Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kejelasan!


__ADS_3

"Dari mana saja boleh, kami akan mendengarkan," jawabku tenang. Rex menundukkan wajahnya lalu mengangkatnya kembali.


"Ini tentang asal usul tim kalian."


POV: Seas


"Asal usul tim kami? Bukankah karena memang untuk membentuk tim yang seimbang, makanya kami disatukan dalam tim ini?" tanyaku dengan ekspresi yang bingung. Karena inilah yang kutau, aku yakin dulu C mengatakan bahwa tim adalah bentuk keseimbangan, karena itu kerja sama yang bagus akan terbentuk jika tim itu seimbang.


Tapi Rex malah menggelengkan kepalanya.


Lalu apa alasannya?!


Rex membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah liontin. Kalung liontin berwarna merah darah yang begitu indah. Warnanya jernih, keruh tapi terlihat bersinar, seolah warna merah di dalam liontin itu memang benar-benar mengalir.


"Sudah lebih dari 20 tahun aku memimpin Underworld School. Aku sudah melihat banyaknya murid yang berhasil, dan banyak juga murid yang mati di sini," ucap Rex sambil menaruh liontin itu di depannya. Rex ganti menatap ke arah kami, dan mulai berbicara lagi.


"Kalian bertiga, sama-sama memiliki masa lalu yang bisa dibilang serupa walaupun tak sama. Latar belakang keluarga yang hampir mirip, tapi juga berbeda." Rex tersenyum pahit sambil mengatakan hal itu.


"Mungkin kalian belum sampai membagi masa lalu kalian, karena itu aku tidak akan melanjutkan pembahasan ini. Selanjutnya yang ingin kubicarakan adalah ...


Aku akan membentuk kelas baru di Underworld School."


DEG!


Aku, Sky, dan Valeria terkejut mendengar pernyataan Rex.


"Kelas ini memiliki tingkatan yang ada di atas agen tingkat atas. Kalian, adalah salah satu tim yang kuharap bisa menjadi kandidat kelas ini nantinya." Wajah Rex berubah menjadi serius. Sungguh, aku tidak membayangkan ada yang lebih kuat dari agen tingkat atas. Bahkan setelah semua latihan yang kujalani, aku belum bisa menang melawan agen tingkat atas secara adil.


"Nama kelas ini adalah Eksekutioner Class. Underworld School tidak boleh berhenti berkembang, karena itu ... aku sangat mengharapkan kemajuan kemampuan kalian nanti," ucap Rex sambil menatap ke arah kami bertiga. Lagi-lagi perasaan dejavu ini kembali, perasaan tertekan yang kurasakan saat aku pertama kali bertemu dengan Rex.

__ADS_1


Rasanya seperti ada kaki beruang raksasa- tidak ... setelah kupikirkan lagi, ini bukan beruang. Ini mirip seperti kaki naga yang menginjak kami dengan kuat. Sebuah aura kekuasaan mutlak milik Rex.


"Oh dan aku juga sudah mendengarnya dari X. Seas, kau tidak perlu khawatir tentang seni terlarang yang kau pakai. Karena seni itu tidak mempengaruhi umurmu. Hanya dirimu saja," ucap Rex yang berhasil membuatku tenang. Aku menghela nafas lega, begitu juga Sky dan Valeria.


"Lalu, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? Rex?" Sky bertanya pada Rex dengan mata yang melebar karena penasaran. Rex tersenyum licik, sebuah senyuman- tidak, sebuah seringai terukir jelas di mulutnya.


Apa lagi yang dia rencanakan?!


"Ujian ke 3, akan berakhir sekitar 3 hari lagi. Kemudian ujian ke 4 akan dimulai. Sebenarnya ... aku khawatir kalian akan gagal di ujian ke 4 ini. Karena ... yah ... ini adalah kelemahan kalian," ucap Rex dengan wajah yang pura-pura khawatir, padahal sudut bibirnya masih terangkat. Aku dan Valeria mengernyitkan kening kami bersamaan.


"Memangnya apa ujiannya?!" tanya kami bersamaan yang hanya dibales dengan suara tawa oleh Rex. Kemudian Rex berdiri, dan dia berjalan ke arah kami.


