Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (12-End)


__ADS_3

POV: Sky


Ke ... Underworld School?


Tunggu ... Underworld School? Bukankah ... surat beberapa tahun yang lalu juga menyebutkan kata ini?


"Kau ... apa kau adalah orang yang mengirimkan surat itu padaku?" Aku menatap pria itu dengan serius, tapi dia malah menatapku dengan tatapan heran.


"Surat? Surat apa?" tanyanya lagi.


"Surat yang menyuruhku untuk mendatangi kegelapan, dan masuk ke Underworld School," ucapku lagi. Pria itu tampak berpikir sejenak, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku, mungkin agen yang lain," jawabnya. Setelah itu dia berdiri dan menggandeng tanganku.


"Ayo, aku akan mengantarmu ke Underworld School." Aku merasakan rasa hangat dari tanganku yang dia genggam, meskipun aku yakin tangan itu sama kotornya dengan diriku, yang seenaknya mengambil kehidupan orang lain.


"Aku ... harus memanggilmu siapa?" tanyaku. Pria itu melirikku dengan matanya yang sehitam malam.


"... Dark, panggil aku Dark," ucapnya dengan seringai. Mungkin karena tipe wajahnya yang terlihat tegas dan bengis, aku jadi merasa bahwa seringai memang sangat cocok untuknya.


"Hehe ... baiklah, Dark! Aku Sky, jika digabungkan, nama kita artinya jadi keren, langit hitam," ucapku dengan tawa kecil.


Rasanya sudah sangat lama ... sejak aku tertawa seperti ini. Berapa bulan ya? Ah ... tidak, mungkin beberapa tahun sejak aku kembali ke sini.


Pria ini aneh, apalagi caranya menyusun kata saat berbicara. Tapi aku tidak membencinya, dia menyenangkan.


.


.


.


"Masuk sini," ucap Dark sambil membuka pintu mobil hitamnya. Aku segera masuk tanpa ragu dan duduk tenang di samping kursi kemudi. Setelah itu Dark menutup pintunya, dan masuk dari pintu sebelahnya.


"Wah, kau benar-benar tidak takut denganku ya? Bagaimana bisa kau langsung masuk tanpa rasa waspada?" tanya pria itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku tertawa lagi mendengar ucapan pria itu.


"Ya, kalau kau mau membunuhku juga tidak masalah. Kau mau membawaku juga tidak masalah, aku tidak keberatan dengan apapun itu," ucapku dengan senyuman tipis. Pria itu masih tersenyum dan menatapku dengan tatapan sayu.


"Heh, sepertinya kau sudah melewati kehidupan yang gila. Baiklah, tidak apa-apa! Karena kalau kau tidak gila, kau tidak akan bisa bertahan di Underworld School!


Kita berangkat!" Dark menyalakan mobil, menginjak pedal gas dengan kuat. Mobilnya langsung melaju kencang, aku begitu bersemangat karena ini pertama kalinya aku keluar dari negara ini.


"Yey! Underworld School! Aku datang!" Aku membuka kaca mobil, menikmati udara malam yang dingin.


"Hei bocah! Masukkan kepalamu! Bagaimana jika aku tidak sengaja membuat kepala putus karena menyerempet tiang listrik?!" ucap Dark. Aku tertawa kecil meresponnya.

__ADS_1


"Hahaha! Tidak apa-apa!" jawabku.


Kami berdua akhirnya melaju lurus, tidak menoleh sedikitpun ke belakang. Kehidupan yang aku pilih sekarang, mungkin akan lebih menyeramkan. Tapi setidaknya, itu cocok denganku.


Aku sudah ... tidak perlu mempertahankan kewarasanku di sana.


.


.


.


Perjalanan menuju ke Underworld School cukup lama, mungkin memakan waktu sekitar 3 bulan. Tapi berkat itu, aku memiliki waktu untuk diajarkan beberapa pengetahuan milik Dark.


Seperti tentang kelas pembunuh pemula di Underworld School dibagi jadi 3. Pertarungan jarak dekat, pertarungan senjata api, ahli racun dan obat. Berkat itu, aku jadi bisa memutuskan lebih dulu akan mengambil kelas yang mana.


Dark sendiri bilang, bahwa dia adalah lulusan dari kelas pertarungan senjata api, sekarang dia ada di kelas Agen Codename, kelas lanjutan dari kelas pemula.


"Berarti, Dark bukanlah nama aslimu?" tanyaku lalu menggigit ikan bakar yang baru saja matang. Lidahku langsung terasa seperti terbakar, tapi sialnya Dark malah hanya tertawa saja melihatku.


