Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Di pengeboran minyak! (3)


__ADS_3

"... Kalau segila ini, biasanya Seas."


.


.


.


POV: Author


DUUAAARR!


PRANG PRANG! KLANTANG! KRANGG!


Pipa-pipa besi itu seperti menjerit, bongkahan besi yang kokoh itu hancur seperti remahan biskuit. Di balik cahaya merah yang menyilaukan, serta api panas yang membara, di tengah kekacauan yang luar biasa itu, terlihat dua sosok pria yang tengah berhadapan.


Dia adalah Seas dan pria yang tak dikenal.


–Beberapa menit sebelum kejadian–


"X, apakah biasanya pengeboran memang sesepi ini?" tanya Seas sambil terus berlari. Kedua pembunuh itu sudah berhasil masuk, kini mereka menyusuri lorong gelap di dalam pengeboran ini.


"Harusnya, tempat ini setidaknya cukup terang. Kalau sesepi ini, berarti benar bahwa ada sesuatu yang aneh," jawab X tanpa menoleh ke arah Seas. Keduanya masih lanjut berlari, mereka melewati berbagai ruangan yang berdarah.


Asrama tidur, pusat kendali, gudang, serta penyimpanan makanan. Semua tempat-tempat itu menjadi saksi pembantaian sepihak yang terjadi.


"Kalau skalanya sebesar ini, apakah ini hanya dilakukan satu orang saja?" tanya Seas lagi. X masih diam cukup lama hingga akhirnya menjawab. "Mungkin saja ini dilakukan oleh satu orang, tapi kalau hanya untuk membereskan pengeboran tanpa kekuatan keamanan, rasanya tidak berguna mengeluarkan orang yang berbakat.


Jadi aku menduga bahwa mereka mengirimkan kelompok kecil ke sini, yang setidaknya berisi 3 atau 4 orang," ucap X. Saat mereka tengah berlari dan berbincang, tanpa sadar kaki X menabrak sebuah sinar laser di atas lantai.


Dan hal itu mengaktifkan sebuah penghalang.


Tit!


DUUAANG!


BRUK!


Sebuah dinding besi muncul diantara Seas dan X, hal ini membuat kedua pembunuh itu terpisah. "X, kau lanjut saja lari. Aku akan cari jalan lain," ucap Seas dari balik dinding besi. Hidung Seas sedikit mengeluarkan darah, ini karena dia membentuk dindingnya dengan muka terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa? Jangan terlibat hal serius. Aku akan segera mengetahui hal yang terjadi," ucap X dari balik dinding. Setelah itu, suara X tak lagi terdengar. Seas juga segera berbalik badan, dia berlari ke arah awal. Kini matanya berusaha menjadi lebih jeli, dia memperhatikan langkah kakinya.


Tapi siapa sangka, karena dia hanya terus berlari tanpa sadar, dia kini sampai di ruang listrik dan energi. Meskipun keadaannya gelap, berkat mata Seas yang terbiasa dengan kegelapan di Underworld School, dia jadi masih bisa mengenali lokasi walau dengan cahaya yang sangat minim.


Langkah kaki Seas berhenti berlari, dari samping pintu, Seas berjalan untuk mengintip ke dalam. Di ruangan itu, berdiri seseorang dengan memakai jubah hitam, sosoknya begitu tinggi dan tubuhnya tampak begitu gagah. "Loh? Kau hantu ya?"


PRAANGG!


Pria yang tengah berdiri itu sangat kaget, hingga dia tak sengaja menendang pipa gas di bawahnya, membuat pipa itu rusak. Seas juga baru sadar, bahwa yang ada di depannya itu musuh. BISA-BISANYA AKU MALAH MENGAJAKNYA NGOBROL AAAAKKKHHH! Batinnya merutuki diri sendiri.


Pria itu berbalik ke arah Seas, sorot matanya begitu marah. "Kau!"


DUUUAAARRR!


Percikan api yang dashyat segera menguar dari pipa yang rusak, membuat sebuah bunyi serta kekuatan ledakan yang luar biasa. Seas yang berdiri di balik pintu masih agak beruntung, karena dia bisa menghindari luka fatal. Tapi ledakan yang super keras dan kuat itu kini memancing hal lainnya.


Yaitu perhatian.


Api yang dihasilkan menjalar hingga ke langit. Seperti pilar cahaya yang meliuk-liuk.


"UHUK! UHUK!"


Prak.


Seas keluar dari dinding besi yang menutupi tubuhnya. Lengan kirinya terasa agak memar karena menahan berat dinding, sedangkan kakinya gemetar serta kepalanya begitu pusing. Bahkan untuk seorang pembunuh terlatih sekalipun, ledakan ini sama sekali tak terduga.


Dan hal ini akan membawa sebuah efek bagi tubuh, yaitu efek kejut.

__ADS_1


Seas yang masih dalam kondisi terkena efek ini, berusaha untuk tetap berdiri kokoh. Matanya mencari dimana pria yang tadi, walaupun sepertinya mustahil baginya untuk tetap bertahan setelah terkena ledakan itu.


Pruk.


"Hah ... sial, aku jadi melakukan hal yang menarik perhatian!"


Sebuah suara muncul dari arah depan. Bongkahan besi dan pipa mulai tersingkir, menampakkan sosok tangan yang merah karena darah, berusaha keluar dari puing-puing.


Pria itu masih hidup, dia hanya terkena beberapa luka bakar luar. Pria itu dan Seas saling berhadapan, keduanya hanya diam dan saling menatap.


–Kembali ke saat ini–


"..."


"..."


Seas memperhatikan pria itu dari atas hingga bawah. Matanya menilai dengan teliti orang di hadapannya.