"Sudahlah, nanti kalian akan tau sendiri, coba kalian mengasah diri hingga saat itu tiba," ucap Rex sambil berjongkok di hadapanku dan menampilkan deratan giginya yang rapi dan gigi taring di kedua sisinya.


"Apa?! Bagaimana kami bisa bersiap kalau kau saja tidak memberitahu?!" Valeria sedikit emosi sambil meremas celananya sendiri. Rex malah menutup mata dan mengangkat bahunya, lalu dia kembali berdiri dan berjalan ke arah kursinya.


"Nah itu saja. Obrolan kita hari ini adalah rahasia. Jangan sampai- OH IYA! HAMPIR SAJA AKU LUPA!


DEG DEG!


Aku langsung membuka mataku lebar-lebar. Saat aku hendak berdiri dan berlari ke arah Rex, tapi tiba-tiba tubuhku terlempar ke belakang. Saat kulihat sampingku, ternyata Sky dan Valeria juga ikut terlempar bersamaku.


BRAK!


Pintu ruangan ini terbuka, membiarkan kami jatuh ke dalam lift.


Bruk!


"Aduh!" Aku terjatuh tanpa siap untuk bertahan, jadi aku tidak bisa menjaga keseimbanganku. Saat aku hendak kembali berdiri dan kembali masuk ke ruangan Rex, pintu lift ini tertutup.

__ADS_1


"APA?! REX! APA MAKSUDNYA KAU PUNYA INFORMASI TENTANG ARMA?!" teriakku sebelum pintu tertutup. Tapi ruangan itu kini sudah sepenuhnya gelap, lilin yang menyala tadi juga sudah padam, aku tidak bisa mengetahui dimana Rex sekarang.


Sial ... dia selalu saja seenaknya mengusir orang!


Tuk.


Pintu lift tertutup. Aku segera memegang dinding lift, begitu juga dengan Sky dan Valeria. Kenapa? Karena lift ini turun seperti jatuh dari atas langit.


WHUSSS!


NGIIIKKK!


Dalam hitungan detik, kamu sudah sampai kembali di lantai dasar. Pintu lift terbuka, dan kami bertiga langsung keluar dari lift. Setelah kuperhatikan, sepertinya lantai ini sudah menjadi lebih sepi. Kemana perginya orang-orang tadi?


Aku berjalan ke arah perempuan paruh baya yang selalu menunggu di meja administrasi, Remor.


"Halo ... Bibi Remor? Aku ingin bertanya, kemana perginya orang-orang sebanyak itu?" tanyaku sambil menyandarkan kedua sikuku di atas meja. Perempuan itu terlihat kaget dengan kedatanganku, lalu matanya mulai menyeledik wajahku.


"Kau Seas? Sepertinya kau sudah beradaptasi di sini dengan baik ya?" tanya Remor dengan suara khas yang terdengar ramah. Aku tersenyum lebar padanya, dia kemudian mengaktifkan layar di belakangnya dan menunjukkan sebuah rekaman.


Di dalam rekaman itu, terlihat segerombol orang yang sibuk berlarian kesana kemari, seperti mengejar seseorang.


"Penyusup sudah dipastikan menghilang dari Underworld School. Karena itu ujian dilanjutkan seperti sebelumnya. Apa kau tidak ingin bergabung dan ikut mengejar seperti mereka?" tanya Remor sambil melirik ke arahku. Aku menggelengkan kepala lalu berdiri tegap.


"Kami sudah lulus, jadi kami tidak perlu lagi mengejar Rabbit. Kalau begitu ... bukankah artinya kami punya jam bebas di sisa waktu ujian ke 3 ini?" Aku bertanya pada Remor yang dibalas dengan anggukan olehnya. Setelah itu, aku, Sky dan Valeria langsung berlari keluar gedung dengan perasaan yang gembira.


Yah, siapa yang akan mempedulikan ancaman dari Rex? Kami akan berjalan sesuai alur takdir yang ada, tapi bukan berarti kami akan pasrah. Jika takdir tidak berkata seperti yang kami mau, maka kami yang akan membunuh takdir itu dengan tangan kami sendiri.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2