"Hmmm, bagaimana ya ... namaku sebelumnya memang bukanlah Dark, tapi namaku yang sekarang adalah Dark," ucapnya lalu meniupi ikan bakar yang dia pegang, barulah dia menggigitnya.


"Apa kau tidak bisa memberitahuku nama aslimu?" tanyaku dengan nada yang agak sedih.


Sebenarnya aku tidak benar-benar sedih, hanya saja aku merasa ditipu. Aku sudah memberitahu nama asliku, tapi namanya ternyata hanyalah sandi. Siapa yang tidak kesal? Harusnya aku mengganti namaku jadi Creep, atau Ranger, yang keren-keren lah.


"Jangan khawatir, aku pasti akan menjadi agen tingkat atas. Tunggu aku ya, Dark!" ucapku padanya. Dark tersenyum tulus, dia mengacak-acak rambutku sambil menawarkan ikan bakar lagi padaku.


.


.


.


"Nah sudah sampai! Selamat datang di Underworld School, Sky!" Dark membukakan pintu mobil untukku. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah yang hitam ini, hal pertama yang aku rasakan adalah ... kengerian.


Langit gelap yang tampaknya tidak akan pernah terang. Bangunan dan tumbuhan serba hitam yang seperti tidak ada kehidupan. Ini ... seperti akhirat yang ada di dunia nyata.


"Hehe hehe! Bagaimana? Keren kan? Serba hitam seperti menyambut orang mau mati! Tapi ya memang banyak yang mati sih di sini, ah sudahlah! Ayo ikuti aku!" Dark menutup pintu mobilnya dan berjalan mendahuluiku. Aku menatap punggungnya yang berjalan menjauh.


Jujur saja, semakin aku kenal dengannya, ternyata Dark ...


Banyak omong.


Padahal saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia terlihat begitu kejam dan berkarisma. Tapi apa-apaan sekarang? Dia seperti bocah umur 3 tahun yang tidak bisa berhenti bicara.

__ADS_1


"Ayo Sky!" teriaknya.


"Ah! Iyaa!" Aku segera tersadar dari lamunanku lalu berlari untuk mendekatinya. Mataku melihat ke arah gedung yang akan aku masuki. Tinggi dan hitam, seperti bangunan angker tidak berpenghuni.


"Hihi ... aku pulang, rumahku yang baru."


.


.


.


Flashback end.


TAK!


Aku mendarat dengan selamat, mataku melihat ke atas, menatap Leonax yang melihatku dengan tatapan sendunya, persis seperti dulu.


"Selamat tinggal Leonax, aku akan pulang ke rumahku yang sebenarnya." Setelah mengucapkan itu, aku berlari pergi. Meskipun aku mendengarnya yang berteriak memanggil namaku untuk kembali, tapi aku tidak akan menurutinya.


Bahkan jika dia mati, mungkin ... hanya aku yang tidak peduli. Leonax masih menyayangiku seperti dulu, tapi aku sudah banyak berubah sekarang.


Orang yang berharga untukku juga sudah berubah, Seas, Valeria, X, dan juga Dark. Mereka adalah orang yang kuanggap lebih dari keluarga.


Aku terus berlari, melihat ke kiri dan kanan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, dan ini hari apa. Aku juga tidak mempunyai alat komunikasi apapun untuk menghubungi mereka.


Sial ... apalah Seas dan Valeria baik-baik saja? Aku terpisah dari mereka di tengah pertarungan.


Dan pria itu ... yang namanya Razeks! Pria bangsat yang bilang bahwa dia sudah membunuh Seas!


Jika itu sungguhan ... aku tidak akan melepaskannya, aku bersumpah akan mengejarnya bahkan jika harus masuk ke dalam neraka. Aku akan mengulitinya sedikit demi sedikit, akan kupatahkan tulangnya satu-persatu, akan kuambil organnya setiap hari hingga dia tidak bisa hidup dengan nyaman.


Aku terus berlari maju, namun aku segera berhenti ketika merasakan ada bahaya yang mendatangiku dengan kecepatan tinggi.


Ckitt!


PRAK!


Aku mengerem sekuat tenaga dengan kakiku, untung saja tepat waktu, karena di depanku kini melesat sebuah peluru yang membuat atap rumah ini retak. Aku menoleh ke asal penembaknya.


"Eh ... X?!" Aku kaget karena ternyata pelakunya adalah X, dia tersenyum lebar padaku.


"Hai Sky! Bagaimana? Apakah urusanmu sudah selesai?" tanya X dengan senyuman anak kecil khas miliknya.


Ya, semuanya sudah selesai. Penyesalan, maupun amarah dan rasa takutku.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2