
POV: Author
Sky bermain catur dengan keringat yang mengalir terus-menerus. Tangannya bergetar setiap kali dia mengangkat bidak catur miliknya. Berbeda dengan agen tingkat atas di depan, agen itu tampak tenang dan menikmati permainannya.
"Hm~ aku berhasil memakan satu pionmu lagi~," ucap agen itu sambil mengambil pion Sky. Setelah itu dia mengambil pistol di depan tangan kanannya dan mulai mengisi dengan satu peluru.
Total peluru yang ada di dalam pistol adalah 4.
"Eng? Pistol jenis KF-209? Bukankah ini hanya punya 10 slot untuk peluru?" tanya Sky saat menatap pistol di sampingnya. Agen itu mengangguk lalu lanjut untuk menggerakkan pionnya.
Tak!
Poin pertama untuk Sky.
Sky mengambil pistol di depan tangan kirinya lalu mulai mengisinya dengan satu peluru. Permainan berlanjut, untungnya otak Sky termasuk otak yang cerdas, semua strategi agen di depannya berhasil dia gagalkan. Dia telah menyelamatkan sang Raja dari skakmat yang agen di depannya.
Tapi agen itu bukannya menyerah, justru dia malah lebih rileks dan bermain lebih bagus lagi. Sky juga tahu bahwa pada akhirnya dia akan kalah.
Tak!
Setengah jam berlalu. Kursi tempat Sky duduk terasa panas, tangannya berkeringat dingin hingga ke ujung jarinya. Sesekali Sky melirik ke arah agen di depannya yang tersenyum penuh kesenangan.
Tak!
Lagi dan lagi.
Tak!
Pion Sky digempur hingga tersisa patung Seas sebagai Raja serta patung Valeria.
TAK!
"Skakmat."
Tak.
Agen itu mengambil patung Seas, dan hendak mengambil pistol di depan tangan kanannya. Tapi ekspresinya berubah menjadi kaku seketika.
"Hei ... apa yang lakukan pada tangan kananku?" tanya agen itu sambil menggertakkan giginya. Sky tersenyum simpul, sambil menggelengkan kepala.
"Aku tau sejak awal tidak mungkin menang, dan aku juga tidak pandai catur. Aku juga tidak curang kok dalam permainannya, tapi ... apakah itu adalah salahku ... kalau orang yang bersangkutan tangannya lumpuh?" tanya Sky dengan seringainya. Dengan cepat Sky mengambil kedua pistol di meja catur, matanya menatap ke arah tangan kanan sang agen yang terletak lemas.
"Sejak kapan ... kau menaruh racunnya?" tanya agen itu sambil berusaha tenang.
"Sejak awal kau mulai permainan. Tapi aku baru mengoleskannya secara teratur saat kita bermain," jawab Sky sambil menunjukkan ramuan racun pelumpuh miliknya.
"Menarik ... jadi kau berpura-pura panik, dan membuatku merasa menang, sementara kau menyiapkan racun agar merebut pistolku di saat terakhir?" tanya agen itu dengan senyuman yang sulit diartikan, Sky terdiam kaku, matanya menatap sang agen dengan bingung.
"Tapi aku beneran panik loh. Rasanya seperti disekap oleh om-om mes*m dan dipaksa main catur," jawab Sky sambil cemberut. Agen itu langsung terdiam, hancur sudah semua ekspetasinya.
__ADS_1
"..."
"Kau mau ke kandang harimau atau beruang?" tanya agen itu dengan tatapan yang marah.
"Sepertinya kandang babi lebih enak, apakah ada?" jawab Sky sambil tersenyum puas. Agen tadi kemudian tertawa, tangan kirinya yang masih bergerak leluasa, mengambil sebuah remot dari dalam jubah hitamnya.
"Sky Latrix, ketua dari tim yang beranggotakan Seas Veldaveol serta Valeria Regan, lolos dari arena catur. Arena yang selanjutnya, sangkar sang gladiator."
BRAK!
Lantai tempat Sky berpijak terbelah menjadi dua. Karena rasa kaget, Sky kehilangan keseimbangan dan tidak sempat berpegangan. Saat melihat ke atas, agen itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
"Jangan sampai mati."
BLAM!
Pintunya langsung tertutup dengan keras.
