Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (3)


__ADS_3

POV: Author


Mendengar jawaban Sky, Leonax merasa hatinya semakin ngilu. Sosok bocah yang masih 7 tahun mendapat hidup yang begitu berat. Selesai mengobati pipi Sky, Leonax menggendongnya lalu membaringkan Sky di tempat tidur.


"... Kenapa kau malah membaringkanku?" tanya Sky heran. Leonax juga jadi bingung.


"Loh? Bukankah tadi anda memang mau tidur?" tanya Leonax.


"Iya sih ... tapi sekarang ngantuknya hilang. Aku ingin jalan-jalan di dekat danau," ucap Sky sembari bangun dari tidurnya, beralih ke posisi duduk. Leonax mengangguk paham, dia membantu Sky untuk berdiri, lalu mengawal Sky dari sisinya saat pergi ke area danau yang ada di kebun rumah Sky.


Sebenarnya Leonax merasa heran, danau ini tidak pernah dirawat oleh kedua orangtua Sky semenjak Dira pernah hampir tenggelam di danau ini. Tapi Sky masih sangat menyukainya. Tak butuh waktu lama, keduanya kini sampai di depan danau yang kotor dan sangat buruk ini.


Sky duduk di tanah yang agak kotor itu tanpa merasa terbebani sedikitpun, malahan, justru Leonax yang kaget. "Tu-Tuan Muda! Pakaian anda bisa kotor jika duduk tanpa alas!" ucap Leonax panik. Sky malah tertawa ringan, lalu dia menepuk-nepuk tanah kosong yang ada di sebelahnya.


"Leonax juga duduklah, di sini rasanya enak loh!" ucap Sky polos. Leonax masih agak ragu, tapi Sky juga sudah terlajur duduk di tanah. Akhirnya Leonax memilih untuk menuruti permintaan Sky. Setelah Leonax duduk, Sky tidak mengajak Leonax berbicara lagi, dia hanya diam dan memandangi danau kotor di depannya.


"... Kenapa, anda begitu menyukai danau ini?" tanya Leonax agak ragu. Dia sebenarnya sangat ingin menanyakan hal ini. Dia sendiri juga sudah cukup sering mendapati Sky sering pergi ke danau ini seorang diri.


Mendengar pertanyaan dari Leonax, sesimpul senyuman mulai terukir di wajah Sky. Bocah laki-laki itu menatap warna air danau yang sudah berubah menjadi coklat kehitaman. "Karena aku merasa danau ini mirip seperti, sama-sama ditinggalkan," ucap Sky yang nampaknya sama sekali tidak diduga oleh Leonax. Pengawalnya itu terlihat panik, dia merasa bahwa dia sudah menanyakan hal yang salah.


Tetapi, ketika dia melihat wajah Sky yang sekarang tersenyum, dia merasa bingung. Sky melanjutkan ucapannya. "Dulu, aku memandang danau ini dengan perasaan sedih, karena berpikir kalau dia mirip denganku. Sebenarnya sampai sekarang juga seperti itu sih, hanya saja ...," ucapan Sky terhenti, dia melihat ke arah Leonax dengan senyuman yang lebar.


"Hanya saja, kalau aku melihat danau ini sekarang. Perasaanku jadi lega. Danau ini memang sudah tidak seindah dulu, tapi danau ini juga sudah tidak seburuk itu. Danau ini memperbaiki dirinya sendiri, hingga ke titik dimana dia bisa memperindah dirinya," ujar Sky tenang. Leonax melongo mendengar pernyataan Sky, dia tidak menyangka bahwa bocah berusia 7 tahun ini bisa mengatakan hal seperti sekarang.


"Mungkin sekarang dia belum 10, tapi sebentar lagi, dia akan bisa menjadi lebih baik. Ke versi terbaik dengan usahanya sendiri. Aku yakin, saat danau ini sudah menjadi indah secara alami, maka orang lain akan mulai melihatnya lagi, dan merawatnya seperti dulu," tambah Sky. Leonax sadar, bahwa pola pikir Sky yang sekarang sudah berubah. Entah apa yang mempengaruhinya, tapi pola pikir Sky yang sekarang lebih terbuka daripada dulu.

__ADS_1


Leonax tersenyum tipis dan menghela nafasnya. "Begitu, ya? Anda benar, semua itu membutuhkan proses," ujar Leonax lagi. Setelah itu, keduanya hanya bersantai dan bermain di pinggir danau hingga matahari terbenam. Saat hari sudah semakin gelap, Leonax mengantarkan Sky ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat di kamarnya.


