Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kutukan Seas!


__ADS_3

POV: Author


Dahulu kala, hidup sebuah keluarga kecil yang cukup kaya. Ya, mereka adalah keluarga Veldaveol. Pada awalnya, keluarga ini tidak memiliki rambut hitam dan warna mata ungu seperti sekarang.


Mereka dulu hanya manusia biasa yang diberkati dengan kecerdasan dan keberuntungan di atas rata-rata. Hingga sebuah tragedi terjadi. Salah satu kepala keluarga Veldaveol. Terjun ke dunia bawah.


Pembunuhan.


Perampokan.


Pemberontakan.


Perang.


Hal itu tidak lepas dari kehidupannya sekarang. Karena merasa dirinya berbakat dalam dunia bawah, kepala keluarga itu mulai melatih secara khusus anggota keluarganya. Dimulai saat mereka memasuki umur 18 tahun.


Secara berkala, warna rambut mereka menghitam dari yang awalnya berwarna coklat. Dan bola mata mereka berubah menjadi ungu. Tidak ada yang tau apa penyebabnya.


Karena itu, hal ini disebut dengan ...


'Kutukan darah Veldaveol'.


***


POV: X


Begitulah isi berkas yang aku terima dari Underworld School. Jadi sejak awal, keluarga Seas sudah masuk ke dunia bawah ini. Bukan hanya kakaknya, mungkin ayah atau ibunya sudah masuk ke dunia ini juga.


Karena Seas belum berumur 18 tahun, dia belum mengetahui fakta ini. Gawat ... ini lebih rumit dari yang kukira.


"Kutukan milik Seas itu ... apa dampaknya?" tanyaku sambil menaruh berkas itu di meja. Mataku menatap serius pada Ron yang duduk di depanku.


"Kau sudah membaca semuanya?" tanya Ron. Aku mengangguk, berkas itu hanya beberapa lembar, tidak mungkin aku melewatkan sesuatu.


"Kau ingin tau, dampak positif atau negatifnya lebih dulu?" tanya Ron sambil tersenyum. Aku menelan ludahku dengan gusar.


Ada dampak negatifnya?

__ADS_1


"Sebutkan secara berurutan," ucapku.


"Baiklah, dampak positifnya ... kutukan itu membuat Seas lebih kuat, seperti yang kau dengar. Seas bahkan mampu bertarung dengan Siol yang berada di peringkat 1100. Dan ... jika dia sudah mengaktifkan kutukannya, artinya dia bisa mengalami 'pembuktian' dua kali," jelas Ron. Aku terkejut mendengar kalimat terakhirnya. Pembuktian dua kali? Normalnya seseorang hanya akan mengalami pembuktian satu kali dalam hidupnya. Dan pembuktian itulah yang memberi kekuatan.


*Jika kalian bingung apa itu pembuktian, kalian bisa membaca bab (apa itu pembuktian?).


Jika Seas mendapat dua kali, maka itu sama saja menjadikannya monster.


"Lalu dampak negatifnya, setiap kali kutukannya aktif ... Seas akan mengalami pendarahan hebat. Mulai dari hidung, mulut, mata, telinga, jari, semua yang bisa mengeluarkan darah. Yah, inilah krisis Seas saat ini. Dia mengalami anemia dalam kondisi yang paling buruk," ucap Ron lagi.


"Astaga ... bagaimana ini?" ucapku sambil menundukkan kepala. Aku benar-benar bingung sekarang, kondisi mereka tidak memungkinkan untuk dibawa pulang. Seas yang terkena anemia, Valeria yang mengalami kerusakan organ dan jaringan, serta Sky yang mengalami luka bakar dan pecahnya paru-paru.


"Jangan khawatir, kau bisa tinggal di sini sampai keadaan mereka membaik, dan ... aku juga punya janji dengan Seas," ucap Ron sambil tersenyum lembut. Aku mengernyitkan keningku. Kalau kuingat-ingat, sepertinya dulu Ron dan Seas pernah bertemu secara pribadi.


"Baiklah, sampai jumpa!" Ron kemudian pergi, dan meninggalkanku sendirian di kamar ini. Begitu banyak hal yang aku pikirkan, hingga rasanya kepalaku semakin berdenyut sakit. Aku membaringkan diriku di kasur yang empuk sambil menatap langit-langit.


