
..."Selanjutnya, sang pembawa acara?"...
POV: Seas
Ini menyenangkan. Aku tidak menyangka ini sangat menyenangkan! Reaksi para tamu yang hadir. Juga ekspresi dari si pembawa acara. Haruskah aku melakukan lebih dari ini?
"ADA PEMBUNUH DI SINI! CEPAT LARI!"
"PINTUNYA TIDAK BISA DIBUKA!"
"APA?!"
Yah, seperti itulah mereka. Langsung panik hanya dengan satu korban jiwa. Aku mengintip dari balik tirai, si pembawa acara sedang menelpon seseorang.
"B-benar tuan! Keadaannya sangat kacau!"
"B-baik! Akan saya laksanakan!" ucap si pembawa acara sambil menganggukkan kepala. Dia menyalakan korek api lalu membakar tirai tempatku bersembunyi.
Cih! Apa aku ketauan?! Aku segera melompat dan bersembunyi di tempat lain.
"Perhatian semuanya. Mansion ini akan segera dimusnahkan! Silahkan ikuti saya untuk keluar dari mansion ini!" ucap si pembawa acara. Dia menunjukkan lorong rahasia yang tadi kulewati. Para tamu perlahan merangkak dan keluar dari sana.
Aku tersenyum cerah sambil mengeluarkan dagger milikku.
"Kalian pikir aku akan diam saja membiarkannya?"
Crash!
Aku memotong tirai yang terbakar dan melemparkannya ke kursi. Api itu langsung menyambar dan merambat ke seluruh ruangan ini. Aku tidak akan membiarkan kalian keluar dengan nyaman. Setidaknya harus ada nyawa yang melayang lagi.
Aku keluar dari kobaran api di panggung. Menatap dingin ke arah para bangsawan. Dengan cepat aku melaju dan menebas beberapa leher mereka.
Zrash! Zrash! Zrash!
"KYAAA! CEPAT MASUK!"
"CEPATLAH! PEMBUNUH ITU SEMAKIN DEKAT!"
"CEPAT-"
ZRASH!
Aku menatap keempat orang yang tidak bernyawa ini. Begitu juga dengan delapan di belakang sana. Yang lainnya sudah kabur. Aku menyibak rambutku ke atas, udara di ruangan ini mulai penuh asap.
Aku berjalan ke arah pintu utama yang aku gembok dari luar. Dengan satu tendangan, pintu itu roboh.
__ADS_1
Bugh! Brak!
Mungkin karena api yang membuatnya rapuh.
Asap mengepul keluar bersamaan dengan robohnya pintu. Aku keluar dari kepulan asap itu, mataku menelaah sekitar. Ternyata para bangsawan itu benar-benar sudah pergi. Dari jendela lantai 3, aku bisa melihat mobil-mobil yang melaju.
Tapi perhatianku terfokus pada pria berjubah rumbai emas di sana. Pria itu menoleh ke arahku.
Deg!
"Itu ... Kaisar negara ini?" ucapku pelan. Sang Kaisar tersenyum miring lalu berjalan pergi. Dia masuk ke mobil mewah, meninggalkan mansion ini terbakar seorang diri. Aku menghela nafasku kasar, masalah ini lebih rumit dari dugaanku.
"Bisa-bisanya kaisar terlibat!"
***
Ini sudah siang hari. Aku sedang berada di sebuah toko coklat panas dan menikmatinya di sana. Mataku sangat berat, aku belum tidur sedikitpun! Untung saja di mansion itu ada barang berharga. Aku menjualnya dan menukarnya dengan baju.
Jadi aku bisa berkeliaran dengan bebas sekarang. Kuharap Sky dan X segera menemukanku. Aku jadi sedikit merindukan mereka.
Oh iya! Ngomong-ngomong, toko coklat panas ini lumayan terkenal! Bahkan ketika aku masuk, aku dibuat takjub oleh desain dari toko ini. Tokonya berwarna merah muda dan banyak boneka di dalamnya. Di dalamnya juga ada perapian yang membuat hangat.
Aku duduk di kursi sebelah jendela, memperhatikan lalu-lalang kendaraan dan lebatnya salju yang turun. Salju di negara ini tidak pernah berhenti. Awalnya aku takjub karena negeri ini sangat indah.
Warna putih ini, seolah negara ini adalah negara suci. Putih salju yang menutupi dosa dibaliknya. Memikirkan seberapa banyak korban di tanah ini, dan mereka tidak ketahuan. Berarti yang aku lihat kemarin benar-benar kaisar.
