Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Ruang kepercayaan.


__ADS_3

[Ujian tahap ke-dua, ruang kepercayaan.]


POV: Author


Sky terus berjalan, membelah kerumunan dan berjalan lurus ke arah tujuannya. Dia bergerak dengan tujuan yang pasti, yaitu menemukan jalan keluar. Tapi, hal itu justru membawa Sky ke tempat yang lebih berbahaya.


"Pintu?" Sky bergumam dengan nafas yang sedikit tidak teratur. Matanya tertuju pada sepasang pintu hitam di depannya. Sky membuka pintu itu dengan perlahan, ruangan itu sangat gelap, bahkan Sky tidak bisa melihat apapun dari dalam sana.


"Memangnya ini apa? WOAH?!" Sky terjatuh masuk ke dalam lubang. Pintu itu kembali tertutup, seolah menunggu mangsa yang selanjutnya.


BRUK!


"ADUH! INI DIMANA?!" Sky berteriak saat merasakan tubuhnya jatuh di atas lantai yang keras.


Gelap.


Sangat gelap.


Sky bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri, di dalam kegelapan ini, Sky mulai merangkak dan sebisa mungkin untuk tidak membuat suara. Karena tanpa peralatan, Sky yang paling tau bahwa dirinya tidak berguna.


Seluruh obat kimia yang aku kumpulkan ikut meledak, yang tersisa hanyalah obat pelumpuh di saku kananku. Bahkan ini hanya bisa digunakan satu kali pakai,-batin Sky.


Trak.


Sky merasa tangannya menyentuh sesuatu. Panjang dan keras, seperti kayu yang lancip.


Meja?,-batin Sky.


"Selamat datang. Apa kau mau bermain?"


PATS!


Ruangan ini seketika menjadi terang. Mata Sky bisa melihat adanya seorang pria yang memakai tudung lagi. Dia berdiri sambil bersandar di kursi, di depannya ada meja yang terdapat catur.


Tapi ...


Caturnya ... adalah patung Seas serta Valeria? Dan patungku?,-batin Sky.


"Bagaimana kalau kita bermain catur?" tanya pria itu dengan nada yang jahil. Sky segera berdiri dan duduk di depannya. Mata Sky tidak berhenti terpaku pada pion catur ini.


"Apa ini?" tanya Sky dengan nada yang dingin.


"Seperti yang kau lihat, kita bermain catur nyawa di sini. Setiap pion yang aku eleminasi, artinya aku bisa mengisi pistolku dengan satu peluru. Sebaliknya, setiap pion yang kau eleminasi, kau bisa mengisi pistol di sisi kananmu itu dengan satu peluru.

__ADS_1


Lalu ...


Yang menanglah yang berhak menarik pelatuknya." Pria itu tersenyum. Gigi taringnya terlihat dengan jelas. Sky masih terlihat tenang, walaupun jantungnya sekarang sudah berdetak dengan sangat cepat.


Dia bukan siswa. Dia adalah agen tingkat atas. Menyerangnya secara langsung adalah hal fatal. Tapi jika aku mengikuti permainannya ... tidak ... itu lebih baik, aku akan mengikuti permainannya,-batin Sky.


"Oh dan aku lupa bilang~ pion terakhir yang tereliminasi, adalah pion yang akan terbunuh secara nyata."


DEG!


DIA ... BERNIAT MELIBATKAN SEAS DAN VALERIA?!,-batin Sky.


Jantung Sky berdetak lebih cepat, otaknya bekerja puluhan kali lebih keras. Bulir keringat yang memenuhi wajahnya terasa dingin, bahkan jarinya yang selalu mengepal tidak terasa hangat.


Bagaimana ini?! Akhir dari permainan catur ini bisa ditebak, pion terakhir yang tereliminasi adalah patung Seas. Apakah ada acara untuk membuat patung yang tereliminasi adalah patungku?!,-batin Sky.


***


Sementara itu di sisi lain, Seas masih sibuk bermain kartu dengan orang di depannya.


"Aku menang lagi!" ucap pria itu sambil tertawa senang. Sudah 9 ronde Seas bermain kartu, dan tidak sekalipun dia menang. Sepertinya keberuntungan Seas dalam bermain kartu memang sangat buruk.


