Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Seas dan Valeria?


__ADS_3

..."Hutan Utara!"...


POV: Dev


Sial ... kuharap Seas dan Valeria masih hidup.


Kalau aku tidak salah, lawan mereka cukup berbahaya. Siol, si penyihir salju. Dia ada di peringkat 1000 besar dalam pembunuh tingkat dunia. Kalau tidak salah, dia ada di urutan 990-995.


"Seas! Valeria!" Aku berteriak saat melihat gundukan salju di mana-mana. Ini jelas adalah teknik milik wanita itu! Mataku mencari ke sekeliling, tapi aku masih tidak menemukan dimana keberadaan mereka!


"Valeria! Dimana kau?!" teriakku lagi. Jujur, aku lebih khawatir pada Valeria daripada Seas. Kemampuan anak laki-laki itu sudah terlalu hebat untuk seorang pemula. Karena itu aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.


"Dev?"


Deg.


Aku mendengar suara Valeria yang sangat pelan. Aku berbalik, sampai kini aku melihatnya. Tergeletak berlumuran darah dan luka di sekujur tubuhnya.


Ini sangat parah ... aku lebih salut lagi dia masih bisa berbicara dengan luka seperti ini. Sial! Aku harus segera mencari obat bius!


"Tahanlah! Jangan bicara lagi! Lukamu sangat parah!" Aku berjongkok dan mulai mengeluarkan perban, aku mulai membalut lukanya dengan cepat tanpa melepaskan bajunya.


Greb.


"Ada apa?! Kita harus segera mengobati lukamu!" ucapku panik. Tapi Valeria malah menggelengkan kepalanya, tangan kanannya mencengkram kuat pundakku.


"To ... long ... Se ... as ... ce ... pat," ucapnya sambil berusaha tetap sadar.


"Di ... a ... ma ... ti."


DEG.


Tanganku bergetar hebat, mataku berusaha mencari kebohongan di mata sekarat milik Valeria.


"Dimana dia?!" tanyaku. Valeria merilik ke arah gundukan salju yang berwarna merah. Jantung langsung berpacu layaknya seekor kuda. Aku langsung berdiri dan berlari ke arah gundukan salju itu.


SRAT SRAT SRAT!


Tanganku menggali dengan cepat. Hingga rasanya aku menyentuh kulit manusia.


"SEAS!" Aku segera mengangkat tubuh Seas. Dia sudah sangat pucat! Ditambah karena terkubur salju dalam waktu yang cukup lama. Aku hampir tidak bisa merasakan denyut nadi dan hawa panas tubuhnya!


Sempatkah aku menyelamatkan kedua nyawa anak ini?!


Aku menggendong Seas di punggungku lalu kuikat dengan diriku. Sementara Valeria kugendong di depanku agar luka di tubuhnya tidak terbuka lagi. Meskipun kedua anak ini sekarat, tapi kondisi mereka berbeda jauh.

__ADS_1


Seas tidak terkena luka fatal yang dalam, dan lebih banyak kehilangan darah saja. Sedangkan Valeria ... hampir seluruh tubuhnya berlubang, tulang yang bagiannya sudah hilang, bahkan darahnya juga sudah terbuang banyak.


"Andai saja aku bisa melakukan pengobatan!" gumamku frustasi.


Mana mungkin ada rumah sakit di tengah hutan seperti ini?! Kalau kita harus kembali ke negara itu lagi, sama saja butuh waktu yang lama!


Sial sial sial! Bagaimana ini?! Aku tidak punya muka untuk bertemu X dalam kondisi seperti ini!


"DEV! BAWA KE SINI!"


Aku mendengar suara yang mulia Ron. Aku berhenti mendadak saat melihat beliau yang menemukan sebuah gubug tua. Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan membaringkan kedua murid itu di sana.


"Aku akan memberi pertolongan pertama pada mereka! Cepat bantu X dan Sky! Aku yakin anak yang bernama Sky punya obat yang cukup manjur!" titah yang mulia Ron. Aku membungkukkan badan sebelum pergi.


Aku mohon, tolong selamatkan mereka! Sky!


***


POV: Sky


Aku sangat lelah. Bagaimana bisa X bertahan melawan orang-orang seperti ini? Beruntung karena kami bisa membunuh salah satu dari mereka. Jadi sekarang tersisa 4 orang lagi.


"X ... aku sudah tidak punya ramuan untuk menyerang lagi," bisikku pada X. Sekilas X melirikku, tapi kemudian fokus kembali ke arah depan.


BUAGH!


"AWASI PUNGGUNGMU!" Seorang pria lain dengan pistol ikut datang menyerang. Aku bisa melihat bahwa dia menodongkan pistol ke arah X.


