Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Siluman Tikus?


__ADS_3

POV: Seas


Kami segera meninggalkan mall itu saat beberapa polisi sudah masuk dalam gedung.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan," ucap X lalu menyalakan mobil. Kita berangkat ke tujuan kita, negara Valord.


Valeria menguap lalu menatap X melalui spion tengah mobil dan berkata, "Ini cukup menyenangkan, apakah setelah misi ini berakhir kita bisa main ke sana lagi?" Valeria tersenyum cerah.


Aku dan X jadi merasa lega karena Valeria sudah semangat lagi. X menatapku lalu sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanyaku sambil menatap X.


X kembali fokus ke jalan, dia terlihat bingung dengan apa yang akan dia katakan.


"Apakah uangnya masih sisa?" tanya X padaku dengan canggung. Aku terdiam ... bagaimana aku mengatakannya ... sepertinya aku meninggalkan uangnya di mall.


"Seas meninggalkannya di mall," ucap Sky sambil tertawa kecil. Aku mengalihkan pandanganku dari X dan menatap jendela.


"Ohh, tidak apa-apa ... aku akan memberi kalian lagi nanti!" X tertawa renyah, seolah kehilangan 6 juta bukanlah masalah besar.


Sebenarnya kau itu sekaya apa X?! Aku yakin Sky juga memikirkan hal yang sama denganku, tapi Valeria mungkin malah senang dan menganggap X sebagai bank berjalan.


Yah meskipun aku juga menganggap X begitu ... untuk sekarang.


"Oh! Setelah kita sampai di negara Valord nanti, kita bisa bermain-main lebih dulu!" ucap X sambil fokus menyetir.


"Hah?" Aku menatap X dengan tatapan bingung ... bukankah tugas kita untuk mengawal Ron .... siapa itu?


"Kita akan sampai di negara Valord sekitar 7 hari lagi, dan mungkin bisa lebih cepat. Sedangkan Ron Evagiria akan pulang ke negaranya 14 hari dari sekarang. Jadi kita masih punya waktu 1 Minggu untuk bermain-main!" ucap X sambil tertawa kecil. Aku, Sky, dan Valeria langsung bersemangat setelah mendengar perkataan X.


Untuk sesaat aku merasa senang, tapi setelah itu rasanya perasaanku benar-benar buruk.


Aku ingat perjalanan ke Valord memakan waktu 10 hari, ditambah kita berlibur di sana selama 7 hari ... AKU TIDAK BISA BERTEMU VENOM LEBIH DARI SETENGAH BULAN!


"Hei X ... apakah ada kemungkinan akan ada Agen tingkat atas lain yang datang?" tanyaku dengan ragu-ragu.


"Ekhem." Sky berdehem di belakangku. Aku menoleh ke arahnya dengan kesal, sialan. Bisa kulihat senyum licik dan ekor rubah yang berkibas di belakangnya.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang rindu seseorang nih~," ucap Sky dengan nada yang mengesalkan. Suasana di mobil itu seketika menjadi hening.


"Ohh, tidak apa-apa aku paham. Tapi sepertinya tidak akan ada Agen lain yang datang, ini hanyalah misi pengawalan sederhana. Kau harus menahan rasa rindumu selama kurang lebih satu bulan!" ucap X sambil tersenyum. Sekarang aku merasa arwahku keluar dari mulutku.


Aku benar-benar tidak merasa bersemangat.


Venom, aku rindu padamu.


***


POV: X


Ini adalah hari ke-3 sejak kedatangan kita ke mall ... aku mengajak anak-anak ini ke sana agar mereka lebih bersemangat.


Tapi kenapa mereka malah terlihat semakin lesu?!


Kalau si Valeria itu, wajar dia merasa lesu karena dia tidak keluar dari mobil selama 3 hari ini. Tapi anak di sebelahku ini ... dia langsung lesu setelah tau tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya?!


Oh Tuhan ... bagaimana aku menyemangati anak ini? Haruskah aku membuatkan manekin Venom? Aku benar-benar tak tau apa yang harus kulakukan. Valeria dan Sky terlihat seperti karung beras yang tak ada isinya.


"Hei Sky! Aku terpikirkan sesuatu selama beberapa hari ini setelah mengamatimu, apa kau itu seorang introvert?" tanyaku dengan biasa. Sky tampak terkejut dan wajahnya sedikit panik. Aku hanya ... menanyainya ... .


