
..."Kecuali anak yang bernama Seas. Kau tetap di sini." Ron menatap Seas dengan senyuman aneh di wajahnya....
POV: Seas
Aku menghentikan langkah kakiku. Mataku menatap Ron dengan tatapan dingin. Entah apa yang orang itu rencanakan. Aku juga bukanlah orang yang butuh perlindungan.
"Tidak apa-apa, kalian pergilah dulu," ucapku sambil melihat ke arah X.
Dia menganggukkan kepalanya lalu berbisik padaku, "Dia itu licik, hati-hati." Setelah itu X pergi sambil mendorong Valeria dan Sky.
Brak!
Pintu sudah tertutup. Di ruangan ini hanya tinggal aku, Ron, dan juga Dev. Ron terlihat membisikkan sesuatu pada Dev, setelah itu Dev membungkukkan padanya dan pergi lewat jendela.
Sial ... tinggal aku berdua dengannya.
"Mendekatlah kemari, Seas," ucapnya penuh penekanan. Aku berjalan ke arahnya, sembari tangan kiriku mengeluarkan sebuah dagger.
"Oh, berhenti. Tunjukkan tangan kirimu," ucapnya sambil menatapku dingin. Aku berdecak kesal lalu menunjukkan tangan kiriku.
"Berikan dagger itu padaku." Ron mengulurkan tangannya. Aku mendekat dan memberikan dagger itu padanya.
Ron menatap dagger itu dengan intens, sesekali matanya melihat ke arahku.
"Siapa yang memberimu dagger ini?" tanya Ron lalu mengembalikan daggerku. Aku memasukkan kembali dagger itu ke kantung di rompiku.
"Sepertinya aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu," ucapku dengan dingin. Aku dan Ron saling bertatapan, suasana di ruangan ini sangat menegangkan.
Ron menghela nafasnya lalu tertawa. Aku menatapnya dengan bingung dan heran. Dia mengusap air matanya yang hampir jatuh lalu bertanya, "Kenapa kau terlihat sangat waspada padaku?".
"Kau tadi bahkan mendekatkan wajahmu ke arahku, lalu meminta untuk bertemu berdua denganku. SIAPA YANG TIDAK CURIGA JIKA SEPERTI ITU?!" tanyaku dengan kesal pada Ron. Dia tertawa lepas sambil memegang perutnya.
"Aduh! Aduh! Maafkan aku, sebenarnya ... dagger itu adalah hadiah yang kuberikan pada seseorang," ucap Ron sambil tersenyum lembut. Ron menyandarkan punggungnya di sofa sambil menelantangkan tangannya.
"Wanita itu benar-benar tak punya perasaan, bagaimana bisa dia memberikan hadiah yang kuberikan pada pria lain!" ketus Ron sambil menatap langit-langit. Aku mendelikkan mataku.
Dia punya hubungan apa dengan Venom?!
__ADS_1
Aku menatap Ron dengan tatapan curiga. Ron sepertinya menyadari tatapanku lalu menoleh ke arahku.
"Ada apa?" tanyanya dengan santai.
"Kau ... apa hubunganmu dengan Venom?" tanyaku sambil menatap Ron dengan tajam. Ron mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menatapku dengan bingung.
"Hubunganku dengan Venom? Apa ya~," ucap Ron sambil tersenyum jahil. Ugh! Aku ingin menonjok mukanya sekarang!
Tapi misiku adalah untuk melindunginya! Mana mungkin aku membunuhnya!
Aku menggertakkan gigiku beberapa kali, sambil mengalihkan pandanganku agar tidak melihat wajahnya yang mengesalkan itu!
"Bercanda~ jangan diambil hati hahaha!" Ron tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Venom dulu pernah mengawalku bersama dengan X, sebelum dia jadi agen kelas atas." Ron duduk dengan posisi menyangga tubuhnya menggunakan lengan di pahanya. Aku mengangguk kecil, tapi masih tidak mau menatap wajahnya.
"Apa kau tidak penasaran siapa nama asli Venom?" tanya Ron dengan nada yang jahil.
Aku terdiam. Nama asli Venom? Benar juga ... tidak mungkin 'kan namanya adalah Venom? Aku tidak pernah kepikiran sampai sekarang.
Haruskah aku bertanya pada Ron? Ugh, tapi aku takut Venom akan marah jika aku bertanya pada orang lain. Bukankah nama asli agen kelas atas sudah seperti rahasia negara?
Dia mengambil sebuah apel dengan kulit berwarna putih. Matanya sekilas melihat ke arahku. Dia menggigit apel itu lalu menatapku.
