Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kepiting raksasa!


__ADS_3

POV: Author


"Nah Dev! Aku akan menunjukkannya padamu sekarang!" ucap Seas dengan semangat, Dev dan Sky menghentikan latihan mereka lalu memperhatikan Seas.


Seas mulai menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Dia mulai mengambil posisi untuk menggunakan teknik miliknya.


"Oh? Posisimu mungkin sama ... tapi rasanya ada yang berbeda," ucap Dev sambil menatap Seas. Sky mengangguk setuju dengan ucapan Dev.


"Rasanya, dia lebih rileks?" tanya Sky dengan pelan. Dev tidak menjawab pertanyaan Sky dan lebih memilih untuk fokus pada Seas.


Fuut.


Dev dan Sky terdiam, mereka bisa merasakan kalau kaki mereka tidak menyentuh tanah sekarang. Mereka jatuh ke belakang.


Wujud Seas yang ada di depan mereka mulai memudar, ternyata itu hanyalah bayangan Seas! Dirinya yang asli sudah ada di belakang Dev dan Sky lalu menjatuhkan mereka berdua.


Bruk!


"Untung saja saljunya tebal," ucap Sky yang hampir tertimbun salju. Dev masih dalam posisi terbaring sambil menatap langit.


"Itu benar-benar teknik yang indah," ucap Dev pelan.


"Kalian tidak apa-apa? Ayo kubantu berdiri!" Seas mengulurkan tangan pada Sky dan Dev. Mereka berdua menerima uluran tangan Seas lalu segera berdiri.


"Hei! Itu sangat keren sialan! Akhhh aku sangat iri!" ucap Sky dengan menggebu-gebu. Seas tertawa kecil melihat tingkah Sky.


"Kau sudah mengetahui dasarnya, selamat. Kembalilah ke X, aku akan melanjutkan latihan untuk temanmu," ucap Dev dengan senyuman di akhir kalimatnya. Seas mengangguk lalu melambaikan tangan ke arah Sky.


"Semoga berhasil! Dahh!" Seas segera berlari dan meninggalkan Sky dan Dev. Dia sangat senang bisa berlarian dengan bebas di atas tumpukan salju, teknik yang dia miliki membuat berat badannya menjadi fana seperti bayangan!


Ada tapi juga tak ada. Dia terus berlarian hingga tak sadar sudah melewati Valeria dan X.


"... Kemana anak itu pergi?" gumam X sambil memperhatikan Seas yang berlari semakin jauh.


"Oh, tapi dia sudah berhasil menguasai teknik ... LOH! ITU BUKAN TEKNIK DEV! PUNYA SIAPA ITU WOY? SEAS!" X berteriak di kalimat terakhirnya, tapi tampaknya Seas tak mendengarnya dan berlari semakin jauh.


X menghela nafasnya dengan kesal lalu menatap Valeria. Bibirnya tersenyum licik lalu berkata, "Bisakah kau mengejar Seas?". X menatap Valeria dengan tatapan meremehkan.

__ADS_1


Valeria tersenyum penuh ambisi dan langsung berlari mengejar Seas. Ternyata Valeria sudah menguasai teknik yang diajarkan oleh X.


Sementara itu di sisi lainnya ... .


***


POV: Seas


"Lah?! Ini dimana?!" tanyaku dengan panik saat melihat sungai beku di depanku. Seingatku tadi tidak ada sungai di sini! Hah? Mana Valeria dan X?!


Tuk! Tuk!


Telingaku mendengar sebuah suara yang berasal dari sungai ini. Aku mendekat ke tepi sungai dan menyentuh permukaannya terlebih dahulu.


"Sepertinya aman!" Setelah aku yakin, aku mulai melangkahkan kakiku ke atas lapisan es itu. Berjalan mendekati suara yang terus terdengar di telingaku.


"Oh ... ternyata hanya ikan," ucapku dengan kecewa, aku hendak kembali ke tepi sungai tetapi tiba-tiba lapisan esnya pecah.


Brak! Prang! KRAK!


Aku menoleh ke arah ikan itu dengan cepat. A-apa? Itu bukan ikan! Kepiting apa yang sebesar mobil?! Capit kepiting itu memecahkan es seperti kue bolu. Apa ini yang dimaksud oleh Dev bahwa banyak satwa unik di sini?!


Aku mendengar suara Valeria, saat aku menoleh ke asal suara, tiba-tiba ada kail pancing yang terlempar ke arahku.


Dengan sigap aku menangkap kail itu dan kuikatkan dengan kuat ke lenganku.


