
POV: Seas
"Jadi ... kenapa kita dibawa ke sini?" Aku bertanya dengan sorot mata yang bingung. Aku, Valeria, C, X, dan juga Venom sekarang berada di dalam ruangan Rex. Ya, ruangan super gelap dan bau cerutu itu. Aku dan Valeria duduk di sofa hitam yang biasa kami duduki sebelumnya, kami hanya terdiam sambil menatap Rex yang sedang berdiri sambil menghadap jendela kaca.
"... Seperti yang kau lihat, Seas. Keadaan cukup kacau semenjak kepulangan kalian dari Negara Hyacinth. Dan rasanya, kekacauan ini tidak akan reda dengan mudah," ujar Rex tanpa menoleh pada kami.
"Oh, yang tadi," jawabku sambil mengingat segerombol orang yang ingin menghabisiku tadi.
"Karena itu, lebih baik kalian tidak berada di Underworld School untuk sementara waktu. Aku akan memberi kalian misi baru." Rex akhirnya memutar badannya, lalu berjalan ke arah laci meja dan mengambil sesuatu dari sana.
"Misi baru? Bukankah mereka baru sembuh?" tanya Venom biasa dengan ekspresi datarnya. Rex tersenyum simpul dengan tatapan yang licik.
"Tidak apa-apa tidak apa-apa. Misi kali ini tidak terlalu berbahaya, yah ... mungkin?" ujar Rex dengan seringainya.
Aku menatap Rex dengan tatapan malas. Sepertinya aku selalu hampir mati, dan Rex masih bilang mungkin tidak berbahaya? Emang anjing. Kalau mau bohong setidaknya berusahalah lebih masuk akal.
"Jangan terlalu khawatir, misi kalian akan ditemani oleh C. X dan Sky akan menyusul agak terlambat. Jadi, kalian berangkat dulu bertiga." Rex melemparkan sebuah lembaran foto yang kemudian mendarat di tangan Valeria.
"Foto apa ini?" Valeria mengusap fotonya beberapa kali, berusaha melihat dengan jelas apa yang ada di dalam foto gelap tersebut.
"Misi kalian sekarang akan sedikit berbeda dari yang biasanya." Rex berucap, lalu berjalan mendekat.
"Jika yang sebelumnya misi kalian selalu berada di negara resmi, maka misi kalian sekarang, adalah pergi ke wilayah ilegal." Rex menyalakan sebuah pemantik api, dan mendekatkan api tersebut ke foto yang Valeria pegang. Perlahan-lahan gambar yang ada di dalamnya mulai terlihat seiring dengan kertas fotonya yang terbakar.
Gapura yang terlihat kuno dan usang dengan tulisan 'HELL'. Juga beberapa orang yang mengenakan masker merah gelap. Pemandangan dari foto itu tidak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian, fotonya hangus terbakar habis.
"Hell? Hell apa? Hello hello?" Valeria bertanya dengan nada yang bingung.
__ADS_1
"... Jangan bilang itu Helling Town? Apa kau memberikan misi itu pada mereka?" Venom bertanya lagi. Rex mengangguk setuju, lalu dia berjalan dan duduk di kursi kerjanya.
"Kalian harus mengungkap teror yang terjadi di kota ilegal itu," ucap Rex dengan senyuman. Valeria langsung berdiri dengan bersemangat. "Oke! Gampang! Tinggal membunuh mereka saja kan?" ujarnya semangat, bahkan dia sampai menyingkap lengan bajunya.
"Hm~ lebih baik kalian rasakan saja sendiri. Nah, untuk yang selanjutnya aku serahkan padamu, C. Lebih baik kalian berangkat dari sekarang." Rex melirik ke arah agen C, aku mengikuti arah pandangannya.
Mataku terhenti ketika melihat ekspresi dari agen C.
Itu adalah ... ekspresi yang baru pertama kali aku lihat. Dari wajahnya yang biasanya hanya mengeluarkan senyuman bengis percaya diri, kini yang kulihat hanyalah sorot matanya yang terlihat redup dan dingin.
.
.
.
"Sudah," jawab kami bersamaan. C mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Kami benar-benar hanya berangkat bertiga, aku, Valeria, juga Agen C. Sebenarnya aku penasaran kenapa Sky tidak langsung berangkat bersama kami, tapi X bilang ada sebuah urusan yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu ...
