
"Kau banyak berubah ya? Ned."
POV: Seas
Aku menatap rambut dan mata yang berwarna hitam legam bagaikan langit malam, dia duduk dengan tenang di atas atap yang berlubang, dengan jari yang terlilit benang besi ... mungkin juga benang baja.
"Benarkah? Bukankah kau yang paling banyak berubah? Aku bahkan sempat ragu apakah itu kau atau bukan! Hahaha~," ucap Ned lalu dia melompat turun ke lantai gudang.
Cpyak!
Darah yang tergenang di lantai itu terciprat karena hentakan kaki Ned yang baru saja melompat. Setelah kuperhatikan, pakaian Ned kini berbeda jauh daripada saat masih belajar di kelas.
Kalau seingatku ... dulu dia lebih sering memakai kaos lengan panjang dan pakaian yang lebih tertutup. Tapi sekarang ... dia bahkan memakai kaos tanpa lengan dan bagian punggungnya terbuka cukup lebar. Bahkan gaya rambutnya menurutku sangat keren sekarang.
Kenapa dia jadi pembunuh sih? Ga sekalian jadi model saja?
"Aish~ lupakan. Jadi ... ada apa kau kemari? Mau mengambil surat kelulusan?" tanyaku dengan seringaian. Ned tersenyum sambil menutup mulutnya, mata hitamnya itu terlihat penuh nafsu.
"Apa kau akan memberikannya? Atau haruskah kurebut dengan paksa?" tanya Ned sambil mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku menyentuh dagu Ned, lalu perlahan turun ke lehernya.
"Apa kau mau bertarung denganku?" tanyaku sambil bertatapan dengannya. Aku menurunkan tanganku, lalu menyentuh dada bidang milik Ned.
"Ah ... tidak, maksudku ... apa kau yakin akan menang melawanku?" tanyaku sambil meniup ke arah leher Ned.
"Pffft! Ahahahahaha! Baiklah-baiklah! Aku juga tidak ingin melawanmu!" Ned tertawa lepas sambil menjauhkan tanganku dari dadanya. Dia masih tertawa selama beberapa menit, lalu akhirnya diam sambil menatapku.
"Aku juga sudah punya surat kelulusan ujian tahap pertama ini, karena itu aku tidak berniat untuk menyerangmu," ucap Ned sambil menunjukkan surat miliknya. Ada banyak noda darah yang telah kering, kertas yang sedikit lusuh, dan bahkan kertas itu mengeluarkan bau.
"Sepertinya kau melalui pertarungan yang kejam," ucapku sambil tersenyum saat menatap kertasnya. Ned memasukkan surat itu lagi ke dalam bajunya, lalu mengendikkan bahu.
"Kau benar~ bahkan aku beberapa kali hampir terbunuh saat mendapatkan ini," ucap Ned sambil cemberut. Setelah itu aku berjalan ke arah pintu gudang, dan Ned mengikutiku dari belakang.
"Haha! Memangnya kapan nyawa kita tidak pernah terancam? Sekolah ini cukup gila untuk membunuh siswanya sendiri." Aku berucap tanpa menoleh ke arah Ned. Saat sudah sampai di depan pintu gudang, aku membuka pintunya lalu berjalan keluar.
"Apa kau juga mengalami hal yang sama?" Ned bertanya sambil menatap ke arah batang pohon tua yang terbaring di depan gudang. Tanpa aba-aba Ned langsung menarik lenganku dan mendudukkanku di atas batang pohon itu.
"Aku? Oh ... tentu saja. Apa kau pernah melihat kejadian dengan nyawaku yang aman?" tanyaku sambil melihat Ned yang duduk di sebelahku. Ned tertawa kecil lalu mulai memainkan kakinya naik dan turun, seperti anak kecil saat duduk di kursi yang tinggi.
"Alio pasti merasa khawatir jika terjadi apa-apa padamu," gumam Ned tanpa menatap wajahku. Aku menaikkan sebelah alisku dan menatap Ned dengan bingung.
"Alio? Kenapa?" tanyaku pada Ned. Tapi dia tidak menjawab dan hanya menghela nafas, lalu dia malah mengalihkan topik.
"Ah ngomong-ngomong! Sepertinya sudah lama ya sejak kita terakhir bertemu? Mungkin 4 bulan yang lalu?" tanya Ned sambil menatap langit gelap di atas sana. Aku terdiam sambil mengingat-ingat, samar-samar aku mulai melihat kejadian kilas balik saat itu.
Mansion, jalanan yang hujan, gudang, ada begitu banyak hal yang sudah aku lalui. Tapi diantara hal-hal itu, aku bahkan tidak menemukan jejak kakakku sedikitpun.
__ADS_1
"Kau benar ... aku juga tidak menyangka sudah selama itu," ucapku dengan nada yang pelan, hampir seperti bergumam.
