
POV: Seas
Seperti perintah Rex kemarin, sekarang aku dan tim baruku, Sky dan Valeria, sedang berjalan ke arah kantor Rex.
Di sepanjang jalan, kami terus saja bertemu dengan orang-orang aneh. Ada yang memakai topeng, ada yang menggunakan jubah hingga menutupi seluruh tubuh, ada juga orang yang wajahnya penuh dengan tindikan.
"Suasana di sini tidak berubah. Masih sama anehnya dengan dulu." ucapku lalu menghela nafas. Sky dan Valeria mengangguk. Kami segera naik lift untuk sampai ke kantor Rex.
Ting.
Aku melangkah masuk lebih dulu diikuti dengan Sky dan Valeria di belakangku. Pencahayaan yang redup membuat mataku sulit melihat. Pintu lift segera tertutup dan menyisakan keheningan di ruangan ini.
"Nah aku sudah menunggu kalian," ucap Rex lalu menunjukkan dirinya. Rex mengarahkan kami untuk duduk di sofa dan Rex sendiri duduk di kursi kerjanya.
"Seas Veldaveol, Sky Latrix, dan Valeria Regan. Tim yang beranggotakan murid-murid baru. Aku memanggil kalian ke sini secara khusus. Karena aku akan memberikan misi pertama untuk kalian," ucap Rex sambil menatap kami dengan serius. Rex menunjukkan pada kami beberapa lembar kertas yang berisi data seseorang.
"Namanya Ron Evagiria. Anak dari Kaisar Evagiria. Sekarang dia sedang ada di negeri tetangga untuk melaksanakan suatu perundingan. Dan tugas kalian adalah-"
"Membunuhnya!" Valeria memotong ucapan Rex. Aku dan Sky menatap Valeria dengan tatapan panik.
"Hahahaha, bukan membunuhnya. Tapi sebaliknya, aku ingin kalian melindunginya sampai dia kembali ke negaranya dengan selamat," ucap Rex sambil tertawa kecil, kami menghela nafas lega karena sepertinya Rex tidak marah karena hal tadi.
"Eyy~ melindungi? Bukankah hal itu sangat bertentangan dengan prinsip para pembunuh?~" ucap Valeria sambil memanyunkan bibirnya. Aku dan Sky masih mencoba menahan amarah kami agar tidak memukul kepalanya di sini.
"Hmm, benar juga. Kalau begitu misi kalian kuganti," ucap Rex sambil tersenyum licik.
"Bunuh semua orang yang ingin mencelakai Ron Evagiria."
"AIYAYAI SIR!" Valeria menjawab dengan semangat, kami menghela nafas lega.
"Oh dan dalam misi kali ini. Tentu kalian tidak sendirian, kalian akan ditemani salah satu agen tingkat atas," ucap Rex sambil tersenyum-senyum. Mataku berbinar, aku ingin tau siapa yang akan menemani kami.
"Apakah itu Venom?" tanyaku penuh harap. Rex menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia adalah-" ucapan Rex terpotong.
"Hai! Haha! Maaf mengecewakanmu, aku adalah X. Aku akan memimpin misi kali ini. Semoga kita bisa berkerja sama dengan baik!" seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam ketat, bahkan rambut dan matanya berwarna hitam legam. Dia membawa sebuah ... um ... Mungkin dia adalah seorang sniper.
Tapi tetap saja aku sedikit kecewa karena ternyata bukan Venom. Hmph!
"Nah X. Selanjutmya kuserahkan padamu," ucap Rex dengan senyuman, X mengangguk lalu mengangkat kami bertiga di kedua pundaknya. Dan salah satunya ada di kepala ... .
"Huh?" ucapku, Sky dan Valeria bersamaan.
"Ini bukanlah pelajaran, jadi aku akan menggunakan 100% kekuatanku. Perhatikan baik-baik ya~" ucap X. Setelah itu kami dibawa lompat keluar dari jendela!
Beruntung aku tidak punya phobia ketinggian, dan Valeria malah tertawa girang saat ini. Sky ... sepertinya pingsan.
***
X menurun kami di perbatasan Underworld School. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas batas langit terang dan langit gelap.
"Sky! Bangunlah!" ucap Valeria sambil menggoyangkan tubuh Sky dengan cepat.
