
"Tepi pantai beracun."
***
POV: Seas
"Nah, apa kalian sudah siap?" tanyaku sambil menatap Valeria yang sedang menutup pintu asrama kami. Ini masih dini hari, kami berencana untuk pergi ke pantai beracun yang berada di Barat Daya Underworld School. Karena lokasinya yang jauh, kami memutuskan untuk meninggalkan asrama selama ujian ke 3, dan akan tidur di jalanan untuk mempermudah perjalanan.
"Ya. Ayo kita berangkat," ucap Valeria dengan senyuman. Kami mulai berangkat dengan berlari kecil, hawa dingin dari Underworld School yang tidak pernah menghangat, awan hitam layaknya malam yang tidak pernah pergi.
Tak terbayang rasanya aku sudah terbiasa dengan pemandangan sekolah khusus pembunuh ini.
"Sebaiknya, hari ini jangan terlalu berharap bahwa kita bisa menyentuhnya, medan hari ini sangat merugikan untuk kita," ucapku memberi peringatan pada Sky dan Valeria. Mereka berdua mengangguk dan memberikan senyuman.
"Baiklah, pantai beracun, kami datang."
***
POV: Author
Underworld School, sebuah sekolah dengan ruang lingkup yang sama luasnya dengan kota besar. Keberadaan sekolah ini bahkan tersembunyi dari peta dunia. Dan dari banyak serta luasnya sekolah ini, ada sebuah pantai yang masuk ke dalam Underworld School.
Namanya adalah laut beracun, lautan itu mendapat nama ini bukan hanya karena sebutan belaka. Laut ini memiliki sumber racun aneh yang mencemarinya, hanya ikan-ikan karnivora dengan jenis super aneh yang ditemukan di laut dengan kepekatan racun yang sangat tinggi ini.
Tidak ada makhluk hidup lain yang mampu bertahan di sana, bahkan manusia sekalipun.
Kecuali, jika memang mereka adalah manusia yang sudah berkembang.
***
"Seas, kita sudah sampai?" tanya Sky sambil menepuk pundak Seas. Mereka bertiga kini sedang bersembunyi dibalik sebuah batu karang yang besar. Karena tidak ada tumbuhan yang bisa hidup di pantai ini, yang tersisa hanyalah tulang-tulang ikan dan batu karang yang besar dan tajam.
"Ssssst! Ya, kita sudah sampai. Sekarang kalian paham bukan? Apa yang kumaksud dengan medan yang sulit?" tanya Seas sambil tersenyum ragu. Setelah itu mereka bertiga diam, mata mereka tak lelah melihat sekeliling pantai ini.
5 menit.
15 menit.
45 menit.
"Ini ... kenapa dia tidak keluar?" tanya Seas dengan tatapan mata yang bosan.
"Apa kita salah tempat?" tanya Valeria sambil terus membidik ke arah laut.
"Hm? Tidak salah kok, kalian sudah benar."
DEG!
Suara Rabbit yang muncul tiba-tiba mengagetkan mereka bertiga, dengan spontan mereka langsung berguling ke arah yang berbeda. Valeria langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke topeng kelinci agen Rabbit.
Dor!
Rabbit dengan mudahnya melompat ke belakang, menghindari peluru Valeria.
Greb.
Rabbit menggenggam pasir saat dia mendarat, dan melemparkannya ke udara. Seas yang sadar bahwa ada sesuatu yang akan terjadi, segera mengeluarkan daggernya dan bersiap untuk yang terjadi selanjutnya.
"Hoho, kau sudah pernah melihat trik ini ya?" gumam Rabbit yang melihat Seas sudah bersiaga. Rabbit melompat ke udara dengan posisi yang berputar, kaki kanannya menendang udara kosong.
WHUSSSS!
Angin berhembus kencang begitu tendangan Rabbit dilancarkan, pasir yang tadi berada di udara, jadi terbang ke arah Sky dengan kecepatan tinggi.
"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"
Whus.
"LARI BODOH!" Seas menggunakan seni miliknya dan menyelamatkan Sky dari hujan pasir yang bisa menembus tubuh itu.
BUGH!
Seas menggendong Sky di bahunya dan berlari lurus ke kanan untuk menghindari hujanan pasir.
__ADS_1
Cklik.