"Um ... yah. Itu mungkin benar, aku lebih nyaman dengan kesendirian, tapi ada kalanya juga aku senang bersama seseorang," ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Hoo, apakah Seas dan Valeria termasuk dalam 'seseorang' itu?" tanyaku dengan nada yang sedikit jahil. Ayolah aku butuh hiburan, biasanya Seas yang menemaniku mengobrol tanpa henti. Tapi sekarang dia hanya tidur dan tak berbicara padaku.


"Iya. Sepertinya kau dan Venom juga termasuk dalam 'seseorang' itu!" ucap Sky sambil tersenyum cerah. Aku terdiam ... baru kali ini aku melihat Sky tersenyum seperti itu.


"HEI BODOH! LIHAT JALAN!" ucap Sky panik lalu dia menampar pipiku.


Plak!


Aku tersadar dan segera mengembalikan mobil ini ke jalan yang benar ... hampir saja masuk sungai.


Ckit!


Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan. Valeria ikut terbangun karena merasa mobilnya sudah berhenti.

__ADS_1


Valeria menguap lalu berkata, "Apakah kita sudah sampai?" Rambutnya terlihat kusut, dan sepertinya nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


"Maafkan aku! Hanya saja aku tak menyangka kalau Sky bisa tersenyum seperti itu, jadi perhatianku teralihkan dan tidak fokus ke jalan, hahaha!" ucapku sambil tertawa kecil. Seas juga terbangun lalu mengucek matanya.


"Oh ... setiap melihat reaksimu, aku jadi berpikir apakah kau punya seorang adik," ucap Seas lalu dia menguap, sepertinya dia masih mengantuk.


Beberapa detik setelah mendengar perkataan Seas, aku jadi terdiam ... benar juga. Seas kan punya seorang kakak, pasti dia bisa tau tindakan yang kulakukan ini mirip dengan tindakan kakaknya.


Tapi aku tidak seperti bajingan itu yang membantai semua keluarganya.


"Yah ... aku punya beberapa adik. Tapi mereka bukan adik kandungku," ucapku datar. Aku tidak ingin membahas masa laluku di sini.


"Nah karena kita sudah berhenti, bagaimana kalau sekalian kita menginap dulu di desa ini?" tanyaku sambil menatap Sky dan Valeria. Seas sudah membuka pintu mobil dan meregangkan ototnya di luar.


"Aku sih tidak masalah, bagaimana denganmu, Val?" tanya Sky pada Valeria. Dia mengangguk lalu memeluk tangan Sky.


"Ay ... yoo, kita keluar," ucap Valeria masih diselingi dengan menguap. Kami bertiga keluar dari mobil dan berjalan ke arah Seas.


Seas sedang duduk di tepi sungai, sambil mengamati langit yang penuh bintang. Dalam keheningan itu dia berkata, "Benar juga, aku hampir tak pernah melihat bintang sejak datang ke Underworld School.".


Kami bertiga duduk di sampingnya lalu ikut memandangi bintang. Apa yang Seas ucapkan memang benar, langit di Underworld School itu selalu suram, tidak ada perbedaan antara siang dan malam. Tidak ada matahari atau bulan, bahkan bintang! Hanya awan mendung yang seolah menyelimuti sekolah itu.


"Hey ... apa kalian benar-benar tidak sadar?" Valeria berbisik pada kami dari tempat duduknya. Yah ... bukannya aku tidak menyadarinya ... aku hanya menunggu kalian bereaksi terlebih dahulu.


"Aku tau sejak kita berhenti, mereka memandang kita tanpa henti," ucap Seas.


"Keluarlah, baju kalian terlihat loh!" ucap Sky cukup keras. Terlihat beberapa anak dengan pakaian lusuh yang mendatangi kami.


"T-tolong kami!" ucap seorang gadis kecil dengan rambut coklat. Pakaiannya sangat lusuh dan kotor.


"Warga di desa ini ... tiba-tiba menghilang!" ucapnya lalu menangis. Teman-temannya datang lalu menenangkannya.


"Ka-kami mohon! Tolonglah kami! Desa i-ini, diteror oleh siluman tikus!" Kali ini seorang bocah laki-laki yang terlihat kurus berbicara. Kami mengernyitkan dahi kami.


..."Siluman tikus?"...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2