
POV: Erea
Aku masih berlari sambil menghindari pohon-pohon yang berjatuhan. Dia gila! Apa dia ingin membuat sebagian hutan ini gundul?!
Aku menoleh ke belakang. Seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan tudung yang besar. Ada luka sayatan di mata kirinya.
Dan yang paling merepotkan itu ... senjata kincir angin di tangan kanannya! Dia melemparkannya lalu mengendalikan arahnya dengan tali, kena sedikit saja pasti aku sudah terpotong!
Aku harus bagaimana ini huee! Aku ingin menangis! Tidak ada teman yang bisa kumintai bantuan, karena mereka semua pasti sudah bertemu dengan Agen tingkat atas juga! Huaa Seas bagaimana ini?! Kalau aku jadi kau, apa yang akan kau lakukan?
"PERHATIKAN KEPALAMU HIHIHI~" Wanita itu melemparkan kincirnya tepat di atas kepalaku. Spontan aku berbelok ke arah kanan, masalah rute nanti saja! Yang penting sekarang aku selamat!
Tiba-tiba perkataan C melintas di kepalaku.
"... Dia bilang kita boleh melakukan segala cara kan?" Aku mengintip ke arah belakang, wanita itu masih mengejarku dengan senyum sumringah di wajahnya.
Aku berbelok ke kiri bersembunyi di balik pohon.
Dari pengamatanku, dia selalu menebang pohong dengan ukuran 3 meter di atas tanah, aku harus menunggu saat yang tepat.
Szing!
Aku melompat dan memeluk pohon bagian atas. Aku bisa melihatnya tertegun sejenak, tapi dia langsung tahu dimana aku berada.
"Hah ... tentu saja, dia kan agen kelas atas!" Aku melompat sebelum dia memotong pohon yang aku naiki.
"HUAAA! BERHENTI KAU DASAR KUCING SIALAN!" Aku tersentak, aku ingat suara ini. Ruo!
Aku menarik tangan kiri Ruo yang sedang berlari, lalu kita berlari lagi lewat rute tengah.
"Ruo! Aku senang bisa bertemu denganmu!" Aku sangat senang! Setidaknya aku tidak harus berlari sendirian!
"Hah?! Senang?! Aku dikejar agen Cat habis-habisan! Liat dia! Melompati pepohonan seperti tupai dalam rumahnya!" Ruo menunjuk agen Cat yang melompati ranting dan semakin dekat dengan kita.
Dzing!
Aku membuka mataku lebar, menemukan sebuah ide. Agen Cat terjatuh karena pohonnya dipotong oleh Agen F!
"Ruo! Kita bisa mencapai benderanya!"
Ruo mengangguk.
"Ya, aku paham maksudmu! Lebih baik kita tidak berpisah untuk sekarang! Mereka tidak akan kompak dengan cepat!" Aku mengangguk, kami berlari melewati pepohonan yang semakin lebat, sedangkan kedua agen di belakang kami semakin tidak terlihat.
"Bagus! Dengan begini kita pasti bisa sampai dengan selamat!" Aku bersorak senang, akhirnya ... kita bisa lolos pelajaran ini tanpa terluka!
Dzing!
__ADS_1
Waktu berjalan lambat, aku melihatnya dengan jelas.
Agen Cat yang menaiki kincir angin milik Agen F.
"Mereka gila!"
"AAAAAAAA!"
***
POV: Seas
Sial! Sial! Sial! Seluruh tubuhku sangat gatal! Aku tidak menyangka ada jenis laba-laba yang menaburkan bulu beracun di udara!
Dan agen itu ... dia berbeda dengan Venom dan C! Senjatanya melekat di tubuhnya!
Agen Spinx!
Aku terus berlari, mataku melihat cahaya di ujung sana. Artinya aku akan keluar dari hutan beracun ini!
Aku menghela nafas lega saat berhasil keluar dari hutan. Aku menoleh ke belakang. Dia mengenakan pakaian zirah dengan warna pasir. Berjalan begitu tenang melewati hutan beracun itu!
"Aku masih belum tau apa kemampuannya, apa aku harus mencobanya? Tidak! Sepertinya lari lebih bagus deh?" Aku bergumam pada diriku sendiri. Bendera tempat tujuanku masih sangat jauh. Kalau dia sesantai ini dalam mengejarku... Itu artinya dia yakin bisa menangkapku!