"Sebelum kita melaksanakan misi ini, aku ingin kalian memberi tau keahlian kalian! Oh, dan juga nama kalian!" ucap X sambil menatap kami satu persatu.
"Dimulai dari perempuan yang berambut coklat kemerahan! Rambut gelombangmu sangat indah!" ucap X dengan senyuman di wajahnya.
Mungkin karena Valeria sedikit unik daripada kebanyakan perempuan ... syukurlah dia tidak termakan gombalan X.
"Namaku Valeria Regan, kau bisa memanggilku Valeria. Keahlianku adalah menembak, tapi aku juga bisa bertarung dari jarak dekat. Biasanya aku menggunakan pistol biasa, dan aku sedang belajar menggunakan bazoka," ucap Valeria memperkenalkan dirinya. X mengangguk lalu menatap Sky.
"A-aku Sky ... Sky Latrix. Aku tidak cukup pandai dalam bertarung ta-tapi. Aku bisa menggunakan jarum beracun dan be-beberapa bom kimia. A-aku sedang belajar cara mengayunkan scythe," ucap Sky sambil menunjukkan alat-alatnya. Kini X melihat ke arahku.
*Schythe adalah sabit dengan tongkat yang panjang, kegunaannya secara umum adalah untuk memotong rumput, tapi kita sering melihatnya di ilustrasi sedang dibawa oleh malaikat pencabut nyawa.
"Aku Seas Velda- lupakan, aku tidak suka nama belakangku. Panggil saja aku Seas, keahlianku adalah menggunakan dagger," ucapku singkat. X mengangguk tanda dia mengerti.
__ADS_1
"Aku X, keahlianku adalah sniper. Jangan khawatir, meskipun aku adalah sniper, bukan berarti aku akan membiarkan kalian maju di garis depan seorang diri. Aku tetap akan memimpin serangan dan juga ...," ucapan X terhenti lalu menatap kami dengan hangat. Rasanya ... seperti ditatap oleh kakak.
"Dalam misi ini, tolong utamakan nyawa kalian. Ini adalah misi pertama kalian, aku tidak ingin para anggotaku yang imut harus meregang nyawa di misi sederhana ini," lanjut X. Kami menatapnya dengan tidak percaya, kami disuruh memprioritaskan diri kami?
"Nah baiklah! Aku akan mengambil mobil! Tunggulah di sini!" Setelah itu X berlari meninggalkan kami. Aku dan Sky saling bertatapan.
"Apa kita baru saja dimanjakan?" tanyaku pada Sky.
"Sepertinya iya ...," jawab Sky dengan ragu-ragu.
"Kalau kita dimanjakan seperti ini ... Bukankah ...," Valeria muncul di tengah-tengah aku dan Sky.
"Kita juga harus memanjakannya?" ucap Valeria sambil tersenyum miring. Aku dan Sky mengangguk lalu tersenyum.
"Seperti yang dia bilang, ini adalah misi yang sederhana. Ayo segera selesaikan misi ini dan kembali pulang!" ucapku penuh semangat.
"YIHA!" Valeria berteriak sambil melompat.
Tin! Tin!
Kami menoleh ke arah mobil yang membunyikan klakson. Mobil itu menurunkan kacanya dan menunjukkan wajah X di sana.
"Ayo masuk!" ucap X dengan senyuman cerah di wajahnya. Kami bertiga mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
"Hei ... kenapa kalian duduk di tengah semua?!" protes X. Kami hanya diam sambil menatap satu sama lain.
"Tolong salah satu pindah ke depan! Duduklah di sampingku! Aku akan mengantuk kalau tak ada yang menemaniku mengobrol!" ucap X sambil memanyunkan bibirnya.
Apa ini?! Dia seperti anak kecil! Aku yakin bukan hanya aku yang berbikir seperti ini. Ekspresi Valeria dan Sky juga mengatakan hal yang sama.
"Iya-iya tuan muda. Aku akan pindah ke depan." Aku mengalah dan memilih untuk duduk di depan. Karena malas membuka pintu, jadi aku melangkahi kursi dan duduk di samping X.
"Nah kalau begitu, ayo berangkat!" ucap X penuh semangat.
__ADS_1
..."Ke negara Valord!"...
TBC.