
"Hei! Apa kalian butuh bantuan?!"
POV: Author
Sky dan Valeria menoleh ke asal suara, hal pertama yang mereka lihat adalah kain yang terikat di lengan kedua orang yang memanggil.
Hitam.
"Mereka satu tim dengan kita," ucap Sky yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Valeria. Sky memicingkan matanya, iris kuningnya mengamati kedua wajah orang itu.
Mereka ... Cassio dan Aran bukan? Rekan satu tim Van,- batin Sky.
"Hei! Apa kalian baik-baik saja?" tanya Sky balik. Begitu mendengar pertanyaan Sky, kedua orang itu langsung berlari menghampiri Valeria dan Sky.
Harusnya tidak masalah bukan? Toh, kita sekarang satu tim,- batin Sky.
"Kami baik-baik saja! Tadi kami mendengar suara tembakan dari arah sini! ... Waw ... kenapa hutannya banyak yang meleleh?" Cassio yang awalnya semangat menjelaskan, langsung memelankan suaranya saat melihat lingkungan sekitarnya yang terdapat banyak lelehan serta asap.
"Ini karena hujan asam," jawab Sky.
"Ohhh! Tapi syukurlah kalian baik-baik saja, sepertinya akan lebih baik jika kita bersama-sama bukan?" ucap anak laki-laki yang pendek bernama Aran. Sky memperhatikan anak itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Rambut coklat lurus yang cukup panjang, warna mata abu-abu yang unik. Entah kenapa ciri khas Aran membuat Sky merasakan sesuatu yang familiar.
Apa ya? Rasanya ada yang salah,- batin Sky.
"Kau benar, sepertinya lebih baik kalau kita bersama-sama bukan? Menghindari penyergapan yang akan terjadi seperti tadi, bersama-sama akan lebih bagus," ucap Valeria sambil menatap ke arahku.
Aku tersenyum kaku sambil menyentuh tengkukku yang terasa agak dingin. "Kau benar, pergi bersama memang lebih baik ... sepertinya," ucap Sky dengan gumaman di akhir kalimat.
"Bagus! Ayo kita pergi dulu dari sini!" Cassio mengajak Sky serta Valeria dan dia langsung berlari masuk ke dalam hutan.
"AYOO!" Valeria malah sudah mengikuti Cassio sambil berteriak. Di belakang mereka, ada Aran serta Sky yang berjalan dengan kecepatan normal.
Sebenarnya perasaan tidak nyaman apa ini?,- batin Sky.
***
Sementara itu di sisi lain.
DUUAAR!
Sebuah ledakan keras terjadi di salah satu titik hutan ini. Asap yang mengepul serta pasir dan debu yang menghalangi pandangan mulai berterbangan. Dari dalam kepulan asap itu, muncul bayangan dua orang yang sedang bertarung.
"UURRYAAA!"
DDDUUUAARR!
"Babi anjing!"
"Mau panggil babi atau anjing pilih satu aja!"
__ADS_1
Mereka adalah Reksa dan Ruo yang kini sedang beradu tinju. Mereka termasuk salah satu dari sedikit pembunuh yang menggunakan seni tangan kosong. Reksa dengan seni raksasa, dan Ruo dengan seni naga merah.
"Mau sampai kapan kau melompat ke sana kemari!? Hadapi aku dengan tinjumu!" Reksa terlihat marah karena selama ini pukulannya hanya mengenai tanah. Tapi pukulan Reksa kekuatannya bukan main, tanah yang dipukulnya akan langsung menimbulkan retak dalam radius kurang lebih 3 meter.
"Aku tidak lompat ke sana kemari kok! Ini namanya taktik!" elak Ruo lalu dia menelan ludahnya kasar.
Gawat ... dia ini benar-benar raksasa hah? Tubuhnya yang besar saja sudah tidak adil, apa-apaan dia bisa membuat tanah retak?!,- batin Ruo.
Memang perbedaan ukuran tubuh Ruo dan Reksa sangat besar. Reksa memiliki tinggi 196 cm sedangkan Ruo hanya memiliki tinggi 176 cm, ditambah dengan perbedaan berat badan yang besar.
Tentu saja hal ini akan merugikan Ruo jika dia hanya menggunakan tangan kosong.
Bagaimana ini? Haruskah aku maju? Atau mundur saja? Bagaimana jika aku tiba-tiba disergap dari belakang?,- batin Ruo.
Melihat Ruo yang masih bingung, Reksa langsung melesat dan tidak menyia-nyiakan celah yang diperlihatkan oleh Ruo. "Kau terlalu banyak berpikir."
Greb!
Reksa sudah ada di depan Ruo dengan tangan kanannya yang sudah mengepal kuat. Reksa menggunakan postur untuk meninju dari atas. Mata Ruo baru bisa bereaksi setelah sadar dari lamunannya.
WHUS!
Begitu tinju Reksa diluncurkan, bersamaan Ruo juga memasang postur untuk bertahan dengan kedua lengannya.
DUAK!
WHUSSS!!
