Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Di dalam mimpi.


__ADS_3

POV: Seas


Kami sudah berjalan cukup lama di sini, tidak ... sangat lama. Tapi kami masih belum juga menemui jalan keluarnya.


Astaga ... kepalaku sangat sakit ... paru-paruku terasa keram, kaki-ku rasanya hampa. Bahkan untuk berjalan saja sudah sangat sulit. Aku tidak boleh pingsan ... kalau aku pingsan maka tim Ruo akan lebih kesulitan.


"Seas? Kau tidak apa-apa? Kau ... berkeringat sangat banyak. Apakah kau butuh istirahat?" Ruo bertanya padaku karena aku terlihat kelelahan, keringat tidak berhenti menetes dari pelipisku, mataku bahkan terlihat terlalu sayu untuk orang yang baru saja banyak bergerak.


"Tidak tidak! Kalau kita istirahat, maka akan butuh waktu yang lebih lama lagi sampai di Underworld School! Kita harus tetap berjalan!" ucapku kukuh agar kita tetap bergerak. Tapi beruntung, mungkin seluruh kadal raksasa sudah berkumpul di tempat tadi, jadi sepanjang kami berjalan, kami tidak lagi menemui kadal raksasa.


"Hah ... hah ... hah." Aku sadar bahwa semakin lama kakiku semakin tidak bertenaga. Pandangan mataku semakin buram, pernapasanku semakin lama juga semakin berat.


Tidak bisa ... aku tidak boleh begini. Bagaimana ya? Apakah lebih baik jika mereka duluan saja?


Setidaknya Valeria serta Sky harus selamat.


"Seas? Apa kau sungguh baik-baik saja?" Ruo bertanya lagi padaku. Aku berhenti melangkah, lalu berbalik untuk menatapnya.


"Aku ... tidak baik-baik saja. Aku sangat lelah, kepalaku juga pusing. Sepertinya aku akan istirahat dulu di sini." Aku berbicara pada Ruo, lalu berjalan ke tepi terowongan dan duduk bersandar di sana.


"Baiklah ... ayo kita istirahat du-."


"Tidak!" Aku memotong ucapan Ruo yang hendak duduk di sampingku.


"Kalian duluan saja! Selamatkan rekan-rekanku lebih dulu. Tinggalkan saja aku di sini," ucapku sambil menutup mata, dan mengatur nafasku yang terengah-engah.


"Apa?! Tapi itu sangat berbahaya! Mana mungkin kami meninggalkan orang yang kelelahan sendirian?!" Ruo membentakku dengan ekspresi marah. Aku membuka mataku perlahan, lalu tersenyum simpul.


"Kalian harus pergi lebih dulu. Selamatkan nyawa Sky dan Valeria. Aku akan baik-baik saja. Walaupun kau dan Cedrik kuat, tapi kalian tidak akan bisa bergerak bebas dengan menggendong orang.


Kalian pasti membutuhkan Remi untuk menjaga kalian, karena itu ... aku tidak apa-apa ditinggal sendiri di sini. Aku akan tidur sejenak, lalu akan menyusul kalian nanti." Aku berbicara dengan nada yang setenang mungkin. Ruo masih terlihat tidak puas dengan jawabanku, ekspresi kesal dan marah itu masih terlihat jelas di matanya.


Tap.


"Yang Seas katakan benar, kita harus menyelamatkan mereka berdua dulu. Dan aku yakin ... Seas pasti juga bisa menjaga diri." Cedrik menepuk pundak Ruo sambil menatapku, aku tersenyum saat menyadari bahwa dia membantuku meyakinkan Ruo.


"Baiklah ... kau harus kembali hidup-hidup!" Ruo langsung membalikkan badannya dan bergegas pergi. Sementara Cedrik serta Remi menundukkan wajahnya sesaat padaku, lalu baru menyusul Ruo.


Aku masih terdiam, menatap punggung ketiga orang itu yang kian menjauh, hilang ditelan kegelapan.


Ah ... aku sangat lelah. Aku akan tidur sejenak. Tidak apa-apa ... kan?


Rasanya kepalaku seperti mau meledak.


***

__ADS_1


Rasanya sangat sejuk ... dan nyaman. Aku tidak berpijak di atas tanah? Ini dimana?


Ini ... di dalam mimpi? Lumius? Kaukah itu? Kenapa? Kenapa kau menarikku ke dalam mimpi lagi?


