
POV: Author
Di tempat lain, terlihat dua orang yang sedang berlari sambil berdebat. Mereka begitu berisik sampai burung-burung pun pergi menjauh.
Siapa lagi kalau bukan Mores dan Valeria yang berdebat seperti biasa.
"Kau! Bukankah sudah kubilang, kalau senjatamu pistol, harusnya jangan terlalu maju! Sana jaga belakang!" ucap Mores dengan nada suara yang tinggi, tampaknya dia sudah begitu kesal karena Valeria tidak menurutinya. Sedangkan orang penyebab kekesalan itu malah terlihat tidak peduli.
"Ah~ berisik! Seas dan Sky saja tidak pernah komen mau aku bertarung di garis depan atau belakang kok!" bantah Valeria dengan sorot mata yang malas. Perdebatan mereka masih terus berlanjut, hingga target mereka menyadari keberadaan kedua orang itu.
Dari dalam sebuah ruangan dengan jendela yang terbuka, terlihat seorang gadis dengan rambut hitam lurus seleher yang terlihat mengembang. Gadis itu menodongkan pistol ke arah Valeria dan Mores.
Dor!
Sebuah tembakan biasa melesat. Dalam hitungan detik, tembakan itu sudah hampir mengenai Valeria.
"Akhirnya muncul juga."
Srat.
Valeria melompat ke atas hingga tubuhnya berputar 180 derajat. Dia menghindari peluru yang hendak mengarah ke arahnya. Bersamaan dengan dirinya yang melompat, mata coklatnya langsung menatap tajam gadis yang menembakkan pistol tadi.
Click.
Valeria mengeluarkan pistolnya dan langsung menembak tanpa ragu.
Dor!
Prang!
Tembakan itu tidak meleset, tapi gadis yang di dalam ruangan tadi berhasil menghindar. Valeria mendarat di atas sebuah gedung, setelah itu dia langsung kembali berlari, mengejar gadis yang menembaknya tadi.
Mata Valeria berhasil menemukan gadis itu, dia berlarian di dalam gedung, berpindah dari gedung ke gedung lainnya lewat jendela.
Gadis ini terlatih untuk bergerak di medan yang ekstrim, batin Valeria. Karena tidak semua orang bisa bergerak lincah, apalagi harus melompati banyak jendela untuk masuk ke dalam gedung.
Meskipun begitu, Valeria kembali membidik.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan Valeria luncurkan. Tapi karena gadis itu berlarian di dalam gedung, cukup sulit menyesuaikan timing dan membidik dengan posisi yang bagus. Kebanyakan peluru Valeria berakhir dengan mengenai dinding dan tembok.
Target Valeria dan Mores, adalah Maria, sang ahli senjata. Di dalam data yang disajikan oleh X, ada beberapa senjata yang dipakai oleh Maria.
Pedang, pistol, cambuk, dan kipas tajam.
__ADS_1
"Sial ... dia susah sekali dibidik!" geram Valeria sambil mengisi ulang pelurunya.
Kretak kretak! Kreekkk!
Sebuah suara aneh mendekati Valeria dengan kecepatan tinggi. Valeria menoleh ke belakang, jantungnya rasanya hampir copot saat melihat boneka seukuran manusia dengan wajah yang mengerikan, sedang berlari ke arahnya.
Tapi ternyata boneka itu berlari melewatinya.
"... Oh iya, Mores kan ahli boneka, aku lupa," gumam Valeria pada dirinya sendiri. Valeria segera lanjut berlari, dia melihat boneka itu turun, dan mengejar Maria dengan masuk ke dalam gedung-gedung. Valeria yang sudah selesai mengisi peluru, hendak membidik dengan pistolnya.
Tapi niat tersebut segera dia urungkan saat melihat sesuatu yang berkilau sedang menuju ke arahnya.
SRING!
Valeria melentingkan tubuhnya ke belakang, menghindari kipas tajam yang dilemparkan oleh Maria ke arahnya. Kipas itu berputar dengan cepat, dan kembali ke arah asal dia dilempar, mirip seperti bumerang.
"Woah ... ternyata orang yang pandai berbagai senjata itu cukup mengerikan," gumam Valeria sambil memperbaiki posisinya. Dia hendak kembali berlari untuk mengejar gadis itu, tapi niatnya segera dia urungkan saat melihat kaki jenjang seorang perempuan yang ada di atas kepalanya.
Valeria segera mengarahkan lengannya ke atas kepala untuk menahan tendangan kapak gadis itu.
BUGH!
Meskipun begitu, tetap saja terasa sakit ya, batin Valeria. Dia agak meringis merasakan rasa nyeri di kedua lengannya. Dengan posisi masih menahan tendangan gadis itu, Valeria bertindak untuk membalik keadaan, dia menendang gadis itu di kaki tempatnya bertumpu, membuat dia kehilangan keseimbangan.
