
POV: Sky
7 tahun sudah berlalu semenjak kejadian penculikan itu usai, begitu juga dengan saat surat aneh yang datang kepadaku. Sekarang umurku 14 tahun, dan aku masuk ke sekolah menengah pertama bersama dengan Dira.
Sekarang aku sedang ada di ruang makan, tengah makan bersama dengan keluarga Dira.
"Dira, dapat berapa hasil ujianmu hari ini?" tanya ayah Dira setelah menghabiskan hidangan utamanya. Aku melirik ke arah Dira yang tampaknya sudah selesai makan juga.
"95, Ayah," jawab Dira dengan senyuman yang tipis. Senyuman ayahnya mengembang begitu juga dengan si ibu.
"Itu sudah masuk nilai A, masa depanmu pasti cerah, pertahankan itu," ujar ayahnya dengan si ibu yang mengiyakan. Dira kemudian menoleh ke arahku.
"Kau? Dapat berapa Sky?" tanya Dira dengan raut wajah yang penasaran. Aku tau kalau Dira itu tulus, tapi pertanyaan yang dia ajukan kadang tidak tau waktu dan membuat orang kesal.
"Aku-"
"Yah, Sky juga sudah berusaha dengan baik. Kita tidak perlu mengumbar hasil ulangan Sky, kan? Hasilnya pasti jelas," sela Ibu Dira dengan raut wajah meremehkanku. Setelah itu Dira hanya mengangguk dan lanjut menikmati hidangan penutup berupa puding. Aku menatap ke arah si ayah yang juga tampak tidak peduli.
Yah, aku juga tidak peduli kok.
Padahal aku mendapat nilai sempurna, 100.
Mungkin ini karena efek percobaan yang dilakukan waktu itu, aku jadi merasa otakku lebih encer. Atau mungkin ... terlalu encer? Aku jadi merasa pelajaran yang selama ini aku terima sangat mudah, padahal dulu aku sangat kesulitan memahaminya.
Tapi biarpun begitu, aku tidak berniat untuk menyelesaikan salah paham di keluarga ini. Aku tidak peduli mereka menganggapku bodoh atau idiot, aku juga sudah tidak mengharapkan apapun dari mereka.
Karena itu, aku lanjut berakting sebagai orang bodoh di depan mereka. Hingga akhirnya sebuah julukan datang padaku, Sky si Siput? Hahaha! Mereka memberiku julukan itu karena aku sangat lambat dalam memahami pelajaran dan hal lainnya.
Padahal mereka hanya tidak tau kenyataannya. Karena ini sangat menghibur, aku jadi tidak berniat meluruskan salah paham ini. Warna rambutku juga aku biarkan kuning kebiruan, jadi mereka sekalian mencapku sebagai anak nakal dan berandalan.
"... Sky!"
Aku agak terkejut karena Dira tiba-tiba meninggikan suaranya padaku. Aku segera menoleh ke arahnya, dan kudapati bahwa ayah dan ibunya sudah tidak ada di meja makan. Aku menatap Dira lagi, lalu bertanya padanya. "Kenapa?"
Wajah Dira terlihat sendu, dia mengusap punggung tanganku yang beristirahat di pahaku lalu berkata. "Jangan ambil hati ucapan ayah dan ibu," ujarnya dengan sorot mata yang sedih. Aku termenung sejenak.
Lah memangnya tadi mereka bilang apa? Aku terlalu sibuk melamun daripada mendengarkan omong kosong mereka ...
__ADS_1
Tapi tentu saja aku tidak mengatakan ini, jadi lebih baik aku menanggapi ucapan Dira dengan anggukan kepala lalu segera pergi ke kamarku. Makanan hari ini cukup enak, tidak ada yang menaruh hal-hal aneh di piringku.
Hahaha, mungkin ini efek yang bagus. Semenjak kejadian aku membunuh guru privatku sendiri, para pelayan yang seenaknya itu tampaknya ketakutan. Jadi mereka memperlakukanku dengan sungguh-sungguh sekarang.
Jadi seperti ini rasanya jadi seorang tiran? Ini tidak terlalu buruk, menanamkan rasa takut memang lebih mudah daripada menumbuhkan kepercayaan.
Aku berjalan santai ke kamarku lalu segera masuk ke dalam. Tapi setelah di dalam kamar, aku dikejutkan dengan sosok Leonax yang tengah duduk di atas ranjangku dengan kali yang bersila. Dia melihat sebuah buku yang cukup besar, tapi dia segera menghentikan kegiatannya setelah melihatku.
