
POV: Seas
Aku berusaha untuk bangun dan turun dari kasur.
Nyut!
"Ack!" rintih pelan saat merasakan nyeri di kepala dan lenganku. Saat aku melihat sekali lagi, ternyata masih ada selang tambah darah yang terhubung ke tubuhku. Dengan cepat aku langsung mencabut semua selang itu, meskipun tentu saja sakitnya bukan main-main.
Aku juga baru sadar bahwa aku hanya melihat dengan sebelah mata, sepertinya mata kananku diperban karena terluka.
Lagi-lagi aku tidak ingat apa yang terjadi. Ah sudahlah! Aku harus membawa Valeria keluar dari ruangan ini!
"Val! Bangun Val!" Aku menggoyangkan tubuh Valeria, bahkan sedikit berteriak padanya. Tapi semua itu sia-sia, Valeria tidak bergeming sama sekali.
"Bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan?!" ucapku panik sambil melihat ke kiri dan kanan.
BLARR! PRAK PRAK!
Api yang menjalar membuat beberapa kayu bangunan ini roboh. Udara dipenuhi asap panas serta hitam yang rasanya membuat hidung sakit. Bahkan bola mataku rasanya sangat kering dan kotor di dalam ruangan ini.
Aku langsung menggotong Valeria dengan kedua tanganku, walaupun aku masih berjalan dengan sedikit tertatih, tapi aku berusaha menahan rasa sakitnya agar bisa keluar lewat jendela.
Sedikit lagi! Sedikit lagi sampai di pintu!
BRUK!
Aku tersungkur ke depan, rasanya kepalaku sangat pusing. Mungkin ini karena darahku masih sangat kurang, ditambah dengan udara panas yang seperti membakar paru-paruku.
Masa aku harus menyerah? Tidak! Aku sudah berusaha untuk hidup sejak aku meninggalkan mansion!
Kenapa aku harus mati hanya karena kebakaran?! Aku akan hidup. AKU AKAN HIDUP!
BRAK! PRAK!
Sebuah bongkahan kayu jatuh tepat di depan wajahku. Kayu ini menghalangi jalan untuk kami keluar, padahal awalnya aku berniat merangkak sampai ke pintu.
"Aku ... harus ... berdiri ... UHUK UHUK!" Aku mencoba berdiri sambil membopong Valeria.
Nyut!
Baru saja aku berdiri, rasanya kepalaku sudah berkunang-kunang lagi. Aku diam di tempat selama beberapa menit, rasanya sangat berat bahkan hanya untuk mengangkat kaki.
Krek.
...[Teknik Bunga Ular Beracun: nomor 3, hembusan nafas naga.] ...
WUSHHH!
__ADS_1
Angin berhembus kencang sampai menerbangkan semua benda yang terbakar. Udara kini dipenuhi oleh racun aneh berwarna hijau. Saat aku melihat kedepan, rambut hijau keemasan yang sedikit berkilau masuk ke pandangan mataku.
Venom.
Dia berdiri di depan pintu yang koyak dengan tatapan datarnya. Tangan kanannya memegang kipas yang selalu ditaruh di pinggangnya, sepertinya ini adalah teknik yang dimiliki Venom.
"Tahanlah sebentar, racunku akan menetralkan gas bius di udara sekitar sini." Venom melangkahkan kakinya ke arahku sambil menutup kipasnya. Langkahnya yang tegas berjalan ke arahku tanpa ragu, tangan kirinya menyimpan kembali kipas di pinggangnya.
"Maafkan aku karena lengah, aku tidak menyangka kalian akan diserang saat sedang beristirahat," ucap Venom yang membelai pipiku dengan tangan putih pucat miliknya. Mataku menatap ke arah mata merah keruh Venom, tatapan datarnya kini menyiratkan rasa khawatir.
"Tapi ... dimana rekan kalian ... Sky?" tanya Venom sambil melihat ke kiri dan kanan.
BRUAK!
"AKHH! AMPUNI AKU! AKU MOHON! INI SANGAT SAKIT!" Seorang pria dengan jas yang berlubang dan tertusuk jarum panjang mulai merangkak ketakutan. Matanya sudah berair bahkan mulutnya mengeluarkan darah.
Dia dilempar ke ruangan ini sampai menghancurkan tembok di sisi kanan.
Dan arah tatapan ketakutannya, itu berada pada Sky yang membawa jarum di setiap sela-sela jarinya.
