Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kemunculan sang peniru!


__ADS_3

"Kau ... tidak apa-apa?" Aku menoleh pada Rabbit yang bertanya.


Deg!


"Rabbit?! Kau!"


POV: Sky


Aku tercengang melihat paha Rabbit yang terluka, darah mengalir deras seperti tidak bisa dihentikan. Dengan spontan aku langsung meraih perban yang ada di atas meja dan hendak berjalan ke arah Rabbit.


Tapi kakiku langsung lemas, dan aku bahkan langsung terjatuh ke lantai.


Bruk!


"Ah ... sial ... maaf, sepertinya lututku belum bisa bergerak. Apa kau bisa memasang perban sendiri?" Aku mendongak sambil menahan rasa perih. Rabbit tersenyum kaku dan mengambil perban di tanganku. Tapi setelah perbannya dia ambil, dia segera meraih tanganku dan membantuku berdiri.


"Sepertinya justruk kau yang kondisinya lebih parah daripada aku hahaha!" gurau Rabbit sambil membopongku ke ranjang tempatnya berbaring tadi. Aku duduk perlahan dengan seluruh tubuh yang masih gemetaran. Rabbit menyobek sedikit perban di tangannya dan mengusapkannya ke wajahku.


"Kondisimu seperti orang sekarat, padahal dia hanya menekanmu dengan hawa membunuh," ucap Rabbit sambil membersihkan wajahku. Setelah dia membersihka wajahku, dia memakai perban yang kuberikan tadi untuk dirinya sendiri. Tak disangka, ternyata dia cukup pandai memasang perban.


"Ke-kenapa .. . kakimu bisa terluka?" tanyaku dengan suara yang masih agak gemetar. Rabbit melirik ke arahku dengan mulut yang masih menggigit perban.


Rabbit segera melepaskan gigitannya dan mulai menatapku. "Aku yang melukainya sendiri." Aku tercengang mendengar jawaban dari Rabbit.


"Apa? Kenapa?" tanyaku bingung. Rabbit terkekeh pelan lalu duduk bersandar di tembok.


"Aku juga sama sepertimu, pertama kalinya aku merasakan hawa membunuh sekuat tadi. Karena itu aku berusaha mempertahankan kewarasanku, dengan cara melukai tubuhku sendiri." Rabbit menunjukkan sebuah belati kecil yang dia bawa di sakunya. Dengan ujung yang masih berwarna merah serta ada darah kering yang sudah menggumpal di besinya, bisa kukatakan bahwa sepertinya dia menusukkan belati tadi ke pahanya.


Pantas saja darahnya mengucur deras, lukanya pasti sangat dalam.


"Jika aku ikut tumbang, maka tidak akan ada yang menyelamatkan para murid, yaitu kalian. Aku memang takut, tapi aku harus menjalankan kewajibanku sebagai senior dan guru kalian." Rabbit berkata lagi sambil melihat Valeria yang tertidur lelap. Aku terdiam mendengar perkataan Rabbit, tanggungjawab seorang agen tingkat atas memang pasti sangat besar.


"Harusnya ... setelah ini para agen lainnya sudah menyadari kedatangan sang peniru," gumam Rabbit sambil melihat ke arah atap.


BUNG!


PYASSS!!!


Untuk pertama kalinya, aku melihat Underworld School menjadi sangat terang layaknya siang hari. Aku masih terpaku menatap jendela yang yang kini terkena sinar yang sangat terang entah darimana.

__ADS_1


Sruk!


Rabbit berdiri, dan mulai berjalan ke arah pintu.


"Mau kemana?" tanyaku padanya. Rabbit membunyikan lehernya serta jari-jarinya hingga terdengar bunyi yang renyah.


Kretek kretek.


"Suar bahaya tingkat 1 sudah diledakkan. Pertempuran akan pecah setelah ini. Aku harus pergi ke lokasi lain yang jauh agar aman dari pertarungan mereka." Rabbit kemudian meregangkan otot kakinya, mengabaikan fakta bahwa kakinya baru saja terluka.


"Kenapa? Bukankah kau harus membantu untuk bertarung? tanyaku pada Rabbit lagi. Rabbit menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Aku adalah penguji di ujian ke 3, tak peduli situasi apa yang terjadi, ujian ini tidak boleh dihentikan. Karena itu, aku akan pergi ke lokasi yang agak jauh agar para murid juga mengikutiku." Rabbit memakai kembali topeng kelinci putihnya dengan mata merah itu, dia juga segera berjalan ke arah pintu.


