Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Konflik! (1)


__ADS_3

POV: Seas


Aku berdiri terhuyung, menahan rasa sakit di perutku. Aku tahu bahwa banyak orang yang menatapku dengan tatapan tajam saat ini. "Apa?! Tidak terima hah?!" Aku menatap mereka balik dengan tajam.


Bugh!


"ADUH!" Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di kepalaku. Tapi ini bukan pukulan super kuat seperti punya Venom, ini lebih pelan dan tidak terlalu sakit. Aku menoleh untuk melihat siapa yang memukulku.


"A.pa. yang. kau. la.ku.kan?!" Valeria ada di sebelahku sambil mengepalkan tangannya kuat.


"Va-Val?" Aku melangkah mundur. Valeria yang sedang emosi ini cukup menakutkan.


"Sky. Bawa Seas," perintah Valeria serius. Aku menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan Sky.


Jreb.


"AKH!" Aku sedikit memekik saat merasakan benda kecil menusuk kulit leherku. Aku melirik ke arah belakang, dan mendapati Sky yang menyuntikkan sesuatu.


"Maaf, tidurlah dulu. Kau sangat susah diatur jika bangun," ucap Sky sesaat sebelum aku mulai mengantuk.


"Anak anj ... "


***


Gelap.


Di mana ini? Rasanya aneh ... ada apa ini?


Bau obat? ... Baunya mirip dengan bau Sky.


Aku membuka mataku perlahan, dan melihat punggung seseorang. "Sky? ...," ucapku lirih saat melihat jas laboratorium hitam di depanku.


"Hah?! Kau sudah sadar?! Kok bisa?!" Sky terkejut karena aku sudah terbangun. Tapi meskipun aku bangun, kaki dan tanganku masih agak lemas.


"Hah! Kau kurang ajar ya, memberikan obat bius ke temanmu," gumamku sambil tetap bersandar di pundak Sky.


"Karena kau tadi mengamuk bukan, apa kau tau jantungku dan Sky hampir melompat keluar tadi?" ucap Valeria yang ada di sisi kanan Sky.


Ah, ternyata kami bertiga sudah keluar dari gedung. Kemana kita?


"Kita sedang dalam perjalanan ke asrama, kau harus menenangkan dirimu dulu," ucap Sky lagi sambil terus berjalan maju. Aku masih tetap bersandar sambil melamun.


SRAK!


Aku melotot saat pandanganku tiba-tiba menjadi tidak jelas, detik selanjutnya aku sadar bahwa aku sekarang tidak lagi digendong oleh Sky. Dengan tubuh yang masih dalam efek bius, aku sebisa mungkin untuk mengangkat kepala, melihat siapa orang yang membawa tubuhku sekarang.


"Cassio?"


***


POV: Author


Cassio membawa Seas dengan menggendongnya di bahu, seperti membawa karung beras. Kini, di depan Sky dan Valeria, tim Van yang berisikan Van, Cassio, dan Aran. Tiba-tiba datang dan menghadang mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Kembalikan Seas," ucap Valeria serius sambil berjalan maju.


"Ei ei ei~ perhatikan langkahmu manis, kau tidak ingin leher temanmu ini putus bukan?" Aran mengeluarkan sebuah pisau sepanjang telapak tangan, dan mengarahkannya ke leher Seas yang tergantung.


Valeria menghentikan langkah kakinya dan mulai menatap Aran sambil tersenyum. "Hei bocah pendek, cepat turunkan benda imut di tanganmu itu. Kau tidak ingin kuinjak sampai masuk ke tanah bukan?" ucap Valeria dengan senyuman yang lebar.

__ADS_1


Suasana di sana langsung hening. Karena memang Aran yang paling pendek diantara mereka semua. Mungkin tingginya hanya 155 cm. Bahkan Valeria saja tingginya 167 cm.


"... Pendek katamu?" Aran tersenyum tapi sambil mengeraskan rahangnya. Kini mereka berdua malah adu mata.


"Lepaskan ..."


"Ah? Kau bilang apa bocah kuning?" Aran mendengar Sky bergumam.


"Cepat lepaskan Seas, sebelum kalian menyesalinya." Sky menatap Aran dengan tatapan yang datar dan tajam, sangat-sangat tajam.


"Oh ya? Memangnya apa yang akan kami sesali?" tanya Van ganti sambil menjilat jarinya. Perempuan berambut pirang serta mata merah itu terlihat begitu menikmati yang mereka lakukan.


Sky melepaskan jubah laboratorium putih yang dia kenakan, dan langsung berjalan ke arah Van. Bagi Van dan timnya, tindakan Sky ini tidak mengartikan apapun.


Tapi bagi Valeria dan Seas, ini adalah hal yang mengejutkan.


Karena Sky tidak pernah melepas jubahnya di pertarungan apapun.


Jika Sky melepas jubahnya di sini sekarang, maka bisa dipastikan bahwa dia sangat sangat sangat marah.


Sepertinya yang harus kalian tenangkan sekarang bukan aku deh,-batin Seas yang masih digendong Cassio.


Mampus, Sky kumat. Bagaimana ini,-batin Valeria yang mulai bertanya-tanya.