[Bukan aku. Aku tidak melakukan apapun!]


[Seas! Kau jatuh semakin dalam! Aku tidak bisa menjaga jiwamu jika kau jatuh lebih dalam dari ini!]


[Bangunlah! Hei!]


Maaf tapi ... rasanya sangat nyaman di sini. Aku tidak merasa ... ingin pergi dari sini.


Plung.


Whus!


Suara Lumius ... sudah menghilang. Inikah mimpi yang lebih dalam? Bolehkah ... aku membuka mataku?


Aku mulai membuka mataku yang berat, menatap suasana remang-remang yang ada di sekitarku. Ada perasaan familier yang kurasakan saat melihat lorong di mimpiku ini.


Bukankah ini ... lorong mansionku?


Suasana remang-remang ini ... hari pembantaian? Ah ... kenapa harus mimpi di hari yang menyebalkan itu.


"Hm hm hm~"


Ya, orang itu adalah diriku sendiri.


Ternyata lucu juga, melihat diriku yang begitu bodoh, dan malah mengira akan ada kejutan di hari ulang tahunku.


Kalau dipikir-pikir aku memang dapat kejutan bukan? Kejutan mayat kedua orangtuaku haha.


Aku melayang mengikuti kemana jejak kaki diriku yang polos itu melangkah, senandung dan ekspresi senang yang tidak pernah memudar. Membuatku teringat seberapa bahagia kehidupanku yang dulu.


Aku menatap pintu besar yang membawa kenangan buruk bagiku. Pintu besar yang mengubah seluruh pola hidupku, pintu yang mengubah seluruh impian dan tujuanku.


Cklik.


Krieeeet.


Bam!


Pintu itu terbuka, dan lagi-lagi aku harus melihat pemandangan yang sama. Kakakku yang berdiri di atas genangan darah orangtuaku, dia mengenakan setelan jas dan celana putih yang sudah ternodai oleh darah.


"Ka ... kak?"

__ADS_1


Ah ... dialog ini. Kenapa aku harus mendengarnya lagi.


"Benar. Kenapa kau harus mendengarnya lagi?"


DEG!


Aku langsung menoleh ke arah diriku yang satunya. Jantungku seperti berhenti berdetak, mataku tak bisa lepas dari wajah yang kulihat di depanku.


Wajahnya ... mirip denganku. Tapi kenapa ... kenapa warna matanya merah? Siapa? Siapa dia?


"Aku? Aku adalah kau~ kenapa? Apa kau kaget? Yah~ padahal kukira akan bisa melihat ekspresi sedihmu, karena kau melihat mayat orangtuamu lagi~ tapi kenapa kau malah biasa saja?" Diriku yang satu lagi itu kini malah berhadapan denganku. Rambutnya berwarna hitam legam, matanya berwarna merah pekat dengan pupil seperti kucing.


Kenapa? Kenapa kau membawaku kemari?


"Aku? Jawabannya hanya sederhana. Bukankah kau ingin kekuatan?" Dia bertanya padaku sambil menjulurkan lidahnya tepat di depan wajahku.


"Aku bisa memberimu kekuatan. Kenapa kau tidak menerimanya? Padahal kau sudah memilikiku sejak di dalam kandungan~." Dia berpura-pura sedih sambil terus membelaikan tangannya di rahangku. Mimpi buruk yang awalnya biasa saja, kini terasa lebih buruk dibandingkan sebelumnya.


PRANG!


"Eng? Wah sayang sekali ... padahal aku ingin berbicara lebih lama denganmu. Tapi si penganggu itu sudah datang.


Yah~ masih ada kesempatan lain kali. Sampai jumpa~."


Tiba-tiba aku merasa tubuhku diangkat secara paksa. Aku terbang entah kemana, terus ke atas, hingga menembus langit-langit rumahku di dalam mimpi itu.


[Dasar! Bukankah sudah kubilang jangan terlalu ke bawah?!


Kau harus bangun! Dasar bodoh!]


***


DEG DEG!


"HAH ... HAH ... HAH!" Aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Mataku dengan cepat melihat sekeliling.


Benar ... aku masih di terowongan. Astaga ... mimpi macam apa itu?


Tap.


"AAAAAA!" Aku terkejut bukan main saat merasakan ada tangan yang menyentuh pundakku.


"... Kau baik-baik saja?"


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2