Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
The Abandoned Diamond (4)


__ADS_3

POV: Author


Sementara itu, di pabrik terbengkalai ...


Prang!


"Sialan! Jadi ini jebakan?! Arrrghhh!" Valeria menendang tong kosong yang ada di depannya. Dia sangat marah karena dibodohi oleh suara tak jelas asal usulnya. Bahkan dia sampai masuk ke dalam pabrik ini untuk memeriksa apakah benar-benar kosong.


Setelah cukup lama dia melampiaskan emosinya, Valeria menjadi lebih tenang. Matanya menatap fokus ke arah dinding hitam yang tak pernah dibersihkan lagi.


Sejak kapan jebakan ini dibuat? Mereka memisahkan kami bertiga semudah ini. Sudah jelas lawan kami levelnya lebih tinggi dari kami. Sial ... bagaimana ini? Aku tidak tau arah mana yang harus aku tuju.


Klontang!


Suara benda jatuh yang terdengar keras mengejutkan Valeria. Dengan refleknya yang cepat, Valeria langsung menoleh ke asal suara tersebut. Mata coklatnya mengamati dengan saksama benda itu.


"Meong?"


"... Ternyata kucing," gumam Valeria pelan setelah memastikan bahwa itu hanyalah kucing liar. Valeria lalu mengeluarkan pistolnya, dan mengelapnya lagi hingga bersih.


"... Kau pikir aku akan bilang begitu?"


CKLIK! DOR DOR DOR!


TRANG TRANG TRANG!


Valeria langsung membuang lap pistolnya dan dia menembak ke arah kucing liar tadi. Serangan dadakan yang Valeria berikan membuat benda-benda berdebu di sana rusak, hingga membuat asap yang menyelimuti bagian dalam ruangan ini.


"Wah, kapan kau menyadarinya?"


Deg!


Valeria menoleh ke belakang, melihat sesosok wanita dengan rambut hitam lurus sebahu, tengah menatapnya dengan senyuman. Valeria mengarahkan pistolnya ke wajah wanita itu, walaupun jarak mereka cukup jauh, tapi pistol Valeria juga cepat.


"Mana ada kucing di pabrik tidak berpenghuni? Mereka tidak bisa mendapat makanan apapun dari sini," ucap Valeria dengan sorot mata yang tajam. Wanita yang duduk di atas sebuah kotak kayu itu tertawa.


"Benar juga, ternyata kau cukup pintar ya? Berbeda dengan penampilanmu yang terlihat bodoh," ucap wanita itu yang membuat Valeria menahan marah. Wanita itu tidak mengetahui satu hal, jika Valeria adalah orang yang pandai membuat orang marah.


"... Oh, begitukah? Kurasa aku tidak berhak mendengar pujian semacam itu dari orang yang bahkan tidak bisa pakai pensil alis dengan benar," sindir Valeria setelah melihat bahwa alis wanita itu besar sebelah.


Suasana menjadi hening, wanita itu berhenti tersenyum, begitu juga dengan Valeria yang langsung dilanda panik dalam hati.


Mampus, kenapa aku malah membuatnya marah?! Aduh mulutku tolong dong bisa sekali saja diajak kompromi! Batin Valeria yang menyesali ucapannya tadi.


"... Setidaknya aku mencoba ya! Daripada kau yang bahkan tidak menggunakan make-up sama sekali!" Wanita itu berteriak kesal, Valeria merespon dengan menaikkan sebelah alisnya lalu berkata, "Tanpa make-up aku sudah cantik. Beda denganmu yang harus pakai make-up." Valeria mengeluarkan senyuman miringnya.

__ADS_1


"Hah! Sejak dulu siswa Underworld School sangat tidak sopan ya!" ucap wania itu lalu melompat turun dari atas kotak kayu. Valeria mengernyitkan keningnya saat mendengar kata Underworld School.


Dia tau aku? Apakah dia musuh Underworld School? Batin Valeria yang menerka-nerka.


"Dulu aku pernah bertarung dengan salah satu agen Underworld School, memang dia kuat, tapi dia juga sama tidak sopannya denganmu!" ucap Wanita itu sambil merogoh saku yang ada di pinggangnya. Dia mengeluarkan sekotak rokok dan korek api.


Hal ini membuat Valeria semakin bingung. Bukankah dia di sini untuk mengajak berkelahi? Kenapa dia malah merokok?


"... Kenapa kau melihatku terus? Apa kau mau satu?" Wanita itu menyodorkan sebatang rokok pada Valeria, yang langsung dibalas dengan gelengan kepala. "Aku tidak merokok."


Wanita itu kemudian mengangguk, dia memasukkan kembali batang rokoknya dan mulai menghisap rokok yang sudah dia nyalakan. "... Masukkan saja pistolmu, aku tidak datang ke sini untuk bertarung denganmu."


"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanya Valeria curiga. Wanita itu melirik ke arah Valeria, lalu dia tersenyum simpul.


