Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Siapa Tone?


__ADS_3

..."Ada apa?"....


POV: Seas


Valeria segera bangun dari tidurnya dengan malas, matanya menatap Tone dengan tatapan yang tajam.


"Kita tidak bisa membicarakan hal itu di sini, jadi ayo ikut aku." Tone turun dari jendela dan berjalan ke arah Valeria. Aku dan Sky langsung menghadang pria itu. Mata kucingnya itu memang indah, tapi juga terasa menyeramkan.


Tep.


"Jangan khawatir, aku tidak berniat untuk melukai Valeria. Tapi aku punya hal untuk dibicarakan dengannya." Tone tiba-tiba sudah ada di belakang kami, apalagi pandangan mata kami yang juga menjadi buram.


Gerakannya sangat cepat. Baru sepersekian detik, entah kapan dia berada di belakang kami. Bahkan dia sempat memukul tengkuk kami, tanpa suara, dan rasa sakit.


Sial ... Valeria.


Bruk!


***


POV: Valeria


"Wah, kau kejam juga ... kenapa kau sampai membuat mereka pingsan?" tanyaku dengan heran. Tapi ya tidak bisa dibilang heran, memang seperti ini sikapnya.


Tone, salah satu sepupuku. Walaupun kami punya darah yang berbeda, tapi bisa dibilang keluarga kami punya sejarah yang cukup panjang.


"Karena aku tidak percaya dengan mereka. Dan aku datang ke sini untuk memperingatkanmu, mungkin keluargamu bisa bertindak sesuatu yang lebih parah dari sebelumnya, bersiap-siaplah," ucapnya sambil memberikan amplop itu padaku. Aku menatap amplop itu dengan tatapan kosong, lalu memandangan ke arah Tone.


"Kau sampai memberi peringatan. Berarti untuk kali ini, kau juga tidak bisa terlalu banyak membantu?" tanyaku dengan nada serius. Tone menghela nafasnya sejenak, lalu menatapku dengan sedih.


"Mereka bekerja sama dengan orang-oranh aneh, yang bahkan kami para agen tingkat atas tidak bisa melacaknya. Ujian kali ini ... mungkin sedikit tidak terduga. Yah itu saja, sampai jumpa Val!" Tone segera pergi dan keluar lewat jendela. Aku masih terdiam sambil melihat jendela yang terbuka itu.


Tone sialan itu, padahal badanku sedang sakit ... bisa-bisanya dia malah memberi beban padaku?!


SETIDAKNYA TOLONG ANGKAT SEAS DAN SKY DULU DONG SEBELUM PERGI?! DIA INI MEMANG SUKA MEMBERIKU PEKERJAAN YA?!


Kalau badan Sky sih tidak terlalu berat. Tapi Seas ... aku tidak tau itu badan atau batu.


Dasar sialan.


***


POV: Seas


"Hah?!" Aku langsung tersentak dan bangun dengan tergesa-gesa. Tengkuk leherku masih nyeri, dan kepalaku terasa pusing. Mataku langsung melihat ke sekeliling, saat aku sadar bahwa ada Sky yang dibaringkan di sofa, sedangkan aku tetap dilantai tapi diberi selimut.


Berarti ini masih di ruang tamu.


"Val? Dimana kau?" teriakku menggema di ruangan ini. Tapi tidak ada jawaban, sedangkan Sky juga masih tertidur pulas. Aku segera menyibak selimutku dan berdiri. Dengan langkah cepat, aku berjalan ke arah lorong dan mengecek pintu kamar satu persatu.


"Cari apa?"

__ADS_1


"HAAH?!" Suara Valeria mengagetkanku, dia masih dengan pakaian yang sama, tapi dengan bazoka di punggungnya.


"Kau habis darimana?!" tanyaku sambil melihat Valeria dari atas sampai bawah. Valeria melirik ke arah bazokanya, dan ganti menatapku.


"Ambil ini, memangnya mau kemana lagi?" ucap Valeria sambil menunjuk bazokanya. Aku menatap Valeria tidak percaya, mataku menilisik hingga ke setiap gerak kecil tubuhnya.


"Mana Tone?" tanyaku langsung.


"Sudah pergi," jawab Valeria dengan cepat.


"Tadi dia mau apa ke sini?" tanyaku lagi.


"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit urusan pribadi, dan dia juga sudah mengembalikan amplopnya," jelas Valeria sambil menunjuk ke meja di ruang tamu. Di tengah meja itu, tergeletak amplop yang berisi surat kami. Aku segera menghembuskan nafas dengan lega.