"Oh? Maaf ... tadi aku melihat orang ini menyulut api. Karena itu aku berusaha mengejarnya, tapi aku tidak menyangka bahwa ruangannya akan ikut terbakar," ucap Sky begitu masuk ke dalam ruangan. Venom mengangguk paham saat melihat pria dengan pakaian hitam yang memohon ampun pada Sky.
"Aku memberimu 5 detik. Jawab pertanyaanku, siapa yang menyuruhmu?" tanya Sky dengan tatapan yang dingin. Pertama kali ... aku melihat ekspresi Sky yang seperti ini. Bahkan tatapan Venom saja tidak sedingin tatapan Sky sekarang, apa Sky sedang marah karena sesuatu?
"Aku tidak tau! Aku tidak tau!" ucap pria tadi sambil berusaha merangkak pergi. Sky menghela nafasnya pelan, lalu langsung melemparkan jarum di tangannya ke arah si pria.
JREB JREB JREB!
"Dia tidak benar-benar mati, karena aku hanya menyerang saraf kesadarannya. Kau bawa saja dia untuk diinterogasi. Aku akan membawa Seas dan Valeria ke kamar lainnya," ucap Sky lalu berjalan ke arahku dan Valeria. Tatapan matanya terlihat ragu saat berdiri di depanku, bahunya beberapa kali naik dan turun, seperti bingung saat akan melakukan sesuatu.
"Apa ... kau mau memelukku?" tanyaku melihat ekspresi bingung Sky.
"Benar ... tapi aku takut apakah kau masih sakit?" tanya Sky.
"Selain mata kanan, kepala, dan tenaga lemas. Luka yang lainya tidak terlalu sakit," jawabku dengan cepat. Sky langsung memelukku dengan lembut dan tidak erat. Sepertinya dia sangat khawatir padaku.
"Ayo kita pindah ruangan dulu."
***
Kami dipindahkan ke ruangan lainnya. Tapi tidak berbeda jauh dengan yang sebelumnya, masih sama-sama sedikit kuno dan gelap.
"Kenapa Valeria belum bangun ya?" tanyaku pelan sambil menatap Valeria yang masih tertidur lelap.
"Mungkin dia sedang berada di mimpi yang sama dengan senjatanya," ucap Sky sambil menaruh dua gelas teh di meja sebelah ranjangku.
"Hah? Mimpi? Senjata?" tanyaku bingung. Sky segera duduk di depanku dan menunjukkan kalung di lehernya.
__ADS_1
"Keluarlah, Hades."
BLAR!
Api merah menyelimuti tubuh Sky, tapi anehnya ... api ini tidak terasa panas bagiku. Kobaran api ini mulai membentuk sebuah sabit besar, dan akhirnya turun ke telapak tangan Sky.
"Karena senjatanya meminta nama, jadi Valeria sedang berada di dalam tidurnya untuk berbicara dengan roh senjatanya," ucap Sky sambil mengangkat schytenya.
Aku terdiam sejenak dan berpikir.
Tapi tadi aku memang bermimpi aneh, apa itu benar-benar roh senjataku? Tapi kenapa senjatanya Sky dan Valeria kelihatan jinak ya?
Senjataku malah sangat mengesalkan.
[Aku bisa mendengarnya bodoh!]
Deg!
Aku tersentak saat mendengar suara yang tiba-tiba masuk ke kepalaku.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Sky panik saat melihatku tersentak tadi. Aku menggelengkan kepalaku dengan dan berkata, "Tidak-tidak! Aku sedikit lapar saja!".
"Sebentar, aku akan mengambilkan makanan." Setelah itu, Sky beranjak pergi dan keluar dari kamar.
"Wah, kau bahkan bisa berbicara secara langsung? Kenapa tidak lewat mimpi saja? Enak mencekik leherku?" sindirku pada suara yang muncul di kepalaku.
[Itu karena tadi situasi yang berbahaya, dan aku juga tidak bisa terlalu lama mengobrol denganmu. Sudahlah! Cepat beri aku nama!]
"Haruskah?" godaku pelan sambil tersenyum miring.
[Kau sangat mengesalkan ya!]
"Kau juga sama, kan kita punya darah yang sama." Aku tertawa kecil saat mengatakan itu.
[Awas saja kau!]
"Iya-iya! Hahaha! Hmm ... karena kau mengesalkan, bagaimana kalau namamu Lumius?" tanyaku pelan.
[Apa itu?! Jelek sekali!]
"Kau tidak suka?" tanyaku antusias.
[Tentu saja!]
"Oke kalau begitu mulai sekarang namamu Lumius! Aku senang membuatmu kesal!" ucapku lega.
[... Tuan sialan.]
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya guys!