"Nah, jangan khawatir. Kedua temanmu itu akan segera sadar dalam 2 menit lagi. Saat itu terjadi, mengungsilah ke pusat Underworld School. Sampai jumpa."


Whus!


Rabbit menghilang bagaikan tertiup angin. Aku mencoba untuk berdiri walaupun kakiku masih lemas dan bahkan masih gemetar.


Sial! Kaki sialan! Jangan takut bodoh! Ayo kuatkan dirimu!


"Hades ... jika lain kali aku membeku seperti tadi. Tolong tusuk aku agar aku bisa sadar."


[Hahaha! Jangan menarik ucapanmu!]


Aku tersenyum miring sambil menatap ke arah pintu yang terbuka.


"Tidak akan."


***


POV: Seas


Ugh ... apa?


NYUTTT!


Akh?! Kepalaku sangat sakit! Sial ... kenapa yang kulihat semuanya berputar-putar? Ayo Seas! Sadarkan dirimu sendiri!

__ADS_1


Brak!


"HAH! HAH HAH!" Aku menghantamkan kakiku sendiri ke pojok ranjang, jelas sekali rasa nyerinya. Aku menatap sekeliling, dan melihat ke arah Sky yang melotot ke arahku.


"AAAAA!" Aku mundur ke belakang karena kaget oleh ekspresi Sky.


Bruk!


"... Sky?" Tanpa aba-aba, Sky malah pingsan dengan mata yang memutih, lalu perlahan tertutup.


Loh? Dia kenapa? ... Rabbit juga kemana? Sial ... mau tidak mau aku harus menunggu Sky untuk menjelaskan keadaannya!


"Augh ... rasanya tubuhku sangat enteng! Oh selamat pagi Seas! Itu Sky keracunan makanan?"


DEG!


Aku menoleh dan melihat Valeria yang juga baru bangun sepertiku. Kenapa aku tidak ingat ada Valeria ya? Ah sudahlah. Aku segera menggendong tubuh Sky dan langsung berdiri.


"Valeria, ayo kita segera pergi dari daerah pantai ini! Tolong kau bawakan alat-alat Sky ya!" Aku meminta tolong pada Valeria, yang dibalas dengan anggukan olehnya. Sambil menunggu Valeria memasukkan semua alat-alat Sky, aku mengamati keadaan sekitar di pantai ini.


Pasir pantai yang sudah tidak rata, ada beberapa lubang dan jejak kaki panjang di atasnya. Jelas ada pertarungan tadi di sini. Dan sepertinya, skala pertarungannya memang tidak cukup besar, tapi ... ada bau darah.


"Seas! Aku sudah selesai!" Valeria keluar dari rumah itu sambil membawa sekantung besar alat Sky. Aku sedikit melotot saat tau bahwa Sky membawa banyak sekali alat dengannya.


"Kita harus kembali ke asrama. Mungkin kita bisa menemukan sebuah petunjuk dalam perjalanan ke sana," ucapku pada Valeria. Kami berdua langsung berlari, membelah hutan super gelap Underworld School, menuju ke arah asrama kami. Memang cukup jauh, tapi jika kami terus berlari tanpa henti, mungkin kita akan sampai dalam 1 hari.


Aku dan Valeria terus berlari, melompati ranting pohon yang kokoh, melompati atap antar bangunan dan berlari di atas genteng rumah. Kami terus berlari hingga sebuah suara muncul dan menyebut nama kami.


"SEAS! VALERIA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Ini ... suara X! Aku dan Valeria berhenti mendadak, dan langsung menoleh ke sumber suara. Mata kami tertuju pada X yang telah memakai seragam resminya sebagai seorang agen kelas Spy. Pakaian warna hitam penuh, serta senjata sniper kesayangannya yang terpatri indah di punggungnya. Dia bahkan mengenakan masker untuk menutupi mulut dan hidungnya.


"APA KALIAN DENGAR PERINTAH HARUS MENGUNGSI?!" teriak X marah.


"HAH?! MEMANGNYA UNDERWORLD SCHOOL MAU KENA TSUNAMI?!" Valeria ikut kaget dan sedikit berteriak.


"GEMPA BUMI?!" Aku ikut berteriak dan malah jadi main tebak-tebakan.


"BUKAN ANAK BODOH! ADA PENYUSUP YANG MAS- SEAS! DIBELAKANGMU!"


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2