
Itu adalah ... racun peleleh tubuh manusia.
POV: Seas
Setelah berlari cukup jauh, aku berhenti dan bersenyum di belakang sebuah kotak kayu besar dan mengamati keadaan. Aku melihat Sky yang masih sibuk mengatur benangnya ke kanan dan kiri, memastikan bahwa semua orang terjerat ke dalam jaring itu.
"Maaf ya, padahal aku ingin membuat kalian mati dengan cepat. Tapi karena kalian banyak bergerak jadi prosesnya akan sangat menyiksa," ucap Sky sambil menundukkan kepalanya.
BUAGH!
Aku kaget saat mendengar suara pukulan dan berbalik untuk menatap ke atas. Ternyata Valeria sedang berkelahi dengan 3 orang tadi dan dia berhasil menendang salah satu musuhnya.
Lebih baik aku membantunya bukan?
Pakai apa ya ... lempar dagger? Jangan dong, tapi aku juga tidak punya pistol.
Oh?! Seingatku aku punya teknik untuk meniru teknik musuh bukan? Bukankah ada teknik serangan jarak jauh dengan pedang?
Teknik pedang bulan.
Srek.
Aku memasang kuda-kuda dengan menangkat daggerku tinggi-tinggi, sambil menutup mata, aku mencoba mengingat gerakan pria yang waktu itu menyerangku.
"[Teknik bayangan: nomor 11, Sang peniru - teknik pedang bulan: nomor 1, bulan sabit yang terang.]"
WHUSS!
Aku mengayunkan pedangku ke bawah dengan arah vertikal, sebuah cahaya lurus langsung melesat bagaikan kilat ke arah dua orang yang masih mengeroyok Valeria.
ZRASHH!
"Uwa? Aku tidak menyangka perut mereka akan langsung terpotong ...," ucapku kaget sambil menghindari runtuhan darah serta ususnya. Valeria langsung memandangku dan memberiku jempol dengan tangan kirinya.
ZRSHHHHH!
"AAAAAAAAAA!"
"AAAAAARGHHHHH!"
__ADS_1
"TIDAAAAAKKKK SAKITTTT!"
Berbagai macam teriakan mulai terdengar dari arah Sky tadi. Tapi teriakan ini tidak berlangsung lama, setelah 2 menit berlalu, teriakan tadi sudah menghilang dan yang muncul hanyalah asal serta cairan bening di atas tanah.
Saat aku menoleh lagi ke arah Sky, dia sedang menarik jarum serta benangnya dan sesekali membersihkan noda racun di tangannya.
"Loh ... kenapa tanganmu tidak meleleh Sky? Bukankah itu bisa melelehkan kulit?" tanyaku bingung. Sky yang merasa namanya dipanggil, segera menoleh ke arahku lalu tersenyum kecil.
"Ini memang racun yang berbahaya, tapi bukan berarti tidak ada penawarnya. Dan aku tidak mungkin membuat racun yang tidak bisa diberi obat penawar, itu sangat tidak bertanggung jawab. " Sky kembali membereskan benang serta jarumnya. Setelah semuanya terkumpul rapi, Sky mengeluarkan satu botol lagi dan mulai mengguyur alat-alatnya dengan cairan itu.
Oh, mungkin itu adalah penawar yang Sky maksud.
Tap!
"Eng?" Aku menoleh ke arah belakang, melihat Valeria masih segar bugar tengah memasang antingnya yang kuyakin bahwa itu adalah Belmere.
"Apakah sudah beres?" tanya Valeria sambil menengok ke arahku. Aku mengangguk sambil memberikan tanda oke padanya. Setelah itu kami bersama-sama meninggalkan tempat tadi, dan berjalan santai ke lokasi yang selanjutnya.
Yah, mungkin lebih tepatnya berjalan tanpa arah.
"Haruskah kita pulang saja dulu?" tanya Valeria tiba-tiba. Aku dan Sky langsung berhenti dan menengok ke belakang, karena kebetulan Valeria ada di belakang kami.
"Aku merasa meninggalkan sesuatu di asrama. Kalau kalian tidak mau mengantar yasudah, aku akan pergi sendiri," ucap Valeria sambil bersiap untuk berbalik. Aku dan Sky saling menengok sejenak, lalu mengikuti Valeria.
Selama perjalanan pulang, kami tidak saling berbicara apapun. Kami hanya diam hingga akhirnya sampai di depan pintu asrama.
