
Tuh kan ada orangnya.
POV: Seas
Aku langsung berlari ke arah remaja yang mau kabur itu, dan langsung mencengkeram kerah baju sebelah belakang miliknya lalu mengangkatnya seperti mengangkat kucing.
"... Siapa kau?" tanyaku dengan nada yang bosan. Diincar oleh banyak orang itu memang menyenangkan, tapi kalau yang mengincarku orang yang terlalu amatir aku jadi kasihan.
Aku bisa merasakan bahwa tubuh orang itu berguncang saat aku mengangkatnya. Tubuh kurus, rambut hitam yang lusuh, bau badan yang tidak enak ... kenapa dia mirip seperti pengemis tidak pernah makan begini? Apa dia bukan dari Underworld School?
"Hei! Apa kau bisu?!" Aku bertanya lagi dengan nada yang cukup keras. Dia malah terus menggelengkan kepalanya hingga aku yang ikut merasa lelah. Mataku kini ganti menatap ke arah lengan kirinya yang mengeluarkan darah. Sepertinya pisauku tadi menancap di lengan kirinya.
"Kalau kau tidak bisu maka cepat jawab. Sebelum aku memotong lidahmu dan membuatmu bisu permanen," ancamku sambil mengeluarkan pisau dari saku-ku.
"Baik baik baik! Maaf maaf! A-aku hanya disuruh oleh seseorang!" Akhirnya tepat setelah aku mengarahkan pisau kecil ke mulut laki-laki ini, barulah dia mau membuka mulut. Aku mengernyitkan dahiku, menatapnya dengan curiga.
"Siapa? Kau tidak berasal dari Underworld School bukan?" tanyaku langsung pada remaja laki-laki ini. Dia menggelengkan kepalanya lagi, lalu mulai mengeluarkan sebuah kertas lusuh dengan noda merah kehitaman di tengahnya.
"I-i-ini adalah kertas yang menyuruhku u-untuk membunuhmu," ucapnya dengan suara yang gemetar. Aku memasukkan kembali pisauku lalu melemparkan tubuh anak ini ke tanah. Tanganku mengambil surat yang hampir terjatuh lalu mulai membacanya dengan teliti.
Apa? Surat ini ... kenapa bisa tau informasi seperti ini?! Aku bahkan tidak tau ada informasi seperti ini.
Aku tercengang membaca isi surat tadi. Selain perintah untuk membunuhku, di dalamnya juga terkandung informasi mengenai cara menyusup ke dalam Underworld School. Mulai dari jam berapa hingga jam berapa penjagaan akan kendor, lalu informasi tentang kelemahan penjaga, hingga rute paling aman untuk menuju bagian dalam Underworld School. Dia bahkan tau bahwa aku sudah pindah ke asrama yang baru.
Surat ini memperkuat dugaanku bahwa ada pengkhianat di dalam Underworld School. Aku yakin para agen kelas atas juga pasti sudah tau tentang hal ini. Tapi melihat mereka yang masih belum bergerak, bisa disimpulkan bahwa mereka juga belum bisa menebak siapa pelakunya.
"Hei. Mumpung aku sedang baik hati. Pergilah dari sini dengan informasi yang kau punya secara hati-hati. Aku sedang tidak berniat membunuhmu, jadi pergilah selagi belum ketauan orang lain." Aku berbicara pada remaja yang bahkan wajahnya tidak bisa kulihat. Dia segera mengangguk dan mulai berlari pergi dari tempat ini. Aku meremas surat tadi dan memasukkannya ke dalam saku-ku.
Yah ... hal ini lebih baik aku biarkan dulu.
***
POV: Sky
__ADS_1
Ugh ... sial, leherku sangat sakit. Bisa-bisanya pria gila itu mematahkan leher seperti mematahkan lidi.
Aku menatap ke arah jendela di ruangan ini, lalu ganti ke arah Valeria yang sedang tidur. Sebenarnya aku sudah bangun sejak 2 jam yang lalu, tapi aku meminta pada orang yang merawat kami agar tidak memberitau Seas terlebih dahulu.
Untung saja tadi agen Bloom telah datang dan memeriksa keadaanku. Sepertinya dia berasal dari jurusan yang sama dengan Venom dan juga aku, karena teknik pengobatannya sangat luar biasa. Leherku yang patah sekarang rasanya sudah lebih baik, padahal biasanya patah tulang memerlukan waktu beberapa bulan untuk tersambung dan membutuhkan waktu bertahun-tahun agar bisa pulih seperti sedia kala.
