Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Penyelamatan tim hitam!


__ADS_3

"Jangan meremehkan peringkat 1. Majulah kalian semua, akan kuberikan pertunjukan yang bagus."


POV: Author


SRING!


Seas mengarahkan ujung daggernya ke leher Seidon dengan cepat. Semua orang yang ada di sana seketika membeku kaku. Mata ungu Seas yang tajam dari balik tubuh Seidon, serta dagger hitam pekat yang sangat tajam. Membuat orang-orang di sana terpana sejenak oleh pemandangan Seas.


Seidon yang menjadi tawanan Seas, merasa malu pada dirinya sendiri. Dia menggertakkan giginya kuat, dan menatap nyalang ke arah rekan satu timnya. "APA KALIAN AKAN DIAM SAJA?!" teriaknya keras.


BUAGH!


SRAK!


Seas langsung memukul tengkuk Seidon dengan keras, dan membuat anak itu pingsan secara instan. Mata Seas kembali mengedarkan pandangannya, Seas melihat ke arah Barka serta Kasan yang mulai mengeluarkan senjata.


Barka mengeluarkan palu yang cukup besar, yaitu seukuran lengan pria dewasa. Sedangkan Kasan menggunakan tombak yang dia simpan di balik punggungnya. Seas juga melihat ke arah dua anak kembar yang sudah bersiap, Ricy dan Dicy.


Serta satu orang lagi yang menjaga tahanan tim hitam dari dekat.


Dia adalah Rota.


Aku tidak tau kemampuannya apa, dia hanya membawa sebilah kipas. Apakah dia mirip seperti Venom?,- batin Seas bingung.


Sraatt!


Deg.


Saat Seas sedang lengah karena mengawasi Rota, tiba-tiba Barka sudah ada di samping kiri Seas, siap dengan palu yang ada di tangannya. "Kau akan penyet hari ini!" ucap Barka sambil mengangkat palu besarnya di atas kepala. Seas melirik ke arah Barka sambil tertawa kecil.


"Maaf tapi aku belum minat jadi sambel geprek."


Syusshh!


BUAGHHH!


Sebelum palu itu mengenai Seas, dia sudah mundur ke belakang lebih dulu untuk menghindari palu Barka.


Kekuatan palunya memang bukan main, tapi kecepatannya sangat lambat,- batin Seas menilai kemampuan Barka.


Srattt!


Tiba-tiba sebilah kain berwarna hitam muncul dan melilit lengan kanan Seas, kain itu mulai melilitnya dan menjadi semakin erat, seolah-olah kain itu hidup. Seas melihat ke arah kain yang melilitnya, lalu melihat ke asal pengendalinya.


Dia adalah Ricy, sang pengendali kain.


SREEEAAAKK!


Seas dengan tenang langsung memotong kain yang melilit lengannya tadi. Seas melirik ke arah gadis pengendali kain itu. "Jangan pakai kain biasa dong, kan jadi mudah dipotong. Masa begini saja harus diajarin?" sindir Seas sambil menghela nafasnya dan memutar bola matanya malas.


Sedangkan Ricy yang baru saja disindir langsung terdiam.


Apakah anak ini punya hobi memancing emosi orang?,-batin Ricy.


Seas kemudian membersihkan kain sisa di lengannya dengan santai, tanpa menyadari bahwa ada ujung tombak yang melesat cepat ke kepalanya.


WHUS!


CRATT!


Seas yang lengah sesaat, akhirnya mengorbankan telapak tangannya untuk menahan tombak itu. Darah mulai mengalir dan merembes hingga ke siku Seas. Dia menatap luka di telapak tangannya serta tombak yang masih menancap.


Entah kenapa ... rasanya ada yang aneh ... ini ... perasaan yang familiar ... apa ya?,- batin Seas bingung.


Crat!


Seas mencabut tombak yang menancap di tangannya dan melemparkannya ke tanah. Mata ungunya kemudian menatap ke arah Kasan, orang yang melempar tombak. Seas kemudian tersenyum.

