
POV: Author
Pria itu masih terus berteriak kesakitan, namun jangankan mengasihaninya, Sky malah hanya diam dan menikmati pemandangan itu. Karena kobaran api yang panas, sebagian besar es-es tajam itu meleleh. Pria itu berlari keluar dari lingkaran es dan mulai mengguling-gulingkan tubuhnya ke lantai.
Akhirnya dia berhasil memadamkan api yang membakar tubuhnya. Dengan tubuh yang sudah compang-camping penuh luka bakar, pria itu berusaha berdiri. Di depannya, Sky masih berdiri dengan tenang tanpa senyuman.
"Bagaimana? Sakit?" tanya Sky sembari berjalan mendekatinya. Pria itu mulai melangkah mundur dengan tubuh yang gemetar dan terhuyung-huyung. Matanya menatap sosok Sky dengan penuh rasa takut, jantungnya berpacu cepat dan otaknya bertanya-tanya monster apa yang sudah dia ciptakan.
Sky terus melangkah maju, begitu juga dengan pria itu yang masih terus melangkah mundur hingga akhirnya punggungnya menyentuh dinding. Pria itu mulai panik dan kebingungan. "Ja-jangan mendekat!" ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sky tersenyum dan terus melangkah maju. Tangan kanan Sky membawa palu sedangkan tangan kirinya membawa tiga buah botol kaca kecil yang berisi ramuan aneh. Sky melemparkan satu botol kaca itu ke dinding di sebelah kepala si pria hingga pecah.
PRANG!
Cairan dalam botol itu langsung mengalir ke bawah, membasahi bahu sebelah kiri si pria.
"Kenapa kau takut? Bukankah aku adalah mahakaryamu?" tanya Sky dengan lembut. Pria itu menggeleng dengan cepat, dia berusaha untuk lari ke kanan tapi itu sia-sia. Ramuan yang Sky lemparkan tadi adalah ramuan super lengket yang sangat sulit untuk dilepaskan. Semakin lama cairan itu menghirup oksigen, maka cairan itu akan semakin mengembang layaknya slime yang membelah diri.
"Ti-tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat!" Pria itu kembali berteriak. Dia memukul-mukulkan tangannya ke depan, berusaha mencegah supaya Sky tidak mendekatinya. Tapi hal itu tidak berguna, Sky terus mendekat dan dia mengangkat palunya tinggi-tinggi.
WHUNG!
BUAGH!
Sky memukul tangan si pria itu dengan palu, membuatnya kesakitan hingga dia hanya bisa menggeliat kesakitan di dinding. "AARRGGHH!" Pria itu melihat punggung tangannya yang langsung membiru. Dengan nafas yang memburu, pria itu berusaha menahan rasa sakitnya dan hendak menendang Sky dari depan.
WHUS!
Tapi Sky bisa menghindarinya dengan mudah. Mata Sky yang mulai berubah menjadi kuning, terlihat seperti sesosok Leopard yang tengah berburu. Sky mengayunkan palunya langsung pada betis pria itu.
__ADS_1
BUAGH!
KRAAKK!
"AAAAAAHHHH!" Teriakan kembali terdengar menggema di sana. Noda darah mulai menempel di palu yang Sky bawa. Di depan sosok anak kecil yang membawa palu, pria yang menempel di dinding itu menangis tak berdaya. Kakinya langsung patah hanya dalam sekali serangan.
"Sssttt sssttt! Jangan menangis terlalu kencang. Apa perlu mulutmu kusumpal seperti kau memperlakukanku dulu?" Sky sudah sampai di depan pria itu dan dia langsung mencengkram rahang bawah si pria. Sky mulai menumpahkan cairan dari botol kedua ke atas kepala pria itu.
"A-apa lagi itu?" tanya pria itu dengan suara yang ketakutan. Sky masih diam dan terus menuangkan cairan itu hingga habis. Sky kemudian mulai melangkah mundur hingga jaraknya cukup jauh dari pria itu.
"A-apa ini?!" Tubuh pria itu mulai membesar, daging di seluruh tubuhnya terus bertambah banyak layaknya orang yang kelebihan berat badan. Sky tampak tenang, dia kembali berjalan ke sudut ruangan, mengambil payung usang berwarna hitam.
"Tempat ini menjijikkan, aku akan mengubur tempat ini bersamaan denganmu.
Cairan itu adalah cairan peledak tubuh. Dia akan membuat daging di seluruh tubuhmu terus bertambah banyak. Kau akan merasakan sakit setiap kali kulitmu sobek karena tidak mampu menjadi lebih elastis lagi. Kau akan merasakan tulangmu yang perlahan remuk karena tidak mampu menahan beban berton-ton. Kau akan merasakan organ dalammu yang hancur satu persatu karena tertusuk tulang dan tertindih dagingmu sendiri.
