Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Valeria?!


__ADS_3

POV: Seas


"Ugh ... kepalaku sakit." Aku berjalan keluar dari kamar sambil memijat keningku. Aku sudah siap dengan seragam serba hitam dan aku sudah mengambil makanan untuk sarapan kemarin malam.


AC sialan itu benar-benar mengeluarkan racun. Syukurlah itu bukan racun yang mematikan, aku yakin cara ini digunakan untuk melatih ketahanan siswa dengan racun.


Tapi racun ini ... membuatku mual dan sakit kepala!


"Seas!"


Aku mendengar suara Sky. Sky menutup kamarnya dengan terburu-buru lalu berlari menghampiriku.


Oh ... benar juga. Sky dari jurusan ahli obat dan racun, karena itu seragamnya berwarna putih dengan jubah panjang! Mirip dengan dokter haha!


Tapi dibalik jubahnya ... ada puluhan alat suntik dan beberapa granat dengan isi bahan kimia. Ugh ... jurusan mereka juga tidak bisa diremehkan.


Tapi jujur, Sky terlihat sangat cocok dengan seragam jurusannya. Terlihat lembut tapi juga terlihat keren!


"Kenapa kau menatapku seperti itu? ... ." Sky menatapku dengan tatapan datar. Aku mengalihkan pandanganku dan berdehem kecil.


"Seragammu sangat keren. Itu cocok denganmu," ucapku tanpa menatap matanya. Sky tertawa kecil.


"Jurusanku memiliki 2 seragam, ini adalah seragam yang digunakan jika di baris belakang, dan ada juga yang digunakan jika di baris depan ... kuharap aku tidak perlu memakainya ... itu menyeramkan." Sky bergidik sambil membayangkan sesuatu. Aku tertawa kecil dan membayangkan seragam yang Sky bilang.


Waw ... mungkin dia akan terlihat lebih keren lagi.


"Oh iya! Bagaimana kelasmu kemarin?" Sky bertanya padaku sambil mengunci asrama kami. Iya, hanya kami berdua yang tinggal di bangunan ini. Siswa lainnya sudah gagal atau mungkin ... mati.


"Aku ... membunuh lebih dari setengah siswa," ucapku pelan. Perkataan C benar, jalan yang kami pilih ini selalu mempertaruhkan nyawa. Karena itu, aku mencoba tidak merasa bersalah karena jalan yang kupilih.


"... Jurusanmu, sangat kejam ya. Sekarang aku merasa jurusanku sedikit lebih baik." Sky tersenyum sedih sambil menatap aspal yang dipijaknya.


"Jurusanmu juga ada seleksi?" tanyaku pada Sky. Sky menganggukkan kepala, lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik dengan cairan berwarna merah muda dengan campuran hijau.


"Seleksi kelasku ... adalah memilih jarum suntik yang aman untuk tubuh, hanya dengan melihat warna dan bau. Setelah mereka memilih satu jarum suntik, mereka harus menyuntikkannya dalam tubuh mereka," ucap Sky lalu memasukkan jarum suntik itu dalam jubahnya.

__ADS_1


Aku menatap Sky dengan kaget. Itu sangat mirip dengan tes yang kulakukan dengan Rex!


"Hasil dari tes ini bisa langsung terlihat. Ada yang mati keracunan, ada yang buta, ada yang lumpuh, dan ada yang warna kulitnya berubah," sambung Sky. Aku bergidik setelah mendengarnya.


Sepertinya lebih baik jurusanku. Setidaknya kami langsung meledak dan mati ... iya kan? Aku tidak bisa membayangkan harus hidup lumpuh seumur hidupku. Atau harus merasakan racun yang menyebar secara perlahan lalu membunuhku.


"Wah, tes seleksiku sedikit unik sih!"


Aku dan Sky terkejut. Tiba-tiba seorang perempuan dengan seragam berwana hitam coklat menyela pembicaraan kami.


"Kalau di jurusanku, kami dibagi menjadi beberapa tim. Satu tim terdiri dari 2 orang. Dan tugasnya adalah ... menembak tim musuh," ucap perempuan itu. Aku dan Sky saling bertatapan, seolah bisa melakukan telepati, aku dan Sky memikirkan hal yang sama.


...[Dia dari jurusan pertarungan senjata api.]...


"Oh, maaf! Kalian pasti kaget karena aku tiba-tiba menyela! Namaku Valeria Regan! Dari jurusan pertarungan senjata api!" Valeria menjabat tangan kami berdua secara paksa. Aku dan Sky masih terdiam canggung dengan sikap Valeria yang terang-terangan.