"Oh? Sky! Kemarilah! Aku menemukan banyak foto masa kecilmu!" ucap Leonax dengan senyuman yang merekah. Aku mendatanginya lalu duduk di sampingnya. Memang benar, yang dia pegang sekarang adalah album foto waktu aku kecil dulu. Mungkin karena saat kecil dulu aku masih cukup disayang, jadi mereka mempunyai banyak fotoku.
Tapi ... jika melihat bahkan Leonax yang memegang album ini sekarang, sepertinya pasangan bodoh itu sudah benar-benar membuangku.
Yah tapi ...
Aku memandang ke arah wajah Leonax yang mulai terdapat beberapa garis kerutan, dia juga sudah mulai berumur.
Setidaknya aku harus menghargai ketulusan pria ini. Dia sudah berusaha menghiburku dan selalu ada untukku selama ini.
Akhirnya aku jadi berbincang dengan Leonax hingga matahari terbenam. Mungkin sekarang sudah jam 10 malam, dan aku ingin keluar untuk menghirup udara segar. Hingga aku akhirnya mendengar pembicaraan secara tidak sengaja.
Pembicaraan yang cukup membuatku terkejut.
Deg deg.
Aku bukannya ketakutan ... tapi ini adalah perasaan senang.
Ya! Ini adalah perasaan senang! Akhirnya aku menemukan momen yang pas untuk keluar dari rumah ini!
Nah, haruskah aku mengikuti permainan mereka?
.
.
.
POV: Author
__ADS_1
Jam 1 malam, kamar Sky sudah gelap gulita. Dari dinding jendela kamarnya, ada beberapa bayangan hitam yang mulai merayap mendekat. Kamar Sky tidak berubah sejak dulu, apalagi kaca kamarnya yang dulu pecah karena gagak, juga tidak pernah diperbaiki.
Sky sih menerimanya saja karena dia menganggap itu AC alami.
PRANG!
Seorang pria memecahkan kaca itu supaya lubangnya semakin lebar. Lalu sekelompok orang itu mulai masuk ke kamar Sky. Jumlahnya sekitar 5 orang, 4 orang pria dan 1 orang wanita.
Mereka saling melihat ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Sky yang tidak terlihat. Padahal kamar Sky ini cukup sempit, tapi mereka tidak melihat Sky dimanapun. Baik itu di bawah kasur, di bawah meja ataupun di dalam lemari.
Mereka akhirnya saling bertatapan, melihat dengan bingung.
"Kok dia gak ada?" tanya salah satu dari mereka.
"Apa rencana kita ketauan?"
"Jangan-jangan dia sudah kabur?" Mereka berlima akhirnya merenung di kamar Sky. Hingga akhirnya Sky bersuara karena sudah tidak tahan dengan apa yang dia lihat.
"Pfftt! HAHAHAHAHA! Aduhh! Jadi pembunuh yang niat sedikit dong," ucap Sky yang ternyata sedang bersembunyi di sudut plafon kamarnya. Kelima orang berbaju hitam itu langsung terkejut, mereka melihat ke arah Sky yang menempel di dinding.
"Kalau mau membunuh seseorang, kalian harus niat dong. Begini caranya," ucap Sky sembari melompat dari tempatnya. Ruangan yang gelap ini memang disengaja untuk rencana Sky.
Jika para pembunuh berpikir bahwa ruangan gelap menguntungkan mereka, tapi kenyataannya, ruangan ini lebih menguntungkan untuk Sky.
BUGH!
Sky mendarat di atas wajah salah seorang pria itu. Tangannya membawa palu kecil yang masih memiliki bercak merah, palu yang dia gunakan untuk membunuh orang saat dia kecil dulu.
Tapi palu itu sudah dimodifikasi oleh Sky. Palu yang awalnya tidak memiliki sisi lancip, dan hanya memiliki sisi tumpul sudah diasah oleh Sky hingga salah satu sisi palu itu begitu runcing seperti pensil dari besi.
Sky mengayunkan palu itu tanpa ragu ke mata orang yang dia tindih tadi.
CRATT!
"AARRGHHH!" Orang itu langsung berteriak, dan Sky akhirnya turun dari tubuh orang itu. Cipratan darah yang mengenai lengan Sky kini terlihat jelas. Orang yang matanya terluka itu langsung terhuyung dan jatuh ke lantai. Dia belum mati dan tidak pingsan, tapi rasa sakit yang dia rasakan membuatnya tidak berdaya.
Sky mendekati tubuh orang yang tergeletak itu dan menginjak dadanya.
__ADS_1
"Kalau kalian berniat membunuhku, pastikan kalian lebih kejam dariku ya. Aku tidak suka melihat kalian langsung mati, setidaknya aku harus membuat kalian merasakan nyawa kalian ditarik pelan-pelan."
TBC.