Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (6)


__ADS_3

POV: Author


Dengan hati yang berat, Leonax hendak meninggalkan ruangan itu. Tapi di sudut hatinya, dia belum bisa menyerah tentang keberadaan Sky yang entah saat ini ada dimana. Leonax tetap melangkah keluar dari ruang kerja pemimpin keluarga, lalu dia menutup pintunya.


Tetapi setelah menutup pintu, dia tidak langsung pergi. Dia tetap berdiri di depan pintu lalu berkata. "Tuan, saya mohon izinkan saya mencari Tuan Muda Sky. Saya tidak akan pergi dari tempat ini sampai Tuan mengizinkannya," ujar Leonax lalu berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Namun benar-benar tak ada sahutan dari sang kepala keluarga.


Waktu terus mengalir, jam demi jam berlalu hingga hari kembali malam. Leonax masih belum berpindah satu sentimeterpun dari tempatnya. Setelah berdiri selama berjam-jam, akhirnya pintu yang tertutup itu mulai terbuka. Memunculkan sosok ayah Sky yang memandang Leonax dengan tatapan datar.


"... Hah ... sudahlah, lakukan yang kau mau." Setelah mengucapkan itu, sang ayah berlalu pergi. Leonax masih terdiam beberapa saat, lalu barulah dia berkata.


"Terimakasih, Tuan." Leonax lalu melesat pergi dari depan ruangan itu. Dia berlari tanpa lelah bahkan setelah berdiri selama setengah hari lebih. Dia keluar dari kediaman bangsawan dan segera mencari petunjuk. Sudah hampir 24 jam Sky menghilang, petunjuk yang ada juga sudah mulai kasat mata.


Leonax mengalami kebingungan mencari Sky. Langkah awal yang harus dia lakukan begitu sulit. Tidak ada cara lain kecuali bertanya pada satu persatu orang yang lewat. Namun hal ini juga sulit, Sky bukanlah anak yang dikenali oleh orang luar, berbeda dengan Dira.


Entah pencarian yang dilakukan oleh Leonax akan memakan waktu berapa bulan.


.


.


.


POV: Sky


Sakit ... sakit ... sakit ...


Sudah berapa lama aku di sini?


Dira ... Ayah ... Ibu ... tidakkah mereka mencariku? Kenapa mereka tidak kunjung datang?


Leonax ... kenapa kau juga tidak datang?


Aku mulai membuka mata, melihat sekelilingku yang masih berwarna merah darah dan bau anyir yang memabukkan. Ya, tentu saja ini adalah darahku sendiri. Tubuhku digantung di tembok dan setiap saat aku bisa merasakan berbagai obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhku.


Sudah berapa lama aku tidak makan? Sudah berapa lama aku tidak minum?


KENAPA AKU MASIH HIDUP?!


KENAPA KENAPA KENAPA KENAPA?!

__ADS_1


CKLEK! BRAK!


Pintu besi itu terbuka, menampakkan sosok pria keji yang menculikku waktu itu. Dia kembali lagi dengan membawa satu wadah penuh cairan yang berwarna emas kekuningan. Mataku bertatapan dengan pria itu, dia tersenyum saat menatapku.


"Hahaha, kau sudah sadar ya? Hmmm ... kau adalah percobaanku yang paling awet. Biasanya mereka akan mati setelah satu bulan, tapi kau bahkan masih bertahan hidup setelah 3 bulan." Pria itu mendekat padaku, menatap wajahku yang tampak lesu dan kurus. Setelah puas melihat wajahnya, dia ganti menatap ke arah kantong plastik yang terhubung dengan tubuhku menggunakan selang. Kantong plastik itu kosong, menandakan bahwa isinya telah habis diserap.


"Hoo baiklah, sekarang waktu mengganti obatnya," pria itu mulai membuka kantong plastik yang kosong, dan mengisinya dengan cairan kuning keemasan yang entah isinya apa. Tapi aku merasakan perasaan mual saat cairan itu masuk ke tubuhku.


Pusing, kepalaku seperti berputar-putar.


"Nah, ayo kita lihat hasilnya nanti. Sampai jumpa beberapa hari lagi," ujar pria itu lalu dia pergi dari pabrik. Bersamaan dengan itu, pandanganku mulai menjadi kabur, indra tubuhku rasanya mulai mati.


Aku ... sudah tidak mengharapkan apapun ...


Kecuali kematian.


Kapan dia akan datang padaku?


.


.


.


POV: Author


Kecuali Leonax.


"Leon ... apa Sky belum ketemu?" tanya Dira yang saat ini berumur 8 tahun lebih. Ya, Leonax terpaksa memberitahu bahwa Sky menghilang karena Dira menangis keras memaksa Leonax untuk memberitahu kebenaran padanya.


Leonax yang saat itu tengah duduk di atas tembok, melihat ke arah Dira dengan tatapan lelah. Mata pandanya yang terlihat begitu gelap, serta sorot matanya yang mulai meredup, menandakan seberapa keras dia memikirkan dan berusaha mencari Sky. "Belum, Tuan Muda," ucap Leonax sembari memalingkan muka.


