Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Menyelamatkan korban!


__ADS_3

..."Jam 9 malam ini. Pertunjukkan akan dimulai."...


POV: Seas


Aku berjalan santai sambil membaca daftar namanya berulang-ulang. Sambil sesekali aku melihat ke arah bulan ... apa yang kulupakan ya? Sepertinya ada yang salah ... .


...


"OH IYA! ANAK KECILNYA BELUM AKU SELAMATKAN! ASTAGA!" Aku melipat dokumennya dengan cepat dan kumasukkan dalam saku. Kakiku bersiap untuk melesat maju.


Set!


Aku menggunakan teknik yang sudah kupelajari, melesat ke dalam bayangan. Sial! Aku benar-benar lupa! Bagaimana jika dia sudah dipotong-potong?! Atau ginjalnya sudah dikeluarkan?!


Tap!


Aku berhenti di atas sebuah pohon. Mataku sudah bisa melihat gudang yang digunakan untuk menyekapku tadi. Aku mengambil kedua dagger yang kusimpan di samping celana.


"Satu ... dua ... tiga orang? Oh, empat."


Aku segera turun dari pohon. Berlari pelan lalu menuju ke orang pertama. Teknik milikku membuatku bisa berlari tanpa suara, tanpa bayangan dan bahkan hawa kehadiran.


Jreb!


Aku menusuk lehernya dari samping, segera kucabut daggerku dan berlari ke orang kedua. Hm? Dia melihatku?


"SIAPA ITU?!" Pria itu menodongkan sebuah pistol ke arahku.


Dor! TANG!


Dia masih amatir. Dia hanya menembak ke arah kepala, terlalu mudah di tebak, jadi aku bisa menangkisnya.


Jreb!


Aku melemparkan daggerku dan itu menancap tepat di dadanya. Saat hendak mencabut dagger. Telingaku mendengar langkah orang yang berlari, semakin dekat ke sini!


Sial! Aku harus cepat- oh ... bukankah ini hal bagus? Aku tunggu saja mereka melihatku.


"Ada apa?!" Dua orang pria muncul dari balik tembok, begitu mereka melihatku, dengan tergesa-gesa mereka mengeluarkan pistolnya.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor! Dor!


Aku masih diam loh? Mereka bisa membidik tidak sih? Aku melemparkan daggerku yang tersisa ke arah dua orang itu.


Trang!


Oh? Sepertinya itu menancap di pistolnya. Aku berlari maju ke arah mereka, dengan sigap aku mencengkram wajah salah satu pria itu.


"Akh! Lepaskan!" Dia memberontak kesakitan. Aku melirik temannya sambil tertawa kecil. Tangannya gemetaran dengan posisi menodongkan pistol ke arahku.


"Kenapa? Tarik saja pelatuknya. Bukankah kalian sudah pernah membunuh orang?" tanyaku dengan nada dingin dan senyuman. Mungkin mereka melihatku seperti iblis saat ini.


"AAA MATILAH KAU!"


DOR!


CRAT!


"Wahh ... HAHAHAHAHAHA KENAPA KAU MALAH MEMBUNUH TEMANMU? HAHAHHAHAHAHA!" Aku tertawa keras saat tembakannya meleset. Aku ada di depannya, dan dia malah menembak kepala temannya? Aduh perutku sakit! Aku terlalu banyak tertawa!


Bruk!


"HIII HIAAA!" Pria itu terduduk sambil berteriak panik. Aku menatapnya dengan datar, pfft! Celananya basah, apakah dia mengompol?


Darah segar yang menetes segera membeku, menjadi hiasan merah di dagger milikku. Aku berjongkok lalu menatap wajahnya.


"Dengarkan aku. Setelah ini lakukan tugasmu seperti biasa. Ambil ginjal temanmu dan jual di tempat biasa. Jangan sampai ketauan jika anak yang kalian culik sudah hilang," ucapku sambil menatapnya tajam. Aku mengarahkan ujung daggerku ke lehernya.


"Jika sampai ketauan. Kau adalah orang pertama yang kucari setiap malam." Aku tersenyum beringas ke arahnya. Dia semakin bergetar ketakutan ... sepertinya aku mulai tidak waras. Aku suka ekspresi wajahnya yang seperti ini.


