
POV: Author
Sementara itu di pemukiman yang ditinggalkan, di saat fajar sudah mulai menampakkan diri. X menatap sesosok perempuan yang tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah.
"NERA!"
.
.
.
Matahari sekarang sudah ada di atas kepala para manusia. Banyak orang yang sudah terbangun dan mulai beraktivitas masing-masing. Tentu banyak orang yang mempertanyakan kenapa banyak bangunan yang rusak dalam semalam, padahal tidak ada bencana alam. Bahkan para pihak berwajib sudah mengecek cctv kemarin malam, namun naasnya, semua rekaman malam itu menghilang tanpa jejak. Meninggalkan kebingungan yang berbekas pada setiap orang.
Sementara itu, di markas para agen Underworld School berada.
.
.
.
"Sial! Jadi Nera sekarang sedang terkena efek ilusi?!" umpat agen C dengan mata yang berapi-api. Dia sangat kesal dan menyesal, dalam hatinya dia merutuki dirinya kenapa menuruti perkataan Nera saat itu.
"Itu bukanlah salahmu, agen C ... misi kali ini termasuk berhasil, karena setidaknya kita tidak kehilangan seorang anggota," ucap agen X dengan kepala yang mengangguk. Dia melirik ke arah Seas dan Sky yang tampaknya sedang melotot ke arah jendela.
Ya, mereka punya dendam kesumat karena gagal membunuh Razeks.
"Seas ... Sky ... pasti ada kesempatan lain kali," hibur X sambil berjalan mendekati mereka dan mengacak-acak rambut mereka dengan lembut.
"Kalau saja orang bertudung itu tidak menyelamatkan Razeks ... aku yakin dia sudah mati di sana!" gumam Sky kesal, yang disahuti dengan anggukan kepala Seas. Valeria ikut berdiri lalu bersandar di bahu Seas.
"Padahal kalian sudah bekerja sama, kok bisa dia lepas? Aku berhasil membunuh satu," ucap Valeria bangga. Seluruh orang di ruangan itu terkejut, bahkan Agen X.
"... Kau berhasil membunuh satu? Siapa?" tanya X dengan bola mata yang melebar.
Valeria tersenyum bangga dan menjawab. "Maria, si ahli senjata sudah aku habisi!" jawab Valeria bangga. X menoleh ke arah Mores yang menggelengkan kepala.
"Aku sudah dalam perjalanan untuk membantu misi kalian karena Valeria bilang dia bisa mengatasinya sendiri. Dan yah, kalian lihat hasilnya, dia berhasil membunuh satu musuh," ucap Mores sambil mengangkat bahunya. X dan C terlihat lega, setidaknya musuh mereka sekarang juga pasti merasa terancam oleh keberadaan Underworld School. Tapi Seas dan Sky semakin cemberut.
"... Meskipun kalian bilang ada kesempatan lain kali ... tapi tadi kami sudah mengeluarkan semua yang kami bisa, bahkan kami juga sudah menggunakan blood weapon," ucap Sky lalu dia menghela nafas panjang.
"Itu wajar, perbedaan kemampuan Razeks dan Maria memang cukup besar," ucap C berusaha menghibur Seas dan Sky. Tapi tampaknya hal itu tidak membuat keduanya semangat, hingga akhirnya Valeria merangkul keduanya dari tengah.
"Di kesempatan selanjutnya, kita bertiga yang akan menghabisi Razeks. Sebenarnya kalian berhasil membunuhnya kok, hanya saja keberuntungan sedang berpihak pada Razeks saat itu," ucap Valeria dengan senyuman yang lebar, namun perlahan berubah menjadi seringaian.
"Kita bertiga tidak terkalahkan, bahkan meskipun Razeks tahu semua kartu as kita. Dia akan tetap mati nanti." Valeria menatap tajam ke arah jendela.
__ADS_1
Pihak Underworld School akhirnya memutuskan untuk beristirahat selama beberapa hari terlebih dahulu guna menyiapkan rencana selanjutnya. Namun, mereka tidak menyangka bahwa mereka telah mengambil langkah yang salah kali ini.
Malam itu, tepat setelah mereka menyerang kawanan Razeks.
Markas mereka diserang balik.
"Ledakkan."
Mata Seas dan seluruh penghuni di markas langsung terbuka lebar.
DUUUAARR!
Markas mereka hancur lebur menjadi puing-puing bangunan yang terbakar. Dari atas asap dan api yang berkobar, terlihat beberapa bayangan yang melompat keluar berpencar. Ya, beruntung Seas dan pihaknya berhasil meloloskan diri dari ledakan tersebut.
"Aduhduhduhduh! Bokongku masih sakit karena tiba-tiba terbangun!" ujar Sky sambil mengusap miliknya. Seas melihat ke arah lain, mereka terpecah menjadi dua kelompok tanpa sadar.
Seas bersama dengan Sky dan Valeria.
Sedangkan X bersama dengan C, Nera dan Mores.
