
POV: Ruo
Gila! Mereka benar-benar gila! Cat menaiki kincir yang berputar cepat itu?!
"HUAAA RUOO! KITA HARUS BAGAIMANA?!" Erea menangis kencang sambil tetap berlari. Aishh kenapa aku harus bersama dengannya dalam kondisi seperti ini?!
"MANA AKU TAU! MEREKA BENAR-BENAR GILA!" Aku menunduk saat Cat mendekat padaku dengan cakar di sela-sela jarinya.
"HYAAA JANGAN MENDEKAT!" Erea mendekat ke arahku, sepertinya dia berniat menendang agen Cat!
"Hei! Jangan lakukan itu!" Aku segera berdiri, Erea akan terluka jika dia berhadapan langsung! Sial, aku tidak akan tepat waktu jika berlari ke arahnya!
Sudut mataku melihat seutas tali.
"Ah benar! Kincir anginnya kan terhubung dengan tali!" Aku menangkap tali itu dan melemparkannya ke arah lain. Cat melompat dari kincir dan hendak menikamku.
"HIAAH!" Erea datang sambil membawa ranting yang cukup besar.
Duag!
Aku melotot saat Erea memukul kepala Cat dengan keras. Hah? Cat bahkan tidak sadar dengan keberadaan Erea?
"Cih! Perempuan yang menyusahkan!" Cat langsung berdiri dan melesat ke arah Erea.
Erea menggenggam kuat ranting kayu dan bersiap memukul sekali lagi.
"Yah, tukar musuh juga tidak buruk!" ucapku sambil memegang tali milik Agen F. Dan melemparkannya ke arah sebaliknya.
"Tapi kita juga tidak mungkin menang kalau begini!" ucap Erea sambil menyerang Cat. Aku tau ... itu hal yang pasti, kita butuh sesuatu agar mereka tidak menghalangi kita mencapai bendera.
"KEMANA PIKIRANMU ANAK MUDA?!" F menggerakkan tali kincirnya. Gerakan itu membuat kincir berputar dari belakang ke arah depan lalu melesat langsung ke arah punggungku. Aku menutup mataku rapat-rapat! Sial ini sangat menakutkan!
Tang!
Aku membuka mataku perlahan ... Erea mengeluarkan pisau belatinya untuk menahan kincir yang berputar ini.
Kedua tangan Erea bergetar, bahkan kakinya juga. Tapi dia tetap bertahan dalam kondisinya yang seperti itu.
"Erea ... ." Aku ingin menangis sekarang. Sial! Laki-laki macam apa aku?! Dilindungi seorang perempuan!
"Aku ... bukanlah perempuan yang bisa diandalkan! Aku cengeng, aku penakut, aku takut mati! Ini sudah jadi fakta bahwa aku adalah anggota terlemah dalam kelas kita, meskipun ini hanya dugaanku," ucap Erea sambil membalikkan kincir itu ke arah lain.
Agen Cat dan F berdiri sejajar. Sedangkan aku ... malah berlindung di balik punggung perempuan! Sial!
"Tapi ... aku lebih takut melihat teman-temanku mati!" Erea meneriakkannya dengan keras. Rambut biru laut yang terlihat lecek dan kusam, pipi yang sembab serta pakaian yang kotor.
Tapi kenapa dia terlihat sangat keren di mataku?!
"Cih!" Aku berdiri dengan kedua kakiku. Mengabaikan rasa takut akan kematian yang menjalar hingga ke setiap sel tubuhku.
__ADS_1
"Yah, maafkan aku. Takut mati, itu manusiawi," ucapku lalu mengeluarkan dua buah knuckle dan memakainya di kedua tanganku.
"Aku tidak yakin apakah kita bisa kabur," ucapku sambil menelan ludah kasar. Erea memperhatikanku, menunggu kalimat selanjutnya.
"Jadi, bukankah kita harus membuat sesuatu yang berkesan sebelum mati?" Aku mengepalkan kedua tanganku erat. Erea tertawa kecil, dan bersiap dengan satu belati di tangan kanannya.
"Ya. Aku setuju!" Erea sudah bersiap dengan posisi menyerang.
"Hihihi, lucu sekali~" ucap Agen F sambil menjilat kincir anginnya.
"Tidak buruk, aku suka semangat kalian." Agen Cat memasang posisi menyerang.
"Erea... Aku punya rencana," ucapku pelan. Erea sedikit tersentak dan mendekatkan diri padaku.
"Kita tidak bisa mengalahkan mereka berdua, jadi kita harus buat salah satunya tidak berguna." Aku berbisik pada Erea.
"Bagaimana?" Erea menjawab dengan bisikan juga.