BUGH!
Maria berhasil menahan tendangan Valeria dengan satu tangannya. Dia menatap ke arah Valeria dengan sorot mata yang penuh amarah. "Tendanganmu sangat lemah ya," ejek gadis itu. Valeria merasakan rasa panas di otak dan hatinya sekarang.
Belum cukup Mores yang membuatnya kesal setiap saat, sekarang dia harus mendengarkan mulut kompor dari musuhnya juga.
"Oh? Benarkah? Akurasi menembakmu juga sangat buruk, kukira tadi kau bukan membidikku," balas Valeria tidak kalah emosi. Maria menggeram pelan, dia segera mendorong kaki Valeria, membuatnya terpental ke belakang. Maria segera melangkah mundur untuk mengambil jarak.
Sriing.
Gadis itu mengeluarkan sebilah pedang yang menempel di pinggangnya. Begitu juga dengan Valeria yang mengeluarkan sebuah pistol dan pisau kecil. Pistolnya dia pegang di tangan kiri, dan tangan kanannya memegang belati kecil.
Kedua perempuan itu masih diam, mereka hanya memandang satu sama lain dengan tatapan tajam. Perlahan-lahan, langkah demi langkah mulai mereka ambil, mereka saling memutari satu sama lain, menunggu kesempatan yang tepat untuk maju.
Cklik.
Valeria bersiap dengan menodongkan pistolnya. Detik itu juga, Maria langsung maju secara zig-zag dengan posisi tubuh yang membungkuk.
Dor! Dor! Dor!
Semua peluru Valeria berhasil Maria hindari, hingga dia berhasil mendekati Valeria. Gadis itu mengayunkan pedangnya dari bawah, hendak menebas bagian depan Valeria. Namun Valeria juga bukannya tidak bersiap, Valeria berhasil menahan pedang gadis itu dengan belati kecil yang ada di tangan kanannya.
__ADS_1
TRANG!
"Belati kecil seperti itu tidak akan bertahan lama," ucap Maria sambil terus menekan pedangnya pada pisau Valeria.
"Benarkah? Otak kosong seperti punyamu juga tidak akan bertahan lama," ucap Valeria sambil menodongkan pistolnya ke dahi Maria yang ada di depannya. Tetapi belum sempat Valeria menembak, Maria menarik pedangnya dan hendak menusuk Valeria dari depan.
TRANG!
Serangan yang kali ini juga berhasil Valeria tahan dengan lubang pistolnya.
Maria menarik pedangnya sekali lagi, dan langsung memberikan serangan beruntun pada Valeria.
Trang TRANG! Trang trang trang!
Suara dentingan besi terdengar begitu brutal di atas gedung itu. Gerakan Maria begitu lihai walaupun hanya menggunakan satu pedang. Valeria juga bukannya kuwalahan, hanya saja dia jadi tidak mempunyai kesempatan untuk membidik menggunakan pistolnya.
SRIING!
Maria mengincar kaki Valeria, namun refleks Valeria yang bagus mencegah hal itu tejadi. Valeria melompat ke atas dan tangannya dengan sigap hendak menusuk leher Maria dengan belatinya. Namun refleks Maria juga bagus, dia meliukkan tubuhnya ke belakang, menghindari tusukan Valeria.
Srak!
Cklik!
Setelah Valeria mendarat, dia segera membidik lagi ke arah Maria. Namun gerakan gadis itu begitu cepat, dia mengayunkan pedangnya dengan kuat, membuat pistol Valeria terpental.
TRANG!
"Nah, apa yang bisa kau lakukan tanpa pistol?" tanya gadis itu dengan senyuman sombongnya.
"..." Valeria terdiam, lalu dia membuang belati yang dia pegang. Dia membunyikan jari-jari tangannya serta leher, menatap Maria dengan sorot mata yang dingin namun dengan senyuman.
"Apa yang bisa aku lakukan tanpa pistol? Waktu itu juga ada yang bertanya begini padaku, dan aku membuat lehernya patah," ucap Valeria sambil meregangkan otot tubuhnya.
"HAAAA!" Valeria berlari maju dengan tangan kosong. Tentu saja hal ini tidak disangka oleh Maria, gadis itu hendak menebas wajah Valeria yang tidak mendapat perlindungan apapun.
Namun siapa sangka, justru tebasannya tidak kena. Valeria menghindar dengan cepat, dalam satu dorongan kaki, dia memukul dagu Maria dengan kekuatan penuh.
BUGH! Bruk!
"Uhuk! Uhuk!" Maria terjatuh ke atas lantai, dagunya terasa sakit bukan kepalang. Bahkan ada beberapa giginya yang rontok. Gadis itu langsung melirik Valeria dengan tatapan mengerikan.
"... Sepertinya aku juga bertarung dengan orang yang serba bisa ya?" ucap Maria.
TBC.
__ADS_1