__ADS_1


Senyum yang sangat dingin dan licik.


"Hanya ini saja?"


Satu kalimat dari Seas itu memancing emosi yang ada dalam diri semua orang di sana. Jangankan tim hijau yang menjaga, tim hitam yang rekannya saja jadi ikut emosi mendengarnya.


SRAKK!


Semua tim hijau ya ada di sana serentak untuk menyerang Seas, bahkan Rota yang awalnya hanya berdiri mengamati, kini menyerbu ke arah Seas bersamaan. "Akan kuremukkan gigimu dasar bocah sombong!" ucap Barka sambil mengangkat palunya dan berlari ke arah Seas.


"[Teknik kain iblis: nomor 1, gulungan mayat.]"


SRATTT!


Sehelai kain yang panjang juga langsung terulur ke arah Seas dengan sangat cepat, begitu juga dengan Dicy yang menyerbu Seas dengan sebuah belati kecil di tangannya.


Bagus, semua syarat sudah terpenuhi.- batin Seas.


"[Teknik bayangan: nomor 11, sang peniru - Teknik mata-mata istimewa: manipulasi kenyataan.]"


Ting.


SYUSSHHH!


BRAAAAKKKK!


DUUAAGHH!


Semua orang yang menuju ke arah Seas langsung berbenturan. Kain yang harusnya mengikat Seas, malah mengikat Dicy, dan palu besar Barka yang harusnya memukul Seas, justru hampir membunuh Ruga yang merupakan rekannya sendiri. Mereka lalu saling bertatapan, dan melihat ke lokasi Seas menghilang tadi.


"... Tidak ada ... orang itu?" gumam Barka sambil melihat tempat Seas berdiri tadi kosong.


"Heiii sampai jumpa nanti~ dahhh~." Seas berteriak dari kejauhan sambil menggandeng rekan tim hitamnya keluar dari area penangkapan.


Seluruh anggota tim hijau di sana terdiam.


Mereka kini merasa benar-benar dibodohi oleh Seas.


***


Setelah keluar dari tempat penangkapan, Seas mengantarkan para anggota tim hitamnya ke area sebelah luar. "Nah, dari sini kalian harus berlari sendiri, karena aku akan kembali untuk berjaga di sana," ucap Seas sambil menunjuk ke arah belakangnya.


"... Sulit untuk percaya ... kau hanya perlu memakai satu teknik saja untuk menyelamatkan kami?? Wow ...," ucap Remi yang terdiam sambil melongo. Seas hanya tersenyum sambil mengendikan bahunya.


"Tapi apa tanganmu baik-baik saja? Sepertinya darahnya tidak berhenti dari tadi." Fani menatap khawatir ke arah tangan Seas yang masih meneteskan darah. Seas kemudian menatap tangannya.


"Yah sudah kuduga, anak laki-laki yang bernama Kasan itu ... juga menguasai seni yang sama dengan agen Spinx." Seas tertawa kecil sambil menatap tangannya.


"Dia adalah pengguna seni pasir. Pantas saja rasanya lukaku sangat perih dari tadi, kalau aku tidak mengeluarkan pasirnya, pasti lukanya tidak akan tertutup," gumam Seas sambil mengeluarkan daggernya. Seas kemudian dengan cepat langsung menancapkan dagger itu ke telapak tangannya sendiri.


CRAT!


Sambil sedikit meringis, Seas mengeluarkan sisa-sisa pasir di lukanya dengan hati-hati.


Meskipun mereka sama-sama pengguna seni pasir, tapi cara penggunaannya berbeda. Kasan hanya menggunakan sedikit pasir untuk memperparah luka, berbeda dengan agen Spinx yang justru menggunakan pasir sebagai senjata utamanya.


Kenapa begitu ya? Apakah karena perbedaan gaya bertarung? ... Atau justru ... karena Kasan masih belum menguasai seninya sehebat agen Spinx?,- batin Seas yang menduga-duga.