"Saya pamit dulu, Tuan Muda. Selamat beristirahat," pamit Leonax pada Sky yang baru selesai mandi, dan hanya mengenakan kaos dan celana biasa. Sky menganggukkan kepala, barulah setelah itu Leonax benar-benar keluar dari kamarnya. Sky memilih duduk di atas ranjang, sembari melihat ke arah gerbang rumah keluarganya yang sekarang membuka.


Dia melihat sebuah mobil hitam yang mulai memasuki rumahnya.


"Mereka sudah pulang," gumam Sky dengan senyuman. Sky segera menutup jendelanya, dan berganti pakaian yang lebih bagus. Setelah itu dia keluar dari kamar, berlari dengan agak cepat supaya bisa menyambut keluarganya yang baru pulang.


Beberapa menit kemudian akhirnya Sky bisa sampai ke pintu utama. Dia melihat ke arah ayahnya yang menggendong Dira yang terlelap. Kehadiran sosok Sky diketahui oleh ayah dan ibunya. Kedua orang dewasa itu melihat Sky dengan tatapan datar.


"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Sky dengan senyuman yang mulai terasa kaku. Ayahnya mengabaikan Sky, dan malah berjalan langsung melewatinya. Kini dia menatap mata sang ibu.


"Kami sudah makan malam," jawab ibunya sekedarnya, lalu segera berjalan mengikuti sang suami. Para pekerja yang ada di sana menatap iba pada Sky, meskipun ada juga beberapa yang tidak peduli pada hal itu.


Tuk tuk!


"Baiklah," ujar butler itu lalu dia pergi untuk mengambilkan makanan. Sky pun berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah yang pelan serta loyo. Karena kesenangan yang dia rasakan hari ini, dia lupa diri bahwa dia adalah anak yang tidak disukai oleh keluarganya.


Sesampainya di kamar, Sky segera masuk dan membiarkan pintunya terbuka. Daripada berbaring di ranjang, Sky memilih untuk duduk di kursi belajarnya sembari melamunkan sesuatu.


Sebenarnya, kenapa?


Kenapa mereka begitu tidak menyukaiku?


Aku salah apa?

__ADS_1


Dulu, Sky dan Dira diperlakukan setara. Hingga ketika pendidikan keduanya dimulai, Sky mulai diperlakukan dengan lebih buruk. Kadang Sky iri pada anak lain yang terlihat begitu disayangi meski dia mungkin tidak pintar.


"Aku harus jadi pintar," gumam Sky pada dirinya sendiri saat merasakan matanya yang mulai memanas. Sky berusaha mencegah air matanya turun, dia menenangkan dirinya dan mulai membuka buku.


Tok tok tok!


"Tuan Muda," panggil sang butler dari luar kamar. Sky menoleh, melihat nasi dan sup hangat yang masih mengepulkan uap panas. Butler itu mulai melangkah masuk, lalu menaruh makanannya di meja belajar Sky yang kosong.


"Anda harus makan supaya bisa berkonsentrasi, jika ada apa-apa, anda bisa memanggil saya," ucap butler itu halus. Sky mengangguk dan tersenyum.


"Terimakasih!" ucapnya. Butler itu kemudian pergi keluar. Sky mulai memakan makanan tadi dengan perlahan karena masih panas. Sky meniupi makanannya sebentar lalu dia masukkan ke dalam mulut.


"Hmp?! HOEK!" Sky langsung memuntahkan kembali makanan itu ketika dia baru saja sampai di lidahnya. Sky segera mengambil segelas air yang ada di sana dan meminumnya dengan cepat.


"?! UHUK! UHUK!" Sky juga tidak bisa menelan airnya dan memilih untuk mengeluarkannya lagi.


A-apa?


Mata Sky membelalak lebar, dia menatap ke arah nasi dan sup hangat serta air putih di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mereka ... memasukkan pasir?


Sky merasakan lidahnya yang terasa kasar dan tenggorokannya yang terasa serak. Dengan tangan yang gemetar, Sky mencoba mengaduk supnya.


Dan ternyata benar, hanya bagian atasnya saja yang terlihat seperti makanan. Bagian bawahnya, adalah pasir hitam yang membuat Sky tersedak.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2