Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Satu kesempatan


__ADS_3

POV: Seas


...[Kumohon! Berikan aku satu kesempatan!]...


Spinx masih berdiam diri di lautan busa yang kubuat. Aku mengeluarkan belatiku dan berlari mendekat ke arahnya.


"Aku tau kau itu nekat ... tapi tak kusangka ternyata kau sangat berani!" Spinx berjongkok, tak lama kemudian bukit pasir terbentuk. Pasir itu meledak menciptakan ratusan belati yang melayang di udara.


"Cih! Gawat, busaku akan segera terbang!" Aku mundur kembali sambil menghindari belati yang terbang dadi berbagai arah.


"Nah ... sekarang baru seru! AYO MANA KEBERANIANMU TADI? HAHAHA!" Spinx melaju dengan cepat ke arahku dengan bantuan pasir di kakinya.


"Sekarang aku paham kenapa Venom sangat tertarik padamu!" Spinx menyeringai, tangannya membentuk sebuah busur.


"Berhati-hatilah~ ini secepat peluru loh~" Spinx mulai mengarahkan panahnya. Aku panik dan berbelok mencari rute yang lain.


"Tidak bisa~"


Whung!


Suara panah itu menggema di telingaku. Sesaat kemudian aku terjatuh, kulihat kaki kiriku berlumuran darah.


"ARGHH!" Aku mencoba berdiri. Pasir ini sangat sakit! Rasanya seperti ribuan semut menggigit luka yang sama!


Sebuah ide terlintas di kepalaku.


Benar ... mungkin saja ini adalah kesempatan!


Aku masih duduk sambil memegang erat kaki kiriku.


"Wah sayang sekali, apakah sudah berakhir?" Spinx berdiri di depanku, tatapannya seolah meremehkanku. Aku merunduk, aku menggigit bibir bawahku.


"Tidak ... ini belum selesai!" Aku melemparkan segumpal pasir ke matanya.


"Ugh!" Spinx mengucek matanya beberapa kali, aku berlari sambil terhuyung, menahan rasa sakit di kaki kiriku.


"Dasar anak serangga ... kau menggunakan cara yang licik ya?" Spinx mengarahkan busurnya padaku sekali lagi. Aku masih berjalan terhuyung, berharap rencanaku berhasil.


Whung!


Panahnya meleset, panahnya malah mengenai pohon di sampingku. Tangan kiri Spinx mulai bergetar, aku tersenyum puas dan lanjut berlari.


"Itu bukan hanya pasir, tapi ulat beracun yang aku kumpulkan selama berlari," gumamku pelan. Aku yakin ulat itu akan mampu menahan Spinx, kalau dia tidak segera mengeluarkan ulatnya, efeknya dari waktu ke waktu akan semakin parah!


"ARGHHH DASAR KAU RUBAH! BAHKAN KAU MENGGUNAKAN RACUN?!" Spinx berteriak, teriakannya terdengar sangat mengerikan bagiku.


Haha, itu karena kau meremehkanku. Kau pikir untuk apa aku menggunakan sarung tangan!


Whung! Whung! Whung! Whung!


Panah datang dengan membabi buta.


"Hah? Apa orang itu gila karena gatal?" Aku merunduk, akhirnya memilih untuk mengambil rute lainnya.

__ADS_1


Mataku melebar saat melihat sebuah bendera yang tertancap di batang pohon. Aku berlari sekuat yang kubisa melupakan rasa sakit.


"YEAH! AKU MENDAPATKANNYA!" Aku berteriak di tengah hutan. Suaraku menggema dari berbagai arah. Aku yakin, teman-temanku juga akan segera ke sini.


***


POV: C


"HAHAHAHA! DIA BENAR-BENAR BERHASIL! PADAHAL SPINX SUDAH MELANGGAR PERJANJIAN!" Aku tertawa keras saat Spinx keluar dengan kulit yang terlihat merah kehitaman.


"Muridmu itu gila sepertimu." Spinx mengutuk Seas dan diriku dengan pelan. Aku masih tertawa, sial ini sungguh diluar dugaan!


"Hmm, lebam ini. Ini jenis ulat beracun, cepat lepaskan zirahmu, kita harus mengeluarkannya sebelum racunnya semakin banyak!" Aku memberitau Spinx ulat apa ini. Spinx mulai melepaskan zirahnya ... dan benar saja.


Lebih dari 10 ulat bergelantungan di tubuhnya. Ulat ini sangat menjijikkan, bulunya penuh duri dan berwarna merah kecoklatan. Besarnya ... sebesar jari telunjuk pria dewasa.


