Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kunjungan Venom?


__ADS_3

..."Sial ... masih ada 5 hari lagi."...


POV: Venom


Ini baru hari ke 2 setelah ujian dimulai, yah ... harusnya aku masih tidak boleh menemui Seas. Tapi aku sekarang ingin melihat wajahnya.


Ingat, hanya melihat saja.


Kira-kira bagaimana ya nasibnya? Karena dia adalah tim yang membawa amplop berisi surat kemenangan. Dan menurutku, sistematika ujian kali ini sangat sulit. Mungkin sekitar 4 sama 5 kali lebih sulit daripada tahunku dulu.


Aku juga paham kenapa mereka melakukan ini. Tapi tetap saja, ini sedikit sia-sia jika ada banyak anak berbakat yang terbunuh. Meskipun begitu, aku akan percaya saja pada Rex, dia punya pemikirannya sendiri.


Aku berjalan melewati dinginnya udara dini hari. Tidak ... sebenarnya tidak peduli malam atau siang, matahari di sini memang tidak pernah kelihatan. Kalau mereka memang tidak terbiasa dengan hal ini, mereka pasti akan jadi gila karena tidak tau waktu.


Setelah beberapa jam aku berjalan, akhirnya aku sampai di depan pintu asrama Seas. Ada sedikit rasa menggelitik di hatiku ketika membayangkannya tersenyum, atau saat dia memanggil namaku.


Kret.


Deg.


Apa ... bau darah? Bau darah siapa ini? Jangan bilang ini milik Seas? Atau bahkan rekannya?


Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku langsung menerobos masuk? Tapi aturannya ... seorang agen tingkat atas tidak diperkenankan untuk membantu pemula.


Oh iya, kan aku bisa lihat lewat jendela dulu.


Drap!


Tap!


Aku langsung berlari ke sekeliling asrama ini, mataku bisa melihat bahwa ada jendela yang terbuka di sekitar tengah bangunan. Langsung saja aku melompat masuk dan mulai menjelajah asrama Seas.


Bukannya aku belum pernah ke sini, hanya saja aku tidak pernah masuk sedalam ini. Jadi aku harus mencari tau seluk beluk asrama ini.


Tapi aneh, aku tidak mendengar suara pertarungan. Hanya saja memang bau darahnya masih kuat. Dan ... kenapa asrama ini bau racun dan obat-obatan yang aneh?


Aku tau hal ini karena aku juga mantan kelas obat dan racun. Tapi dari baunya, sepertinya ini sudah bercampur penawarnya. Jadi tidak apa-apa kuhirup dengan normal.


Aku melangkah tanpa suara selama menyusuri lorong gelap asrama ini. Setiap kamar kosong di sini membawa perasaan sepi dan aneh di hati orang yang melewatinya. Sepertinya para arwah anak yang mati itu tidak pernah tenang.


Setelah cukup lama berjalan, akhirnya aku sampai di bau darah yang paling kuat.

__ADS_1


Ruang tamu.


Dengan hati-hati aku mengintip dari balik dinding. Tapi suasana ruangan ini masih sama sepinya.


Mataku melihat mulai dari kanan ke kiri, lalu ke lantai.


Dan ...


Ternyata mereka bertiga tertidur di sana.


"Apa mereka baru saja diserang?" gumamku saat melihat alat pel dan kain yang masih berwarna merah. Mataku beralih ke arah tong sampah dengan ... KEPALA MANUSIA?!


MEREKA BODOH ATAU BAGAIMANA?! INI HARUSNYA DIKUBUR DULU DASAR ANAK MALAS!


Aku hendak membangunkan mereka dengan kasar, tapi hatiku jadi tidak tega saat melihat wajah lelah mereka. Pasti karena tadi mereka diserang saat sedang tidur.


Aku juga pernah mengalaminya, saat kau bangun dan langsung dipaksa bertarung untuk bertahan hidup. Kepalamu akan jadi pusing dan sakit rasanya. Belum lagi rasa lelah di tubuhmu akan meningkat beberapa kali lipat karena reaksi tubuh untuk bangun yang tiba-tiba.


"Dasar ... aku akan membiarkan kalian kali ini saja," ucapku biasa dan mulai membungkus jasad itu dalam satu kantung hitam. Urusan ruangan ini biar mereka bersihkan sendiri, tapi jasad ini biar aku yang mengurusnya.