"[Teknik mata-mata: peluru bayangan.]"
Dor.
Ssrtt.
Rabbit yang terlambat sadar, akhirnya terkena tembakan Valeria di telapak tangan kanannya. Agen tingkat atas itu melihat peluru besi yang menempel kuat di kulitnya, dengan telunjuk kiri, Rabbit mengeluarkan peluru tadi dari tubuhnya.
SRET.
Rabbit kini ganti mengejar Valeria. Dalam hitungan detik, agen kelinci itu sudah ada di depan gadis berambut coklat kemerahan itu.
Sky dan Seas yang sadar bahwa tujuan Rabbit berubah, mencoba secepat mungkin untuk menggapai Valeria, terutama Seas.
Langkah bayangan kurang cepat! Aku harus menggunakan teknik ke 5!-batin Seas.
Seas berhenti berlari, dan mulai memasang posisi kuda-kuda seninya. Dia mengarahkan kaki kirinya ke depan, dan menekankan ujung dagger ke bagian depan.
"[Tekni bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]"
Futt!
Tubuh Seas langsung menghilang detik itu juga, saat Sky sadar, ternyata Seas sudah ada di belakang Rabbit.
Bagus!-batin Sky.
"Hehe."
Deg.
Senyum Sky langsung luntur saat mendengar suara tawa Rabbit. Kejadian yang selanjutnya sangat tidak disangka.
Tubuh Rabbit bagaikan berhenti di udara, dia tidak turun, seolah menentang apa itu gravitasi. Seas menyadari bahwa paha Rabbit mulai sedikit berubah posisi, yang artinya ...
Rabbit akan menendang.
Seas mencoba untuk memasang posisi bertahan dengan kedua lengannya. Tapi hal itu sudah terlambat. Rabbit melancarkan tendangan menyabit dari ujung kanan ke ujung kiri.
WHUSSS!
BLARRRRRR!!!
Angin super kuat kini bertiup, bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya. Seas yang sudah berada tepat di belakang Rabbit, jadi terlempar ke tengah laut beracun. Sedangkan Sky terlempar belasan kilometer ke belakang, tertimbun dengan pasir dari pantai laut beracun.
"SEAS! SKY!" Valeria berteriak panik saat melihat Seas yang sudah tenggelam di dalam laut beracun.
BYURR!
"TIDAK!" Valeria hendak berlari ke arah Seas, mengabaikan Rabbit yang sudah berada di depannya.
"..." Rabbit yang dilewati hanya diam dan melihat rambut merah Valeria yang lewat di samping kirinya.
Begitu Valeria sudah melewatinya, Rabbit membalikkan tubuhnya dan melihat gadis itu hendak masuk ke laut beracun.
"Apa kau sungguh akan masuk ke sana? Menyia-nyiakan nyawamu begitu saja? Kau tau kan bahwa tidak ada yang selamat jika sudah menyentuh air laut itu?" tanya Rabbit tapi diabaikan oleh Valeria. Perempuan itu sudah bersiap untuk melompat masuk ke laut beracun.
"Tunggulah aku, Seas!" Valeria sudah siap untuk melompat.
[Lumius, kekuatan penuh.]
[Teknik bayangan: nomor 11, sang peniru - Teknik pedang bulan: nomor 1, bulan sabit yang terang.]
CRINGGGG!
Gerakan Valeria tertahan karena adanya cahaya terang dari dalam laut beracun. Cahaya itu terang, sangat terang hingga menembus pekatnya laut hitam ini.
ZRASHHHH!
Sebuah tebasan berbentuk bulan sabit melayang dengan kecepatan yang sangat tinggi, ukuran tebasan ini sangat besar, melebihi ukuran normal kekuatan pengguna aslinya.
Saking besar dan cepatnya, bahkan laut beracun ini terbelah. Dari dasar laut, terlihat Seas yang kulitnya sudah menjadi ungu, tapi matanya masih belum menyerah.
__ADS_1
Valeria terdiam melihat tebasan itu yang mengarah ke arah Rabbit.
"Hoho? Sepertinya aku harus menggunakan teknikku kali ini."
[Teknik kelinci neraka: nomor 1, kaki merah.]
Rabbit mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, saat tebasan bulan sabit milik Seas sudah mendekat, barulah Rabbit mengayunkan kakinya ke bawah.
