Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kelas apa yang dipilih?


__ADS_3

POV: Seas


..."kelas apa yang akan kau pilih?"...


Aku terdiam beberapa saat.


Apakah aku harus memilih kelas yang sama dengan Venom?


"Kenapa kau tidak masuk ke kelas yang dulu kumasuki? Kau cukup berbakat di bidang itu." Venom menepuk pundakku. Aku menatap mata Venom dengan ragu.


"Aku, masih ingin memikirkannya," ucapku pada Venom. Venom menghela napasnya lalu tersenyum padaku.


"Ya, lakukanlah yang kau inginkan." Ucapan Venom membuatku lebih tenang. Aku menutup mataku, mengingat kejadian saat kakak memegang cambuk berduri.


"Kakakku ... ." Aku bergumam. Venom dan Rex menantikan jawabanku.


"Kelas apa yang kakakku pilih?" Aku menatap Rex dengan tatapan yakin. Rex tersenyum simpul.


"Kelas pertarungan jarak dekat. Itu kelas yang dia pelajari dahulu," jawab Rex.


"Aku akan masuk kelas itu," ucapku yakin.


"Apa kau yakin? Diantara ketiga kelas yang ada, kelas pertarungan jarak dekat yang paling sulit. Dari tahun ke tahun, semakin sedikit peminat dari kelas ini," ucap Venom. Walaupun ekspresinya datar, tapi aku merasakan kekhawatiran dari suaranya.


"Memang benar, kelas ini adalah yang paling sulit. Tapi kelas inilah yang paling banyak menghasilkan pembunuh profesional dari sekian kelas yang ada!" Rex menyambung ucapan Venom. Mataku berbinar mendengar perkataan Rex.


"Baiklah! Aku sudah memutuskan akan ikut kelas itu!" Aku berlari menuju ke pintu.


"Tapi!" Rex memotong ucapannya.


Venom menghela napasnya lalu berjalan ke arahku.


"Kalau kau tidak mampu lulus dari kelas itu. Kau akan mati," ucap Venom tepat di sampingku.


"Jadi apa kau masih yakin, nak?" tanya Rex dengan senyuman miring di wajahnya.


Aku mengepalkan tanganku kuat. Membiarkan jariku yang terluka merasakan nyeri sekali lagi.


"Aku ... ingin membunuh kakakku dengan tanganku sendiri," ucapku dengan yakin.


"Tapi apa kau harus mengambil kelas yang mempertaruhkan nyawamu? Kau lebih hebat di bidang yang lainnya, mungkin saja kau bis-"


"Kalau kakakku bisa melakukannya, aku yakin aku juga bisa!" Aku memotong ucapan Venom. Nafasku tak beraturan karena emosi yang memuncak dalam diriku.


"Aku selalu ... menjadi anak yang manja. Selalu saja kakak atau ayahku yang membereskan masalahku!" Aku berteriak di ruangan yang hening itu.


"Bahkan sampai sekarang. Kau juga masih melindungiku, Venom." Aku segera keluar dari ruangan itu. Jawabanku tentang kelas yang kupilih, tidak berubah.


Rex tertawa kecil.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menghalangi anak burung yang bersiap untuk keluar dari sarangnya, Venom."


Venom berdecak kesal, lalu menyusulku.


***


Aku berdiri di depan gedung tempatku masuk tadi. Menunggu Venom sambil melihat langit abu-abu.


"Di sini tidak pernah ada langit biru ya?" Venom tiba-tiba ada di sampingku. Aku sedikit terkejut tapi segera menenangkan hatiku.


"Venom, kau bilang ini mirip seperti kota," ucapku sambil menggaruk kepalaku. Venom mengangguk.


"Lalu?" Venom memiringkan kepalanya.


"Apakah ... disini ada tempat untuk memotong dan mewarnai rambut?" Tanyaku dengan gugup. Venom tersenyum simpul lalu mengangguk.


"Ayo, akan kuantar." Venom menarik tanganku dan membawaku ke mobilnya.


"Dan, aku akan mengajakmu melihat-lihat kota yang suram ini!" ucap Venom. Aku tertawa kecil dan mengiyakannya.


***


POV: Rex


Sungguh hari yang menyenangkan. Ah ... bukan. Keluarga yang sangat menyenangkan.


Baik itu kau, maupun adikmu. Kalian berdua benar-benar menghiburku.


"Arma Veldaveol, Seas Veldaveol. Dua orang dengan kepribadian yang sangat berbeda."