***
Sementara itu Seas ... masih kesulitan dalam permainan kartu ini. Jantung Seas berdegup kencang setiap kali melihat susunan kartu yang berada di tangan agen di depannya itu. Karena ramainya suasana, Seas tidak bisa berkonsentrasi.
Sial ... harusnya aku menyadarinya sejak awal. Agen di depanku ini main curang. Sejak tadi kartu yang dia ambil selalu bagus, kalau disebut keberuntungan, ini terlalu kebetulan. Sebenarnya trik macam apa yang dia mainkan?!
...
Dipikir seperti apapun juga percuma.
SRAK!
Seas langsung melemparkan kartu di depannya ke wajah agen itu. Dalam hitungan detik, Seas mengeluarkan dagger lamanya yang berada di pinggang celananya.
CRING!
TRANGGGG!
Serangan Seas terhenti, agen itu mengeluarkan senjata yang sama persis dengan Seas.
Dagger merah dengan bentuk tengkorak di atas gagangnya.
"Hahaha! Kau benar-benar anak yang tidak sabaran saat kau sudah frustasi! Terlalu mudah ditebak," ucap agen itu dengan tatapan yang dingin. Saat Seas melihat ke dalam tudung hitam itu, jantung Seas terasa seperti berhenti berdetak.
Mata hijau seperti ular yang menunggu mangsanya. Membuat Seas langsung tersadar, bahwa dirinya masuk perangkap. Seas bergegas menarik daggernya, tapi itu sudah terlambat.
CRANGG!
Puluhan rantai mengikat tubuh Seas dari atas hingga bawah. Bahkan Seas tidak bisa berteriak karena banyaknya rantai ini.
"Sssst~ kalau kau berteriak, aku akan kesulitan untuk menculikmu dari Underworld School."
__ADS_1
DEG!
APA?! MEREKA BUKAN AGEN UNDERWORLD SCHOOL?! SIAL!
VALERIA! SKY!
TOLONG AKU!,-batin Seas.
***
Sementara di terowongan bawah tanah.
BRAK BRAK BRAK!
Valeria beberapa kali menembakkan pistolnya ke depan sambil berlari. Tujuannya bukan untuk membunuh kadal raksasa yang mengejarnya, tapi untuk memeriksa jalan agar dia tau kemana dia akan melangkah.
Sial! Sebenarnya aku juga bisa menggunakan bazoka! Tapi aku takut kalau terowongan ini runtuh, aku juga akan mati tertimpa!,-batin Valeria.
Valeria masih terus berlari, beruntung dia adalah anak dengan stamina yang hebat, jadi dia tidak merasa kelelahan walaupun berlari selama 3 jam tanpa istirahat.
DEG!
"Se ... as?" gumam Valeria tiba-tiba. Karena perasaan yang memburuk, Valeria tersandung lalu jatuh tersungkur.
BRAKK!
"Auch ... sial ... aku melamun sejenak!" ucap Valeria dengan kesal. Tapi saat Valeria mencoba berdiri, dia tidak bisa.
Kakinya tertusuk batu tajam hingga menembus telapak kakinya.
AAAAAAAAA DASAR KAKI BODOH! KENAPA KAU MALAH TERTUSUK?! KALAU MAU TERTUSUK JANGAN SEKARANG DONG! KAU TIDAK LIHAT ADA KADAL OBESITAS YANG BERLARI SEPERTI ORANG KESURUPAN?!,-batin Valeria.
Valeria merintih pelan samb mencoba mencabut batu tajam di kakinya. Walaupun Valeria tau bahwa kadalnya sudah semakin dekat, tapi Valeria juga tidak bisa berdiri.
Brak brak BRAK BRAK BRAK BRAK!
Tes ... tes ... tes.
Air liur kadal itu sudah mengenai ubun-ubun Valeria. Sungguh, ingin rasanya Valeria memaki kadal itu sekarang. Tapi dia tau bahwa kadalnya tidak akan pergi jika dimaki, memang harusnya dia dibunuh.
"Oke ... ayo kita taruhan." Valeria menurut matanya pelan, dan mulai mengucapkan sebuah kalimat.
"Ayo mulai, Belmere."
BZZZZTTT!
Bagaikan sebuah mantra, kilatan petir mulai menyambar dari anting Valeria. Kadal itu terdorong mundur, dia melihat Valeria dengan tatapan yang masih sama ganasnya.
"Kita taruhan, siapa yang akan mati duluan."
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!