Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Rencana rahasia


__ADS_3

POV: Sky


Aku terus berlari sore ini, meskipun sebenarnya aku sangat tidak menyukai rencana Seas, tapi ini adalah hal paling mungkin yang bisa kita lakukan di situasi ini. Kelihatannya Mores dan Nera tidak tertangkap, aku melihat Mores yang sedang menyamar menjadi warga biasa dengan Nera yang masih pingsan di kursi roda.


Matahari yang terbenam digantikan oleh rembulan, akhirnya aku sampai di tempat yang baru saja kutinggalkan. Ya, akhirnya aku kembali ke kediaman orang-orang sialan itu. Aku berdiri di depan gerbang megah, tertutup oleh jubah hitam.


"Biarkan aku masuk," ucapku sembari membuka tudung hitam yang aku kenakan. Pengawal yang sedang menjaga gerbang itu langsung terkejut, mereka tanpa ragu segera membuka gerbangnya. Aku berjalan agak cepat untuk masuk, dan mataku langsung melihat orang yang aku kenal.


Dari lapangan pelatihan kesatria, aku melihat wajah Leonax yang tampak begitu terkejut dengan kedatanganku. "Tuan Muda?! Kenapa anda lewat gerbang?" ucapnya agak kaget, dia berlari ke arahku.


"Ya terus? Kau memintaku melompati pagar atau masuk lewat selokan?" jawabku agak kesal. Aku juga masih manusia, kenapa aku harus selalu lewat jalan yang tidak normal? Aku bukan kemari untuk membunuh siapapun.


"Ma-maaf, saya hanya agak terkejut karena Tuan Muda tiba-tiba datang ke sini," ucapnya sambil menundukkan kepala dan tersenyum tipis. Aku memalingkan wajahku darinya, entah kenapa hatiku terasa agak aneh jika dia masih memanggilku tuan muda.


Aku menghela nafas lebih dulu lalu berkata, "Lupakan itu, mulai sekarang jangan panggil aku tuan muda. Panggil saja aku Sky, dan aku ada urusan dengan si pak tua." Aku mengedarkan pandanganku, mencari ruang kerja milik seseorang yang pernah aku panggil ayah.


"Anda mencari Tuan? Beliau ada di ruang kerjanya, mari saya antar." Leonax berjalan lebih dulu, dan aku mengikutinya dari belakang. Sebenarnya tadi aku hendak masuk lewat jendela, tapi tidak jadi. Kedatanganku ke sini bukan untuk membuat masalah, jadi sebaiknya aku menjaga sikapku.


Sepanjang jalan menuju ruang kerja pak tua itu, banyak sekali pelayan yang menatapku dengan sembunyi-sembunyi. Sepertinya kalau terang-terangan menatapku mereka takut mati.


Tak berapa lama kemudian, aku sampai di depan sebuah pintu kayu yang mulai rapuh. Leonax hendak mengetuk pintu itu namun aku segera mencegahnya. Tatapan Leonax seolah bertanya 'ada apa' padaku, tapi aku hanya mengabaikan tatapan itu.


BRAK!


"PAK TUA! APA KAU SEHAT?!" Aku langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar dalam sekali gebrakan, sesosok pria yang agak berumur yang sedang duduk di kursi kerjanya, menatapku dengan tatapan tajam.


"Leonax, kenapa kau membawa buronan ke sini?!" teriak pak tua itu, Leonax hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Wow buronan, ya tidak salah sih. Tapi kami bukanlah buronan yang sebenarnya!" Aku melangkah mendekati meja kerjanya, dan duduk di atas meja itu.


"Aku akan segera memanggil para pasukan keamanan, kau akan segera dieksekusi," ucap pak tua itu dengan dingin.


Ya, baguslah. Tatapanmu padaku tidak berubah sejak dulu, jadi aku tidak perlu terbawa perasaan padamu.


"Kau akan menyesal jika melakukan itu," ucapku.


"Omong kosong." Pria itu membalas dengan cepat. Aku tersenyum tipis dan mendekatkan wajahku padanya.

__ADS_1


"Aku datang kemari untuk membuat sebuah penawaran."


"Aku tidak percaya dengan seorang penjahat." Pria itu mengeluarkan sebuah belati dari loker mejanya, mengarahkan ujung pisaunya ke depan mataku.


"... Apa kau tidak ingin mengangkat nama keluarga yang kau jaga segenap hati ini?" tanyaku. Pria tua yang ada di depanku terdiam, dia masih menatapku dengan tajam.