Tapi ini bahkan baru seminggu, dan rasanya leherku sudah hampir benar-benar pulih! Mungkin sudah sekitar 75%.
Di saat aku punya waktu untuk melamun seperti ini, aku berkali-kali mereka ulang kejadian yang sebelumnya aku alami. Yaitu saat aku sedang bertarung dengan Melga bersama Valeria. Waktu itu ... rasanya hatiku sangat marah, padahal aku harusnya bisa membuatkan penawar untuk Seas daripada memilih untuk merebut penawarnya.
Hal ini membuatku jadi merasa sangat bodoh. Kenapa aku terpancing emosi hingga seperti itu ya? Padahal jika kami memilih jalan yang aman, kami bisa meminimalisir kerugian yang akan kami terima.
Sekarang aku sudah menyerah tentang ujian yang kami jalani, kondisiku dan Valeria tidak memungkinkan untuk melanjutkan ujian tahap ke-dua ini, kecuali ... jika kami diberi waktu tambahan untuk istirahat.
"Hoaaammm." Aku menguap, rasanya sangat mengantuk. Aku mulai merebahkan diriku di kasur sekali lagi, lalu mulai menutup mata.
***
...
Aku bingung apakah aku harus bangun atau tetap tidur seperti sekarang ini? Sebenarnya aku sudah bangun sejak 20 menit yang lalu, tapi karena Sky masih terjaga, jadi aku agak ragu untuk memilih bangun.
Untungnya sekarang dia tidur lagi.
Aku mulai membuka mataku dan membuat tubuhku ke posisi duduk di atas ranjang.
"Ack!" Walaupun kuakui obat Bloom sangat ampuh, tapi cedera tulang punggung ini sangat sakit. Satu-satunya hal nyaman yang bisa kulakukan sekarang adalah berbaring. Tapi aku ingin duduk karena sudah terlalu lama rebahan.
Aku sudah sangat sering memikirkan ini, sering sekali. Andai saja saat aku bertarung dengan Melga kemarin, aku bisa memilih senjata yang lebih pas. Harusnya aku tau bahwa senjata yang besar belum tentu efektif, dan harusnya aku tau daya hancur yang hebat belum tentu efisien.
Harusnya jika saat aku memilih menggunakan Belmere dalam wujud rifle serta sniper, aku bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama.
Dan andai saja ... jika aku lebih menjaga mata kiriku!
__ADS_1
OH IYA!? MATA KIRIKU?!
Aku langsung meraba mata kiriku dengan cepat panik. Kelopak mata, ada bayangan yang kulihat, lalu aku menutup mata kananku dan mencoba melihat dengan mata kiri.
Untung saja ... sepertinya mata kiriku juga diobati.
Aku menghembuskan nafas lega sambil menatap ke arah jendela. Karena hawa dingin yang mulai datang, aku memilih untuk membaringkan badan sekali lagi, dan tidur di dalam selimut.
***
POV: Author
Semua makhluk itu berkembang dari pengalaman, dan perkembangan yang paling pesat adalah saat mereka merasakan kekalahan ... dan saat mereka hampir mati.
Tapi tim ini, merasakan dua hal sekaligus. Mungkin tidak ada yang berkomunikasi diantara mereka, tapi hati dan tujuan mereka jelas.
Mereka ingin jadi lebih kuat lagi. Kata 'andai' yang mereka ucapkan adalah harapan sebelum keringat dan darah bercucuran.
Luka fisik yang mereka rasakan adalah pemicu terbaik daripada minyak saat menghadapi api.
Walaupun mereka hanya memendam rasa pahit di hati masing-masing, tapi mereka telah saling berbagai rasa sakit.
Aku akan jadi lebih kuat, dan bisa diandalkan oleh mereka!,-Seas.
Aku akan lebih tenang lain kali, dan akan kupastikan tidak ada yang salah selanjutnya,-Sky.
Aku akan mengambil keputusan lebih cepat dan lebih baik lagi, tidak akan kubiarkan seseorang mengambil langkah di depanku!,-Valeria.
Bersama, mereka telah siap untuk membentuk kepompong mereka sendiri.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1