Kelompok Seas sekarang berada di atas sebuah pohon, mereka bertiga bertengger dan melihat keadaan. Mereka tidak melihat kelompok Razeks yang menyerang, tapi justru para prajurit dari kerajaan Hyacinth.
"Ada apa ini ... kenapa mereka malah menyerang kita?" tanya Valeria heran dengan mata yang masih setengah mengantuk. Sky segera mengeluarkan ponselnya, dia mencari informasi yang bisa menjelaskan situasi saat ini.
Mata Sky terbelalak lebar, dia segera menunjukkan ponselnya pada Seas dan Valeria.
"APA?!" teriak Seas dan Valeria bersamaan.
Dor!
TRANG!
Sebuah peluru hendak mengenai Valeria dari belakang, untung Seas mengetahui hal itu dan segera menangkisnya dengan dagger miliknya. Mata Seas melihat sekeliling dengan cepat, dia mengetahui bahwa mereka sekarang sedang terkepung.
"Kita ... dikepung oleh puluhan sniper," gumam Seas dengan raut wajah yang agak panik. Seas kemudian terdiam sejenak, dia berpikir sambil menundukkan kepalanya.
"Kita harus lari, Seas!" ucap Sky sambil menarik pergelangan tangan Seas. Tapi tubuh Seas tidak bergerak sedikitpun. Seas kemudian berdiri, dia menoleh ke arah Sky dan menatapnya serius.
"Sky ... jika kita kabur, maka kita akan terlihat seperti benar-benar bersalah," ucap Seas dengan suara yang pelan.
"Lalu?! Apa kita harus menyerahkan diri?!" tanya Sky agak emosi. Sedangkan Valeria masih menunggu dua rekannya yang punya otak encer untuk berpikir.
"Ya, bukan kita ... tapi hanya aku dan Valeria," ucap Seas tiba-tiba. Sky langsung menarik keras baju Seas dan menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?! Kenapa kau dan Valeria harus menyerahkan diri?!" Sky sudah panik sekarang, yang dia pikirkan hanya melindungi rekannya supaya tidak tertangkap.
Seas tersenyum tipis, kemudian dia menyeringai. "Aku punya rencana, Sky. Rencana ini hanya bisa dilakukan olehmu. Begini ... " Seas berbisik pada Sky. Laki-laki berambut kuning yang awalnya begitu emosi, perlahan-lahan ekspresinya berubah menjadi terkejut.
__ADS_1
"... Bisa begitu?" tanya Sky heran. Seas mengangguk dengan mantap.
"Kalau begitu, sisanya aku serahkan padamu, Sky! Ayo Val, kita turun!" Seas menarik baju Valeria sampai membuat gadis itu terjengkal dari atas pohon. Mereka menyerahkan diri pada prajurit, sedangkan Sky yang sedang ada di atas pohon, menyiramkan ramuan ke tubuhnya sendiri.
"Percayakan padaku, Seas."
Fyut.
Itu adalah ramuan kamuflase.
.
.
.
KLANG! JGREK!
"Aduh, kan bisa pelan-pelan!" ucap Valeria kesal ketika dia dilempar masuk ke dalam sel tahanan. Begitu juga dengan Seas yang ada di sel lainnya.
"Mana mungkin mereka lembut pada orang yang bersalah?" tanya Seas sambil menatap Valeria. Tak berapa lama kemudian, Agen X dan Agen C juga ikut masuk ke dalam sel tahanan.
Melihat Mores dan Nera yang tidak ikut bersama mereka, Seas menduga bahwa X mempunyai rencana yang mirip dengannya.
"Kalian akan berada di sini untuk eksekusi kalian dua hari lagi!" ucap penjaga dengan wajah yang garang.
BLAM!
Pintunya ditutup dengan keras, menyisakan kami yang berada di dalam sel yang berbeda-beda.
"Seas, kemana Sky?" tanya Agen X yang selnya agak jauh dari Seas. Tetapi karena ruangannya sunyi, jadi suara biasa mudah terdengar tanpa perlu berteriak.
"Menjalankan peran khusus!" jawab Seas dengan senyuman lebarnya. Setelah itu, Seas ganti bertanya. "Mores dan Nera?" tanya Seas.
"Aku menyuruh Mores membawa Nera pergi untuk diobati," ucap X sambil bersandar di dinding sel, kemudian dia lanjut berkata.
"Dan mereka akan mengurus hal penting lainnya," tambah X dengan seringai di wajahnya. Seas langsung mengangguk dan menghela nafas lega.
"Sudah kuduga, kita punya rencana yang mirip."
Valeria dan C yang tidak paham arah pembicaraan Seas dan X, memutuskan untuk membicarakan hal lain.
"Bakso rasa pisang itu enak tidak?" tanya Valeria pada C.
"Entahlah, aku lebih suka rasa mint," jawab C denhan ekspresi yang serius.
TBC.
__ADS_1