"Hmm ... kau benar-benar unik ternyata. Pantas saja Venom tertarik padamu." Dia keluar dari hutan, menunjukkan mata emas miliknya. Aku menelan ludahku kasar, perasaan tertekan yang kurasakan saat dirungan Rex.
"Aku belum ingin serius~ larilah dulu, nanti saja aku seriusnya. Membuat lawan putus asa sejak awal ... itu bukan gayaku." Spinx duduk bersila. Aku menatapnya dengan heran.
"Spinx ... ." Aku memanggilnya dan menatapnya datar.
"Apa?" Dia mengangkat kepalanya dan ikut menatapku.
"Apa kau tidak waras?" ucapku sambil menunjuk kepalaku. Spinx masih diam tak bergeming.
Aku harus membuatnya mendekat padaku kalau ingin melaksanakan rencanaku!
"Hm, kalau begitu aku juga akan duduk di sini~" Aku duduk di depan Spinx dengan jarak 20 meter. Kami saling bertatapan.
"... Apa kau gila? Kau tidak ingin pelajaran ini selesai?" Spinx membalikkan pertanyaan yang kuberikan padanya.
"Tidak tuh~ kalau aku di sini berarti kau juga harus di sini menemaniku~" Aku mengeluarkan ponselku lalu memainkan game di dalamnya.
"... Kau ingin memancingku jadi serius?" Spinx berdiri dan meregangkan otot tubuhnya.
Woah ... bahkan dari luar zirahnya aku tau, otot tubuhnya pasti sangat bagus.
Aku tidak menghiraukan perkataannya dan lanjut bermain game. Dia mendekat padaku perlahan, tangannya mengeluarkan butiran pasir.
__ADS_1
Mataku melebar karena tidak percaya. Venom bilang itu karena teknik. Sekarang katakan padaku apakah ada teknik mengeluarkan pasir dari tangan?
Pasir membentuk sebuah tombak, sedetik setelahnya, aku merasakan pipiku sangat perih.
Sial! Tombak itu mengenaiku wajahku! Butiran pasirnya masuk ke dalam luka! Arghhh!
Aku meringis pelan lalu berdiri. Aku memasukkan ponselku dan bersiap untuk berlari.
Wush!
Bersamaan dengan tombak ke-dua, aku berlari menjauh darinya. Hujan tombak berjatuhan! Sekarang aku paham kenapa dia bilang akan serius saat aku sudah 10 meter dari tujuanku! Itu karena kemampuannya dalam melempar tombak!
Tombak pasir itu melesat menembus batang pohon. Bahkan batu saja pecah! Kalau itu kena organ dalamku, Sudah dipastikan akan hancur seperti kertas di dalam air!
Tombak pasir itu masih tetap berjatuhan, bagaimana aku bisa mendekat padanya kalau seperti ini?!
Aku berhenti berlari, berpikir untuk menangkis satu saja tombak pasirnya. Aku mengeluarkan belati dari saku kaki kiriku.
"HIYAH!"
TANG!
Berhasil!
Tapi belatiku juga patah! Sedangkan dia bisa melempar 5 tombak dalam satu detik! Bagaimana ini?!
"Kupikir kau istimewa karena sudah membuat Venom tertarik, tapi sepertinya itu hanyalah harapan di atas angin," ucapnya lalu menguap, dia terlihat sangat bosan bertarung denganku.
Aku berdiri, tanganku menggenggam segumpal pasir.
Ini tidak curang kan? Dia punya kekuatan seperti ini, sedangkan aku hanyalah murid biasa. Dan C bilang kita boleh menggunakan cara apapun.
"Yah ... maaf kalau kau bosan denganku, aku juga akan berusaha semampuku!" ucapku lalu tersenyum.
Aku mengeluarkan cairan kimia yang kuracik dengan bantuan Sky di asrama.
Aku mencampurkan cairan itu dengan pasir di tanganku.
"Nah ... kita mulai pertunjukannya tuan!"
Spinx tersenyum. Raut wajahnya mengatakan 'tidak buruk juga'.
Cairan kimia itu meledak menciptakan busa yang beratnya sama dengan pasir.
...[Kumohon! Berikan aku satu kesempatan!]...
TBC.
__ADS_1