
..."Maafkan aku, Seas."...
POV: Valeria
Ugh sial, rasanya perutku sangat sakit. Dan kepalaku juga pusing, seperti ... aku baru saja dilempar-lempar oleh seseorang.
BRUK!
Aku segera membuka mataku saat mendengar suara seseorang yang ambruk. Nafasku memburu saat menatap Seas yang pingsan berlumuran darah.
Dan apa-apaan kondisi ini?! Kemana perginya semua salju?! Bagaimana bisa ada salju setajam ini?!
Mataku dengan cepat melihat ke arah Siol, di tangannya terbentuk lagi salju yang tajam. Saat itu, secara naluri aku sadar, aku harus bergerak agar Seas bisa hidup.
"[Teknik mata-mata: Peluru Bayangan.]"
DOR!
Sial ... harusnya tidak mengeluarkan suara! Aku tidak bisa meniru sebaik yang X lakukan.
CRAT!
Meskipun begitu, aku lega karena peluruku tetap mengenainya. Dia langsung menatapku dengan wajah marah, semburat merah itu mulai bermunculan di dahinya.
"Harusnya kau tetap tidur saja yang tenang~," ucapnya sambil menjilat darah di tangan kirinya. Aku mencoba untuk berdiri. Tapi rasanya sangat sakit seolah perutku berlubang.
Saat aku berdiri, barulah aku menyadari. Seluruh tempat ini dipenuhi oleh darah Seas.
Bagaimana bisa dia bertahan dalam kondisi separah ini? Ini seperti ... mewarnai seluruh lapangan dengan darah! Ini gawat ... tidak baik jika aku terlalu lama membiarkan Seas kekurangan darah.
Nyawanya benar-benar bisa terancam!
Aku menarik nafas dalam, tangan kananku langsung membidik ke arah Siol. Mataku menyadari adanya luka di pinggang kiri Siol. Sepertinya Seas yang menorehkan luka fatal itu di sana.
"Aku juga awalnya mau tidur saja, tapi sepertinya membunuhmu lebih indah daripada mimpiku," ucapku sambil tersenyum. Meskipun sekarang berdiri saja sangat sulit.
Krek ... Krek ...
Siol memutar lehernya ke kiri dan kanan, suaranya seperti besi yang dipaksa untuk bengkok. Dari sini saja aku sudah menduga sekeras apa latihan yang dia jalani.
"Sepertinya kau harus benar-benar dibunuh sejak awal," ucap Siol. Dalam hitungan detik, 5 jarum salju itu datang ke depan wajahku. Tubuhku langsung membeku, sarafku mengirim sinyal berkali-kali agar aku menghindar, tapi ini tidak akan sempat.
Yasudah, aku terima saja.
CRASH!
Lima buah jarum salju itu menancap indah di tubuhku. Rasanya sangat sakit, aku harus segera meminum obat yang diberikan oleh Sky.
Tanganku bergetar mencari obat di sakuku. Obat ini adalah obat terlarang bagiku. Jika aku mengonsumsi obat ini. Aku akan menggila.
__ADS_1
Tidak masalah, setidaknya aku harus membunuh perempuan sialan itu.
Glek.
DEG! DEG DEG! DEG DEG DEG!
Detak jantungku mulai memburu. Rasa sakit yang kurasakan berangsur-angsur menghilang. Ya, ini adalah obat yang meningkat hormon adrenalin dengan cepat hingga ke taraf yang mematikan.
Yaitu taraf dimana aku tidak merasakan takut ataupun sakit.
Dengan begini, aku bisa berkonsentrasi tak peduli seberapa parah lukaku. Asal aku berkonsentrasi, aku yakin bisa seimbang dengan perempuan ini.
"Apa-apaan ekspresinya itu? Kau yakin bisa menang melawanku?" tanyanya dengan senyum yang meremehkan. Aku hanya mengangkat sebelah alisku sembari tangan kiriku menyentuh darah yang hendak menetes.
"Aku memang yakin kok, kau kan ... sangat lemah," provokasiku pada Siol.
Siol menghela nafasnya dengan ekspres remeh. Matanya menatapku seolah aku adalah serangga.
"Baiklah, kita coba saja!" Siol mengangkat tangan kirinya yang berlumuran darah. Dia sedikit tersentak, sepertinya dia kesakitan saat hendak menggerakkan jarinya.
"Cih, kau beruntung karena tangan kiriku terluka!" Siol berdecak kecal, dia menurunkan tangan kirinya lalu membuat sebuah gerakan dengan tangan kanannya.
