
"Ayo mulai, Hades."
POV: Sky
Cling!
Kalung yang berada di leher Sky mulai bersinar, sinarnya begitu merah dan bahkan mulai berkobar seperti api.
BLAR!
Api mulai mengitari tubuh Sky, hingga sebuah sabit panjang terbentuk di depannya. Rambut kuning Sky yang terkena sinar api, terlihat menyala layaknya batu bara, ditambah lagi dengan mata kuningnya terlihat seperti bintang kejora yang tengah membara.
Sky menatap satu persatu orang yang tengah memandangnya dari atap, mulai dari tinggi badan, warna rambut, warna mata, hingga senjata yang mereka bawa.
2 orang dengan dagger seperti milik Seas, 1 orang dengan kincir pisau, 1 orang dengan crowbow, dan 2 lagi dengan cambuk.
Kincir pisau dan crosbownya yang harus aku bereskan lebih dulu,-batin Sky.
DRAP!
Kedua pengguna dagger itu melompat turun dari atap dan langsung menyerbu ke arah Sky. Dengan tenang Sky mulai memutar schytenya layaknya mainan anak-anak, mencoba bertahan agar tidak terluka.
Clik.
Sudut mata Sky melihat ke arah crosbow yang siap untuk ditembakkan, begitu juga dengan kincir pisau yang siap dilemparkan.
WHUNG!
Kedua benda itu langsung menyerbu ke arah Sky yang sedang dikeroyok oleh pengguna dagger.
TRANG!
Benturan antara schyte Sky dan salah satu dagger, terdengar nyaring seperti besi yang akan patah.
SRET!
DEG!
"Apa?" Sky terdiam kaku saat kedua tangannya terikat oleh cambuk. Karena sedari tadi disibukkan oleh pengguna dagger, dia jadi melupakan bahwa ada pengguna cambuk.
JREB!
SRASH!
CRAT!
Dua buah anak panah menancap tepat di bahu kanan Sky, sedangkan kunci pisau itu menggores pipi Sky dengan cukup dalam.
"Kali ini, tidak akan melesat. Aku akan membidik tepat ke bola matamu," ucap sang pengguna crosbow. Sky hanya diam dan menatap ke enam orang itu dengan dingin. Sudut bibir Sky terangkat, seperti menahan tawa jahat yang hendak keluar dari mulutnya.
"Baguslah, jangan meleset ya. Aku juga harus berterimakasih karena kalian sudah melukaiku," ucap Sky sambil tersenyum dingin. Sky mengeratkan pegangannya pada schyte miliknya, membuat darah yang menetes segar dari bahu serta pipi untuk mengarah ke schytenya.
__ADS_1
Sky menundukkan kepala, lalu menghirup nafas dalam-dalam.
...[Teknik sabit Hades istimewa: nomor 2, tungku pemanas.] ...
BLAR!
HAHAHAHAHAHA!
Gema tawa yang berasal dari schyte Sky mengguncangkan asrama ini, bahkan para gagak mulai meninggalkan pohon tempat mereka bertengger dan pergi ke tempat lain.
Seluruh tubuh Sky mulai membara, seolah-olah dia adalah manusia api.
"Karena kalian sudah melukaiku cukup serius, aku jadi bisa menggunakan teknik ini. Teknik ini memerlukan darah yang lumayan banyak, dan aku juga tidak berani menyayat tanganku sendiri, jadi ... terimakasih untuk kalian," ucap Sky sambil bergerak leluasa. Cambuk yang mengikat di tangan Sky telah putus karena hangus terbakar, begitu juga dengan anak panah yang menancap di bahu kanannya.
"A-apa? Apa-apaan kau?! Darimana kau dapat senjata seperti itu?!" teriak seorang pengguna cambuk. Sky menoleh tanpa memutar badannya, dan hanya tersenyum sambil mengangkat schytenya ke atas.
"Dari temanku."
WUSH!
Sky mengayunkan sabitnya secara vertikal, dari atas ke bawah. Hawa panas yang dihasilkan oleh sabit itu membuat angin yang terkorosi menjadi tajam dan mulai membelah dinding di depannya.
DUAR!