"Kami sangat kaget loh waktu itu, ada murid baru di pertengahan pembelajaran, dan kami lebih kaget lagi bahwa anak baru itu ternyata lebih hebat daripada kami," ucap Ned sambil mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa saat melihat Ned yang menggerutu, dia terlihat seperti remaja normal jika seperti ini.
Oh tunggu, tengah pembelajaran? Kalau kuingat-ingat ... ujian Underworld School itu diadakan tiap 5 tahun sekali, dan di-ikuti oleh seluruh kelas pembunuh. Kalau pertengahan pembelajaran ... berarti aku masuk sekitar tahun ke 3?
"Loh tunggu, kalau begitu, kenapa waktu itu kalian masih terlihat canggung? Bukankah kalian sudah bersama selama 2 tahun lebih awal?" tanyaku penasaran. Ned terlihat bingung untuk menjawab, matanya menatap ke arah langit untuk beberapa detik.
"Hmmm ... bagaimana ya ... sebenarnya, saat itu guru yang mengajar di kelas kita bukanlah C. Tapi agen lain, aku tidak begitu ingat dengan jelas, tapi agen itu punya metode belajar yang sangat berbeda daripada C," ucap Ned sambil mengingat-ingat.
"Lalu bagaimana bisa C jadi pengajar di kelas kalian? Bagaimana nasib agen satunya?" tanyaku lagi.
"Dia dibunuh oleh C, karena itu C menggantikannya sebagai guru di kelas kami. Awalnya dia adalah guru dari kelas lain, kemudian pindah sebagai guru kita. Dan kudengar ... murid lamanya juga cukup gila." Ned tersenyum buas sambil menutup matanya. Aku mengangguk paham, jadi itu alasan kenapa mereka terlihat kaku saat awal bertemu.
"Ah! Setelah ini jam 12 malam! Berarti ujian tahap pertama akan selesai!" Ned terlihat gembira sambil melihat ke arah jam tangan yang dia pakai.
Loh? Dia bahkan pakai jam tangan juga? ... Apakah pembunuh juga harus modis?
Ah tidak, sepertinya modis itu memang diperlukan, tapi bukannya itu hanya untuk misi tertentu?!
Tap.
"Senang bertemu denganmu Seas! Aku harap kita bisa bertemu lagi!
Oh ...
Ned bilang setelah ini jam 12? Lebih baik aku segera kembali ke asrama.
Aku memutuskan untuk kembali ke asrama Valeria. Karena aku yakin, bahwa Sky dan Valeria juga ingin melihat momen bahagia ini.
Sebentar, memangnya lulus ujian pembunuh itu momen yang membahagiakan? Bagaimana sih? Ah sudahlah, anggap saja ini memang momen yang bahagia.
***
"10 menit lagi! UWOOOOOHHHH!" Valeria berteriak sambil berlari ke sana dan ke sini. Sepertinya otot kaki Valeria tidak bisa diam jika dia merasa cemas.
"Tenanglah Valeria!" teriak Sky sambil melemparkan beberapa alat laboratorium yang terbuat dari kaca.
Sementara aku masih duduk diam, menunggu apa yang akan terjadi.
"Ng? Sejak kapan ada tulisan di balik surat ini?" ucapku bingung saat tinta di surat ini mulai luntur, dan tulisannya berganti.
AKU MOHON, TULISANNYA JANGAN JADI 'ANDA BELUM BERUNTUNG'.
Fyut.
__ADS_1
"Apa tulisannya?" tanya Sky yang mengintip dari balik pundakku.
"5 detik ... sebelum kertas ini meledak ..."
DEG!
"BUANG SEAS BUANGG!" teriak Sky sambil merebut paksa surat di tanganku. Valeria langsung mengambil crosbow dari lemarinya dan bersiap untuk menembakkan crowbow itu.
"SKY! BUKA JENDELANYA!" teriak Valeria panik.
Sky langsung membuka jendela dan membuang kertas itu ke luar. Valeria dengan cepat menembakkan crosbow, panah dari crosbow itu menancap di kertas dan menyeretnya menjauh dari asrama.
"LARI! RADIUSNYA 500 METER!" teriakku sambil menyeret Valeria serta Sky.
NGIIIIIIIINGGGGG!
.
.
.
.
.
DUUUUUAAAAARRRRR!
"REX BODOHH!"
***
POV: Author
"Hahahaha! Aku bisa mendengar seseorang sedang menyumpahiku," ucap Rex yang memandang ledakan dari atas gedungnya.
"Hm, cukup banyak ya? Ada sekitar 40 kertas yang meledak." Rex menatap berbagai ledakan dari banyak arah. Dia menyeringai saat melihat satu ledakan terakhir yang menyusul.
"41 tim. Apakah kalian siap? Wahai agen mata-mata?" tanya Rex sambil melihat ke kegelapan.
Ada 30 orang yang memakai tudung hitam, mendengarkan perintah Rex dengan patuh.
"Ujian ke-dua, telah siap, Rex."
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!