"Tunggu sebentar ya! Sebentar saja!" Valeria langsung berlari masuk ke dalam asrama, setelah itu yang terdengar hanyalah suara barang-barang berjatuhan dan ... entah apa saja yang pecah. Valeria langsung keluar lagi dari dalam asrama sambil membawa secarik kertas yang berwarna putih usang.
"Apa itu?" tanya Sky sambil memiringkan kepalanya. Valeria tersenyum miring dan menunjukkan kertas itu pada kami.
"Ini adalah peta Underworld School! Karena sekolah kita merupakan sekolah ilegal, jadi kita tidak mungkin mendapat informasi apapun dari media sosial. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah ... mencari peta ini di perpustakaan Underworld School!" ucap Valeria dengan semangat yang tinggi. Aku melongo dan menatap peta yang sebesar buku gambar A3 itu.
"Hm? Bau apa ini?" gumamku saat hendak menyentuh kertas tadi.
PLAK!
Tanpa aba-aba Sky tiba-tiba menampar tanganku, jadinya aku tidak bisa menyentuh kertas itu. Dia juga secara kasar merebut peta tadi dari tangan Valeria.
"Valeria. Coba buka telapak tanganmu," titah Sky dengan nada yang dingin. Valeria dengan ragu mengeluarkan telapak tangannya pada Sky.
__ADS_1
Deg.
"Woah! Tanganku melepuh!" Valeria malah berbicara kagum. Aku sudah kaget karena ternyata petanya beracun, dan Valeria malah menatap tangannya yang melepuh dengan senang.
"Sudah kuduga, tinta peta ini yang beracun, bukan kertasnya. Hmm, sepertinya aku masih tau jenis racun apa ini. Dan aku juga ada penawarnya. Untuk selanjutnya, aku saja yang membawa petanya," ucap Sky panjang lebar sambil mengeluarkan satu bola kecil berwarna biru muda. Sky kemudian memberikan bola kecil itu ke kedua tangan Valeria.
"Genggam bola itu erat-erat. Itu adalah penawar dalam bentuk gas. Jadi kau harus menggenggamnya hingga dia hilang dengan sendirinya," ucap Sky lagi sambil memaksa jari Valeria untuk tertutup. Valeria mematuhi perintah Sky dan tidak membuka tangannya lagi selama Sky belum mengizinkan.
"Nah, kemana kita?" tanyaku sambil mengintip ke arah Sky.
Deg.
"... Sky? Bukannya petanya terbalik?" tanyaku saat melihat tulisan Utara ada di bawah. Sky yang sadar segera membalik petanya dan memandang lagi dengan serius.
"Tunggu ... jangan bilang, kau tidak bisa membaca peta?" Aku curiga pada Sky yang terlihat aneh, jadi akhirnya aku menanyainya tentang hal ini. Sky yang merasa tertohok karena pertanyaanku, langsung menaruh petanya dan menatapku dengan senyuman.
"Ehe, aku tidak bisa membacanya. Bagaimana dong? Apa kau bisa?" tanya Sky dengan senyum lima jari. Aku menghela nafas lalu menatap ke arah Sky.
Terus tanganku bagaimana bodoh jika aku menyentuh petanya?!
"Oh jangan khawatir, sebentar ya." Sky melepaskan ... KULITNYA?! KULIT TANGANNYA KENAPA BISA DIKELUPAS BEGITU?!
Aku menatap tangan Sky dengan tatapan horor. Aku sungguh tidak menyangka bahwa tangan Sky tidak punya kulit(?).
"Nah, pakai ini!" Sky menyerahkan kulit tangannya yang baru dia kelupas padaku.
Sungguh, rasanya aku ingin pingsan sekarang.
"Wah Sky! Kau seperti kadal ya?! Bisa mengelupas kulit!" ucap Valeria dengan tatapan kagum.
"Bukannya mirip seperti ular yang berganti sisik?" tanbahku sambil menatap Valeria.
"INI BUKAN KULITKU ANAK BODOH! INI MEMANG SARUNG TANGAN YANG KUBUAT DENGAN WARNA KULIT! MAU PAKAI ATAU TIDAK?!" Sky melemparkan sarung tangannya ke arahku dengan tatapan marah. Setelah tau bahwa itu bukanlah kulit asli, barulah aku mau memakai sarung tangan tadi, dan membawa peta.
"Hmm, baiklah ... sebaiknya kita kemana ya?"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1