Aku sudah melihat wajahnya sebelum kemari, sebagai pengetahuan dasar agar aku tidak sembrono saat menemui kaisar.
...
LOH BUKANKAH DIA MELIHAT WAJAHKU?!
Oh, tapi 'kan aku tidak perlu menemuinya. Statusku di sini adalah wisatawan ilegal. Aku tidak punya surat izin khusus ataupun surat yang berisi keterangan berlibur. Karena aku ke sini sebagai pembunuh yang mengawal Ron.
...
Apakah Ron sudah tau?
"BENAR! AKU BISA MEMBERITAHU RON!" ucapku sambil menggebrak meja. Seisi toko ini menoleh ke arahku. Karena merasa malu, dengan cepat aku menutupi wajahku dan berlari keluar dari toko. Untung saja toko ini menggunakan pembayaran di awal.
Setelah keluar dari toko, aku pergi ke gang kecil. Mataku menatap atap rumah yang berada di sampingku.
"Kalau lewat atas di siang hari. Justru semakin mencolok. Lewat mana yang bagus?" tanyaku pada diri sendiri. Um? Perhatianku teralihkan pada seorang penari dengan pakaian feminim. Lekuk tubuhnya juga sangat bagus.
...
__ADS_1
Kalau aku menyamar jadi seorang penari, apakah aku bisa masuk istana tanpa ketauan?
Aku menyentuh pipiku beberapa kali. Menurutku wajahku juga cukup cantik kok? Lebih baik aku memakai pakaian yang panjang. Jadi penari tidak harus feminim, kan?
Aku berlari kecil ke arah sebuah toko pakaian. Yak! Ayo mulai!
***
POV: Author
Seas melenggang sambil berjalan. Seluruh orang yang lewat menatap dirinya, seolah terpukau atas keindahannya. Ya, Seas sedang menyamar menjadi penari laki-laki.
Dia memakai kain berwarna merah yang melilit dada dan celana merah. Sambil memainkan selendang, dia menutupi lengannya. Dia memakai hiasan di kepalanya berupa permata emerald palsu dan cadar berwarna merah.
Dia segera masuk ke istana, para pelayan tidak ada yang menghentikannya. Mungkin mereka mengira bahwa Seas 'disewa' oleh seseorang.
"Dulu aku bisa masuk dengan mudah, karena Dev yang mengatur semuanya. Sekarang sangat sulit," ucap Seas dengan lega saat sudah sampai di pintu kamar Ron. Seas tidak mengetuk pintunya dan langsung masuk.
Brak!
Dia tergesa-gesa menutup pintu sebelum ada yang melihatnya. Seas menghela nafas lega, sambil menyusuri kamar Ron, dia melihat ke kanan dan kiri.
"WOAH?!" Seas terkejut saat melihat Ron yang bertelanjang dada. Mata Ron memicing tajam ke arah Seas.
"Kau ... siapa?" tanya Ron dengan wajah polos.
Seas langsung menjadi batu. Apa dia benar-benar kelihatan berbeda? Seingatnya dia hanya merubah pakaian dan gerak tubuhnya saja ... .
"Aku tanya siapa kau? Apa kau datang ke sini untuk menggodaku?" tanya Ron sambil tersenyum. Seas menatap Ron dengan malas, matanya seolah mengatakan 'kau benar-benar tidak tau?'.
"Sebenarnya aku tidak tertarik dengan lelaki. Tapi tubuhmu lumayan jika dilihat-lihat ... mau mencobanya?" tanya Ron dengan senyum penuh nafsunya.
Tas!
Itu urat kesabaran Seas yang putus. Dia melepaskan cadar dan selendangnya. Matanya menatap Ron dengan penuh emosi.
"Ini aku dasar bodoh!" ucap Seas dengan pelan tapi penuh penekanan. Ron yang baru sadar, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Jadi itu kau? Seas?" tanya Ron sambil tertawa kecil. Seas mengangguk, dia berjalan dan duduk di sofa.
"Berani sekali kau memanggil Putra Mahkota dengan nama bodoh?" Ron berdiri lalu berjalan ke arah Seas, wajahnya tidak terdapat kemarahan.
..."Jadi ada apa kau kemari? Apa kau akan menemaniku bermain?"...
TBC.
__ADS_1