DUAR DUAR!
Ledakan demi ledakan mulai terjadi secara beruntung, para pengguna dagger dan cambuk sudah tidak bisa mengatasi hawa panas dari schyte milik Sky.
WHUNG!
BLAR!
"Harusnya kau jangan pakai kayu, lebih baik besi atau baja," ucap Sky lalu menerjang maju sekali lagi.
"GAWAT! KITA MUNDUR! TIM MEREKA HANYA DI ISI OLEH MONSTER SAJA! PERSETAN DENGAN UJIAN! AKU TINGGAL IKUT 5 TAHUN LAGI!" ucap salah satu pengguna cambuk yang memilih untuk pergi. Barulah setelah itu mereka juga mulai meninggalkan Sky satu-persatu, hingga akhirnya sekarang asrama ini telah sepi.
Wuuushhhh.
Api yang berkobar di tubuh Sky perlahan padam. Menunjukkan wujud Sky dengan bahu dan pipi yang merah karena darah kering.
"Untung saja aku tidak perlu membunuh mereka, aku malas mengurus mayat yang baunya seperti daging panggang," gumam Sky sambil duduk di atas tembok yang rusak.
"Ah ... semoga Valeria dan Seas baik-baik saja."
Sementara itu, di sebuah taman gelap di Underworld School.
***
"Sial! Kemana perempuan tadi menghilang!" geram seorang pria dengan pistol di kedua tangannya.
"Apakah kalian melihat gadis berambut coklat merah?!" tanya pria lain yang membawa gergaji.
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya!" jawab seorang perempuan dengan tas coklat yang tergantung di bahu kirinya.
"Aku juga tidak~," jawab perempuan lain yang sedang memainkan granat layaknya bola.
"Dia benar-benar menghilang!" ucap seorang pria dengan bazoka di punggungnya.
"Mustahil! Pasti dia masih bersembunyi di sekitar sini!" ucap seorang pria yang memakai knuckle di kedua tangannya.
Ya, mereka sedang mencari Valeria untuk mendapatkan surat kelulusan tes. Valeria terus berlari dan akhirnya membawa mereka ke taman gelap yang hanya diterangi satu buah lampu gantung.
Rumput yang tumbuh di taman ini sangat panjang dan kurus, bahkan pohon yang ada di sini juga hanya kurus dan tinggi, karena kekurangan cahaya matahari.
DOR!
CRAT!
"ARGHH!" teriak seorang perempuan dengan tas coklatnya. Perempuan itu terduduk lemas sambil memegangi pinggangnya yang mengeluarkan darah segar.
"Dia di sini! Dia sengaja memancing kita ke taman ini!" ucap pria dengan kedua pistol di tangannya.
"Kita harus berpencar, taman ini lumayan luas. Jika kita masih tetap bersama, justru ini akan merugikan untuk kita!" ucap pria yang membawa bazoka.
Kling.
"Tidak perlu. Kita bakar saja tamannya supaya terang." Gadis yang membawa granat itu mulai melepas segel granat lalu melemparnya ke tempat asal tembakan.
Pluk.
DUAR!
WUSHH!
Ledakan yang menyilaukan mengacaukan taman yang buruk rupa ini. Api yang dihasilkan dari granat perempuan tadi bahkan sampai menghembuskan angin kencang yang menyapu bersih halaman baru bata ini.
"Kau melempar ke mana sih? Tidak ada orang di sana ...," ejek pria dengan gergaji di tangannya.
"Benar-benar~ kalau kau hendak membongkar taman ini ... harusnya kau bakar saja semuanya!" Sang pembawa bazoka itu mulai mengisi senjatanya dengan 5 buah peluru.
BOM! BOM BOM!
3 peluru ditembakkan ke 3 titik yang berbeda.
Tep.
DUAR! DUAR DUAR!
Taman yang awalnya gelap dan dingin, kini berubah menjadi terang dan panas. Kobaran apinya bahkan menerangi awal gelap yang berada di atasnya.
Dari balik kepulan api dan asap hitam, seorang gadis berambut gelombang tampak berjalan dengan tenang.
"Wah wah~ kalian sangat brutal ya?"
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!