Sky kini berhadapan di depan Van yang tersenyum seperti orang sakit jiwa, atau mungkin memang iya. Karena tinggi mereka hampir sama, jadi Sky tidak perlu mendongak ataupun menunduk untuk menatap Van.


"Sudah sejak ujian ke 4, aku begitu kesal dengan apa yang kalian lakukan. Pengkhianatan, penipu, pecundang yang hanya mengandalkan orang untuk menang." Mata kuning Sky menatap langsung mata merah Van. Keduanya terdiam, hingga akhirnya Van membuka mulutnya lagi.


"Pecundang? Bagaimana kalau langsung saja kita buktikan di sini?" Van membelai pipi Sky, dan dia malah tersenyum.


"Kau tau Van? Untuk menyentuh seorang dokter, tanganmu harus steril," ucap Sky sambil tersenyum miring. Tak lama kemudian, tangan yang Van gunakan untuk menyentuh Sky mulai melepuh.


Bruk!


Begitu juga dengan Cassio yang langsung menjatuhkan Seas ke tanah. Pundak yang Cassio gunakan untuk menggendong Seas tadi langsung melepuh dan mengeluarkan nanah serta darah.


"Aduh ... jangan langsung dijatuhkan dong," ucap Seas sambil berusaha duduk. Tangannya masih gemetar karena efek bius Sky masih ada.


"Kau ... menggunakan racun matahari?" tanya Van sambil melihat tangannya.


Kling.


SRAAANGG!


Sky langsung mengeluarkan jarum beracunnya dan mengayunkan jarum itu ke leher Van. Namun Van bisa bereaksi dengan cepat, dia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang langsung digunakan untuk menangkis jarum Sky.


Bugh!


Van menggunakan kaki kanannya untuk mendorong Sky menjauh, beruntung Sky bisa bertahan dengan menggunakan lutut kirinya.


Klik.


Valeria juga langsung melangkah mundur sambil mengeluarkan pistolnya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu membidik?".


Srat!


Aran melangkah maju menyesuaikan diri dengan langkah Valeria. Aran dengan cepat menahan kedua tangan Valeria agar dia tidak bisa membidik. Tentu saja, hal yang dilakukan Aran adalah salah satu teknik pertahanan dalam menghadapi pembunuh jarak jauh.

__ADS_1


Dan ini yang lebih membuat Valeria kesal.


"Kalau kau mau menahanku, minimal tinggi badanmu harus 2 meter."


BUAGH!


Kaki Valeria yang lebih panjang dari Aran, membuat Valeria bebas dengan menendang perut Aran. Berkat tendangan itu, Aran langsung melepaskan pegangannya dan langsung menutupi perutnya.


"Sial!"


Klik.


Valeria sudah membidik tepat ke kepala Aran. Tapi saat Valeria berniat untuk menarik pelatuk, sebuah tangan besar datang di depan wajahnya.


GREB!


WHUNG!


Itu adalah tangan besar Cassio yang langsung mencengkeram seluruh wajah Valeria. Dalam satu hentakan, dia melemparkan Valeria ke tanah.


BUAGH!


Valeria mendarat lebih dulu dengan kepala di bawah. Hal ini pasti akan mempengaruhi akurasinya dalam menembak. "Ah anjing, apa-apaan-".


BUAGH!


CRAT!


Belum selesai Valeria bicara, sebuah lutut besar langsung melayang ke wajah Valeria. Bahkan mulut dan hidung Valeria langsung memuncratkan darah segar.


"Kami sudah melihat kerja sama tim kalian, Valeria Regan. Seorang murid dari kelas pembunuh pertarungan senjata api. Jangan harap kami akan membiarkanmu membidik," ucap Cassio sambil mengekarkan tubuhnya. Valeria segera bangun sambil mengeluarkan darah yang ada di hidung dan mulutnya.


"Haaahhh. Kalian benar tentang satu hal, yaitu aku dari kelas senjata api.


Tapi kalian salah dalam beberapa hal." Valeria berdiri tegak, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.


Itu adalah sebuah karet gelang.


Valeria mengikat rambut panjangnya yang dia gerai, dengan model ekor kuda di belakang kepala. Valeria lalu berjongkok seolah sedang bersiap untuk lari cepat.


WHUSH!


Selanjutnya Valeria langsung berlari maju ke arah laki-laki besar yang bernama Cassio itu. Cassio yang melihat pergerakan Valeria dengan jelas, dia langsung memasang posisi tangan bertahan di depan perut dan mukanya.


"Teknik asal-asalan: penghancur lutut."


BUAGH!


KLETAK!


Valeria langsung menendang lutut kiri Cassio yang terbuka lebar dari sisi luar. Hasilnya, lutut Cassio tidak patah.


Tapi sendinya miring.


Cassio langsung tersungkur ke depan karena saat ini dia hanya bisa berdiri dengan satu kaki. Di depan Cassio yang tersungkur, dia melihat sepatu boots milik Valeria.


"Aku tidak pernah bilang, aku tidak bisa bertarung jarak dekat," ucap Valeria dengan tatapan merendahkan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2