Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
The Abandoned Diamond (6)


__ADS_3

POV: Sky


Aku celaka, sialan! Suara suara yang dibuat oleh mereka berhasil memisah kami! Kenapa aku harus kembali ke pasar sih?! Aku tidak tau jalan kembali ke arah tadi!


"Tuan Muda Dira! Tolong jangan berjalan terlalu cepat! Barang yang anda beli sudah sangat banyak!"


"Ah kau berisik! Karena hari ini ayah mengizinkanku untuk belanja sepuasnya, maka aku ingin membeli semua yang ada di sini!"


Suara ini ... apa benar-benar dia?


Aku menoleh ke asal suara itu. Melihat seseorang yang tingginya mirip denganku, rambut coklatnya yang dulu selalu membuatku iri, dan sikap percaya dirinya yang selalu kukagumi. Benar, dia masih tetap sama.


"Dira ..." Tanpa sadar aku memanggil namanya, walaupun pelan, tapi dia langsung berhenti berjalan, sorot matanya melihat langsung ke arahku. Perlahan senyuman yang ada di wajahnya menghilang, digantikan dengan ekspresi sendu dan terkejut.


"Sky? Be-benar, kan? Kau Sky? Iya kan?" Dia berjalan mendatangiku yang masih berdiam diri di tempat. Aku tersenyum tipis, menatapnya yang kini tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan rupawan. Lihatlah pakaian yang mewah serta rambutnya yang selalu tertata elok. Sudah jelas bagaimana dia diperlakukan di rumah itu.


"Lama tidak bertemu, kau sehat ya," ucapku sambil merasakan ludah yang cukup pahit di mulutku. Dira kemudian meneteskan air matanya, dia langsung berlari berhambur memeluk tubuhku yang agak kotor. Aku bisa merasakan tubuh hangatnya yang gemetar, serta tangannya yang memeluk erat punggungku.


"Sky! Kukira kau tidak akan kembali! Kenapa kau meninggalkan rumah?" ucapnya diiringi suara isak tangis di pundakku. Aku masih diam, ada perasaan ragu saat aku mau membalas pelukannya. Memangnya dia pikir, kenapa aku mau meninggalkan rumah? Apakah pernah mereka dulu memelukku seperti ini?


Tidak ada yang pernah ...


Ah, tidak. Ada orang yang pernah memelukku begini. Tapi bukan keluargaku.


Dengan lembut aku berusaha mendorong Dira yang tengah memelukku dengan erat. Dira melepaskan pelukannya, menunjukkan wajahnya yang masih merah dan basah. "Kenapa? Apakah kau tidak merindukanku? Saudara kembarku?"


Aku tersenyum kecut mendengar perkataannya.


Saudara kembar ya?


.


.

__ADS_1


.


POV: Author


Agen C dan Nera terus mencari ke setiap tempat yang memungkinkan. Namun sudah satu jam mereka mencari, tetap tidak ada petunjuk yang terlihat. Keduanya memilih berhenti sejenak di tepi sebuah sungai yang kering.


BRAK!


"SIAL! TEMPAT INI TERLALU LUAS! BAGAIMANA AKU BISA MENEMUKAN MEREKA?!" umpat C kesal sambil menendang tong sampah hingga tong itu masuk ke dalam sungai. Nera masih berkutat dengan ponselnya, berusaha mencari petunjuk lewat relasi yang dia kenal. C sudah memberitahu ciri-ciri Sky dan Seas, dengan penggambaran yang diberikan oleh C, Nera menanyakan pada relasinya apakah ada yang melihat remaja seperti mereka.


Dan hasilnya, ya.


"... C, aku berhasil menemukan Sky. Dia terlihat sedang bersama seseorang, berpelukan di tengah pasar?" ucap Nera bingung. Sementara itu C langsung menoleh ke arah Nera dan teringat bahwa ada alasan Sky dikirim ke sini selain untuk misi. "Ah, berarti Sky aman. Sky sudah menemukan saudaranya, sekarang ... dia harus menyelesaikan masalahnya," ujar C kemudian menghela nafas lega. Malam sudah mencapai klimaksnya, bulan sabit kini berada tepat di atas kepala mereka berdua.


"Seas, apalah belum ada informasi terkait dirinya?" tanya C sambil terus menatap bulan. Nera menggelengkan kepala sambil menarik nafas panjang. Karena tak ada jawaban dari Nera, C menduga bahwa belum ada informasi.


"... Aku harus bergerak. Aku akan mencari Seas," ujarnya lalu hendak berlari lagi. Nera juga bersiap untu berlari, namun tiba-tiba ponsel C berdering. Pria itu segera mengangkat teleponnya yang ternyata adalah panggilan dari Agen X.


"Kenapa? Apakah kau punya petunjuk?" tanya C dengan nada yang serius.


"SEAS! SEAS HAMPIR MATI! SIALAN! KEADAANNYA SANGAT PARAH! KUKIRA KAU BERSAMA SEAS, C!"


