
"Seas. Ayo ke Rex!" Valeria menarik kerah bajuku dan membawaku ikut masuk ke dalam gedung.
Aku terlalu bingung untuk mencerna situasinya.
POV: Seas
Aku menatap sekelilingku, para pembunuh lain menatapku dengan tatapan yang tajam, seolah mata mereka mampu menembus tubuhku dan menggali informasi.
Serta rasa waspada dan amarah yang aneh dalam mata mereka.
***
"Rex!"
BRAK!
Aku menendang pintu ruang kerja Rex yang selalu gelap itu. Tak lama kemudian beberapa lilin mulai menyala, menampakkan sosok pria bertubuh besar yang tersenyum miring ke arahku.
Plok plok plok!
Rex bertepuk tangan sambil tersenyum melihatku. "Selamat, karena kau masih bisa jadi peringkat pertama di ujian ke 3." Rex lalu berdiri dari duduknya, lalu ganti untuk duduk di atas meja.
"Duduklah, sesuai janjiku. Aku akan memberimu informasi yang kudapat tentang Arma." Rex menatapku, lalu ganti menatap ke arah sofa. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan ini, dan saat Valeria serta Sky hendak ikut masuk, Rex menghentikan mereka.
"Pembicaraan kali ini, lebih baik kalian tidak usah ikut. Semakin sedikit yang kalian tau, maka semakin kecil resiko yang akan kalian hadapi.
Tunggulah di luar. Aku janji tidak akan lama," ucap Rex seraya tersenyum hingga menampilkan gigi taringnya. Valeria dan Sky mengangguk mengerti, mereka berdua meninggalkanku di ruangan Rex seorang diri.
BLAM!
Pintu besar tadi tertutup rapat, lilin mulai meredup dan mati. Hanya ada satu lilin yang menyala di ruangan ini.
"Darimana aku harus mulai ya ... " Rex berucap pelan sambil mendongak ke atas. Aku masih duduk tenang di sofa sambil terus menatap Rex.
"Arma Veldaveol. Mungkin kau mengenalnya sebagai kakak yang baik dan perhatian kepada adiknya, karena saat di sini pun, dia juga lebih sering bercerita tentangmu pada orang dekatnya."
"Aku sudah tidak percaya fakta itu lagi. Sosok yang kulihat terakhir darinya membuatku tidak mengenalnya lagi." Aku berucap dengan nada yang dingin.
"Ya, karena kami juga bingung dengan tindakannya. Pembantaian yang dilakukannya, bukan atas perintah dari Underworld School.
Kami baru menyadari tindakannya setelah dia melakukan pembantaian itu, kami mengirim Venom ke keluargamu ... tapi kami kalah cepat.
Beruntungnya, kau masih hidup. Venom membawamu ke sini atas keputusannya sendiri, dan ... mungkin ada beberapa faktor pemicunya," ucap Rex sambil melirik ke arahku.
"Aku sudah tau hal itu, maksudku aku ingin informasi lainnya, seperti dimana dia sekarang?" tanyaku yang langsung disambut oleh tawa Rex.
"Hahaha. Kau sangat tidak sabaran ya. Tapi tidak apa-apa. Meskipun kau berpikir bahwa ini adalah informasi yang tidak berguna, tetapi semua informasi ini adalah jejak kakakmu.
__ADS_1
Pertama, sebelum kejadian pembantaian, memang ada gelagat aneh dari Arma yang selama ini dikenal sebagai orang yang dingin tapi peduli pada orang-orang. Di sini dia juga dikenal sebagai salah satu pembunuh jenius yang sama sepertimu. Karena dia juga pemilik seni terlarang.
Kedua, saat hingga setelah kejadian pembantaian ... dia sudah menghapus semua jejaknya dari Underworld School. Dengan kata lain, dia sudah secara resmi keluar dari Underworld School ... dan ... membeberkan fakta tentang Underworld School."
Deg!
"A-apa? Membeberkan informasi Underworld School?" Aku kaget, bukankah menyebarkan informasi sekolah ini sama saja dengan bunuh diri? Keberadaan sekolah ini saja sudah sangat rahasia.
"Benar, karena itu saat kau masuk kemari, hampir tidak ada agen tingkat atas serta pembunuh biasa yang tersisa di sini.
Mereka sibuk membunuh siapapun yang tau mengenai informasi sekolah ini. Yah, Venom adalah pengecualian. Tugas Venom saat itu sebenarnya adalah menggali informasi darimu, tapi pada kenyataannya kau juga sama tidak tau apapun.