"... Kenapa ada bocah sepertimu di sini?!" tanya pria itu akhirnya, Seas mengendikkan bahu, lalu berkata, "Bukankah harusnya aku yang bertanya begitu? Kenapa paman ada di sini? Paman tidak terlihat seperti pekerja pengeboran ini."


"Itu bukan urusanmu."


"Oho! Tentu saja itu urusanku dasar om-om!" ejek Seas kesal. Namun hal ini membuat pria itu lebih kesal.


"Aku baru 25 tahun! Bocah sepertimu tau apa?!"


"Aku tau kalau umur 25 itu sudah dipanggil om," ucap Seas lagi yang makin membuat orang itu kesal. Diam-diam Seas mulai mengeluarkan daggernya dengan satu tangan.


"... Kau bocah kurang ajar!"


SRING!


Pria itu mengeluarkan sebuah tongkat yang cukup panjang, mirip seperti tombak. Di ujung dan sisinya terdapat mata pisau yang mengarah ke bawah.


Senjata tombak, dengan modifikasi pisau.


Pria itu bergerak maju dengan cepat, dia hendak menghabisi Seas dalam satu kali serangan. Dia datang! Batin Seas bersiap untuk menangkisnya. Saat sudah ada di depan Seas, dia menarik tombaknya ke sisi tubuhnya, hendak menebas Seas secara horizontal. Begitu pula dengan Seas, dia mengarahkan daggernya di depan dada, bersiap untuk menahan serangan.


WHUNG!


Tombak itu diayunkan dengan cepat, namun meleset.


"... Eh?"


"Lah?"


Namun ini bukan meleset karena Seas menghindarinya.


Tapi itu meleset karena kaki si pria tersandung kawat.


Bruk.


Tanpa berhasil mengenai Seas, pria itu tersungkur dengan wajah yang mendarat lebih dulu. Seas berdiri terdiam, matanya menatap bengong ke arah si pria yang pingsan.


"Anu ... om? Ga mau lanjut berkelahi? Om? ..." Pria itu benar-benar tak sadarkan diri. Seas jadi hanya bisa berdiri diam, dia menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Kalau udah pingsan gini diapain ya? Digantung di atas laut?"


.


.


.


Sementara itu di sisi Valeria.


"AAAAAAAAKKHHHH! HARUSNYA TADI AKU YANG MELAWAN GADIS SOMBONG ITU! HARUSNYA AKU!" teriak Valeria frustasi. Valeria berjongkok menghadap ke tembok, dia memukul tembok besi di depannya dengan pelan tak bertenaga.

__ADS_1


"Harusnya aku Sky! Harusnya aku!" ucapnya dengan nada yang sedih.


"... AKU TIDAK TAU JALAN PULANG!" Begitulah sekarang masalah Valeria.


Dia tersesat di labirin pengeboran minyak. Ah tidak, lebih tepatnya dia tersesat di lorong transportasi minyak yang berliku-liku.


.


.


.


Sementara itu di sisi X.


DUUUAARRR!


Ledakan keras itu membuatnya berhenti melangkah. Ada secuil rasa khawatir di hatinya, karena arahnya berasa dari tempat Seas tadi. Tapi karena dia merasa sudah berjanji akan segera selesai, dia lanjut berlari untuk mencari informasi. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah ruangan yang memiliki telepon dengan model kuno di sana.


Trilililit!


Telepon itu berbunyi, X hendak menghampiri telepon itu dan mengangkatnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki dan deru nafas seseorang yang mendekat.


Tap ... tap ... tap ...


Segera X bersembunyi di bawah kolong meja. Matanya melihat sepasang sepatu pria yang terbuat dari kulit, berdiri tegap sambil menerima telepon itu.


"Tahanlah redaksi agar tidak segera ke sini, aku harus membawa pergi anggotaku yang lain," ucapnya pada telepon itu.


Cklik.


Setelah itu teleponnya dimatikan. Pria itu hendak keluar, di saat itu juga X keluar dari tempat persembunyiannya. Berbekal sebuah tinju di tangan kanannya. X meninju kepala belakang pria itu hingga dia membentu dinding.


BUAGH!


BUGH!


Bruk!


Dalam satu serangan, pria itu tak sadarkan diri. X kemudian segera mendatangi telepon kunonya, entah dia memencet tombol nomor di kotaknya beberapa kali.


Tuuut.


Tuuut.


Cklik.


"[Ada apa lagi? Sudah kubilang aku akan menahan redaksi dan cepat kabur dari sana bodoh.]"


X tersenyum puas mendengar suara itu. X kemudian menyentuh jakunnya sebentar dan menekannya.


"Aku berubah pikiran, sepertinya ada penyusup yang mengacau. Dan mereka dari Underworld School. Kirim redaksinya sekarang, aku akan membuat Underworld School jadi kambing hitam." X meniru suara pria yang baru saja dia buat pingsan. Pria yang ada di seberang telepon diam, cukup lama hingga dia akhirnya merespon.


"[... Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi jika misinya berhasil,]" ucapnya dari seberang sana.


Tut.


Cklik.


Telepon itu dimatikan. X kembali berjalan ke arah pria yang pingsan itu. Jadi X mulai menerobos masuk ke mulut si pria, dia terlihat mencari sesuatu di dalam mulut itu. Ketemu, batin X sambil menarik tangannya keluar.


Ternyata yang X cari adalah racun yang terselip di gigi untuk bunuh diri. X berniat mencegah kehilangan sumber informasi yang berguna. Setelah itu X mengeluarkan ponselnya. Dia mencari kontak Remor, wanita yang mengurus administrasi.


Dari X:


Remor, selidiki pihak redaksi mana yang akan menuju ke pelabuhan di pantai XX, serta selidiki atas dasar apa mereka ke sini, dan atas informasi dari siapa.


Kita akan segera menangkap kotoran belut yang licin.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2