Rasanya seperti sesuatu dalam hatiku yang merasa puas. Mungkin lebih ke arah ... kenikmatan? Apa ini yang kakakku rasakan saat membantai keluargaku? Saat dia melihat ekspresiku yang pucat pasi saat itu?


Perasaan ini tidak buruk juga.


Aku berdiri, meninggalkan pria yang kencing di celananya ini meringkuk sambil menutup telinganya. Aku tidak berharap dia jadi gila.


Aku membuka pintu gudang itu. Perasaanku jadi lega setelah melihat anak itu masih hidup. Dengan cepat aku berjalan ke arahnya, melepaskan penutup mata dan mulutnya. Kaki dan tangannya ... lepaskan saja sekalian deh.


"Ka-kak? Kakak beneran datang!" Anak itu menangis sambil memelukku. Aku membalas pelukannya dan mengusap punggungnya dengan pelan.

__ADS_1


"Ya, aku datang. Ayo kita pergi."


Aku menggendongnya di depanku. Dengan cepat, aku berlari lurus ke depan. Aku tidak ingin anak ini melihat gudang itu lagi, dan jika mereka hanya menculik turis asing saja. Berarti di negara ini, dia tidak akan aman.


Aku berlari melewati celah-celah rumah, bagus juga tidak ada CCTV. Aku jadi lebih bebas mengambil rute.


Setelah 30 menit berlari, akhirnya aku keluar dari wilayah itu. Sekarang aku dan anak ini ada di pinggir jalan, banyak orang yang berlalu-lalang.


"Gunakan uang ini untuk menyewa hotel. Jangan pernah membuka pintu untuk siapapun." Aku berjongkok dan memberikan uang itu ke tangannya. Dia menatapku dengan sedih.


"Kakak mau kemana? Mau ke sana lagi? Ayo ikut aku kak, jangan ke sana lagi," ucapnya sambil menahan tangis. Aku ingin ikut sebenarnya, tapi pakaianku sudah penuh darah. Beruntung udara di sini dingin, jadi darahnya langsung membeku dan tidak menempel ke baju anak ini.


"Aku tidak bisa ikut, aku akan menemuimu lagi besok pagi. Sekarang pergilah, istirahat dengan nyaman. Kalau bisa ... aku ingin kau melupakan kejadian hari ini," ucapku sambil tersenyum. Tanganku terangkat dan mulai mengusap kepalanya dengan lembut. Anak ini menghisap ingusnya yang mau keluar lalu mengangguk.


Dia segera berlari pergi, aku hanya menatap punggung kecilnya hingga hilang tertelan kerumunan. Aku menghembuskan nafasku dengan lega, lalu berjalan mundur. Masuk kembali ke kegelapan.


***


Aku kembali untuk mengawasi gudang tadi.


"Heh, pria itu benar-benar mengeluarkan ginjal teman-temannya." Aku tersenyum saat melihat pria tadi menguburkan temannya. Di samping mayat yang tersisa, ada setumpuk gumpalan merah. Aku yakin itu adalah ginjal, dan beberapa organ penting lainnya.


Selesai mengubur, pria itu duduk lemas di samping kuburan. Sambil sesekali mengusap dahinya yang berkeringat. Aish kenapa aku jadi kurang kerjaan begini?! Ah sudahlah, lebih baik aku tidur dulu!


***


POV: Author


"DIA BENAR-BENAR TIDAK PULANG!" Sky berteriak sambil memegang kepalanya. Valeria masih seperti biasa, menyeruput kopinya di malam yang dingin ini. Begitu juga dengan X yang sibuk menulis laporan.


Sementara Dev? Sepertinya melayani Ron. Putra mahkota itu pernah bilang bahwa dia mengalami hari yang membosankan.


"Apa dia benar-benar dalam masalah?" tanya Sky sambil menggigit kuku jarinya.


"Sepertinya dia benar-benar bertemu dengan organisasi kriminal itu," ucap Valeria sambil menatap Sky. Sementara X menghentikan menulis laporannya dan menatap Valeria.


"Hm, kalau begitu ... kita harus mencarinya," ucap X.


"Jika itu hanya organisasi kriminal biasa, Seas pasti sudah menghabisinya." Sky jadi ikut berpikir.

__ADS_1


..."Berarti ... organisasi ini lumayan besar sehingga Seas harus berhati-hati dalam melangkah!"...


TBC.


__ADS_2