Kututup mataku. Mengingat bagaimana awal mula keluarga itu bergabung dengan dunia gelap ini.


..."Arma ... apa yang membuatmu salah jalan?"...


***


POV : Seas


"Apa kau suka dengan warna rambutmu sekarang?" Venom bertanya padaku sambil memberiku air.


Aku melihat ke arah kaca. Warna hitam legam yang sejak kemarin memberi mimpi buruk padaku. Sekarang sudah berubah menjadi putih seperti salju.


"Ya ... aku menyukai, Venom!" ucapku sambil tersenyum lebar.


"Ayo kembali ke mobil, akan kuantar ke asramamu," ucap Venom. Aku baru ingat, aku tidak punya rumah di sini. Syukurlah sekolah ini punya sistem asrama.


"Owh dan juga ... jika kau tidak nyaman dengan asramamu. Kau bisa pindah ke rumahku," ucap Venom dengan pelan. Aku terkejut mendengar perkataan Venom.


"... Kurasa ... lebih baik aku di asrama saja ...," jawabku. Venom mengangguk dan masuk ke mobil.

__ADS_1


Yah memangnya seburuk apa asrama? Kita kan hanya berbagi kamar?


***


Aku benar-benar menyesal sudah berkata seperti itu. Sungguh.


"Owh kau si anak baru! Bagaimana pagimu? Sepertinya kau baik-baik saja karena masih hidup!"


Dia adalah anak yang kamarnya bersebelahan denganku. Namanya Sky.  Sistem asrama di sini ternyata satu kamar hanya untuk satu orang.


Masalahnya adalah ... .


"BAGAIMANA MUNGKIN ADA ALARM DENGAN BOM DI SAMPINGNYA?! KALAU AKU TELAT BANGUN SEDETIK SAJA PASTI AKU SUDAH JADI POTONGAN DAGING MATANG!"


"DAN ADA APA DENGAN KASUR INI?! KENAPA AKU SELALU MENEMUKAN ADA PISAU YANG MENANCAP DI SAMPING TUBUHKU?!" Aku berteriak sambil menunjukkan enam buah pisau yang tertancap di kasurku.


"DAN LAGI?! KENAPA KITA HARUS BEREBUT KAMAR DENGAN SALING MEMBUNUH?!" Aku menunjuk kamar di bawahku dengan banyak darah berceceran. Sepertinya kamar itu adalah kamar dengan fasilitas paling baik.


"Dan yang paling parah ... ."


"KENAPA ADA SANDI DENGAN RUMUS KIMIA SEBELUM MASUK TOILET?!" Aku memukul-mukul mesin sandi yang ada di samping pintu kamar mandi.


"Hari ini aku hampir jadi daging panggang, daging cincang, dan harus berak di celana ... apakah besok aku harus menahan napas semalaman karena AC di sini beracun?!" ucapku frustasi dengan kehidupan asramaku.


"Wah bagaimana kau tau? Padahal biasanya AC hanya menyala di hari ke 3 setelah ada penghuni di kamar ini!" Sky bertepuk tangan sambil melihatku. Mendengar perkataan Sky.


Aku benar-benar ingin jadi kecoa saja.


Tidak ... .


Jadi boneka chucky juga tidak buruk.


"Sky ... apalagi yang harus kuhadapi sekarang?... ." Wajahku sudah sangat lemas sekarang. Kantung mataku sangat tebal, bagaimana tidak? Setiap malam aku mendengar teriakan orang di asrama ini.


Dan esoknya entah ada potongan tangan, jari, dan ... beberapa hal-hal dewasa ... .


"Oh iya! Aku lupa memberitahumu! Makanan di sini sangat terbatas ... jadi kalau kau terlambat-" Sebelum Sky menyelesaikan ucapannya, aku sudah merasakan firasat buruk tentang sarapanku!


Aku berlari dengan cepat mencari dimana dapur berada. Dan ... yah dugaanku benar.


"Kalau kau terlambat, kau tidak akan mendapat makanan apapun ... ." Sky sudah ada di sampingku lalu melanjutkan perkataannya.


Aku berbaring di lantai, meratapi nasibku. Andai saja aku tidak menolak tawaran Venom ... .


"Jangan sedih kawan, aku berhasil mendapat kacang almond. Kau mau? Hanya sebiji sih, akan kubagi dua!" Sky tersenyum ... senyum tolol.


"ARGHHHHH!"


"AAAA! SEAS MENGAMUK! LARII!"

__ADS_1


TBC.


__ADS_2