"Sial," gumam Seas pelan sambil mengusap wajahnya.


"Hehehe, ini tidak seru jika kita hanya bermain seperti ini. Bagaimana kalau kita menambah tingkat adrenalin?" tanya pria itu sambil mengambil semua kartu yang ada di atas meja. Pria itu mengeluarkan segenggam kartu yang berbeda, bahkan desain kartu di tangannya terlihat sangat unik.


Srak!


Tunggu! Kartu ini?! Kenapa gambarnya adalah foto anggota tim kami?!,-batin Seas.


Seas memandangi 5 kartu yang ada di tangannya. Kartu ini masih sama memiliki nomor, tapi menggunakan gambar Seas, Valeria, serta Sky di dalamnya.


"Peraturannya masih sama. Hanya saja ... yang kalah harus rela dijual sebagai budak pasar gelap."


DEG!


Jantung Seas berdetak dengan cepat, untuk pertama kalinya, dia merasa panik ketika tidak sedang bertempur. Begitu melihat isi kartu, Seas langsung paham, bahwa ujian ke-dua telah dimulai sejak mereka masuk ke pesta bawah tanah ini.


Sial! Harusnya aku tidak terpisah dengan Valeria dan Sky!,-batin Seas.


Seas menggertakkan giginya kesal, tidak mungkin baginya untuk menyerang seorang agen tingkat atas seorang diri. Ditambah lagi, di ruangan yang penuh keramaian serta cahaya yang terang, seni milik Seas tidak bekerja 100% dengan baik.


"Mari kita mulai?" tanya pria itu dengan seringainya.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Valeria tersadar di sebuah terowongan yang aneh. Awalnya dia panik karena terpisah dengan rekan-rekannya, tapi dia segera tenang dan percaya bahwa rekannya akan baik-baik saja.


Kenapa aku ada di sini? Ini sangat gelap, dan baunya seperti kotoran. Tapi aku tidak tau ini kotoran apa,-batin Valeria.


Valeria mulai berjalan tanpa arah, tangannya meraba mencari dinding, lalu bergerak maju ke depan.


Tik ... tik ... tik.


Telinga Valeria mendengar adanya suara tetesan air, hal ini membuat Valeria yakin bahwa ini masih di bawah tanah. Valeria masih terus melangkah, mencoba mendekati suara air itu.


"Hm? Apakah ini sumber airnya?" gumam Valeria sambil menyentuh air yang menetes.


Tapi ... kenapa lengket?


"Grrr."


Deg.


"Sial ... jadi ini bukan air pipa? Tapiair liur hewan buas?" umpat Valeria sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Tatapan matanya kini beralih ke arah atas, menatap ke dalam kegelapan yang tidak bisa ditembus oleh mata.


Valeria mengeluarkan pistol dari dalam bajunya, setelah itu tak lupa dia menguncir rambutnya dengan model ekor kuda menggunakan karet rambut, yang dia lingkarkan ke pergelangan tangan.


Cklik.


Valeria mulai membidik ke arah atas, dia menutup mata kanannya, lalu bersiap untuk menekan pelatuk.


DOR!


"GRAAAAAHHHHH!"


"HAH?! KADAL APA YANG SEBESAR MOBIL?!? GILA!" Valeria langsung berlari setelah tau makhluk apa yang dia hadapi. Karena jalanan yang gelap, Valeria beberapa kali menabrak  dinding.


"Apakah tidak ada cahaya di terowongan ini?! Dahiku sudah sakit karena beberapa kali menabrak beton!" kesal Valeria sambil terus berlari ke depan. Entah di mana dia sekarang, entah sudah berapa lama dia berlari, entah sudah seberapa jauh dia melangkah. Terowongan ini terasa makin jauh dan makin pengap.


"Bagaimana ini?! Tidak ada cahaya sama sekali!" ucap Valeria kesal.


***


"Woah ... jadi di ujian ke-dua kali ini, tidak akan ada murid yang terbunuh?" tanya X sambil melihat Rex yang duduk di sofa. Rex meminum tehnya dengan pelan, menikmati pemandangan yang sepi di Underworld School.


"Iya, karena tujuan dari ujian ke-dua, bukanlah bekerja sama dengan tim yang asli. Tapi bekerja sama dengan orang asing," jawab Rex sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2