"Hahaha, aku tidak menyangka Seas akan merencanakan hal ini." Aku masih kagum dengan anak itu. Dalam beberapa hal, anak itu sangat berbakat seperti kakaknya.


Atau mungkin dia lebih berbakat?


"Yah, dia benar-benar diluar dugaan. Padahal biasanya ... muridmu akan berlari, belum pernah dari mereka yang berencana melawan Agen tingkat atas selama ini. Karena itu aku jadi tertarik dan masuk perangkapnya." Spinx menghela napasnya, seluruh ulat sudah dilepaskan dan dibunuh. Tapi kulitnya masih belum kembali karena racun di dalamnya masih ada.


"Segeralah ke rumah sakit, kau akan gagal jantung kalau lebih lama dari ini," ucapku, Spinx mengangguk dan berjalan pergi.


Sangat kasihan, kulitnya memerah seperti rambutan busuk hahahaha.


"Nah ... satu orang sudah berhasil. Bagaimana dengan yang lainnya?"


***


Hampir saja aku tertangkap! Beruntung aku masih punya gas asap pemberian Ned!


Aku bersembunyi di balik sebuah batu di tepi sungai. Entah aku beruntung atau sial, tapi ruteku pasti melewati sungai. Bagaimana caranya memanfaatkan ini?


"Apa saja yang masih kupunya?" Aku melihat kantungku. Bom angin, 2 buah pisau belati, cairan beracun yang membuat mati rasa, 5 buah jarum panjang, dan benang besi, dan ... T


tunggu ... kenapa Ned memberiku penawar racun? Obat mati rasa kan tidak terlalu mematikan.


"Bagaimana ya? ... ." Aku bergumam.


"Oh? Kau ada di sini? Aku mencarimu kemana-mana!" Walker sudah berdiri di atas batu tempatku sembunyi.


"Tidak, terimakasih sudah masuk jebakan!" Aku mengangkat kakiku dan menendang kaki kanannya.


Duag!


"Hooo... Jadi kau ingin melawanku?" Walker menangkis kakiku seperti menangkis ranting yang jatuh. Sial!


Aku membuat jarak dari Walker. Kami saling diam dan hanya memperhatikan satu sama lain.


Tadi ... dia bilang mencari kemana-mana. Apakah artinya dia tidak bisa mencari? Atau ... .


"Oh! Jangan-jangan gas asap itu punya racun mati rasa!" Aku bergumam pelan.

__ADS_1


"Kalau begitu, sampai jumpa om Walker!" Aku melemparkan bom angin ke tengah sungai.


DUAR!


Bom itu meledak, membuat area ini seperti hujan deras.


"Haah ... perempuan itu menghilang lagi."


Aku melihat Walker dari kejauhan, dia mulai berlari ke arah yang berlawanan dariku. Tapi langkahnya sangat cepat!


Aku harus kembali ke ruteku. Aku punya ide!


"Tidak mungkin mengalahkannya, tapi aku bisa menghambatnya!" Aku berlari ke rute asalku.


"Nah Walker ... makam malammu hari ini adalah kegagalan!" Aku tersenyum licik.


***


POV: Walker


Cih, anak perempuan itu. Ada gas mati rasa di gas asapnya! Aku kehilangan kemampuan deteksiku. Ini sangat merepotkan mencarinya di hutan yang seluas ini.


"Oh! Dia pasti kembali ke rute awalnya bukan?!" Aku melesat berlari ke rute awal.


Dan benar saja, perempuan itu berdiri tegap, seolah sudah menungguku di sana.


Sudut mataku melihat bom angin yang terpasang di pohon-pohon.


"Lumayan juga." Aku berjalan pelan, mendekat ke arahnya.


"Tidak buruk, tapi harusnya kau tidak membuatnya mencolok seperti ini manis~" Aku masih berjalan santai ke arahnya. Aneh ... dia tidak takut, dan justru tersenyum.


"Hei om Walker~ lihatlah tubuhmu~" Perempuan itu tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Aku mengernyit dan melihat ke bawah.


"SIAL! SEJAK KAPAN KAU?!" Aku mendongak, anak perempuan itu menghilang!


"Di belakangmu~"


ZRASH!


Dia memberi goresan pada wajah tampanku! Sialan!


"Kau akan menyesal hari ini!"


Nyut! Nyut! Nyut!


Aku berlutut, seluruh tubuhku terasa perih. A-apa ini?


"Nah om..."


..."Ayo kita mulai satu lawan satu dengan adil~"...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2