Aku mendoakan yang terbaik di ujian kalian.


Jangan mati ya.


***


Rasanya kepalaku sudah sedikit lebih segar. Sepertinya karena terlalu mengantuk, aku jadi tertidur di sini. Sambil membuka mataku secara perlahan, aku melihat Sky dan Valeria yang masih tertidur pulas. Karena tidak ada cahaya matahari yang mengenai kami, jadi rasanya tidak pernah ada pagi hari.


Snif snif!


"Hah? Bau apa ini?!" ucapku sambil menutup hidung. Bau busuk yang menyengat ini seperti datang dari segala penjuru. Aku langsung terduduk dan menatap sekeliling.


OIYA! KITA BELUM MEMBERSIHKAN RUANGANNYA!


INI MALAH MEREKA MASIH ASIK TIDUR?! HARUSKAH KUBANGUNKAN SAJA?!


Tapi kasian juga, apalagi Valeria. Badannya sudah seperti kentang kupas yang dibalut perban. Dan Sky baunya sudah mirip obat gerus di apotik. Sepertinya aku akan membersihkan ruangan ini sendiri.


Syukurlah bau darahnya hanya di ruang tamu saja.


"Baiklah! Ayo kita mulai! Semangat Seas!".

__ADS_1


***


Hampir 3 jam aku membersihkan ruang tamu ini hingga bau darahnya hilang. Rasanya seperti sendiku mau copot. Aku tadi berusaha memindahkan Sky dan Valeria agar mereka tidur di sofa. Untungnya sofa tidak terkena cipratan darah.


"Tapi sekarang jam berapa ya? Oh iya, amplopnya juga kemana-," ucapku terpotong karena sadar dengan apa yang aku katakan.


"AMPLOPNYA KEMANA LAGI ASTAGAA!" teriakku frustasi. Berkat teriakanku itu, Sky dan Valeria langsung bangun dan terlonjak kaget. Mereka langsung menatapku dengan tatapan marah serta lelah.


"Ada apa lagi?!" kesal Valeria sambil menggerutu, sementara Sky masih menguap sambil terkantuk-kantuk.


"Amplopnya kemana?!" tanyaku dengan cepat. Valeria jadi langsung menatapku horor, jangan-jangan dia juga lupa siapa yang bawa.


"Tadi belum kau ambil? Di mayat yang di sana," tanya Valeria sambil menunjuk ke arah luar. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, karena aku memang tidak ingat sama sekali soal amplopnya! Oh tidak, aku mengambilnya kok!


"Aku mengambilnya kok! Tapi kemana sekarang?" ucapku panik sambil memegang kepalaku. Sky langsung diam terpaku, matanya menatap lurus tanpa berkedip ke arah jendela ruang tamu yang terbuka.


Padahal tadi terkunci.


"Kalian mencari ini?" Seorang pria dengan topeng rubah kecil di atas kepalanya, duduk di tepi jendela itu sambil memegang sebuah amplop.


Itu amplop kami. Dan dia adalah pria yang tadi malam aku lihat saat berlari untuk mencari amplop.


Sret.


Aku langsung berlari ke arahnya dengan belati di tangan kananku, aku sudah lelah karena bertarung semalaman, dan sudah ada orang yang mengajakku berkelahi lagi?


"Tenanglah, aku bukan musuhmu," ucapnya dengan ekspresi kecewa. Dia menghela nafas sejenak lalu menatapku dengan matanya.


Mata merah muda yang indah, dengan pupil seperti kucing. Mata itu seolah menenggelamkanku dalam pesonanya.


Dan saat aku sadar, di sampingku sudah ada kaki yang melayang dengan cepat.


BUAGH!


Sial! Tendangan macam apa ini?! Sakit sekali!


Aku terduduk lemas, meski tendangannya tidak kuat ... tapi bagian yang kena tendang itu sangat sakit.


"Aku adalah agen tingkat atas, code namaku adalah Tone, aku hanya ingin berbicara saja. Dengan Valeria Regan." Dia berkata dengan dingin dan tegas. Seluruh mata kini menatap Valeria dengan bingung.


..."Ada apa?"....

__ADS_1


TBC.


Jangan likenya ya guys!


__ADS_2