
POV: Seas
"Nah, sekarang ayo kita bahas lebih dulu." X mengeluarkan beberapa lembar kertas lebar dan menaruhnya di atas meja. Sekilas aku melihat data beberapa orang yang terpampang di dalam sana.
"Aku berhasil menemukannya, ada 4 orang yang aku yakini bagian adalah kelompok Razeks."
"Razeks sendiri yang merupakan ahli kaca."
"Parrot, orang yang menyusahkan kita dengan kemampuannya meniru suara."
"Coses, ahli menggunakan aroma."
"Yang terakhir, Maria, perempuan ahli senjata."
Keempat wajah dan data orang-orang itu disajikan dengan spesifik yang jelas. Kemampuan fisik, serta beberapa teknik yang berhasil X ketahui.
"Jangan terpaku pada keempat orang ini, aku tidak yakin bahwa akan ada orang lain yang tidak aku ketahui," ucap X sebagai tambahan. Aku dan Sky mengambil kertas yang berisi data Razeks.
"Kami akan mengurus Razeks, pria ini benar-benar mengesalkan," ucapku sambil memelototi kertas itu.
"Hahahaha! Baiklah-baiklah! Kalau begitu, Razeks aku serahkan pada kalian. Dengan begini, Sky dan Seas akan bergerak dalam satu tim," ucap X mengiyakan permintaan kami.
"Nera akan bergerak bersama C, dan Valeria akan pergi dengan Mores. Aku akan bergerak seorang diri," ucap X lagi.
BRAK!
"HAH?! AKU SATU TIM DENGAN TANTE INI?!" Valeria menggebrak meja dan menunjuk Mores dengan jari telunjuknya.
"Aku juga malas satu tim dengan bocah," ucap Mores menimpali.
"Ckckck! Tidak bisa! Kalian sangat cocok sebagai satu tim berdasarkan teknik dan cara bertarung, kalian bisa saling melindungi satu sama lain," jelas X yang membuat Valeria berdecih kesal. Aku hanya tersenyum melihat mereka berunding seperti ini, biasanya juga langsung maju tanpa rencana.
Tapi ... mungkin karena musuh kami saat ini sangat kuat. Kami tidak bisa bertindak dengan ceroboh.
Di sini, kami adalah katak, sedangkan musuh kami adalah ular.
Kami mungkin berperan sebagai katak, tapi bukan berarti kami yang selalu jadi mangsa. Bukankah ada katak yang memangsa ular?
"Seas, apa kau punya ide untuk menghadapinya?" tanya Sky sambil melihat data statistik fisik Razeks. Mendengar pertanyaan Sky, untuk sejenak aku merenung.
Kemampuan fisiknya mendapat peringkat S, IQ bertarung A, penguasaan teknik A, dan penguasaan senjata adalah S. Jika dibandingkan dengan dataku dan Sky, tentu kami bahkan tidak sebanding dengannya.
Kemampuan fisikku masih berada dalam kisaran B+. Dan yang lainnya juga B, satu-satunya yang A dariku adalah penguasaan teknik.
Sedangkan untuk Sky, fisiknya C+, dan untuk kecerdasan, Sky mendapat peringkat S. Yang lainnya, masih berada di kisaran B dan C.
__ADS_1
Ini benar-benar seperti timbangan yang berat sebelah ...
"Seas, kau lihat. Penguasaan senjata Razeks berada di peringkat S. Tapi jika kita berhasil membongkar rahasia senjatanya, bukankah setidaknya kita bisa membuat peringkat ini turun menjadi A saat kita menghadapinya?" ucap Sky yang tentu masuk akal. Dengan kita berhasil membongkar rahasia senjatanya, kita bisa menanggulangi kerusakan yang lebih besar.
Tapi ...
"Jika kita tidak bisa menemukan kelemahan dalam tekniknya, sama saja akhirnya kita akan jadi bangkai untuk yang kedua kalinya nanti," ucapku sembari teringat diriku yang hampir saja menyusul ayah dan ibu.
"Seni yang dia kuasai bukanlah seni terlarang, justru harusnya ini lebih mudah dikendalikan daripada seni terlarang," ucapku menambahkan. Sky tampak berpikir sejenak, lalu menatapku.
Puk.
Sky menepuk pundakku dan tersenyum simpul. "Saat aku melawannya, dia tidak menggunakan teknik sama sekali. Jadi, aku pasrahkan padamu soal tekniknya," ucap Sky sambil memberiku jempol kanannya.
Sialan.
.
.
.
POV: Author
Malam pertama telah tiba, hari disaat bulan tidak menampakkan wujudnya, adalah malam yang lebih gelap dari malam manapun. Dari kegelapan bayangan gedung-gedung tinggi, seseorang yang membawa sniper sedang berlarian dan melompat seperti seekor tupai yang lincah.