Dira sudah tidak tahan, dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah lalu dia berlari pergi. Leonax yang melihat hal itu tentu saja tidak bisa tinggal diam, kehilangan Sky sudah cukup memukul mentalnya, dia tidak akan bisa bertahan jika Dira ikut menghilang. Tapi prasangkanya salah. Dira justru berlari masuk ke dalam rumah, dan langsung menerobos ruang kerja sang ayah.


BRAK!


Sang ayah kaget, dia melotot marah namun tatapannya berubah menjadi lembut setelah mengetahui bahwa itu adalah Dira. "Ada apa? Kenapa kau berlari sampai seperti itu?" tanya sang ayah lembut. Leonax ikut masuk, dia berusaha mencegah agar Dira tidak terluka.


"... Ayah tahu kan selama ini? Tentang apa yang terjadi pada Sky," ucap Dira dengan suara yang pelan, namun terdengar oleh sang ayah. Pria yang merupakan pemimpin keluarga itu tersentak kaget, dia lalu menatap Leonax dengan murka.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan-"


Sebelum sang ayah menyelesaikan ucapannya, Dira memotong lebih dulu. "AKU TANYA, AYAH TAHU KAN APA YANG TERJADI PADA SKY!" teriakan Dira begitu keras hingga bisa terdengar dari halaman depan rumah. Tentu saja hal ini membuat beberapa pekerja mulai bergosip dan sang ibu yang kemudian berlari menuju ruang kerja.


"A-ada apa ini? Dira sayang, kenapa kamu berteriak?" Sang ibu hendak memeluk kepala Dira seperti yang biasa dia lakukan, tapi Dira dengan cepat menepis tangan sang ibu.


"AKU TIDAK MEMBUTUHKANNYA!" bentak Dira. Sang ibu begitu kaget, dia segera menjauhkan tangannya dari sang anak.


Dira menatap lagi ke arah ayahnya. "Jawab pertanyaanku, Ayah!" ucap Dira.


"... Ya, aku tau."


"LALU KENAPA AYAH TIDAK MELAKUKAN APAPUN?!" teriak Dira lagi.


"Karena Sky tidak berharga." Ucapan sang ayah begitu dingin, bahkan Dira sampai tertegun sejenak. Awalnya Dira merasa takut, namun sebuah pemikiran kemudian lewat di otaknya.


Apakah Sky selalu mendengarkan nada suara yang seperti ini?


Hal itu membuat amarah Dira kembali lagi. "... Tidak berharga? Hanya karena Sky sedikit tertinggal dariku? Lalu kalian menyebutnya tidak berharga?!" Dira mulai emosi lagi, kini dengan tangisan kemarahan yang mulai meluap.


"Keluarga ini hanya membutuhkan satu penerus. Karena itu aku merasa beruntung bahwa Sky menghilang, jadi aku tidak perlu repot-repot membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap sang ayah. Bukan hanya Dira yang terkejut di sini, tapi juga sang ibu dan Leonax. Sang ibu tidak pernah menyangka bahwa suaminya akan berpikir demikian.


"A-apa yang kau-"


"Apa katamu?" Dira kembali berbicara, memotong ucapan ibunya. Tapi dia sekarang tidak lagi menghormati ayahnya, dia menatap ayahnya dengan mata seperti menatap binatang kotor.


"Hanya begitu? Jadi begitu alasannya?" Dira membalikkan badan, dia melangkah menuju ke Leonax. Tangannya langsung menarik pedang besi yang terbilang berat itu hingga terlepas dari sarung pedangnya.


SRANG!


"Tuan Muda?!" Leonax kaget karena perubahan sikap Dira. Pria kecil itu mengarahkan ujung pedang tajam ke lehernya, matanya merah karena menangis namun dia masih menatap dengan tajam.


"Kalau kau sangat menganggap aku berharga, maka kita lihat saja. Jika Sky tidak ditemukan dalam satu hari, maka kau akan melihat leherku putus jadi dua!"


Seluruh orang yang ada di ruangan itu tercengang. Sang ibu berteriak histeris melihat perlawanan anaknya pada sang ayah. Sedangkan sang ayah mulai panik, dia merasa tidak bisa kehilangan investasi bernilai yang dia besarkan sepenuh hati.


"... Leonax. Kerahkan pasukan, mulailah pencarian Sky. Aku akan pergi menghadap Baginda kaisar untuk meminta bala bantuan," ujar sang ayah dengan ekspresi yang terpaksa. Leonax menatap Dira yang masih mengarahkan pedang ke lehernya sejenak sebelum dia pergi.


"... Jangan khawatir, Tuan Muda Dira. Saya pasti akan menemukan Tuan Muda Sky." Setelah itu, Leonax berlari pergi sembari berteriak untuk mengumpulkan pasukan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2