Jadi bisa dibilang bahwa mereka semua dalam keadaan koma. Aku hanya bisa menunggu, kapan mereka akan sadar? Entahlah, karena aku terlalu lama termenung sendirian, aku jadi mengantuk. Sepertinya aku akan tertidur.


***


POV: Author


"Venom. Bagaimana hasilnya?"


Perempuan dengan rambut hijau serta mata merah itu menoleh dengan cepat. Samar-samar terdapat kemarahan dan rasa lelah dalam sorot matanya.


"Mereka bermain dengan rapi, aku tidak bisa menemukan jejak mereka sedikitpun," ucap Venom dengan nada yang datar seperti biasa. Yah, Venom kan hanya berekspresi saat ada Seas.


"Kau sendiri bagaimana? Ghost?" tanya Venom pada pria dengan wajah yang penuh luka bakar. Pria itu melirik ke arah Venom, lalu segera memakai topeng hantu khas miliknya. Topeng dengan wajah seram berwarna hitam, serta mata sipit yang melengkung ke atas.


"Ini sangat memalukan, padahal kita adalah agen terbaik dalam penyusupan. Tidak disangka mereka bisa mempermainkan kita sampai seperti ini," ucap Ghost lalu melompat keluar dari jendela. Sementara Venom masih berdiam diri di ruangan itu. Matanya melihat ke arah kepulan asap yang menghiasi kota penuh salju itu.


"Kau benar-benar kaisar yang buruk," ucap Venom lalu berjalan pergi, meninggalkan jasad kaisar yang berlumuran darah.


"Lapor, negara Valord ... sudah dibersihkan."


***

__ADS_1


Waktu terus berjalan, hari demi hari berganti, puluhan malam telah terlewati. Tepat satu bulan semenjak kejadian waktu itu, akhirnya Seas telah sadarkan diri.


***


POV: Seas


Ukh! Ada apa ini? Rasanya seluruh tubuhku sangat berat.


Dengan pelan kubuka mataku, cahaya terang dari lampu langsung menyambutku.


Ini ... rumah sakit? Ada begitu banyak selang ... warna merah. Dan ini? Alat bantu pernafasan?


Tapi ini dimana? Ingatanku sangat samar. Hal terakhir yang kuingat ... Ack! Apa ya? Aku tidak bisa mengingatnya.


"Aa ... apakah ... ada orang di sini?" ucapku dengan sangat pelan. Rasanya sangat berat bahkan hanya untuk membuka mulut. Seluruh indraku rasanya menumpul, rasanya aku hanya bisa menggunakan indra penglihatan dan pendengaranku saja. Kulitku masih mati rasa, begitu juga dengan hidungku yang tidak membaik apapun.


Prak.


"Seas? ... K-kau ... sudah bangun?"


Aku menatap ke arah pintu yang terbuka. Menampilkan X yang membawa buah dan beberapa bunga. Tapi dia menjatuhkannya tepat saat melihatku tadi.


Sial, aku ingin menjawab pertanyaannya! Tapi rasanya mulutku sangat kaku sekarang!


Sebagai gantinya, akhirnya aku hanya tersenyum samb melirik ke arahnya. X langsung berlari ke arahku lalu memeluk tangan kiriku. Dia mengusap punggung tanganku ke wajahnya.


"Syukurlah ... kau sudah bangun-hiks," ucapnya sambil menangis. Saat aku melihat lebih dekat ke wajah X, aku melotot saat tahu bahwa kepala X ada perbannya.


Ingatan kejadian hari itu langsung datang beruntun. Seperti batu yang memaksa masuk ke dalam kepalaku.


"ARGHHH!" teriakku sambil berusaha melepas semua alat medis di tubuhku. Tentu saja X tidak membiarkanku melakukan itu, dia langsung menangkap kedua tanganku lalu menatapku khawatir.


"Seas?! Ada apa?! Seas!" ucapnya panik, tapi aku masih tetap berteriak kesakitan. Ini bahkan lebih sakit dari saat dadaku keram waktu itu!


"Tenanglah, Seas! Sial, aku tidak bisa memanggil dokter karena harus memegangi tanganmu!" ucap X kesal sambil memandangi bel di samping kasurku. Dengan sigap X langsung melompat dan menekan bel itu dengan kakinya yang bersepatu. Tidak lama kemudian, ada seorang dokter laki-laki dengan beberapa perawat di belakangnya yang datang.


..."Anda bisa menyerahkan hal ini pada kami, tolong anda keluar lebih dulu."...

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya guys!


__ADS_2