"Siap ya! Tiga!" Valeria langsung menarikku, dia tidak menghitung dari satu tapi langsung ke tiga?! Aku terangkat tepat sebelum capit kepiting itu mengenai kakiku.


Lapisan es yang tadi kupijak sudah terlihat seperti es batu dalam mangkuk. Andai kakiku yang kena, mungkin akan langsung putus di sana.


Bruk!


Aku mendarat dengan tidak mulus.


"Aduhh! Pweh!" Aku segera bangun dan mengeluarkan salju yang masuk ke dalam mulutku. Brrr! Rasanya lidahku membeku!


"Woahh! Kepitingnya sangat besar! Bukankah itu akan enak kalau dimasak?!" tanya Valeria lalu mendekat ke tepi sungai. Aku segera berdiri dan langsung menyeret kerah leher seragam Valeria.

__ADS_1


"Jangan memikirkan ide gila itu, ayo kita kembali ke X," ucapku sambil menyeret Valeria menjauhi sungai.


"Memangnya kau tau arahnya?" Pertanyaan Valeria ini langsung menusuk tepat di dadaku. Benar ... bukankah aku juga tersesat sampai sini? ... .


"... Tunjukkan jalannya," ucapku lalu melepaskan kerah Valeria. Dia terjatuh tapi segera berdiri lagi.


Valeria berjalan di depanku lalu menatapku dengan senyuman aneh. Dia berkata, "Kejar aku jika kau mampu!" Setelah itu dia melesat pergi.


Aku yang tersadar segera pergi mengejarnya. Cih! Ternyata dia sudah mempelajari teknik X! Berbeda dengan teknikku yang membuat sesuatu 'nyata' menjadi 'fana'. Karena ini berhubungan dengan 'seni' dalam diriku.


Teknik milik X lebih ke arah pemanfaatan seluruh tubuh dan seluruh lingkungan, bahkan gravitasi. Tentu saja hal ini sulit dikuasai oleh orang biasa, bahkan mungkin aku juga tak bisa menguasainya. Ternyata tubuh Valeria mampu menyesuaikan diri dengan teknik ini.


"Nah kita sudah sampai!" ucap Valeria lalu berhenti. Aku juga berhenti tepat di belakangnya, terlihat bahwa X sedang duduk termenung sambil memainkan bunga salju.


"Oh? Kau habis dari mana?" tanya X sambil menatapku. Aku menggaruk leherku yang tidak gatal sambil berjalan ke arahnya.


"Aku tidak sadar ternyata aku sudah melewati kalian tadi," ucapku sambil tersenyum kikuk. X tertawa lalu mengacak-acak rambutku. Aish! Kenapa dia suka mengacak-acak rambutku sih?!


"? Kau ternyata mewarnai rambutmu?" tanya X saat mengetahui pangkal rambutku berwarna hitam. Cih, kenapa tumbuhnya cepat sekali?


"Hm, kau sudah pernah bertemu kakakku 'kan, harusnya kau tau warna asli rambutku," jawabku dengan malas. Aku benar-benar membenci rambut hitamku. Apalagi fakta bahwa wajahku mirip dengannya.


Kalau bisa aku ingin tukar tambah dengan yang lebih tampan.


"Tapi kau lebih pantas dengan rambut putih ini, terlihat elegan menurutku! Dan kau jadi lebih imut!" X mencubit pipiku dengan keras, aku ingin berteriak tapi ada Valeria di depanku! Mana mungkin laki-laki berteriak dengan memalukan saat ada perempuan!


"Hmm, mungkin Venom suka dengan Seas karena dia imut!" Valeria menatapku dengan intens. X melepaskan cubitannya lalu melihat sebuah mobil hitam berhenti di belakang Valeria.


"Mari tuan," ucap seorang pria dengan pakaian butler sambil membungkuk ke arah kami. X mengangguk lalu mengambil snipernya.


"Loh? Ada apa X?" tanyaku saat melihat X mengarahkan snipernya ke hutan.


"Memanggil Dev dan Sky." X langsung menembakkan satu peluru ke arah hutan. Peluru yang sangat cepat, tanpa suara, bahkan tidak ada bayangan yang terlihat.


Tak lama kemudian Dev dan Sky muncul dari balik pohon. Sky terlihat sedikit terkejut ... mungkin peluru X tadi hampir mengenainya.


"Ternyata benar sudah sampai, ayo masuk." Dev masuk terlebih dulu di kursi samping supir. Aku, Sky, Valeria dan X masuk ke kursi penumpang.

__ADS_1


..."Kita akan menemui yang mulia Ron Evagiria."...


TBC.


__ADS_2