"Oh, ngomong-ngomong sekarang jam berapa?" tanyaku saat melihat Valeria yang hendak pergi ke kamarnya.


"Mungkin sekitar jam 6 sore," jawab Valeria yang membuatku melongo mendengarnya.


SERIUS?! AKU TIDUR DARI PAGI SAMPAI PETANG?! PADAHAL KUPIKIR AKU SUDAH CUKUP TIDUR TADI!


"Lebih baik kau juga segera bangunkan Sky, katanya dia mau meneliti apa tadi ... ah pokoknya itu," ucap Valeria lalu berjalan pergi. Aku mengangguk dan segera berlari kembali ke ruang tamu. Rupanya Sky masih tidur dengan pulas, bahkan dia bisa ngiler di atas sofa yang keras dan bau ini.


"Sky, bangun," ucapku sambil menggoyangkan bahunya. Tapi Sky tidak bereaksi, dan malah semakin pulas.


"Sky! Ayo bangun-."


BUAGH!


BRUK!


"Sky sialan! Kau mau kubakar hah?!" ucapku kesal sambil berdiri. Aku berjalan sambil menghentakkan kaki ke arahnya, saat sudah sampai di depannya, aku menatap pria dengan rambut kuning kebiruan yang tertidur pulas itu dengan tajam.


"Hohoho, benar juga. Sepertinya cara ini akan jadi luar biasa." Aku tersenyum licik.


***


POV: Sky


Krieet.


Kretek ... kretek.


Krik.


Hah? Suara apa ini? Padahal aku sedang tidur nyenyak.


Tapi kenapa rasanya leherku sakit ya? Rasanya seperti kepalaku tergantung.


Deg!


Aku langsung membuka mataku lebar-lebar, dan langsung disuguhi pemandangan dari atas gedung yang tinggi.

__ADS_1


"TIDAKK! SELAMATKAN AKU! AKU DICULIK AAA!" teriakku panik sambil meronta-ronta. Tapi ini tidak berhasil, tanganku diikat dan digantungkan di sebuah kayu rapuh di atas gedung lantai 30.


"SEAS! VALERIA! TOLONGG AKUU!" teriakku dengan suara yang melengking. Saat aku melihat ke bawah, ternyata ada Valeria dan Seas yang menatapku dengan seringaian.


Eh?


Loh?


LOH?


LOH LOH?


JANGAN BILANG MEREKA YANG MENGGANTUNGKU BEGINI?! KENAPA MEREKA SANGAT KEJAM?!


"TURUNKAN AKU SIALAN! CEPATT!" perintahku yang hanya diabaikan oleh mereka. Valeria malah asik berfoto dengan pemandangan aku yang tergantung di atas. Sedangkan Seas sedang menyiramkan minyak serta menaruh beberapa bom di lantai satu.


"HEH! APA KALIAN BERNIAT MEMBUNUHKU?! KALIAN JAHAT SEKALI! INI NAMANYA KEKERASAN DALAM TIM!" teriakku panik saat Seas mulai menyalakan korek api.


BLAR!


"SEAS! KENAPA KAU MENYALAKAN APINYA?! HUAA!" Aku menatap lantai satu yang sudah dipenuhi api. Perlahan api itu merambat ke arah bom. Kalau sampai bom itu meledak, malah gedung 30 lantai ini akan langsung ambruk.


Dan aku jadi daging penyet di bawah reruntuhan Underworld School.


DUAR! DUAR! DUAR!


GREEEK!


"SEAS SEAS SEAS, GEDUNGNYA KOK MIRING?! SEASS TOLONGG!" teriakku panik saat merasakan gedung ini mulai condong ke depan. Tapi Seas dan Valeria hanya tertawa di bawah sana.


KREK ... KRATAK!


WUSH!


Loh?


Ini serius?


Kayunya patah?


LOH AKU JATUH KE KOBARAN API! AAAA!


"SEASS!" teriakku panik sekali lagi. Seas langsung mundur beberapa langkah ke belakang, dan mulai berlari.


Saat di tengah-tengah, tiba-tiba dia berhenti. Rasanya dia bisa terbang ... saat kuperhatikan lagi ... ternyata itu adalah teknik Seas.


"Ba! Sudah selesai teriaknya? Putri tidur?" tanya Seas sambil menangkap tubuhku. Rupanya tadi adalah teknik langkah bayangan yang Seas miliki, dia menggunakan teknik ini untuk menyelamatkanku.


Loh ya ini ga adil!


DIA YANG GANTUNG AKU MALAH MAU SOK SOK AN JADI PAHLAWAN?!

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2