"Kalau aku menggunakan tangan kiriku, kau akan mampus lebih cepat dari hari ini. Karena sekarang aku hanya bisa menggunakan tangan kanan, aku hanya bisa menggunakan 50% kekuatanku," jelas Siol. Entah dia bodoh atau apa, bukankah dia baru saja membocorkan kelemahannya?
Apa dia terlalu besar kepala dan menganggap aku bukan masalah besar?
..."[Teknik terlarang Pengguna Salju: Mimpi di musim gugur]"....
"Nah, kita mulai saja~ yang pertama!" Suara Siol terdengar tidak jelas.
ZRASH!
"Apa?" Aku menatap kaki kiriku yang tertusuk oleh dua buah salju tajam.
Cih, jadi ini adalah teknik kamuflase? Merepotkan sekali. Tapi bagaimana caraku memecahkan teknik ini?
Dari tadi Seas bertarung dengan lawan setingkat ini? Bahkan dia bilang ini baru 50% kekuatannya?
Aku saja sudah mau gila karena melawan teknik ini.
"Bagaimana? Apa kau sudah tau perbedaan kekuatan kita?" Suara perempuan itu terdengar lagi. Tapi aku tidak tau dia ada dimana. Putaran salju ini, selain menghalangi penglihatan dan pendengaran. Ini juga membuat gerakanku melambat karena hawa dinginnya.
CRASH!
Lagi-lagi dia menyerang kakiku, sekarang kaki kananku yang jadi korban. Kalau bukan karena obat Sky, aku yakin sekarang aku pasti sudah berlutut di tanah.
"Kau lebih lemah dari teman laki-lakimu, benar-benar bukan ancaman untukku," ucapnya lagi. Aku mulai menutup mataku. Tidak boleh termakan provokasinya, aku harus tau dia ada dimana.
Wush ...
__ADS_1
Suara salju dan angin yang memenuhi kepala serta telingaku. Aku menyobek sedikit kain hitam yang terikat di leherku, lalu melemparkannya ke pusaran angin salju ini.
SRAK!
"DI SANA KAU SIALAN!" Aku segera menembak ke arah suara itu berasal.
DOR!
Meskipun kamuflasenya sempurna, tapi salju tidak akan membuat kainnya jatuh ke tanah, apalagi dalam angin sekencang ini. Kalau sampai kainnya menimbulkan suara, berarti ada yang mengenainya!
"Kau cukup cerdik juga ya?" Siol mulai menampakkan dirinya. Pusaran salju ini menjadi pelan, dan akhirnya musnah. Aku tersenyum miring saat melihat peluruku berhasil mengenai lengan kanannya.
"Hmm, tak kusangka ... murid dari Underworld School ya? Kalian sangat hebat," ucap Siol sambil tersenyum misterius. Matanya menyorotkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku ingin bermain lebih lama lagi, tapi sayangnya aku tidak bisa. Sampai jumpa," ucap Siol lalu akhirnya menghilang. Di balik rimbunnya salju dan gelapnya malam, aku terduduk lemas dan bersandar pada pohon.
"Seas ... OIYA! ASTAGA SEAS TERKUBUR SALJU! DIMANA DIA TADI?!" ucapku panik saat baru ingat bahwa Seas ada di tanah, dengan salju yang berputar seperti tadi, pasti Seas sudah tertimbun di bawah salju!
"Aku harus menemukan Seas sebelum efek samping obatnya bekerja!" ucapku dan mulai menggali salju, sambil mengingat-ingat dimana Seas terjatuh tadi, tanganku tidak berhenti menggali tanah putih yang dingin ini.
"Oh! Kete-"
Sial ... aku sangat pusing.
Efek obatnya sudah bekerja.
Maaf, Seas.
BRUK!
***
POV: X
"SKY! SELAMATKAN SEAS DAN VALERIA!" perintahku pada Sky. Nafasku tersengal-sengal, menghadapi lebih dari 5 orang agen tingkat atas, tentu ini juga melelahkan untukku.
"Bagaimana denganmu?!" tanya Sky dengan tatapan khawatir.
Aku juga tidak yakin apakah aku bisa selamat?! Tapi aku sudah berjanji akan mengutamakan nyawa mereka lebih dulu!
Sebenarnya alasanku membawa Sky di sampingku kali ini, karena tekniknya yang sangat bermanfaat untukku. Tapi jika Seas dan Valeria yang dikejar, aku tidak boleh membuat mereka terbunuh hanya karena keegoisanku.
"Kau di sini saja, aku yang akan menyelamatkan Seas."
Dev tiba-tiba datang setelah menyembunyikan Ron ke tempat aman.
"Ke arah mana?" tanya Dev.
..."Hutan Utara!"...
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!