"... Jangan khawatir, Sky baik-baik saja. Hanya saja ada beberapa hal yang harus dia urus terlebih dahulu. Dia akan menyusul di pertengahan misi kita," ujar C tiba-tiba. Aku kaget, rasanya dia seperti membaca pikiranku.
"Oh iya, Helling Town itu seperti apa sih?" tanyaku berusaha mengalihkan pemikiran yang tidak berguna.
"Helling Town itu, seperti ... tempat tinggal para manusia kotor. Sesuai penjelasan Rex, itu adalah tempat ilegal. Meskipun aku bilang itu tempat tinggal manusia kotor, tapi bukan berarti semuanya seperti itu. Ada yang menaruh selingkuhan mereka di sana, atau bahkan menyembunyikan anggota keluarga mereka ... anak di luar nikah misalnya," jelas C.
"Benarkah? Lalu, sebenarnya misi kita itu bagaimana sih?" Valeria ganti bertanya.
Untuk sejenak C terdiam, barulah dia mulai kembali berbicara. "Pembunuhan, perampok, bahkan hampir segala jenis kejahatan ada di kota itu. Karena mereka tidak dilindungi undang-undang apapun, maka yang berlaku adalah hukum rimba. Yang kuatlah yang berkuasa. Lalu misi kita, sebenarnya adalah menangkap pelaku dari teror yang disebut 'Paket Merah'." C kemudian berhenti berbicara, membuat aku dan Valeria saling bingung tatap menatap.
__ADS_1
"Paket Merah apaan?" tanya Valeria heran.
"... Jadi sesuai namanya, sebelum pelaku membunuh korbannya, dia mengirimkan sebuah paket pada korban. Paketnya seperti paket biasa, namun ketika paket itu dibuka, dalamnya biasanya berisi senjata berwarna merah. Dan senjata itulah yang digunakan untuk membunuh korban," jelas C lagi. Aku bergidik sesaat. "Pelakunya pasti tidak waras," gumamku.
"Yah, mungkin saja. Namun masalahnya adalah, pelakunya sangat sulik dilacak. Seolah-olah, mereka adalah seorang pro yang sedang bermain-main." C berdecak sesaat dengan senyuman di wajahnya. Kalau C sendiri sampai bilang begitu, tampaknya pelaku teror kali ini bukanlah manusia biasa.
"Oh tapi! Kenapa harus Underworld School yang menanganinya? Apa hubungan Underworld School dengan Helling Town?" Aku bertanya lagi. Jika dipikir lagi, ini memang tidak masuk akal. Underworld School adalah sebuah sekolah yang bahkan identitasnya sangat rahasia. Tapi Rex sendiri malah meminta kami mengatasi masalah ini?
"Hubungannya ya ... tidak ada."
"Lah?" Aku dan Valeria bersuara bersamaan.
"Tidak ada hubungannya, aku juga tidak paham kenapa Rex meminta kita mengatasi hal ini. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti, mungkin kita akan menemukan tujuan Rex mengirim kita ke sana," jawab C dengan wajah datar yang kulihat dari spion tengah mobil.
Aku tidak lanjut bertanya lagi, dan memilih diam sampai beberapa jam ke depan. Sepertinya, bukan hanya aku yang lebih banyak diam, Valeria juga tidak seaktif biasanya. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi ... mungkin ini hanya sebuah perasaan ...
Perasaan bahwa setelah ini akan ada sebuah hal besar yang muncul.
"C AWAS DEPAN!"
Aku kaget, Valeria tiba-tiba berteriak sambil menarik bahu C ke belakang. C spontan jadi ikut kaget, dia banting setir ke kanan. Untungnya kita hanya masuk ke semak-semak.
"Val, C, kalian tidak apa-apa?" Aku menoleh ke arah mereka dengan tatapan panik.
"Matanya buta ya?!" Valeria langsung mengumpat setelah pipinya menempel pada kaca mobil sebelumnya. Rambutnya jadi berantakan seperti baru saja diterpa badai topan. Sedangkan C sendiri tampaknya masih shock, dia hanya diam dan melamun dengan pandangan kosong.
"Aku akan menembak kepalanya! Apa dia tidak punya mata?! Mau mati ya tinggal bilang lah!" Valeria membuka pintu mobil dan langsung keluar. Aku sebenarnya agak bingung karena tidak melihat apa yang terjadi, tapi aku merasa bahwa aku harus menenangkan Valeria. Jadi aku ikut keluar dari mobil, menyusul gadis yang berapi-api itu.
__ADS_1
TBC.