Hingga akhirnya tubuhmu akan meledak saat semua kulitmu sudah sobek. Selamat tinggal." Sky membuka payung hitam itu dan bersembunyi di baliknya. Jeritan demi jeritan terdengar semakin jelas, namun Sky tidak merasakan apapun. Suara tulang dan dinding yang mulai berderit karena menahan beban pria itu juga mulai terdengar. Tapi Sky tidak bergeming sedikitpun.
DUUARR!
CRAAATT!
Pria itu meledak. Daging dan darahnya muncrat ke seluruh ruangan di pabrik ini. Untung saja Sky berlindung di balik payung, dia tidak terkena satupun hal yang menjijikkan tadi. Sky berdiri lalu mulai mengangkat payungnya.
Dia menatap sekelilingnya yang kini dipenuhi bau darah dari pria itu. Sky mulai tersenyum lalu dia berbicara. "Bagaimana rasanya menjadi karya dari karyamu sendiri? Kau adalah karya pertamaku yang begitu meriah." Sky kemudian tertawa dan mulai mengambil botol ketiga. Sky melemparkan botol itu ke tengah ruangan.
WHUS!
PRANG!
__ADS_1
Botol itu pecah di sana. Sesaat kemudian mulai tumbuh tanaman merambat. Tanaman itu menyerap semua darah dan daging yang ada seolah dijadikan sebagai nutrisi. Tanaman itu tumbuh dengan sangat cepat, menutupi seluruh pabrik usang itu.
"Tempat ini akan aku serahkan pada alam." Sky melihat sekelilingnya sekali lagi. Noda darah yang ada di mana-mana, kini berubah menjadi tanaman merambat yang tumbuh subur hingga ke celah-celah dinding tembok. Sky hendak berjalan keluar dari ruangan itu, tapi dia berhenti sejenak saat melihat kepala si pria yang masih utuh.
Sky memungut kepala itu dan menatapnya. Kepala itu juga sudah mulai ditumbuhi tanaman merambat, salah satu mata dari kepala itu mekar bunga berwarna kuning yang harum. "Kau jadi mayat yang indah sekarang."
BRAK!
Suara gebrakan yang keras membuat Sky menoleh dengan kaget. Sky memeluk kepala yang dia pegang, matanya menatap datar ke arah seorang pria yang baru datang.
"... Leonax. Apa kabarmu?" tanya Sky dengan senyuman tipis. Sky bukan senang karena Leonax datang sekarang, dia juga tidak sedih.
Dia hanya sudah tidak peduli.
Sementara itu, sosok pria tadi terdiam kaku. Seorang anak laki-laki yang dia lihat di depannya jelas tidak mirip dengan Sky. Apalagi warna mata dan warna rambutnya. Tapi suara yang barusan dia keluarkan, memang benar bahwa itu adalah suara Sky.
"Tu-Tuan Muda?" tanya Leonax ragu-ragu. Sky memiringkan kepalanya serta memiringkan kepala yang dia peluk.
"Kenapa kau tampak kaget? Oh ... apakah karena rambutku yang berbeda? Tapi keren kan?" Sky kemudian tertawa kecil. Leonax langsung berlari ke arah Sky. Dia segera menarik kepala yang sedang Sky peluk lalu melemparnya dan dia segera memeluk Sky.
"Apa yang terjadi? Kenapa anda ada di sini?" tanya Leonax sembari mengamati sekitarnya. Tapi tempat ini sudah hampir tidak bisa dikenali karena tertutup oleh tumbuhan merambat dari cairan Sky. Mata Leonax kembali terfokus pada kepala yang kini mulai dirambati oleh tanaman lagi.
"Dan ... kenapa anda memegang benda itu?" tanya Leonax was-was. Sky mendorong pelan bahu Leonax supaya dia mengendurkan pelukannya. Sky kemudian menatap mata Leonax yang tampak khawatir.
"Aku baru saja membunuhnya. Karena aku sudah lelah dijadikan kelinci percobaan," ucap Sky diselingi senyuman yang lebar. Leonax terdiam sejenak, dia menatap mata Sky yang kini sudah berubah menjadi kuning. Tangan besar Leonax mulai terulur sekali lagi, dia menepuk kepala Sky dan membawanya ke pelukan yang erat.
"Tidak apa-apa ... tidak apa-apa, Tuan Muda ... anda tidak membunuhnya." Leonax menenangkan Sky karena dia mengira Sky sedang shock sekarang. Padahal Sky tenang-tenang saja dan justru Sky bingung dengan tindakan yang dilakukan Leonax.
"Ayo kita pulang," ajak Leonax.
__ADS_1
"Kenapa aku harus pulang?"
TBC.