Dan yang ketiga, ini adalah informasi yang mungkin paling berguna menurutmu. Jejak Arma mulai terlihat, tapi kami tidak bisa menebak apakah dia bergerak seorang diri atau bersama seseorang, apa yang dia incar.
Jejaknya mulai terlihat di beberapa negara dan kerajaan, tapi tidak menimbulkan hal yang mencolok. Dia hanya melakukan beberapa tindakan kecil seperti menculik beberapa orang dan melakukan tindakan penyiksaan.
Sepertinya dia sedang mencari sesuatu? Aku juga tidak bisa menebak isi pikirannya," ucap Rex yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang dalam. Aku diam sejenak, mencerna informasi yang Rex berikan padaku.
Jadi, jejak Arma sekarang sedang menyebar tanpa arah ya. Apalagi yang orang itu incar? Melakukan penculikan dan penyiksaan? Apa yang dia rencanakan?
"Aku akan selalu bisa memahami dirimu, tapi kau tidak akan bisa memahami diriku."
Deg!
Tiba-tiba sebuah ingatan lama terlintas di dalam benakku. Aku ingat Arma pernah berkata seperti itu saat dulu mengajariku bermain catur. Aku tidak pernah menang sekalipun darinya.
"Ah! Ya?" Aku tersentak saat suara berat Rex tiba-tiba memanggil namaku.
"Pernahkah kau punya pemikiran, bahwa Arma terpaksa melakukan hal itu?"
Deg deg!
"Tidak ..."
Bohong.
Bohong.
Sebenarnya aku pernah memikirkan hal itu ... tapi ...
Aku menolak memikirkan kemungkinan itu.
Aku menggertakkan gigiku beberapa kali. Rahangku mengeras karena marah memikirkan hal ini.
Jika seandainya benar dia terpaksa melakukannya. Kenapa dia tidak bisa menceritakannya padaku?
Apa karena dulu aku terlalu lemah?
__ADS_1
Itu tidak salah ... dulu duniaku hanya dipenuhi oleh cahaya. Remang-remang kenangan indah yang berisi gelak tawa kesenangan hidup.
Mungkin karena ini ...
Mungkin karena aku tidak terima kehidupanku yang penuh cahaya, dibalikkan menjadi kehidupan yang penuh dengan kegelapan.
Aku tidak bisa memaafkan Arma yang seenaknya mengubah jalan hidupku seperti ini.
Daripada melihat warna hitam ...
Aku akan memilih untuk melihat warna merah.
***
"Seas! Sudah selesai?"
Aku melihat Valeria dan Sky yang melambaikan tangan ke arahku dari kejauhan. Mereka sedang duduk di atas kursi hitam di depan sebuah taman, dekat dengan gedung utama tempatku bertemu Rex tadi.
"Ya, berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum ujian ke 4?" tanyaku sambil berjalan ke arah mereka.
"10 menit."
JDER!
"APAAA?! KENAPA KALIAN MASIH SANTAI?! AYO CEPAT PERGII!" Aku langsung panik dan menyeret Valeria serta Sky yang masih terlihat tenang-tenang saja.
"Padahal Rex bilang tadi tidak lama, malah kami harus menunggu sampai 2 jam lebih," ucap Valeria dengan muka yang sudah seperti pertapa.
Aku hanya bisa tersenyum sambil meneteskan keringat.
Sebenarnya memang tidak lama, yang membuat lama adalah aku melamun dan merenung. Kalau saja tadi Rex tidak menyadarkanku, mungkin aku akan merenung seharian.
"Omong-omong, dimana lokasi ujiannya?" tanyaku seraya mengalihkan topik pembicaraan. Sky bergerak-gerak saat kuseret, dia menunjuk sebuah gedung yang ada di depan, sekitar 700 meter di depan.
"Di sana, ujian ke 4 dilaksanakan."
***
"Akhirnya sampai!" Aku meletakkan Valeria dan Sky yang semenjak tadi aku seret sambil berlari. Mereka berdua juga kemudian berdiri dan meregangkan otot tubuh mereka.
"Tunggu ... Sky ... ujian ke 4 nya ... bukan seperti yang aku pikirkan bukan?" Aku menarik lengan baju Sky sambil menatap horor ruangan yang penuh kursi dan meja di depanku.
"Benar, ini adalah tes tulis."
"TIIIDAAAAAKKKKKK!"
TBC.
__ADS_1