Sebuah aura merah terbentuk seperti sabit yang melengkung. Aura merah itu dengan brutal berhadapan dengan bulan sabit terang milik Seas.
TRANGGGG!!!!
DUARRRRRRR!!!!!
WHUSSSS!!
Ledakan kedua teknik itu menciptakan medan gravitasi aneh di pantai ini. Hal ini membuat air laut tiba-tiba terangkat dan menuju ke arah Rabbit.
"Puah! Akhirnya aku keluar!" Sky baru saja keluar dari timbunan pasir.
"Ledakan teknik bulan yang Seas tiru, meledak dan menciptakan gravitasi bulan di pantai ini. Air laut ini terkena gravitasi sementara akibat teknik Seas, dan menuju ke arah Rabbit," gumam Valeria yang melihat air laut yang sedang menuju ke arah pusat gravitasi, yaitu tempat Rabbit berdiri.
"Oh! Seas!" Valeria teringat saat melihat tubuh Seas yang terbawa air untuk menuju ke arah Rabbit. Tanpa ragu Valeria langsung menggenggam tangan Seas dan menariknya keluar dari ombak air yang datang.
"Ukh!" Valeria merasakan perih di telapak tangannya, saat dia melihat tangannya itu, warnanya sudah berubah menjadi biru kehitaman.
"Kapasitas racun di laut ini bukan main," ucap Valeria sambil tersenyum kecut. Apalagi saat melihat Seas yang sudah berwarna ungu kehitaman.
"Sky! Ayo kita pergi dulu!" Valeria berteriak tanpa menoleh ke arah Sky. Anak laki-laki berambut kuning itu masih tidak paham apa yang terjadi, tapi memilih untuk mendengarkan Valeria.
Mereka bertiga berlari meninggalkan pantai ini, membiarkan Rabbit yang mengurus air laut yang naik.
"Hah? Siapa orang hitam yang kau bawa?" tanya Sky saat melihat Valeria menggendong Seas.
"Ini Seas bodoh! Dia terkena racun!" ucap Valeria kesal.
"APAAAAAAA?!" Sky berteriak histeris saat sadar bahwa yang Valeria gendong itu adalah Seas.
Sreett.
"Tunggu, aku harus mengambil sampel airnya!" Sky berhenti mendadak dan mengeluarkan sebuah botol kaca. Dia dengan cepat mengayunkan botol itu ke permukaan air untuk mengambil sampel air yang akan dia teliti nanti.
"Oke ayo!"
Whus!
Valeria dan Sky masih terus berlari. Mereka baru berhenti saat melihat sebuah rumah kosong di tepi pantai.
Valeria dan Sky berhenti sejenak, mereka saling bertatapan lalu mengangguk.
Sky maju lebih dulu sambil mengeluarkan sebotol ramuan berwarna biru matang. Dia membuka pintu rumah itu dengan hati-hati, lalu mengintip sekelilingnya.
"Sepertinya rumah ini kosong. Ayo masuk," ucap Sky lalu masuk lebih dulu. Valeria segera masuk dan menutup pintu dengan kakinya.
Bruk!
Valeria membaringkan Seas yang tak sadarkan diri di sebuah sofa, Sky dengan sigap segera membuka jubahnya dan mengeluarkan alat-alat yang dia bawa.
"Syukurlah aku membawa beberapa alat, aku akan segera membuat penawarnya," ucap Sky sambil mulai bekerja. Valeria juga segera membuka jaketnya, menyisakan kaos lengan pendek yang menempel di tubuhnya.
Punggung Valeria terasa perih, pasti air laut yang ada di tubuh Seas ikut menetes di tubuh Valeria. Tapi Valeria masih bisa sadar karena tidak terkana racun terlalu banyak, dan dia punya daya tahan tubuh yang luar biasa.
Tubuhku sudah pernah diberi sel tumbuhan untuk pengobatan luka, mungkin karena itu aku bisa bertahan. Tapi Seas ... darah apa yang dulu dia terima?
Kalau tidak salah, dulu Seas pernah kehabisan darah, dan dia diberi darah tambahan bukan?
Tapi darah jenis apa itu?
Kenapa darahnya bisa sekuat ini melawan racun?-batin Valeria.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1