Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Ranking pembunuh!


__ADS_3

..."Kumohon, bertahanlah!"...


POV: Sky


Aku membalut tubuh mereka dengan perban yang kainnya sudah kuolesi ekstrak dari buah musim panas. Aku tidak ingin mereka mati membeku dalam perjalanan.


"Ron, apakah kau ... bisa membantuku?" tanyaku dengan ekspresi serius. Ron segera berdiri lalu berjalan ke arahku.


"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Ron.


"Aku akan menggendong Valeria, tolong kau gendong Seas. Dan ... pandu aku agar bisa sampai di rumah sakit!" ucapku lalu mulai menggendong Valeria. Meskipun fisikku lemah, tapi jika aku mengkonsumsi beberapa obat dengan dosis tinggi. Kurasa aku bisa bertahan tanpa lelah dalam 2 hari ini.


"Apa? Kau akan pergi sendiri? Berpisah dari X dan Dev?" tanya Ron heran. Aku mematung sejenak lalu menatap tajam ke arah Ron.


"Seas itu rekanku. Tidak ... lebih dari itu. Aku sudah menganggapnya lebih dari keluargaku. Begitu juga dengan Valeria, meskipun dia adalah pembuat onar, tapi aku juga menganggapnya berharga seperti Seas. Karena mereka ... tetap menerimaku bahkan dengan kepribadian dalam diriku ini," ucapku denga nada dingin. Ron tidak menjawab, dia hanya diam sambil menatapku datar.


"Kalau kau tidak mau membantu, tidak apa-apa. Aku akan menggendong mereka berdua seorang diri!" tegasku. Aku langsung mengambil tubuh Seas dan menggendongnya di depan. Sementara Valeria di belakang.


"Apa kau bodoh? Stamina maupun fisikmu lebih lemah dari mereka berdua, apa kau bisa sampai di rumah sakit dalam waktu dua hari?" tanya Ron lagi. Aku sangat kesal sekarang, dia menyita setidap detik nyawa Seas dengan omong kosong tidak berguna miliknya.


"Dengarkan aku Ron. Aku adalah pembunuh yang menggunakan racun. Kau pikir sudah berapa lama aku berkutat dalam bidang kimia? Kalau aku mau, aku bisa membuat obat yang membuatku kuat dan memiliki stamina tanpa batas," ucapku lagi.


"Sekarang minggir! Kau tidak membantu sama sekali!" Aku berjalan ke arah pintu dan mulai berlari. Malam yang dingin ini tidak menyurutkan tekadku dalam menyelamatkan Seas dan Valeria.


"HAAAH! DASAR BODOH! BERIKAN MEREKA BERDUA PADAKU! AKU AKAN MEMBAWAKANNYA UNTUKMU!" Ron tiba-tiba menyusul. Aku sedikit terharu saat mendengarnya. Ekspresinya terlihat marah dan kesal, tapi dia menggendong Seas dan Valeria sepenuh hati.


"Jangan mengorbankan nyawamu lagi, X akan gila kalau kalian semua mati," ucap Ron tanpa menoleh ke arahku. Aku tertawa kecil, X memang sangat protektif pada kami. Setelah pembicaraan singkat itu, aku dan Ron berlari lagi. Tidak ada yang berbicara, kami hanya saling diam, tenggelam dalam pikiran.


"Hei ... namamu Sky, kan?" tanya Ron memecah keheningan. Dengan nafas yang agak memburu, aku menoleh ke arah Ron.


"Benar, ada apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu, saat kau masih kecil."


Deg!


"..." Aku tidak merespon perkataannya. Masa laluku, aku benar-benar tidak mau mengingatnya. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk pulih dari traumaku.


Srak!


Suara apa itu?


Mataku mencari ke asal suara itu. Dalam hitungan detik, seorang wanita dengan jubah hitam dan sabit melayang datang pada kami.


Dia ... salah satu musuh X tadi. Wanita yang menggunakan sabit berantai. Kalau tidak salah ... nama senjata miliknya adalah kusarigama.



"Aku tidak bisa membiarkan kalian lolos begitu saja dong?" Wanita itu melepaskan tudungnya, memunculkan rambut keriting pendek kehitaman serta masker di mulutnya.


"Ron, bawa mereka ke rumah sakit. Aku akan melawan wanita ini," ucapku sambil menatap tajam wanita di depanku. Ron terlihat ragu pada awalnya, tapi dia segera berlari pergi.


CRING!


Wanita itu melemparkan sabitnya dengan berputar, hasilnya rantai dari sabit itu terlihat seperti tornado yang bersiap meringkus Ron. Aku segera mengeluarkan benang besi milikku dan melemparkannya untuk menahan sabit tajam hitamnya.