"Kita tidak bisa mengalahkan si kucing. Jadi si kipas adalah targetnya, tapi setelah aku menyentuh tali kendalinya. Itu terbuat dari tali besi," bisikku pada Erea.
"Lalu apa yang kita lakukan?" Erea memasang wajah masam.
Sepertinya dia tidak suka disuruh berpikir.
"Begini saja ... ." Aku memberi tau rencanaku pada Erea. Erea mengangguk lalu bersiap menyerang.
"Sudahlah, ayo mulai. Cat adalah bagianku kan?" ucap Erea setelah itu melesat maju.
Hah?! Apa dia gila?! Bagaimana mungkin dia sepercaya diri itu dan langsung menerobos?!
Aku ikut maju saat melihat agen F mulai mengayunkan kincirnya.
"Menghadapi kincir sebesar itu dengan knuckle ... sepertinya tanganku akan jadi sangat keren setelah ini hahaha!" ucapku sambil bersiap meninju kincir yang datang ke arah kami.
"Kau lengah." Cat tiba-tiba ada di sampingku.
"Tidak, kaulah yang lengah!" Erea sudah bersiap menikam Cat dengan belatinya.
Tang!
Cat menahannya dengan tangan kiri. Mereka saling bertatapan selama 3 detik hingga terjadi serangan membabi buta.
Wow ... aku tidak percaya Erea bisa mengimbangi kecepatan Cat dalam mengayunkan pisau.
"Kau berbakat, insting, refleks, kekuatan, keseimbangan, dan pengamatanmu itu. Sayangnya kau terlihat tidak nyaman dengan belati." Cat menggunakan cakar kanannya hingga mengenai wajah Erea.
"Ya ... kau benar. Belati bukanlah sahabatku." Erea mengusap luka di pinggir mata kirinya.
"Tapi aku yakin itu sudah cukup untuk menahanmu!" Erea memulai serangan. Mereka saling menyerang dengan membabi buta sekali lagi. Rasanya kalau aku masuk dalam garis pisau mereka, tubuhku akan terpotong jadi 20 bagian seketika.
__ADS_1
Erea sudah melakukan tugasnya dengan baik. Kalau begitu, aku harus melakukan tugasku!
Tang!
Aku menangkis kincir yang hendak melukai Erea.
Aku harus menahan si kincir ini agar tidak mengacaukan rencanaku!
***
POV: Seas
"Oh? Haii! Kalian bisa sampai sini dengan selamat!" Aku sangat senang saat melihat Ned dan Fani datang ke sini. Tunggu ... kenapa Ned menggendong Fani?
"Fani kenapa? Apakah dia terluka parah?" Aku menatap Fani dengan khawatir, sedangkan Fani hanya cemberut sambil menatap wajah Ned.
"Apakah dia demam? Wajahnya sangat merah!" ucapku lalu hendak menyentuh dahinya.
"Dasar kalian para cowok ga peka!" ketus Fani. Aku dan Ned seketika mematung.
Ah ... sepertinya aku paham. Maaf Ned, kau harus menyelesaikan ini sendiri.
"Kalian bisa duduk di batu itu, aku akan menunggu teman kita yang lain dari atas pohon," ucapku ke arah Ned. Ned mengangguk lalu mendudukkan Fani di atas batu.
Aku tersenyum simpul dan memanjat pohonnya.
"Disini tidak ada ulat kan?" Aku menyentuh tiap ranting terlebih dahulu. Bayangan saat aku menyentuh pohon dan tiba-tiba ada suara decitan ratusan ulat, itu membuatku trauma kali ini.
Duar!
Aku menoleh ke arah Selatan, asal suara itu.
"Hah? Kenapa hutan sebelah sana jadi gundul?" Aku menatap tidak percaya. Mereka bertarung seperti apa hingga seperti itu.
Ah tunggu. Aku juga sampai membuat sebuah bukit pasir di tengah hutan ... sepertinya semua orang di sini punya masalah yang sama, ya ... tidak ada yang waras.
"Sepertinya itu Erea dan Ruo. Tadi aku melihat mereka masih bertarung dengan agen tingkat atas."
Aku menoleh ke arah bawah, ternyata Alio dan Kuo sudah sampai! Syukurlah mereka tampak baik-baik saja!
"Jadi ... haruskah kita bantu?" Ned membuka suara. Kami semua terdiam.
"Benar juga! Kan tidak ada peraturan bahwa kita tidak boleh membantu mereka meskipun sudah dapat bendera!" Kuo setuju dengan ide Ned.
Kami semua tersenyum licik.
..."Nah ayo mulai pestanya teman-teman~"...
TBC.
__ADS_1