Targetku sekarang adalah sang ahli suara, Parrot. Sebelumnya, aku gagal menangkap belut itu. Kali ini, akan kupastikan dia habis di sini, batin X sembari terus mendengarkan dengan seksama.
"X! Apa yang kau lakukan di sini?! Bukankah ini adalah zona pencarian kami?"
X menoleh ke samping kanannya ketika mendengar suara Sky yang berteriak dari sana. Karena pencahayaan yang kurang, yang X lihat hanyalah bayangannya saja.
"Oh? Benarkah, aku tidak sadar karena terlalu serius mencari!" jawab X sambil berhenti berlari. X langsung berbalik badan, dan berlari ke arah yang berlawanan.
Saat bayangan X sudah tidak terlihat lagi, pria yang meniru suara Sky kini menampakkan wujudnya. Dia bukanlah Sky, dia adalah parrot, ahli suara yang dicari oleh X. Rambut abu-abu serta bermata hitam.
"Gawat sekali, aku tidak menyangka kemampuan agen mata-mata Underworld School akan sehebat ini.
Semuanya menjadi semakin berbahaya, aku harus memberi peringatan pada temanku supaya mereka mundur." Parrot hendak mengeluarkan ponselnya, namun saat dia hendak menekan tombol di sana, ponsel Parrot meledak.
DARR! PRAKK!
Sebuah peluru besi membuat ponselnya meledak dan hancur berkeping-keping. Parrot langsung melihat sekeliling, dia tidak tahu asal pelurunya dengan jelas karena malam yang gelap.
Sementara itu, dari kejauhan, X sudah mengeluarkan snipernya yang mengeluarkan asap. "Aku tau kau pasti akan menipuku dengan pita suaramu yang mengesalkan. Karena itu, aku dan rekanku sudah memberi kode komunikasi lebih dulu," gumam X sambil bersiap untuk menembak lagi.
__ADS_1
Parrot yang merupakan ahli suara, langsung sadar bahwa X lah yang menembakkan peluru tadi. Hanya seorang sniper berbakat yang bisa menembak tanpa meleset di cahaya yang sangat redup seperti sekarang.
"Sial, sejak kapan dia sadar ya?" Parrot bergumam pada dirinya sendiri, dia mengeluarkan sebuah seruling dari balik pinggangnya.
"[Teknik mata-mata: peluru bayangan.]"
Psyu.
Peluru yang X tembakkan menghilang di dalam kegelapan, tidak bersuara sedikitpun. Jika lawannya bukanlah orang dengan kepekaan tinggi terhadap suara seperti Parrot, maka sudah pasti peluru X akan membunuh targetnya.
Namun sayangnya, musuh X kali ini adalah bencana alami dari dirinya. Walaupun tidak bersuara jika didengar oleh orang biasa, sebenarnya pelurunya masih menghasilkan frekuensi suara yang sangat tinggi. Oleh sebab itu suaranya tidak terdengar.
Parrot bisa mendengarnya.
TRAAANGG!
Parrot mengayunkan serulingnya, menangkis peluru besi itu hingga menimbulkan percikan api. Dari kejauhan, X juga bisa melihat cahaya yang terang dari arah targetnya.
"Heh, benar-benar lawan yang merepotkan," ucap X sambil mengisi peluru di snipernya.
"[Teknik gelombang suara: nomor 1, peluru suara.]" Parrot meniup serulingnya dengan keras, menghasilkan satu gelombang suara.
NGUNG!
Gelombang suara itu melaju dengan cepat ke arah X. Agen tingkat atas yang menyadari adanya bahaya, langsung melompat menjauhi tempat itu.
DUAARR!
Gelombang suara yang dihasilkan oleh Parrot, bahkan mampu membuat gedung tempat X berpijak tadi ambruk seperti puzzle.
X tersenyum hingga menampakkan gigi taringnya, begitu juga dengan Parrot yang sekarang menatap tajam ke arah X.
"Begitu ya, ini bukan hanya pertarungan sebagai pembunuh." X berucap pelan sambil bersiap untuk menembak.
"Benar, ini bukanlah pertarungan yang sesederhana itu." Parrot juga bersiap di posisi bertahan.
Dor dor dor!
Tiga tembakan X luncurkan begitu kakinya menyentuh dinding gedung. Parrot mendengar suaranya, dan menangkis ketiga peluru itu berdasar asal suara yang dia prediksi.
TRANG TRANG TRANG!
Percikan api kembali terlihat, kedua pembunuh itu saling menatap satu sama lain.
Ini adalah pertarungan, tentang siapa yang terbaik dalam pertarungan jarak jauh.
__ADS_1
TBC.