Mata Ruo melihat sebuah celah, yaitu di pergelangan kaki Reksa. Dengan postur yang masih menahan pukulan Reksa, Ruo melayangkan tendangan menyamping yang menyerang pergelangan kaki kiri Reksa bagian luar.
DUAK!
"UKH!"
SRAAAKKK!
Reksa mendorong Ruo yang baru saja menendang kakinya. Begitu keduanya mulai menjaga jarak, bekas luka mereka mulai terlihat. Kedua lengan Ruo berubah menjadi warna merah kebiruan. Begitu juga dengan pergelangan kaki Reksa yang sudah berwarna ungu mentah.
Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, adu kekuatan secara langsung sangat membebani tubuh mereka. Di dalam otak mereka, mereka membayangkan puluhan kali simulasi apa yang harus dilakukan untuk menang.
"Heh, kau ternyata lumayan juga," ucap Reksa sambil tersenyum pahit pada Ruo. Meskipun Reksa tidak menunjukannya, Ruo tau bahwa titik yang dia serang sangat sakit sekarang.
Karena Ruo sengaja mengincar saraf Reksa.
Dalam melawan musuh yang lebih kuat dan besar, aku tidak boleh menyerang sembarang titik. Itu adalah pelajaran dasar yang diajarkan Agen C padaku.
Tapi meskipun begitu, aku sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Harusnya aku tidak menerima pukulan Reksa secara langsung. Kedua tanganku rasanya mati rasa sekarang, entah bisa digunakan berapa lama lagi,- batin Ruo.
Gawat, kakiku tidak bisa digunakan untuk melangkah. Dia sengaja mengincar sarafku ya? Dia anak yang mengerikan,- batin Reksa.
"Reksa, kau terlihat kesusahan."
__ADS_1
DEG DEG!
Suara ini ... gawat! Ini suara Alio dari pihak musuh!,- batin Ruo.
Begitu mendengar suara Alio, Ruo langsung berlari kabur untuk menghindari tidak ditangkap. Tapi Ruo melupakan satu hal, bahwa kabur dihadapan Alio itu tidak ada gunanya.
"[Teknik cambuk hijau: nomor 1, mengikat musuh.]"
WHUNGG!
Cambuk hijau super panjang terulur dengan sangat cepat layaknya ular yang mengejar buruannya. Ujung cambuk itu mengenai kaki Ruo dan membuat Ruo tersungkur ke depan.
SRUKK!
Tidak cukup sampai di situ, cambuk itu berhasil mengikat kaki Ruo dan menarik Ruo ke arah Alio. Ruo yang tidak menyerah berusaha untuk memegang apapun agar tidak tertangkap.
Sial! Alio dan tim penangkap itu adalah kombinasi yang menyeramkan! Bagaimana ini aaa aku tidak mau tertangkap!,- batin Ruo.
"[Teknik laba-laba: nomor 1, jaring bius.]"
SRAKKK!
"Apa?!" Alio yang terlalu meremehkan situasi, tidak sadar bahwa ada yang bersembunyi dan juga menunggu kesempatan.
Orang itu adalah Ned.
Salah satu pengguna jaring dengan kemampuan yang bagus di Underworld School. Teknik pertama Ned dilakukan dengan menyebarkan racun di jaring yang dia kendalikan, dan jika jaring itu menyentuh tubuh lawan, maka perlahan akan memberikan efek hilang kesadaran lewat pori-pori kulit.
Dan kini yang menjadi target jaring itu adalah ...
Reksa.
Dia adalah mangsa sempurna bagi Ned karena Reksa tidak bisa bergerak setelah dilukai Ruo.
Srett!
"UKH! Apa ini?! Ada racunnya?!" Reksa masih memberontak saat dia mulai terikat oleh jaring Ned. Dari balik pohon yang gelap, Ned muncul dengan jaring-jaring yang terlilit di jarinya.
"Apa kabar, Alio? Pertemuan kita kali ini tidak menyenangkan. Tapi ... bisakah kau lepaskan Ruo? Sebagai gantinya aku akan melepaskan Reksa, bagaimana? Kehilangan satu tim penangkap adalah yang buruk bukan? Sedangkan untuk tim yang kabur masih bisa diselamatkan." Ned datang dan menawarkan negosiasi dengan wajah yang tersenyum namun dingin. Alio menatap balik Ned dengan senyuman yang sama, sedangkan Reksa sudah mulai pingsan, dan Ruo kini menatap Ned dengan tatapan terharu.
"RUOOO AKU MENYAYANGIMUU CEPAT TOLONG AKUU!" rengek Ruo sambil memukul-mukul tangannya ke tanah, sesaat kemudian dia kesakitan karena dia lupa tangannya terluka.
Dia bodoh ya,- batin Alio dan Ned.
"Oh iya aku lupa tanganku terluka, pantas saja sakit," gumam Ruo lagi.
Oh iya, dia memang bodoh. Aku lupa,- batin Alio dan Ned.
"Nah bagaimana? Alio?" Ned kembali berbicara pada Alio. Keduanya masih terdiam dan hanya saling memandang.
Pertempuran antara cambuk dan jaring yang sepertinya tidak bisa terelakkan.
__ADS_1
TBC ...