TRANGG!


"Apa? Pengguna benang? Kau cukup merepotkan," ucap wanita itu lalu menatapku. Aku menelan ludahku gugup, sementara mataku melirik ke arah Ron yang sudah berlari menjauh.


Syukurlah, dengan begini mereka sudah aman. Tinggal aku dan wanita itu, bagaimana caraku menghadapinya?


"Kuakui keberanianmu, tapi ... bukankah kau terlalu naif?" tanya wanita itu dengan dingin. Aku hanya diam, rasanya begitu enggan membuka mulut.

__ADS_1


"Hmm, kau tidak terlihat akan berbicara denganku. Baiklah~ aku akan memberitahumu suatu fakta," ucap perempuan itu sambil tersenyum lebar.


"Namaku Rodea, salah satu pembunuh bawahan Siol, si penyihir salju, teman-temanmu itu ... sudah pasti mati! HAHAHAHAHA! BOS SIOL ITU SANGAT KUAT! MESKIPUN DIA SUDAH DIKELUARKAN DARI RANKING 1000 BESAR, TAPI KEKUATANNYA BAHKAN MASIH SANGAT KUAT!" Wanita itu menggila dan berteriak.


Sepertinya aku tau apa yang dia maksud. Aku pernah ke bagian administrasi sebelumnya, dan kebetulan aku melihat tentang ranking yang dia maksud itu. Singkatnya, jumlah pembunuh yang ada di dunia itu sudah sangat sedikit. Bahkan jika ditotal, hanya mencapai sekitar 7.000 orang saja. Dan diantara 7.000 orang yang diakui sebagai pembunuh, mereka dimasukkan ke dalam ranking untuk menentukan kekuatan.


Ada beberapa sebutan untuk mereka, 1000 besar disebut dengan 1000 bintang. 100 besar disebut dengan 100 bulan. Dan 10 besar disebut dengan 10 matahari.


Masalahnya adalah, dia bilang bos mereka adalah mantan anggota 1000 bintang?! Seas dan Valeria menghadapi mantan anggota 1000 bintang? Dan tunggu! Apakah X mampu menghadapinya nanti?! Bahkan X tidak masuk dalam peringkat 5000 besar.


"Nah? Kau baru takut sekarang? Jangan khawatir, aku akan membunuhmu dengan cepat," ucap Rodea lalu mulai melemparkan sabitnya. Dengan tenang aku mulai merentang benang milikku, semakin rekat semakin baik. Semakin kecil celahnya semakin menguntungkan untukku.


TRANG! TRANG! TRANG!


Sabit Rodea semakin ganas dari waktu ke waktu. Benang milikku saja tidak mampu menahannya dan akhirnya putus.


TRANG! TRANG! TRANG!


Rodea semakin mendekat padaku, aku mulai melangkah mundur sambil berusaha mengulur waktu. Rasanya aneh, senjatanya sangat aneh. Padahal aku tidak merasa benangku semudah ini untuk putus, tapi dalam sekali tebas saja dia bisa memutus 3 helai benangku.


"Kau baru sadar? Senjataku ini sudah dimodifikasi, dengan menggunakan kristal sebagai pemancar cahaya plasma, aku bisa memanaskan senjataku hingga suhu 2.500 derajat celcius," ucap Rodea. Aku terdiam, kalau begitu tidak aneh jika benangku putus. Dalam suhu sepanas itu, bahkan besi baja akan meleleh, karena titik leleh baja adalah 1.510 derajat celcius.


"Tapi ... dengan suhu sepanas itu, bagaimana bisa dia bertahan?!" ucapku pelan. Aku semakin terdesak karena akhirnya dia sudah berada 2 meter di depanku.


"Hm? Sederhana kok. Pohon di negara bersalju ini memiliki ketahanan lebih kuat pada panas dan dingin. Jadi aku menggunakan kulit kayu mereka dan menggabungkannya sebagai pelindung tanganku." Rodea berhenti sejenak, dia menarik sabitnya agar kembali ke tangannya. Aku tersenyum kecil, tak kusangka dia sebodoh ini.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Rodea dengan ekspresi marah.


"Ah tidak apa-apa! Hanya saja ... ternyata kau sangat bodoh!" ucapku lalu mulai menggulung benang yang tersisa. Setelah tergulung sempurna, aku mulai meninju pohon di sebelahku dan mengoleskan getahnya di benangku.


..."Nah ayo mulai lagi. Kali ini hasilnya tidak akan sama."...

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2