
X yang sadar dengan reaksiku segera menarikku agar tidak dekat dengan Ron.
"Namanya Seas, dia adalah murid baru di sekolah kami!" ucap X sambil merangkulku. Aku menghembuskan nafas lega karena sudah dijauhkan dari Ron.
Sungguh ... aku benar-benar merinding berada di dekatnya.
Ron mengangguk lalu menatap Sky dan Valeria bergantian. Ron menatap X lalu bertanya, "Kalau kalian? Siapa nama kalian?".
"Na-nama saya S-Sky," ucap Sky dengan tangan bergetar.
"Namaku Valeria." Sedangkan Valeria masih tampak tenang di hadapan Ron. Tapi bukankah dia terlalu dingin?! Dia bahkan tidak tersenyum di depan Ron!
"Hoo, kau membawa anggota yang menarik kali ini, X!" ucap Ron sambil tertawa kecil. Ron berjalan menjauhi kami dan duduk di sofa.
"Kau kenal dengan Ron?" tanyaku sambil berbisik ke arah X. Dia menganggukkan kepala lalu mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Aku sudah pernah melakukan misi pengawalan untuknya dulu. Karena itu kami saling mengenal," jelas X. Aku mengangguk lalu melepaskan rangkulan X.
"Karena aku akan pulang sekitar 6 hari lagi. Kalian bebas melakukan apapun dalam 6 hari ini!" ucap Ron sambil tersenyum. Aku dan Valeria sudah bersemangat karena ingin menjelajah kota ini.
"M-maaf menyela, bisakah a-aku bertanya?" Sky berbicara cukup keras. Aku menatap Sky dengan heran, darimana dia mendapat keberanian yang tiba-tiba ini?
"Iya, ada apa?" tanya Ron. Sky mengusap dadanya pelan sambil menarik nafas dalam-dalam.
"B-bisakah saya memegang cincin yang anda pakai itu?" tanya Sky sambil menunjuk jari tengah tangan kanan Ron.
"Oho? Boleh saja," ucap Ron lalu melemparkan cincinnya ke arah Sky. Dia berhasil menangkapnya lalu memperhatikan cincin itu.
Setelah beberapa saat melihat-lihat, Sky berjalan ke arah Ron lalu mengembalikan cincinnya.
"Sudah selesai?" tanya Ron dengan senyuman di wajahnya. Sky mengangguk lalu menaruh cincin itu di telapak tangan Ron dan berjalan kembali ke arah X.
"Bahkan ada teknologi yang luar biasa di cincin itu. Aku jadi semakin ingin pergi ke negara Evagiria!" ucap Sky dengan semangat.
"Kalian sudah boleh pergi," ucap Dev di samping kami. Setelah menganggukkan kepala, kami bergegas keluar dari ruangan ini.
..."Kecuali anak yang bernama Seas. Kau tetap di sini." Ron menatap Seas dengan senyuman aneh di wajahnya....
__ADS_1
TBC.