Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
The Abandoned Diamond (7)


__ADS_3

POV: Seas


"Seas! Apa kau paham dengan apa yang kau katakan sekarang?!" bentak Agen C, menatapku dengan penuh amarah. Ya, wajar jika dia begitu. Itu bukanlah hal yang berlebihan mengingat kondisi tubuhku sekarang. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja rasanya aku tidak mampu. Seluruh tubuhku sakit dan sangat nyeri, apalagi mata kiriku. Sial, Razeks benar-benar kuat.


"... Seas, kupikir lebih baik kau kembali ke Underworld School," ucap Agen X yang masih menaruh ponsel di telinganya. Aku menatapnya serius, lalu berkata.


"Berikan ponselnya padaku. Kau menelpon Venom, kan?" Mendengar pertanyaanku, X langsung tertegun. Dia menghela nafas singkat, memberikan ponselnya padaku dengan raut wajah yang tidak rela. Aku menerima ponsel yang X berikan dengan tangan yang gemetaran.


"Lihatlah, mengangkat ponsel saja tidak kuat," cibir X diiringi decakan pelan. Aku langsung melotot ke arahnya, mengisyaratkan agar dia diam. Setelah menerima ponselnya, dengan segera aku menempelkannya di telingaku.


"Venom."


"Katakan." Suaranya terdengar tegas dari seberang sana.


"... Venom, bisakah kau mengobatiku setelah misiku selesai? Aku harus membayar hutang ini pada seseorang," ucapku ikut tegas. Selesai mengucapkan itu, tak kunjung ada jawaban dari Venom. Akupun menjauhkan ponselnya dan mengira bahwa sambungannya terputus, tapi nyatanya tidak. Aku kembali menempelkan ponsel itu di telingaku.


"Venom?"


"Kau tidak perlu berbohong padaku, Seas. Hanya ada satu orang yang membuatmu begitu kukuh seperti saat ini. Biar kutebak, pasti ada hubungannya dengan orang itu, kan?"


"Eh?" Aku yang sekarang jadi diam. Apakah begitu kentara? Sebenarnya ... memang aku ingin menggali informasi tentang Arma dari orang yang bernama Razeks itu. Kalau orangnya sekuat Razeks, biasanya informasi yang dia punya juga bukan informasi sampah. Padahal aku berniat menyembunyikan niatku yang ini, tapi ternyata Venom tetap mengetahuinya.


Aku tersenyum tipis lalu terkekeh pelan. "... Benar, hanya dia, hanya orang itu yang tidak pernah membuat amarah ini padam," ucapku lagi. Setelah itu aku tidak mendengar suara apapun, cukup lama, hingga akhirnya dia kembali bersuara.


"Lakukan semaumu."


Aku langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari Venom. Aku menatap ke arah X dan menjulurkan lidahku padanya, kening X langsung berkerut menahan rasa kesal. "Dasar bocah, pasti Venom memberimu izin hah?" ujarnya kesal lalu merebut ponselnya lagi. Aku tidak menjawab pertanyaannya, dan memilih untuk kembali berbaring. Rasa sakitnya lebih berkurang jika aku berbaring.


"Halo, aku Nera. Aku akan merawatmu supaya kau sembuh dalam 4 hari. Tapi ada syaratnya." Seorang wanita yang memakai gaun hitam tebal tiba-tiba berbicara padaku, ya dia adalah orang yang mengobatiku tadi. Jadi namanya Nera, ya?


"Syarat?" tanyaku dengan suara yang mulai menjadi pelan. Sial, rasanya sudah sulit bersuara.

__ADS_1


"Kau harus mendengarkan perkataanku, mematuhinya tanpa penolakan apapun selama 4 hari itu. Kau tidak boleh menolak hanya karena alasan pengobatannya menyakitkan," ucapnya tegas namun dengan senyuman yang entah kenapa terlihat ... menyeramkan? Aku menelan ludahku dengan sulit, lalu menatapnya.


"Baiklah!"


.


.


.


POV: Author


Sementara itu di Underworld School.


"Venom! Kenapa kau membiarkan dia melakukan tindakan nekat itu?!" Suara X terdengar begitu emosi dari seberang telepon. Sedangkan wanita yang berambut hijau dan mata merah itu, terlihat begitu santai sembari menikmati secangkir kopi di taman yang gelap.


"Karena percuma kalau dilarang," jawab Venom enteng yang membuat X semakin mencak-mencak di seberang telepon.


"... Kita semua ... bukankah juga menyiksa diri? Baik kau, ataupun diriku, semuanya." Venom menjawab pernyataan X dengan wajah tanpa ekspresi. Entah apa yang dia ingat dan dia lihat, tapi tampaknya dia tengah larut dalam otaknya.