"Namaku Mores, aku juga seorang pembunuh. Tapi aku bukan berasal dari Underworld School. Lebih tepatnya, aku hanya seseorang yang menjadi pembunuh secara kebetulan," ucapnya lalu menghisap asap rokok lagi di tangannya. Mendengar suaranya yang tampak tulus, Valeria memasukkan kembali pistolnya, dia menatap Mores dengan tatapan datar.


"... Apa kau orang yang menjebakku ke sini?" tanya Valeria yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Mores.


"Justru sebaliknya, aku berada di pihak yang sama denganmu," ucap Mores dengan senyuman yang licik. Valeria mengernyitkan keningnya lagi, dia menatap curiga pada wanita itu.


"Maksudmu?"


"Yah ... aku punya hutang pada seorang agen dari Underworld School. Karena dia dulu pernah membantuku, aku juga berniat untuk membantunya kali ini," jawab Mores lalu menjatuhkan rokoknya, dan menginjaknya hingga mati. Matanya kini ganti melirik ke arah Valeria.


Valeria langsung membelalakkan matanya lebar. "Kau kenal Agen C?" tanya Valeria tidak percaya. Mores tertawa kecil lalu menatap Valeria. "Bukankah aku sudah bilang aku punya hutang padanya? Jadi, kali ini aku juga berada di pihak yang sama dengan kalian," ujarnya santai.


Valeria akhirnya melonggarkan kewaspadaannya, lalu duduk di berdiri di samping wanita itu.


"Memangnya kau tau misi kami?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Bukankah karena kalian mencium jejak organisasi aneh yang sedang naik daun itu? Organisasi yang merugikan banyak orang dan negara," ucap Mores sambil memandang atap pabrik yang kumuh.


"... Benar, niatnya begitu, tapi sepertinya justru kami yang dipermainkan setelah sampai di sini," tambah Valeria yang disertai helaan nafas pasrah. Wanita itu tampak berpikir sejenak, dia menatap Valeria dengan tatapan mengamati.


Apa yang Underworld School pikirkan sampai mengirimkan para remaja seperti dia? Musuhnya jelas-jelas setara dengan agen tingkat atas. Mereka malah mengirimkan bocah yang masih kelas dasar membunuh?


Tapi ...


Sejujurnya anak ini terlihat lumayan kuat. Mengesampingkan mulutnya yang berani mengatakan omong kosong. Anak ini punya kecerdasan dan reflek yang bagus.


Ah ... harusnya tadi aku mengujinya terlebih dahulu agar aku tau kekuatannya. Tapi aku sudah terlanjur mengakrabkan diri dengannya.


Yasudahlah, toh nanti aku bisa tau kenapa Underworld School mengirim bocah seperti mereka.


Memangnya apa istimewanya mereka?

__ADS_1


Begitulah isi pikiran Mores ketika melihat Valeria yang masih belia. Padahal jika dilihat dari tingkat kesulitan misi ini, harusnya agen yang dikirim adalah agen tingkat atas.


"Kenapa? Kau melihatku terus seperti sedang memikirkan sesuatu, apa ada yang salah?" Pertanyaan Valeria membuyarkan lamunan Mores. Wanita itu tersenyum kecil lalu menarik nafas panjang. Dia mengalihkan pandangannya dari Valeria.


"Tidak ada apa-apa. Hanya pemikiran tentang sesuatu yang membuat penasaran."


.


.


.


Sementara itu di sisi Agen X.


WHUSH!


DOR!


TRANGG!


Aksi kejar-kejaran serta baku tembak masih terus terjadi. Di atas gedung-gedung tinggi, dua pria itu tampak berlarian bagaikan menari di atas angin. Satu pria yang dikejar tampak memakai tudung hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


Sedangkan di belakangnya, X mengejar dengan membidik menggunakan snipernya.


"Wihi! Aku tidak menyangka kau sendiri yang akan datang menyerangku! Syukurlah aku jadi tidak perlu susah-susah mencarimu!" ucap X disertai senyuman yang lebar.


"Heh ... sialan!" Sedangkan pria yang X kejar daritadi mengumpat kesal karena rencananya tidak berjalan mulus.


Hingga tiba mereka berdua di tepi sebuah gedung yang sangat tinggi. Pria yang memakai tudung itu melompat turun tanpa ragu. Sedangkan X berhenti sambil melihat dari atas. "Hm~ kau melompat di udara, jadi tidak bisa menghindar loh?"


Cklik.


X mulai membidik.


"[Teknik mata-mata: peluru bayangan.]"


Psyu.


CRAT!


"ARGH!" Peluru itu mengenai lengan kiri pria tersebut. Namun pria itu tidak berhenti berlari, dia langsung bangkit dan menghilang ke dalam gang kecil.


"... Dia lolos," gumam X sambil menatap sosok pria tadi yang menghilang.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2