"Hei kalau kau melakukannya seperti itu, justru kau akan membuka lukanya!" Edrin yang menatap Seas daritadi juga ikut khawatir. Tapi Seas tidak menggubris ucapan Edrin, karena dia sedang sibuk melamun.


"Kau benar, aku harus menutup lukanya," ucap Seas setelah terdiam 3 menit, barulah dia mengeluarkan sebuah kain hitam yang masih sedikit tersisa untuk dia balut di lukanya.


***


Waktu telah berjalan 60 menit, sisa 60 menit lagi sampai ujian ke 5 berakhir.


***

__ADS_1


Sementara itu di sisi Sky dan Valeria. Mereka akhirnya membentuk sebuah kelompok kecil dengan Aran serta Cassio untuk bertahan di ujian ke 5 ini. Namun karena pergerakan mereka yang kurang cepat, mereka terlibat dalam pertempuran yang tidak terelakkan.


CRANGG!


KRANG!


"UKH!" Sky menahan pedang api Felra dengan 3 batang jarum yang dia olesi dengan cairan anti api.


Ya, kelompok kecil Seas bertemu dengan kelompok Felra yang terdiri dari Felra, Gio, Lili, Renya dan Jessya.


Dor dor!


Dor dor dor!


Aksi tembak-menembak juga tidak terelakkan di antara Valeria serta Lili sebagai sesama siswa dari kelas pertarungan jarak jauh.


"Sial! Kita kalah jumlah!" ucap Sky kesal karena dia terpojok oleh pedang api Felra.


Cring.


Mata Sky melihat adanya sekelebat cahaya yang mengarah ke arah dirinya. Dengan sigap, sambil menahan pedang api Felra, Sky mengeluarkan jarum lainnya di kotak yang dia bawa.


Sratt!


Sky melemparkan jarumnya itu ke arah cahaya tadi.


TRANGG!


Sesuai dengan naluri Sky, ada pengguna kunai di antara kelima orang yang menyerang mereka.


"Gio ya? Teknik gagak miliknya itu sangat merepotkan," gumam Sky sambil terus menahan pedang Felra.


"Mau sampai kapan kau tidak fokus?!"


Deg!


Sky terkejut karena tiba-tiba Felra menambah tenaganya.


TRANG TRANG TRANG!


Gawat! Aku terpojok!,- batin Sky panik.


Srakk!


Tiba-tiba Aran muncul di belakang punggung Sky. Mata Sky melebar, dengan cepat dia menyandarkan tubuhnya pada Aran.


"[Teknik tempurung kura-kura hitam: nomor 2, hempasan.]"


SYASHHH!


WHHUNG!


Felra langsung terdorong mundur karena dorongan dari telapak tangan Aran. Seni milik Aran bernama Tempurung kura-kura hitam, walaupun begitu, sebenarnya tekniknya mirip dengan milik Ruo. Karena itu adalah seni dengan tangan kosong.


"Bagus Aran! Ayo kita lari dulu!" ucap Sky sambil menggenggam pergelangan tangan Aran. Tapi Aran tidak berpindah satu inci pun dari tempatnya berdiri.


"Kenapa? Kita harus cepat!" Sky menatap Aran dengan wajah yang panik. Tapi saat Aran berbalik menatap Sky, justru Aran tersenyum.


"Valeria sedang berada jauh dari sini, jadi kalau mau lari, kita butuh sesuatu untuk menahan mereka di sini." Aran berucap sambil mendekat ke arah Sky. Detik itu, Sky merasakan hawa yang membuat bulu kuduknya merinding. Perasaan tidak nyaman itu telah kembali.


"Karena itu ... kau tidurlah di sini."


Apa?,- batin Sky.


BUAGH!


Si ... al! Aran! Pengkhianat!,- batin Sky yang emosi sebelum akhirnya dia hilang kesadaran.

__ADS_1


...


TBC.


__ADS_2