"Hmm, kalian pasti Seas dan Sky kan?" Valeria tersenyum licik sambil mengamati wajah kami.


Bagaimana dia tahu namaku?


"Tu-tunggu! Kenapa ada rumor bahwa aku simpanan si tua Rex itu?!" Aku tidak terima dijadikan simpanan si tua Rex. Dan kenapa ada rumor seperti itu?!


"Hah? Jadi rumor itu salah? Tapi kepala sekolah memajang fotomu di kantornya loh!" ucap Valeria dengan wajah polosnya. Aku benar-benar terkejut ... sangat terkejut.


"Si tua itu ... dia ingin ku pukul ya?!" Aku hendak berlari ke arah kantor Rex, tapi Sky menahanku.


"Aduh ... hahahaha, sudahlah. Nanti saja ya? Sebentar lagi kita masuk kelas, sampai jumpa nanti malam, Seas!" Sky berlari kecil sambil tertawa, perkataan Sky benar ... ah sial! Aku ingin memukul kepala Rex sekarang juga.


"Oh ... jadi rumor itu salah ya ... tapi banyak yang mengatakan kau suka pria yang lebih tua, jadi apa kau ak-"


Aku menutup mulut Valeria dengan tangan kiriku.


"Hentikan ... banyak ... banyak orang yang melihat kita ... ." Aku mendengar banyak orang membicaran kita, terutama aku. Sekarang aku paham kenapa tidak ada yang mencari masalah denganku.


Mereka menganggap ku simpanan si tua Rex?!

__ADS_1


"Baiklah-baiklah tuan Seas~ aku akan pergi ke kelasku dulu! Sampai jumpa besok!" Valeria akhirnya pergi, aku mengembuskan nafas lega.


Aku kemudian ikut berlari ke arah kelasku. Hari ini lokasi kelasnya adalah di ujung sekolah, pegunungan batu beracun.


Ah sial! Lokasinya sangat jauh ... tapi C bilang bahwa kami harus berlari, kalau tidak berlari maka kami disuruh berlari mengitari sekolah ini ... sekolah ini saja sudah sebesar kota.


Dua jam aku berlari tanpa henti, akhirnya sampai di pintu masuk pegunungan. Aku melihat dua teman sekelasku yang sudah 'terkapar' lebih dulu. Mereka berbaring sambil menatap langit mendung.


Aku ikut berbaring di sebelah mereka. Sambil menenangkan nafasku serta otot kakiku.


"Ini ... gila ...," ucap seorang laki-laki yang berada di sebelahku.


"Pantas saja ... kelas ini ... disebut yang paling mengerikan ...," ucapnya sambil mengatur nafasnya.


"Kau benar ... ini baru hari ke-dua tapi rasanya sudah seperti di neraka," ucapku. Dia menatapku dengan heran.


"Kau ... Seas bukan? ... Kau tidak terlihat... kelelahan?" Dia duduk dan menatapku dengan heran. Aku ikut duduk lalu berpikir sebentar.


"Ah ... dulu aku sudah pernah berlari lebih lama dari ini ... karena aku sangat takut dengan kematian, hahaha!" ucapku lalu tertawa kecil. Benar, dulu aku takut oleh kakakku dan berlari tanpa berpikir. Tak terhitung berapa banyak batu yang kupijak, rasa sakit di kakiku yang lecet bahkan kuabaikan.


"Kau sangat keren ... namaku Ruo! Dan dia adalah saudara Perempuanku, Kuo! Salam kenal!" Ruo mengajakku berjabat tangan. Aku menerima jabatan tangannya dan tersenyum.


"Hei Kuo! Kau tidak ingin membuat teman baru?" Ruo bertanya pada saudarinya. Kuo menatap Ruo dengan tatapan yang ... terlihat sangat lelah.


"Jangan mengajakku bicara. Ini rasanya seperti paru-paruku tidak memiliki oksigen di dalamnya!" Kuo masih berbaring sambil mengatur nafasnya. Kami bertiga tertawa, dan teman-teman juga mulai berdatangan.


"Tes ... tes ... halo?"


"Selamat hari kematian murid-murid! Hari ini adalah pelajaran ke dua!"


..."Latihan menghindar!"...


TBC.


bagi kalian yang bingung tentang tokohnya, silakan lihat eps yang judulnya informasi tokoh ya!

__ADS_1


__ADS_2