"Aku punya sebuah rencana supaya kau bisa mendapat peran pahlawan di negara ini. Apa kau tertarik mendengarnya?" tanyaku pada pria itu. Perlahan-lahan dia menurunkan mata pisaunya, dan menatapku dengan mata yang menyipit tajam.


"Katakan."


.


.


.


POV: Mores


Aku tidak menyangka bahwa pihak Underworld School akan diincar oleh pihak kekaisaran. Jika begini, maka sudah jelas bahwa di pihak negara ada seorang pengkhianat. Hal ini akan cukup sulit karena para agen Underworld School sudah tertangkap. Bahkan untukku sekalipun, akan sulit untuk mencegah bencana terburuk yang mungkin terjadi.


Tapi bisa saja pihak negara tidak mengetahui jumlah pasti agen dari Underworld School! Jika memang yang kulihat benar-benar Sky ... semoga ada cara untuk mengatasi firasat buruk ini ...


Aku menatap ke arah jendela, lalu berbalik menatap Nera yang masih tertidur lelap. Nera belum bangun sejak dari misi terakhir kali, Sky bilang bahwa tidak ditemukan racun dalam tubuhnya, berarti ... ahli parfum yang diincar oleh Nera, bukan hanya seorang ahli dalam obat-obatan ...


Tapi juga seorang ahli dalam penyerangan psikologi.


"Nera ... cepatlah bangun sebelum terlambat ... kondisi saat ini sangat merugikan," ucap sambil mengusap dahinya yang terasa sedikit basah karena keringat. Jika dia masih terus tidur begini, maka aku harus memberi cairan infus padanya supaya dia tidak kehabisan cairan.


Aku kembali menatap ke arah jendela sambil mengeluarkan 3 ekor boneka tikus yang sudah aku buat sebelumnya.


"[Teknik boneka Mores: Pengendalian 3 boneka.]"


Krutuk ... krekk kriekk!


Ketiga boneka tikus itu keluar lewat jendela, menyebar dengan melompati gedung dan merayap di pipa yang terhubung. Aku menutup mataku, dan mulai berkonsentrasi.


"[Teknik boneka Mores: Berbagi Indra.]"

__ADS_1


Syuushhh.


Dengan begini, disaat aku menutup mata, maka aku akan bisa melihat apa yang bonekaku lihat, dan aku juga bisa mendengar apa yang mereka dengar.


Aku kembali membuka mataku, namun tetap menggerakkan boneka tikusku supaya bergerak lebih jauh.


Setidaknya aku harus mengumpulkan informasi.


.


.


.


POV: Author


Di sebuah kamar di salah satu istana kaisar, terlihat seorang wanita dengan tudung hitam yang menutupi wajahnya. Dia duduk santai di jendela yang berada di ketinggian lebih dari 30 meter itu dengan tenang.


"Nyonya ... persiapannya hampir selesai," ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakang wanita itu. Pria berambut pitak dengan mata hitam yang terbuka lebar menyeramkan.


Ya, dia adalah Razeks.


"Hihihi, bagus. Berarti besok malam, adalah hari eksekusi rencana kita," ucap wanita itu tanpa menoleh, tapi dari suaranya, dia terdengar begitu gembira. Razeks menundukkan kepala dan menjawab.


"Benar, besok malam kita bisa melaksanakannya. Sesuai dengan arahan master utama," ucap Razeks sopan. Wanita itu bergumam dengan perasaan senang, dia mengeluarkan lipstik merahnya, dan mulai memoles benda itu di bibirnya.


"Bagaimana dengan kondisi anggota yang lain? Apa mereka sudah baik-baik saja?" tanya wanita itu.


"Parrot mengalami beberapa cedera, tapi dia bilang dia sudah tidak apa-apa. Cosses tidak terkena cedera apapun, dan racun yang ada di tubuh saya juga sudah anda netralkan," jawab Razeks lengkap. Wanita itu kemudian tiba-tiba cemberut, dia menatap malam berawan ini dengan tatapan kecewa.


"Sayang sekali aku gagal menyelamatkan Maria, padahal dia gadis yang manis ... aku berencana mengajarinya sebuah teknik. Haaahh, andai saja dia hidup lebih lama," ucap wanita itu dengan nada yang sedih.


"Maria pasti bangga bisa menjadi sebuah bantuan untuk melaksanakan rencana ini, nyonya," ucap Razeks. Wanita itu segera tersenyum dan menoleh padanya.


"Benarkah? Kalau begitu, kita harus pastikan rencana kita sukses besok malam."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2