"Tapi Venom, Seas itu ... "


"Aku tau. Tapi, permata tidak akan indah jika tidak diolah," jawab Venom lagi. Keduanya lalu terdiam sejenak, sampai Venom membuka mulutnya lebih dulu.


"Jangan terlalu khawatir pada Seas. Binatang buas masih bisa hidup setelah hampir mati berkali-kali," ucap Venom yang setelah itu langsung mematikan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari X terlebih dahulu. Venom memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu menyesap secangkir kopinya hingga habis.


Mata merahnya menatap ke arah sebuah daun hijau mulai berubah warna menjadi warna hitam. Entah itu karena racun Venom, atau memang sudah waktunya tumbuhan itu mati. Venom tersenyum tipis, isi pikirannya kini mengingat sebuah kenangan kecil di pinggir jalan.


"Diantara semua perasaan manusia, ada satu perasaan yang sangat sulit dihilangkan.


Dendam."

__ADS_1


.


.


.


Sedangkan Sky, kini dia sedang bersama dengan remaja yang disebut sebagai saudara kembarnya, padahal mereka tidak mirip sama sekali. Rambut Sky yang entah sejak kapan berubah menjadi kuning pirang, dan saudaranya berwarna coklat. Bukan hanya itu, sebenarnya struktur wajah mereka juga sangat berbeda. Sky hanya menduga bahwa mereka itu kembar tak identik.


"Sky, kau dulu sangat suka roti panggang, kan? Mau kubelikan?" tanya Dira, saudara Sky. Remaja berambut kuning itu menggelengkan kepalanya, dia hanya terus tersenyum tipis sembari melihat saudaranya itu.


Melihat Sky yang terus menolak apapun yang Dira berikan, membuat remaja itu sedikit sedih hingga dia mengeluarkan ekspresi yang sedikit sendu. Sky menyadari itu, tapi dia memilih untuk tidak mengatakan apapun.


"... Aku harus pergi, Dira. Jaga dirimu baik-baik," ucap Sky lalu dia berbalik badan. Namun ketika dia berbalik, pengawal yang selalu mengikuti Dira kini membentangkan kedua tangannya, menghalangi Sky supaya tidak pergi.


"Kemana? Kau mau pergi kemana lagi?" tanya Dira dengan suara yang dingin dari belakang Sky. Sky melihat ke arah depan, melihat wajah pengawal yang menghadang dirinya.


"Lama tidak bertemu, Leonax," sapa Sky sembari melihat pria yang masih gagah dengan seragam khas seorang pengawal.


"... Anda mau pergi kemana? Tuan Sky?" tanya pria itu dengan ekspresi yang agak takut namun sendu. Sky menaik-turunkan pundaknya, lalu dia mengeluarkan sebilah jarum yang cukup panjang dari balik lengan putih jas laboratoriumnya.


"Dilihat dari ekspresimu, kau pasti tau kemana saja aku selama ini. Bahkan setelah tahu aku dimana, kau masih berniat untuk menghalangiku? Apa kau tidak sayang nyawamu?" Sky tersenyum tipis sembari mengacungkan ujung jarum itu ke leher si pengawal. Tentu saja hal yang Sky lakukan ini menarik perhatian orang-orang, karena mereka masih ada di pasar. Dira yang tidak tau apapun, hanya bisa termenung melihat Leonax dan Sky yang beradu mulut.


"A-ada apa ini? Sky! Darimana kau mendapatkan benda itu! Turunkan, cepat turunkan, Sky!" Dira mendekati Sky, berusaha menurunkan lengan Sky yang mengacungkan jarum pada Leonax. Tapi jangankan menurunkan jarumnya, Dira bahkan tidak mampu menggerakkan tubuh Sky barang seinci saja. Seolah-olah tubuh Sky adalah patung batu yang kokoh.


"Kita akan bertemu lagi nanti, sekarang aku ada urusan. Sampai jumpa, Dira." Sky menjatuhkan satu botol kecil berwarna putih yang langsung membuat bom asap tebal di area itu. Dira dan Leonax yang tidak siap, jadi menurunkan kewaspadaan mereka dan mereka fokus untuk menutupi hidung serta mulutnya.


"Uhuk! Uhuk! Sky! Dimana kau?!" teriak Dira sembari mengipas-ngipas bagian depan mukanya. Tak lama kemudian kabutnya mulai hilang tertiup angin, begitu juga dengan sosok Sky yang lenyap dari sana. Leonax dan Dira mencari ke segala arah, namun mereka tidak akan pernah menemukan Sky.


Karena Sky sejujurnya ada di dekat mereka, hanya saja dia memakai ramuan pengubah warna rambut serta matanya. Sky diam di sisi sebuah toko, melihat Dira dan Leonax yang mencari ke sana kemari, lalu perlahan, dia berjalan menjauh.


"Aku harus menemukan Seas dan Valeria."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2