"Hmm, apa kau ingin membuat taruhan?" tanya Ron setelah menelan kunyahan apel di mulutnya. Aku melirik ke arah Ron, dia menaruh apel yang baru dia gigit sekali itu di meja. Sambil melepaskan pakaian khas pangerannya, dia berjalan ke arahku.
TUNGGU! TUNGGU! KENAPA DIA MELEPASKAN PAKAIANNYA?! ASTAGA X KEMANA KAU SEKARANG?!
BOLEHKAH AKU MEMBUNUH PRIA INI?! HIDUPKU BENAR-BENAR TIDAK TENANG DI SAMPINGNYA!
"K-kenapa kau melepaskan bajumu?!" tanyaku sambil mundur beberapa langkah. Ron terus maju dan aku terus mundur, hingga aku sudah mencapai dinding di belakangku.
Ron berhenti tepat di depanku dengan pakaiannya yang sudah hampir lepas. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku lalu meniupkan nafasnya.
"Kalau kau berhasil menjadi orang yang paling berperan di pengawalanku kali ini, aku akan memberimu dagger yang baru. Yang kubuat khusus untukmu, bagaimana?" tanya Ron setelah wajahnya sampai di depanku.
Aku menghela nafas lega, tawaran Ron ini ... BUKANKAH SANGAT BAGUS?! OH AYOLAH, DIA ADALAH PANGERAN DARI NEGERI TEKNOLOGI!
__ADS_1
"Asal kau tau, dagger yang kau pakai ini, serta kipas yang dipakai oleh Venom. Itu juga buatanku," ucap Ron sambil tersenyum. Dia menjauh dariku lalu berjalan ke arah kasur. Sambil duduk di pinggir kasur, dia melepaskan pakaiannya dan tidur terlentang.
"Kenapa kau memberi tawaran ini padaku?" tanyaku pada Ron. Aku memang tergoda karena tawaran ini, tapi aku juga bingung. Tidak ada hubungan khusus antara aku dengan Ron.
"Hm? Sederhana saja. Aku sedikit tertarik denganmu," ucap Ron lalu tertawa. Aku merinding seketika ... seorang laki-laki tertarik padaku? HEI AKU JUGA LAKI-LAKI!
"Bukan dalam maksud seksual bodoh! Kepribadianmu termasuk menyenangkan, jadi aku memberi penawaran ini padamu," ucap Ron lalu menghela nafas dengan kesal. Aku mengusap dadaku lega. Kupikir dia salah satu jenis orang seperti itu.
"Baiklah! Aku setuju!" ucapku dengan serius, aku tak bisa menahan senyumanku lagi.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi jangan lupa untuk mampir ke sini setiap hari! Aku mengalami hari yang membosankan di sini!" ucap Ron sambil memanyunkan bibirnya.
...
Apakah sikap pangeran memang seperti ini? Tapi di novel yang kubaca, mereka harusnya bersiap dingin dan berwibawa. Tapi dia ... bahkan menunjukkan sikap kekanakan.
"Tunggu, jadi kau memberi senjata pada Venom juga karena tertarik?!" Aku baru sadar, sial! Apa dia berniat mempersunting Venom?! Tidak tidak tidak!
Venom itu punyaku!
Tapi aku juga belum pacaran dengannya ... Arghhh!
"Hm? Iya. Aku tertarik dengannya. Karena itu pertama kalinya aku melihat orang yang begitu dingin seperti Venom," ucap Ron sambil melihat tirai di samping kasurnya.
"Hah? Venom dingin? Benarkah?" tanyaku tak percaya. Maksudku, dia memang jarang berekspresi ... tapi dia selalu perhatian padaku kok?
Ron segera duduk dan menatapku dengan tidak percaya.
"Kau mau bilang kalau Venom orangnya hangat? VENOM YANG ITU, KAN? APAKAH KITA MEMBICARAKAN VENOM YANG SAMA?!" tanya Ron dengan kaget. Aku menganggukkan kepalaku.
Memangnya bisa ada dua Venom di satu sekolah?
"... Aku ingin melihat sikapnya kepadamu, sayangnya dia tidak ikut di misi ini. Ah sudahlah, aku mau tidur. Pergilah!" Ron menutupi tubuhnya dengan selimut, aku menghela nafas lega. Akhirnya mataku tidak ternodai lagi.
Badannya memang bagus, tapi itu cukup memuakkan melihatnya terus-menerus.
Aku berjalan ke arah pintu lalu keluar.
__ADS_1
..."Baiklah Ron! Aku akan memenangkan taruhan ini!"...
TBC.