Jantung Agen C serasa jatuh ke tanah. Karena C menyalakan speaker saat menerima panggilan, maka Nera juga bisa mendengarnya. Amarah dan rasa panik segera menguasai Agen C, dia mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan dirinya supaya tidak meledak.


"Dimana kalian sekarang?"


"AKU MASIH ADA DI LOKASI, INI ADA DI PERKAMPUNGAN TERBUANG SEBELAH BARAT DAYA DARI PASAR UTAMA! BAGAIMANA INI?! KITA TIDAK MEMBAWA TIM MEDIS! AH BENAR! SKY! CEPAT BAWA SKY! SETIDAKNYA NYAWA SEAS HARUS TERSELAMATKAN!"


C melirik ke arah Nera yang kemudian perempuan itu balas dengan anggukan kepala.


"Aku akan segera ke sana."


Kedua pembunuh itu berlari sekali lagi, kini dengan tujuan yang pasti. Tidak butuh waktu lama, karena tanda yang ditinggalkan oleh X, C jadi bisa menemukan mereka berdua dengan cepat.

__ADS_1


"Dimana Seas?!" tanya C menggebu-gebu. X menunjukkan tubuh Seas yang X balut dengan banyak sekali kain hitam.


"Mana Sky?" tanya X cepat.


"Sebagai ganti Sky, aku membawa orang yang lebih profesional," ucap C bersamaan dengan Nera yang muncul dari balik punggungnya. Tanpa basa-basi, Nera langsung berlari ke tubuh Seas yang tergeletak tak berdaya, dan mulai melakukan tindakan pertolongan pertama. X dan C hanya bisa melihat dari kejauhan, mereka sepenuhnya bergantung bagaimana tindakan Nera untuk menyelamatkan nyawa Seas.


30 menit berlalu, barulah Nera menghentikan kegiatan tangannya. Keringat yang ada di pelipisnya begitu banyak hingga membasahi seluruh wajahnya. Kini sosok Seas sudah terlihat lebih baik walaupun masih menutup matanya.


"Nera ... bagaimana kondisinya?" tanya C khawatir. Nera berdiri dan melepaskan sarung tangannya yang penuh darah, dia menatap ke arah Agen C dan X secara bergantian.


"Dia hampir saja mati. Kalau aku telat satu menit lagi, aku tidak menjamin nyawanya bisa terselamatkan. Lukanya sangat parah. Jantungnya memiliki 3 lubang kecil yang membuat darahnya bocor, paru-parunya juga begitu, dia pasti kesulitan mengambil oksigen.


Beberapa tulang belakangnya patah, dan juga tulang lehernya. Untungnya kaki dan tangannya tidak mengalami luka fatal.


Tapi ... mata kirinya pecah. Sepertinya ditusuk oleh seseorang. Dia hanya bisa melihat dengan mata kanannya sekarang," ucap Nera yang langsung membuat C dan X merasa lega namun juga bersalah. X mengusap wajahnya secara kasar, lalu dia menatap ke arah C.


"Bagaimana Valeria dan Sky?" tanya X.


"Mereka berdua aman, sepertinya Seas mengambil resiko demi mereka berdua. Haaaahh ... harusnya kita jangan membebani Seas dengan tanggung jawab yang terlalu besar," ucap C dengan perasaan yang pahit. Dia merasa bahwa kejadian yang menimpa Seas adalah kelalaian mereka berdua.


"... Kecuali mata Seas, aku bisa menyembuhkan luka lainnya. Aku jamin, dia akan sembuh dalam 4 hari. Matanya sudah terlalu parah, aku tidak bisa mengobatinya," ucap Nera yang berusaha memberi harapan pada C dan X. C mengangguk setuju dan dia tersenyum tipis, sedangkan X segera berkutat dengan ponselnya, sedang memberi pesan singkat pada Venom.


Kalau aku tidak mengabari Venom sekarang, nanti saat pulang ke Underworld School bisa-bisa aku diracuni saat minum teh, batin X yang panik, apalagi dia tau bahwa Seas adalah anak kesayangan Venom. Setelah selesai mengetik pesan, X hendak menutup layar ponselnya, karena biasanya Venom lama membalas. Tapi ternyata tidak.


Balasan singkat langsung dia dapatkan.


"... C! Mata Seas bisa disembuhkan di Underworld School. Apakah kita harus mengiri Seas pulang lebih dulu?" tanya X antusias karena Venom bilang bisa menyembuhkan mata Seas.


"Benarkah? Kalau begitu kira kirim dia pulang lebih dulu-"


"Tidak. Aku tidak akan kembali." Ketiga orang dewasa itu terkejut, karena Seas tiba-tiba bangun dan membuka mata kanannya. Tubuhnya gemetar dia paksakan untuk duduk di tanah.


"Aku harus ... menghentikan pria gila itu dengan tanganku sendiri!"

__ADS_1


TBC.


__ADS_2