DOR!


TRANG!


Aku melemparkan jarumku untuk menghalangi peluru yang akan mengenai punggung X. Pria dengan pistol itu tampak marah padaku.


"Kau sejak tadi kubiarkan karena tidak berbahaya, tapi kau sangat merepotkan sebagai seorang pendukung. Sepertinya aku memang harus membunuhmu lebih dulu!" Pria itu langsung menerjang ke arahku. Tubuhku sedikit kaku karena efek terkejut. Selama ini aku melihatnya bertarung dari jarak jauh, jadi tak kusangka dia akan mengincar pertarungan jarang dekat.


"Dalam Medan perang, kalau kau melamun, kau akan mati." Dalam detik berikutnya, dia sudah ada di depanku. Tubuhku masih kaku, rasa takut menjalar hingga ke setiap sel tubuhku.


BUAGH!


"Kau tidak apa-apa, Sky?"


Aku langsung jatuh terduduk. Dev datang tepat waktu lalu langsung menendang pria tadi tepat di wajahnya.


"Uhuk! Hoek!" Aku muntah. Rasanya perutku sangat mual! Pertarungan asli itu seperti ini? Aku tidak tau karena selama ini yang kulawan hanyalah keroco saja.

__ADS_1


Seas ... sekarang aku paham kenapa para senior juga mengagumimu. Kau bisa bertahan dari tekanan seperti ini dan bersikap normal.


"Bangunlah! Aku butuh bantuan- tidak! Seas dan Valeria butuh bantuanmu!" ucap Dev padaku. Aku masih diam, memangnya apa kemampuanku? Sekarang aku baru sadar bahwa aku selemah ini.


"Mereka ada di gubug sebelah sana! Kumohon cepatlah! Mereka akan mati kalau kau tidak cepat-cepat!" tambah Dev lagi. Mataku melebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


"A-apa?" tanyaku bingung.


"Sudahlah! Cepat ke sana saj-" ucap Dev terpotong karena di tinju oleh pria pistol tadi.


BUAGH!


"MEREKA MATI? TENTU SAJA HAHAHAHA! BOS SIOL ITU ORANG YANG HEBAT! MURID SIALAN KALIAN TIDAK AKAN MENANG MELAWANNYA!" sombong pria dengan pistol. Aku segera berdiri lalu berlari pergi.


Benar, sekarang mereka butuh bantuanku! Aku tidak punya waktu untuk merenungi lemahnya diriku! Yang penting sekarang, bagaimana aku bisa tau bahwa aku berguna!


Aku masih terus berlari hingga aku melihat sebuah gubug tua yang mengeluarkan asap dari cerobongnya. Sepertinya gubug ini yang Dev masuk.


Brak!


Aku langsung masuk.


Deg.


Rasanya jantungku berhenti untuk sesaat. Terlihat bahwa Ron sedang kuwalahan untuk menangani luka Valeria. Sedangan Seas ... terbaring seperti mayat. Kulitnya pucat dan sedikit berwarna biru. Aku melihat sedikit bekas darah pada mata dan hidungnya.


"Apa kau punya obat untuk mereka?!" tanya Ron dengan cepat tanpa menoleh ke arahku. Aku segera tersadar. Aku melepaskan coat yang kupakai dan mengeluarkan beberapa bahan kimia.


Dilihat dari kondisinya, mereka sama-sama kekurangan darah. Aku tidak tau golongan darah mereka dan tidak ada yang bisa melakukan donor darah cepat di sini. Jadi satu-satunya cara ...


Adalah membuat mereka mati suri.


"Tunggu sebentar!" Aku mulai meracik beberapa bahan dan mengeluarkan suntikan. Tanganku sedikit bergetar karena gugup. Ini berpacu dengan kecepatan. Telat sedikit saja mereka akan mati.


"Minggir!" perintahku pada Ron. Dia menurut dan segera minggir. Aku mulai menyuntikkan bahan ramuan ini pada Valeria lebih dulu, kemudian Seas.


"Fyuh ... tapi ini hanya akan membuat mereka bertahan 3 hari. Dimana rumah sakit terdekat?" tanyaku pada Ron. Dia terlihat mengingat-ingat.


"Sekitar 2 hari kalau kita berlari dari sini tanpa henti," jelas Ron. Aku mengangguk. Aku mulai menyiapkan beberapa bahan lagi, untuk memastikan mereka tetap hangat selama 2 hari ini.


..."Kumohon, bertahanlah!"...


TBC.


Jangan lupa likenya!

__ADS_1


__ADS_2